Aderald Brixton, pengusaha ternama yang tiba-tiba saja dicegat mobilnya oleh seorang wanita hamil dengan pakaian berlumuran darah.
Raut ketakutan dari wanita itu membuat aderald mau tak mau harus membawa si wanita demi menyelamatkan dua orang nyawa sekaligus.
"Tolong bawa aku Tuan!! Bayi ku harus selamat...!"
Apakah yang terjadi? Dan siapakah wanita tersebut? Akankah peristiwa itu membawa mereka kedalam sebuah kehidupan baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iraurah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memberi Warna
Langkah Aderald terhenti sejenak di depan pintu kamar pembantu. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba meredakan denyut gelisah di dadanya. Malam telah turun sepenuhnya, membawa ketenangan semu ke seluruh penjuru mansion. Namun, ketenangan itu tidak benar-benar terasa bagi Aderald, bukan ketika seseorang yang begitu ia lindungi harus bersembunyi di balik dinding-dinding yang seharusnya memberikan rasa aman.
Ia mengetuk pelan sebelum mendorong pintu dan melangkah masuk.
Di dalam, Dona sedang duduk bersandar pada dinding, mengenakan gaun sederhana. Rambutnya tergerai acak, dan wajahnya terlihat tenang, meski sorot matanya menyimpan kelelahan. Di sampingnya, sebuah buku novel terbuka separuh, namun jelas ia tidak sedang membacanya.
Dona menoleh ketika mendengar pintu terbuka. Tatapan mereka bertemu, dan senyum lembut segera muncul di wajahnya.
“Aderald,” ucapnya pelan, suaranya nyaris tak terdengar.
Aderald menutup pintu perlahan, lalu berjalan mendekat dan berjongkok di depannya. Ia menatap mata Dona dengan ekspresi penuh rasa bersalah.
“Maaf....” lirihnya. “Aku minta maaf. Kau harus bersembunyi seperti ini… seolah-olah keberadaanmu adalah sesuatu yang tak pantas untuk dilihat.”
Dona menggeleng pelan. “Tidak perlu meminta maaf, Aderald. Aku baik-baik saja.”
“Tapi tetap saja…” Aderald menunduk, suaranya terdengar lirih. “Aku yang membawamu ke sini. Aku yang berjanji akan menjagamu, dan sekarang… Aku malah membuatmu tidak nyaman”
Dona menurunkan kakinya ke lantai lantas berdiri. “Kau tak perlu merasa tidak enak padaku, lagipula aku hanya menumpang di sini. Dan aku sangat berterima kasih atas semua yang sudah kau lakukan.”
Ucapan itu membuat hati Aderald mencelos. Ia menatap wanita di hadapannya, dan untuk sesaat ia menyadari betapa rapuhnya posisi Dona saat ini, namun betapa kuat ia berusaha bertahan.
“Kau sudah makan?” tanya Aderald kemudian, berusaha mengganti suasana.
Dona tersenyum samar. “Belum terlalu lapar.”
"Kau harus makan. Apa pelayan tidak menawari mu makan malam?”
"Bukan aderald, aku memang sempat menolak untuk makan malam karena kurang berselera"
"Tapi kau harus mengisi perutmu, jangan menunggu lapar nantinya malah terlalu kemalaman, kau juga harus minum obat setelah makan. Biar aku menemanimu di meja, mari... Kebetulan hidangannya masih tertata di meja makan"
Dona terdiam sejenak, lalu mengangguk. “Baiklah...”
Mereka berjalan menyusuri lorong-lorong sepi di bagian belakang mansion, menuju ruang makan yang baru saja aderald gunakan bersama ibunya, kini dia kembali lagi untuk menemani Dona.
Aderald menarik kursi untuk Dona, ini pertama kalinya dia melakukan itu, mungkin karena rasa bersalahnya yang masih belum padam.
"Kau mau makan yang mana?" tanya aderald.
"Apa ya? Aku bingung, melihatnya saja perutku jadi terasa penuh"
“Kau tidak harus memakannya semua,” ujar Aderald sambil tersenyum. “Tapi aku akan merasa lebih baik kalau kau makan sedikit.”
"Kalau begitu aku ingin Sup Daging saja"
"Biar aku ambilkan!" sahut Aderald.
Dona mengambil sendoknya, mencicipi sup hangat itu, dan mengangguk. “Ini enak.”
Meski awalnya Dona mengaku tidak lapar, perlahan ia melahap makanannya sedikit-sedikit. Ia menghargai usaha Aderald, dan di balik rasa letih yang menghantuinya, ada kehangatan yang menyelimuti hati karena perhatian yang diberikan pria itu.
