Karena sebuah sumpah Dany Admaja harus merawat putri sahabatnya yang meninggal karena kecelakaan mobil. Dany merawat Alena yang baru berusia delapan tahun dan menganggapnya seperti keponakannya karena kala itu Dany sudah berusia 28 tahun namun sepuluh tahun kemudian, Alena tumbuh menjadi gadis cantik yang mulai membuat hati Dany bergetar dan sialnya, gadis itu membuka seluruh pakaiannya untuk menggodanya. Apakah Dany Admaja akan tergoda dengan rayuan putri sahabatnya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja Kelabu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hubungan Yang Telah Berubah
Acara pernikahan yang sudah direncakan pun tiba. Kali ini ibu Dany tidak lagi melarang karena dia tahu Dany akan membencinya. Lagi pula segala upaya sudah dia lakukan untuk memisahkan Alena dan Dany tapi dia gagal.
Siska pun sudah tidak dia pedulikan karena dia tahu apa pun yang akan dia lakukan akan sia-sia karena Dany sudah memilih. Alena juga tetap ingin menikah meski dia tahu perbedaan usia mereka yang cukup jauh oleh sebab itu dia tidak bisa mencegah sama sekali.
Alena sudah cantik dengan kebaya berwarna putih dengan hiasan adat Sunda. Acara pernikahan tidak dirayakan dengan meriah. Mereka hanya mengundang keluarga dan teman dekat saja. Alena mengundang keluarga ayah dan ibunya tapi tidak ada satu pun yang mau datang di antara mereka. Alena tidak mempermasalahkan hal itu karena semenjak ayah dan ibunya tiada, dia memang tidak pernah bertemu dengan mereka lagi.
Acara pernikahan berlangsung dengan lancar. Alena terlihat begitu cantik dan bahagia karena dia bisa menikah dengan pria yang dia cintai meski perbedaan usia mereka yang memang cukup jauh tapi inilah yang dia inginkan. Meski dia sudah menikah tapi dia akan tetap melanjutkan studinya yang tinggal satu tahun lagi sampai selesai.
Rishka juga datang untuk menyaksikan pernikahan sahabat baiknya. Acara yang sangat mendadak tapi semua berjalan lancar sampai Dany dan Alena dinyatakan sebagai suami istri yang sah. Mereka mendapatkan tepuk tangan serta ucapan selamat dari para tamu yang datang ke acara pernikahan mereka. Walau sedikit tamu tapi meriah.
"Selamat ya, lo merid juga akhirnya," Rishka memberi selamat pada Alena.
"Thanks, Rish. Kamu kapan nyusul?"
"Gue gak mau nikah muda, mau jadi bisnis women dulu baru nikah. Selamat jadi istri ye, jangan buru-buru punya anak!" goda Rishka.
"Aku sama Om belum punya rencana punya anak kok. Kami akan menunda sampai aku lulus kuliah."
"Kok masih manggil om sih? Panggil suamiku dong," goda Rishka.
"Lebay ih!" Alena memukul bahu Rishka, sedangkan Rishka tertawa.
"Udah ah, mau samperin suamiku aja dari pada ngomong gak jelas sama kamu!" ucap Alena.
"Hei, ntar malam gak boleh pingsan ya!"
"Apaan sih Rish? Malu tau!" Alena buru-buru melangkah pergi menghampiri Dany yang sedang berbicara dengan para tamu untuk mengucapkan terima kasih. Dany bahkan memperkenalkan Alena dengan beberapa temannya yang sesungguhnya sahabat ayah Alena juga. Gadis kecil yang dia bawa pulang dulu kini menjadi isrinya.
Waktu begitu cepat berlalu, acara pernikahan mereka pun sudah usai. Dany mengantar ibunya pulang terlebih dahulu sebelum dia membawa istrinya pulang.
"Kalian sudah menikah jadi ingat, tidak ada perceraian!" ucap ibu Dany, matanya menatap ke arah Alena dengan tajam.
"Mami ngomongnya ngak enak banget sih, kita baru nikah tapi Mommy ngomongin perceraian. Jangan ngomong yang ngak enak di dengar dong, Mi!"
"Mami cuma ingatin Alena aja. Jangan sampai dia ninggalin kamu di saat kamu sudah tua dan sakit-sakitan!"
"Lena gak kayak gitu kok, Mi. Lena udah janji akan setia sama Om jadi Lena gak akan khianatin Om Dany sampai kapan pun juga."
"Bagus kalau gitu, udah sana pulang!"
Dany dan Alena pun pamit, setelah mengantar ibu Dany. Alena tersenyum saat Dany melihat ke arahnya. Meski sempat tidak direstui tapi pada akhirnya ibu Dany menyetujui hubungan mereka.
"Kita mau bulan madu ke mana, Om?"
"Kok masih manggil Om, sih?" tanya Dany.
"Abisnya, panggil apa dong?"
"Panggil yang mesra dong, jangan panggil om lagi. Ntar kita udah punya anak, masak kamu masih manggil Om aja. Ntar anak kita mengira aku om kamu dong."
"Ngak apa, ntar Om dipanggil kakek sama anak-anak!" goda Alena.
"Enak aja, Om ngak mau!"
