NovelToon NovelToon
Ditinggal Tunangan, Dinikahi Petugas Damkar

Ditinggal Tunangan, Dinikahi Petugas Damkar

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Identitas Tersembunyi / Menyembunyikan Identitas / Pelakor jahat / Rebirth For Love
Popularitas:9.5k
Nilai: 5
Nama Author: Lover

Dikhianati suami tercinta selama tujuh tahun, Nadira baru tahu Raka sengaja menghalangi kehamilannya demi cinta lamanya. Saat nyawanya hampir habis, ia terlahir kembali ke malam kebakaran sebelum hari akad.
Melihat Raka meninggalkannya di api demi wanita itu, Nadira membatalkan pernikahan dan menikah kilat dengan Bima, petugas Damkar yang menyelamatkannya. Pernikahan kontrak demi balas dendam ini justru memberinya cinta yang tak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lover, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 29

Bab 029

Orang seperti Hans tidak dibentuk hanya oleh api.

Kalimat itu terus berputar di kepala Kiana bahkan setelah matahari turun pelan di balik deretan gudang dan crane pelabuhan.

Sore menjelang magrib, Hans akhirnya selesai mencatat laporan jaga. Keringat di pelipisnya sudah mengering, tetapi kaus hitamnya masih menyimpan garis lembap di punggung. Rio dan beberapa pemadam lain sengaja berdiri terlalu dekat di dekat garasi, pura-pura membetulkan selang padahal mata mereka semua mengikuti Kiana.

"Bos," salah satu dari mereka berkata, "Nyonya pulang sama siapa?"

Hans menoleh singkat.

Pemadam itu langsung menunduk ke selang yang sudah rapi sejak sepuluh menit lalu. "Saya tanya demi keselamatan warga."

Kiana hampir tertawa, tetapi menahannya.

Hans mengambil jaket tipis dari kursi dan berjalan ke arahnya. "Jalan sebentar?"

"Ke mana?"

"Sampai jalan besar. Baru pesan mobil."

Kiana melihat keluar halaman pos. Langit Tanjung Priok sore itu berwarna jingga pudar, tercampur abu-abu asap kendaraan. Angin dari arah laut membawa bau garam, solar, dan gorengan dari warung dekat tikungan.

"Supaya apa?" tanyanya.

Hans melirik mangkuk kosong di tangannya. "Supaya semur Pak Wardi tidak langsung jadi beban."

"Itu semur kamu."

"Yang menyendok Pak Wardi."

Jawaban datar itu membuat Kiana gagal menahan senyum.

Mereka keluar dari Pos Damkar Tanjung Priok diiringi siulan tertahan dan suara Rio yang sengaja dibuat pelan, tetapi tetap terdengar jelas.

"Hati-hati, Bos. Kalau pulangnya senyum lagi, besok kami buat berita acara."

Hans tidak membalas. Kiana menunduk, bahunya sedikit bergetar karena menahan tawa.

Jalan di luar pos tidak romantis seperti adegan drama. Trotoarnya tidak rata. Beberapa bagian tertutup ban motor parkir, pedagang kaki lima, dan kardus bekas. Truk kontainer lewat perlahan, membuat tanah bergetar halus di bawah sandal Kiana. Di kejauhan, klakson kapal terdengar berat, seperti suara besar yang malas bergerak.

Tetapi entah kenapa, sore itu terasa lebih ringan daripada ruang rapat ber-AC di Bintang Grup.

Hans berjalan di sisi luar, dekat kendaraan. Ia tidak berkata apa-apa, tetapi posisi tubuhnya selalu sedikit miring, membuat Kiana berada di sisi yang lebih aman. Setiap kali mereka melewati lubang trotoar atau genangan air, lengannya bergerak setengah inci, seolah siap menariknya sebelum ia terpeleset.

Kiana memperhatikan itu.

Dulu, Jovian Loe juga sering berjalan di depannya. Bukan untuk melindungi, melainkan karena ia selalu menganggap semua orang akan mengikutinya.

Hans tidak mendahului.

Ia menyesuaikan langkah.