Sambil menunggu Dona aderald bertanya untuk menghilangkan keheningan “Apa yang kau lakukan tadi… sebelum ibuku datang?”
Dona mengedarkan pandangannya ke langit-langit, mengingat kembali kejadian siang tadi. “Aku sedang membaca novel di ruang tengah. Hanya sebentar. Aku pikir semuanya aman karena pelayan juga tidak mengatakan apapun. Tapi kemudian pelayan datang dan memintaku untuk bersembunyi, mereka langsung membawa ku masuk ke lorong samping dan meminta untuk menunggu di kamar pembantu"
Ia tersenyum kecil. “Mereka gesit sekali, ku dengar salah satu pelayan sempat mendapat teguran karena terlalu lama membuka pintu, aku jadi tidak enak padanya”
Aderald menghela napas. “Aku akan berterima kasih kepada mereka nanti. Mereka sangat bisa diandalkan.”
Dona meletakkan sendoknya, lalu berkata dengan lirih, “Maafkan aku. Karena aku, kau jadi tidak bisa menghabiskan waktu bersama ibumu dengan tenang.”
Aderald langsung menggeleng. “Jangan katakan begitu. Aku memang tidak dekat dengan orang tuaku. Sejujurnya, makan malam tadi mungkin adalah percakapan terpanjang yang pernah kujalani dengan ibuku selama beberapa bulan terakhir.”
Dona memandangnya heran. “Kenapa? Padahal sepertinya ibumu sangat merindukan kau. Dia sampai rela datang kesini seorang diri”
“Ya, orang tua ku memang sangat perhatian kepada anaknya, tapi mereka juga memiliki sifat yang dingin sehingga membuatku sungkan untuk dekat dengan orang tua sendiri” jawab Aderald dengan suara berat. “Terlebih sejak dulu mereka orang-orang sibuk, jarang punya waktu untuk mengurus dan mengajak anak mengobrol. Aku sendiri lebih dekat dengan kakek ku, dia yang mengajarkan ku banyak hal. Setelah kakek meninggal aku sudah tidak betah tinggal di mansion itu"
Dona hanya diam, mendengarkan. Ia tahu Aderald tidak sedang mencari simpati, hanya ingin didengar.
“Itulah mengapa aku ingin… melakukan sesuatu yang berbeda. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku ingin memilih sendiri jalan yang kuambil. Dan entah bagaimana, ketika aku bertemu denganmu, aku merasa itulah saatnya.”
Dona menatapnya lama, lalu tersenyum kecil. “Kenapa begitu.”
"Kehidupan ku bejalan sangat lurus, sampai terkadang aku meraja jenuh dengan hidupku setiap harinya. Sejak kau muncul, banyak kejadian tak biasa dan unik yang aku alami. Rasanya ada sesuatu yang bisa aku jadikan cerita selama aku hidup"
"Hahaha.... begitukah? Berarti bisa dibilang aku menambah warna dalam hidupmu?" tanya Dona bermaksud menggoda.
Namun aderald justru mengangguk dan mengiyakan pertanyaan itu yang mana membuat Dona terdiam.
"Bedanya aku mungkin memberimu warna hitam" timpal Dona.
"Tidak, malah sebaliknya"
Dona sedikit menarik bibirnya hingga membentuk lengkungan, syukurlah jika keberadaanya memberi sedikit manfaat bagi orang lain.
Ketika akhirnya Dona selesai makan, aderald sedikit berkata, “Mulai besok, kau tidak perlu bersembunyi lagi. Aku akan pastikan jadwal kedatangan orangtuaku. Dan pelayan-pelayan di sini… mereka bisa dipercaya. Aku tidak ingin kau merasa seperti tahanan.”
Dona mengangguk, dan untuk pertama kalinya sejak ia tiba di rumah itu, matanya sedikit berkaca. “Tentu, aku akan menutupi semua perintahmu"
“Istirahatlah malam ini. Aku akan pastikan semuanya aman.”
Dona kemudian meninggalkan ruangan itu, tapi sebelum pergi, ia menoleh sekali lagi, menatap Aderald yang kini duduk tenang di kursinya, dengan wajah yang tidak lagi tegang.
Dan malam itu pun berlalu, membawa sedikit kedamaian setelah kekacauan siang yang panjang. Dalam keheningan mansion besar itu, dua jiwa yang berbeda mencoba menemukan tempat mereka masing-masing—bukan sebagai tuan dan tamu, tapi sebagai dua insan yang saling memahami, di tengah dunia yang tidak pernah benar-benar memberi mereka pilihan.