Alena terkekeh, dia hanya bercanda tapi panggilan apa yang harus dia berikan pada suaminya? Rasanya jadi canggung karena dia sudah terbiasa memanggil Dany dengan sebutan Om. Alena memikirkan panggilan apa yang akan dia berikan sampai tiba di rumah dan dia belum mendapatkan jawabannya.
Mereka sudah masuk ke dalam rumah namun tangan Alena diraih oleh Dany sehingga langkahnya terhenti.
"Mau ke mana?" tanya Dany.
"Kamar dong Om, mau ke mana lagi?"
"Kan kita udah suami istri, jadi kita akan tidur bersama. Kamar kamu udah ngak di sana lagi jadi ngapain?"
"Eh, Lena lupa Om. Tapi bantuin lepasin hiasan di rambut ya Om, ribet nih."
"Ya udah, sini!" Dany menggandeng tangan istrinya menuju kamar. Semua sudah disiapkan, meja rias untuk Alena sudah ada di dalam kamar. Semua pakaian Alena pun sudah dipindahkan karena mulai hari ini, Alena akan menempati kamar itu juga bahkan ranjang yang biasanya di tempati oleh Dany sudah diganti dengan ranjang yang lebih besar.
Alena duduk di sebuah kursi dan menatap pantulan dirinya dan Dany yang berdiri di belakangnya karena saat itu, Dany sedang membuka hiasan rambut yang ada di atas kepala Alena.
"Alena pikir, lebih baik rumah papa di jual aja Om."
"Kok masih panggil Om sih?"
"Kebiasaan, Om. Nanti Lena rubah cara panggilnya. Menurut Om bagaimana?"
"Terserah kamu sih, itukan rumah papa kamu. Mau kamu jual juga ngak apa-apa, gak ada yang tinggalin juga."
"Ya udah Om, jual aja. Lebih baik kita jual dari pada hancur jadi rumah hantu."
"Udah sepuluh tahun, kayaknya udah jadi rumah hantu deh. Sewain aja buat acara uji nyali."
"Ngak bakalan ada yang mau, Om. Lebih baik dibersihkan trus dijual."
"Iya tau, Om cuma bercanda. Udah selesai nih," Hiasan rambut yang sudah lepas diletakkan ke atas meja dengan hati-hati.
"Thanks, Om. Lena mau makan abis ini, laper banget."
"Kok ngak bilang? Kita bisa makan dulu sebelum pulang."
"Ngak mau, pake baju ginian ke restoran. Malu ah, Om!"
"Ya udah, pergi mandi. Om buatin kamu makanan!".
Alena mengangguk, selain lapar dia memang ingin mandi dan mengganti kebaya yang sedang dia kenakan. Sekarang semua jadi berubah, kamar mandi yang berbeda dan kamar yang berbeda. Bajunya kini juga sudah berada di dalam lemari baju Dany.
Dany masuk ke dalam kamar dengan sepiring makanan, Alena jadi terkejut karena dia sedang memakai baju bagian atas. Dany juga terkejut, beruntungnya Alena buru-buru berbalik.
"Kok ngak ketuk pintu sih, Om?"
"Ngapain lagi? Kita kan sudah suami istri. Bentar lagi tuh baju juga bakal aku lepasin!"
"Om Dany mesum!" ucap Alena dengan wajah memerah.
"Makan nih, om mau mandi dah itu lepasin baju kamu!" goda Dany lagi.
"Apaan sih om?"
"Canda tapi bener!" makanan sudah diletakkan ke atas meja, Dany melangkah menuju kamar mandi. Alena duduk di sisi ranjang sambil menikmati makanan. Dia sudah jadi istri Dany jadi dia harus memenuhi kewajibannya. Tatapan matanya tidak lepas dari Dany saat pria itu keluar dari kamar mandi dalam keadaan rambut yang basah. Terus terang saja, Dany pria yang sudah berumur tapi masih begitu menggoda.
"Gak jadi buka baju Alena nih, Om?"
"Lah, kok malah nantangin?"
"Lena udah nunggu nih Om," Alena berbaring miring di ranjang untuk menggoda Dany.
"Beneran nih, Om gak sungkan loh!"
"Kan Lena udah jadi istri Om jadi buat apa sungkan-sungkan?"
"Ya udah, Om gak bakal ragu!" Dany melepaskan handuk yang dia kenakan dan naik ke atas ranjang, Alena berteriak namun teriakannya terhenti karena Dany sudah membungkam bibirnya. Dany benar-benar tidak ragu untuk menikmati tubuh gadis kecilnya yang sudah dewasa.
Kini hubungan mereka berdua sudah berubah dan seperti sumpah yang dia ucapkan pada ayah Alena, dia akan menjaga Alena tapi kini untuk seumur hidupnya. Mungkin setelah ini mereka akan memiliki beberapa anak yang akan melengkapi kehidupan mereka tapi yang pasti, Dany yang sejak dulu tidak mau menikah pada akhirnya memutuskan menikahi gadis manis yang tidak bisa dia lepaskan dan gadis manis itu pula yang akan menjadi ibu dari anak-anaknya dan yang akan menghabiskan waktu dengannya sampai seumur hidupnya.
End
Terima kasih untuk pembaca yang setia mengikuti kisah ini. Maafkan jika ada kekurangan dalam tulisan pertama aku. Sekali lagi, Terima kasih telah membaca kisah ini.
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya Caraku Menemukanmu