Perbedaan sekecil itu membuat dada Kiana terasa pelan-pelan penuh.

Di ujung jalan, ada gerobak minuman dengan lampu kecil menggantung. Seorang bapak menjual es cincau, es kelapa, dan potongan roti tawar yang disiram gula merah. Hans berhenti.

"Mau?"

Kiana ingin menolak karena ia baru makan semur, tetapi suara pedagang yang menuang santan dingin ke gelas plastik membuat tenggorokannya tiba-tiba kering.

"Es cincau gula aren," katanya.

Hans memesan dua. Satu tanpa terlalu banyak es untuk Kiana, satu tawar untuk dirinya sendiri. Ia bahkan tidak bertanya lebih dulu, tetapi pedagang itu seperti sudah biasa mendengar instruksi pendek semacam itu.

"Bang Hans, tumben bawa istri," kata pedagang sambil mengaduk gelas. "Cantik banget. Jangan galak-galak sama dia."

Kiana tersedak udara.

Hans menerima dua gelas plastik. "Saya yang digalakin."

Pedagang itu tertawa keras. "Wah, bagus. Berarti rumah tangga sehat."

Kiana menatap Hans, tidak tahu harus malu atau kesal. "Kamu sering lewat sini?"

"Kadang."

"Semua orang kenal kamu?"

"Tidak semua."

Seorang anak kecil yang lewat bersama ibunya tiba-tiba melambai. "Om Hans!"

Kiana mengangkat alis.

Hans tetap datar. "Beberapa."

Mereka berjalan lagi, kali ini melewati jalan yang lebih kecil menuju permukiman dekat pos. Rumah-rumah sederhana berdempetan, sebagian pagar besinya dicat biru atau hijau. Di teras, ibu-ibu menyiram tanaman dalam pot bekas cat. Ada suara televisi dari jendela terbuka, aroma ikan goreng, dan seorang remaja yang menendang bola plastik ke tembok.

Kiana menyedot es cincau. Gula aren menempel di bibirnya, manis dan dingin.

Hans tiba-tiba berhenti.

"Apa?"

Ia tidak menjawab. Tangannya terangkat, ibu jarinya menyentuh sudut bibir Kiana dengan gerakan sangat ringan.

Gula merah yang menempel di sana berpindah ke kulit jarinya.

Kiana membeku.

Hans juga.

Suara bola plastik yang menghantam tembok terdengar tiga kali sebelum ia menarik tangannya kembali.

"Ada gula," katanya.

"Aku tahu."

"Kalau tahu, kenapa tidak dibersihkan?"

"Karena aku baru tahu setelah kamu bersihkan."

Kalimat itu keluar terlalu pelan. Terlalu dekat dengan sesuatu yang belum berani mereka beri nama.

Hans menatapnya. Mata pria itu gelap, masih tenang, tetapi ada jeda kecil di sana. Jeda yang membuat Kiana merasa seluruh suara jalan mengecil.

Lalu seorang ibu paruh baya dari teras rumah seberang berseru, "Hans!"

Kiana langsung mundur setengah langkah.

Ibu itu memakai daster batik dan sandal jepit, rambutnya dijepit asal. Wajahnya cerah begitu melihat Hans, lalu lebih cerah lagi saat melihat Kiana.

"Aduh, ini istrinya ya?" Ia berjalan mendekat sambil menepuk-nepuk tangan basah ke kain lap. "Pantas saja sekarang jarang mampir bantu angkat galon. Sudah ada yang ditunggu di rumah."

Hans tidak menyangkal. Ia hanya mengangguk. "Sore, Bu."

Kata sederhana itu membuat telinga Kiana kembali panas.

"Cocok sekali," ibu itu berkata kepada Kiana. "Kamu sabar ya kalau dia irit bicara. Anak ini memang begitu. Tapi hatinya baik."

Kiana menggenggam gelasnya lebih erat. "Ibu kenal Hans lama?"

