Menjadi orang ketiga di dalam rumah tangga orang lain. Tentu bukanlah hal yang di inginkan oleh wanita baik-baik, bukan?
Tapi bagaimana? Jika semua itu sudah bagian dari takdir seseorang? Seperti takdir dari gadis cantik yang bernama Farida Pasha (23 tahun) pelayan di salah satu hotel bintang lima di kota besar itu.
Karena tragedi satu malam yang merenggut kehormatan nya, membuat ia terpaksa menikah dengan Aditia Putra Aditama (32 tahun) pria yang sudah memiliki istri.
Akankah Farida bahagia menjadi istri simpanan? Atau ia akan berakhir menyedihkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neng Syantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KENAPA BARA SELALU LEBIH UNGGUL?
"Farida tunggu!" Bara berteriak sembari bangkit dari duduknya.
"Ada apa?" tanya Farida sembari berbalik.
"Darimana kamu dapatkan benda ini?" Tanya Bara dengan suara keras nya.
"Ini kalung abang-ku," kata Farida sembari menyentuh kalung yang melingkar di leher nya.
Grep! Bara memeluk erat tubuh itu. Tubuh pria itu bergetar.
"Bara! Apa yang kau lakukan pada istriku?" Aditia yang melihat istrinya di peluk oleh Bara segera mendekati Bara sembari meneriaki pria itu dengan perasaan Marah.
"Tuan, tunggu!" cegah Adam. "Kita lihat dulu, apa yang akan di lalukan oleh Bara." Adam meminta Aditia meredam emosinya.
"Istriku!" tunjuk Aditia. "Kenapa dia memeluk istriku?" Aditia memelankan suaranya atas permintaan Adam.
"Aysha.. Ini Bang EL, abang udah capek cari kamu," ucap Bara dengan lirih ditelinga Farida. "Abang kangen, kangen banget.."
"Bang EL," cuman Farida. Perlahan, tangan wanita itu membalas pelukan Bara.
Aditia yang melihat hal itu semakin marah, kenapa istrinya malah membalas pelukan Bara? Aditia benar-benar tidak ingat perihal kalung yang melingkar di leher istrinya.
"Farida!" pekik Aditia.
Bara yang menyadari kemarahan Aditia, segera melepaskan dekapannya. "Di, dia adikku!" terang Bara, hingga membuat Aditia menatap dengan tatapan yang sulit di artikan pada Bara.
"Adik? Apa buktinya jika Farida adalah adikmu?" tanya Aditia dengan tatapan tidak suka.
"Kalung ini!" Bara menyentuh leher Farida, sebenarnya bukan leher tetapi kalung yang melingkar di lehernya. "Kalung ini tidak di jual dimana pun dan tidak ada tiruannya, kalung ini adalah kalung yang dibuat kedua orangtuaku saat aku dilahirkan!" jelas Bara.
"Aku lah EL BARAN, bocah SMP yang hilang dan di temukan oleh Bu Ratna pemilik panti asuhan, disana pula lah aku bertemu dengan Aysha," Bara berbicara sembari menggenggam tangan Farida. "Adikku, gadis kecilku. Tapi tak lama dari itu, orangtuaku datang dan membawaku kembali ke Jerman, saat itu kami berjanji, terutama janjiku untuk menjemput Aysha setelah aku menyelesaikan pendidikan SMA-KU. Tapi, setelah aku kembali ternyata panti asuhan itu sudah terbakar. Aysha sudah tidak ada disana, bahkan penduduk setempat mengatakan banyak anak panti yang menjadi korban dari musibah kebakaran itu!" jelas Bara.
"Tuan, dia memang EL Baran kakak angkat dari Nona Farida. Karena yang ia ceritakan sama dengan yang diceritakan oleh Bunda panti," kata Adam.
"Sa, percaya sama aku. Aku EL Baran, abang kamu," kata Bara, ia terus menggenggam tangan Farida dengan begitu erat. Bahkan, mata pria itu terus mengeluarkan cairan bening. Akhirnya, adiknya ia temukan. Ia begitu menyayangi Aysha, karena ia memang sudah lama mengingkan adik. Akan tetapi, kedua orangtua nya tidak dapat memberinya adik kecil yang ia inginkan. Hingga akhirnya ia di pertemukan oleh Tuhan dengan Aysha Maharani si gadis kecil.
"Bang EL?" Farida menatap wajah Bara, wanita muda itu tersenyum bahagia melihatnya. "Aysha beneran ketemu abang lagi?"
"Iya, ini abang. Abang janji gak akan ninggalin Sa lagi, abang bakal jagain Sa dari apapun dan dari siapapun. Gak ada seorang pun yang boleh sakitin Sa," kata Bara. Pria itu mengeluarkan dompetnya dan mengeluarkan foto yang di ambil saat mereka masih kecil dan tinggal di panti asuhan.
Tubuh Aditia melemas, dari hal apapun dan segi apapun. Pria itu selalu kalah dari Bara, Bara memang selalu lebih unggul dari nya. Mulai dari pendidikan, popularitas, karir dan kini wanita. Kenapa? Kenapa ia selalu dikalahkan oleh Bara? Bahkan kini kenyataan yang ia terima begitu pahit, istrinya itu ternyata adalah bagian masa lalu dari Bara, sama seperti mantan istrinya.
Kenapa? Kenapa semuanya harus berkaitan dengan Bara? Apakah takdir sedang mempermainkan dan menertawakan dirinya?
Dengan perasaan sakit dan dada yang bergemuruh, Aditia melangkah pergi dari ruang tengah rumah itu menuju lantai atas. Ia sengaja pergi sejenak karena tidak ingin salah bicara dan membuat istrinya kecewa.
"Tuan!" panggil Adam.
"Berikan mereka ruang, Dam. Mereka juga butuh waktu bersama untuk melepaskan rindu mereka," ucap Aditia sembari tersenyum. Pria itu segera pergi melanjutkan langkahnya.
"Kenapa? Kenapa takdir seakan mempermainkan hidupku? Mulai dari karir, popularitas dan juga wanita? Dimana ada ketenangan untukku, maka disana pula kau tempatkan Bara. Kenapa Tuhan?" Aditia memejamkan matanya untuk mengurangi rasa sesak didada nya.