"Sejak dia tugas di pos sini. Waktu ruko belakang sana kebakaran, dia yang masuk duluan. Asapnya tebal sekali. Orang-orang sudah panik. Dia keluar bawa satu kakek, masuk lagi bawa anak kecil, masuk lagi bawa ibu hamil. Tiga kali, Kak. Tiga kali. Mukanya hitam semua, tapi masih tanya, 'Masih ada orang di dalam?'"

Kiana menoleh kepada Hans.

Hans memandang ke arah lain, seolah cerita itu bukan tentang dirinya.

Ibu itu menghela napas. "Kamu dapat orang baik. Jaga dia juga, ya. Orang seperti dia sering lupa kalau dirinya sendiri juga perlu dijaga."

Kiana tidak langsung menjawab.

Kalimat itu masuk terlalu dalam.

Selama ini ia selalu merasa Hans adalah orang yang menjaga. Ia muncul di tempat bahaya, menahan api, menahan orang, menahan rahasia, menahan lapar orang lain dengan panci semur. Tetapi siapa yang menahan Hans ketika tubuhnya sendiri lelah?

Mereka berpamitan setelah ibu itu kembali ke teras. Jalan mulai gelap. Lampu-lampu kecil di depan rumah menyala satu per satu. Bayangan Kiana dan Hans memanjang di aspal, sempat terpisah oleh tiang listrik, lalu bertemu lagi di bawah cahaya berikutnya.

Hans akhirnya berkata, "Orang tua saya tidak suka saya di sini."

Kiana menoleh pelan.

Suara Hans datar, tetapi lebih rendah dari biasanya. "Mereka merasa saya membuang nama keluarga. Buang pendidikan. Buang hidup yang seharusnya lebih mudah."

"Karena jadi pemadam?"

"Karena saya memilih api, bukan meja rapat."

Kiana menggenggam gelas es yang sudah setengah habis. "Mereka ingin kamu kembali?"

Hans diam cukup lama sampai mereka melewati satu lampu jalan lagi.

"Mereka ingin saya pulang untuk meneruskan..." Ia berhenti.

Kiana menunggu.

Kata yang tidak selesai itu menggantung di antara mereka, lebih berat daripada klakson truk dan suara motor yang lewat.

Meneruskan apa?

Perusahaan? Nama keluarga? Kewajiban yang bahkan Hans tidak mau sebutkan?

Kiana bisa saja bertanya. Ia punya hak sebagai istri sah di Catatan Sipil. Ia juga punya kebiasaan sebagai orang yang bertahan hidup dengan mengumpulkan fakta.

Tetapi di bawah lampu jalan itu, yang ia lihat bukan teka-teki.

Ia melihat pria yang memilih berjalan di sisi luar trotoar tanpa diminta. Pria yang memasak untuk satu pos. Pria yang tidak membanggakan diri setelah menyelamatkan tiga orang dari ruko terbakar.

Jadi Kiana tidak bertanya.

Jari-jarinya bergerak duluan.

Pelan, hampir ragu, ia menyentuh punggung tangan Hans. Kulitnya hangat, kasar di bagian buku jari dan telapak, dengan bekas tali yang ia lihat sore tadi. Sentuhan pertama itu seperti bertanya, boleh?

Langkah Hans berhenti setengah detik.

Kiana hampir menarik tangan.

Lalu telapak Hans terbuka.

Ia menggenggam tangan Kiana, hati-hati pada awalnya, kemudian lebih erat. Tidak menyakitkan. Hanya cukup untuk membuat dunia terasa memiliki pegangan.

Tidak ada kata romantis.

Tidak ada janji.

Mereka hanya berjalan di bawah lampu jalan dengan bayangan yang semakin panjang dan semakin rapat.

Kiana menatap tangan mereka yang saling menggenggam.

Ia belum tahu nama keluarga yang ingin menarik Hans pulang. Ia belum tahu apa yang harus diteruskan pria itu.

Tetapi malam itu, untuk pertama kalinya, ia ingin tahu bukan agar bisa melindungi dirinya sendiri.

Ia ingin tahu agar bisa tetap berdiri di sampingnya.

1
Ray
apakah Hans punya kembaran?
Ray
misteri 💪
Lili Inggrid
ceritanya bagus...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!