Tidak sengaja menemukan korban kejahatan yang terluka parah dan mengalami amnesia, siapa sangka kisah Maura dan Shaka dimulai di hari itu. Maura berusaha membantu Shaka untuk sembuh dan kembali mengingat jati dirinya.
Namun, saat cinta mulai tumbuh di hati mereka, ingatan Shaka kembali, laki-laki itu mengingat bahwa cintanya hanya untuk seorang wanita yang dia janjikan pernikahan.
Apakah Shaka akan kembali pada cinta pertamanya? Ataukah Shaka memilih Maura yang dengan tulus membantunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itta Haruka07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Suit, suit!
Shaka sibuk bersiul saat melihat seseorang dengan rambut panjang tergerai indah dan terbalut dalam rok belahan tinggi, tengah berdiri di depan matanya. Orang itu menyibakkan rambut panjang yang berkilau dan menoleh ke arah Shaka untuk menunjukkan parasnya.
Tawa Shaka langsung meledak kencang begitu ia melihat rupa sosok berambut panjang itu yang tak lain ialah sang adik tercinta, Sky. Ya, saat ini laki-laki macho yang mengaku sebagai playboy itu kini tengah berdandan menjadi wanita jadi-jadian demi menjalankan misi mereka menerobos ke rumah Maura.
Tak hanya Shaka yang sibuk tertawa, Rafael yang mengintip di balik tembok pun ikut tertawa terpingkal-pingkal melihat putranya yang disulap menjadi wanita gadungan untuk melancarkan aksi mereka.
"Ketawa terus yang kenceng! Ketawa sana!" sungut Sky dengan wajah cemberut.
Shaka mengamati sang adik dari ujung kaki hingga kepala. Pria itu tak kuasa menahan tawa saat melihat bedak menor dan lipstik warna cabe yang menghiasi bibir tebal sang adik, dan berhasil menutupi wajah tampan adiknya itu.
"Sky, kamu cantik banget, deh! Orang-orang pasti nggak akan nyangka kalau kamu Sky, anak Daddy," sela Rafael ikut meledek putranya.
"Daddy! Ini nggak lucu, ya! Sky nggak terima! Ini 'kan misi penyelamatan pacarnya Kak Shaka, kenapa justru Sky yang dijadiin kambing hitam?" omel Sky melayangkan protes pada sang ayah dan kakaknya yang memaksa dirinya untuk berdandan layaknya wanita.
"Aku mau main detektif, tapi kasih peran yang keren, dong! Penyamaran apaan kaya gini? Yang ada, Sky pasti langsung diusir sama preman di sana!" gerutu Sky menggebu-gebu hingga hampir membuat rambut palsu dan bulu mata yang tertempel padanya copot.
"Jangan banyak gerak, Sky! Susah tahu masang bulu matanya!" omel Shaka lebih mementingkan bulu mata, daripada menanggapi aksi protes sang adik.
"Kalian dengerin Sky ngomong nggak, sih?" pekik Sky dongkol.
"Diam!" bentak Shaka dan Rafael bersamaan untuk membungkam mulut Sky yang terus merengek di depan mereka. Nyali Sky langsung menciut begitu melihat wajah garang sang kakak dan ayahnya yang tengah sibuk menyusun strategi.
"Jadi, gimana, Dad?" tanya Shaka pada sang ayah yang tengah memikirkan skenario bagus untuk dapat melancarkan aksi pengintaian pertama mereka.
"Sky nggak mungkin bisa masuk ke dalam. Pertama ... kita coba dekati rumah bagian luar dulu. Sky, kamu bisa pura-pura numpang ke kamar mandi, kan?" tanya Rafael.
"Bisa aja, sih!" sahut Sky masih dengan wajah cemberut dan bibir mengerucut.
"Ngapain Sky numpang ke kamar mandi?" tanya Shaka bingung.
Rafael merogoh kantongnya dan mengeluarkan sebuah wadah kecil berisi alat penyadap dan kamera pengintai. "Sebelum masuk ke sarang harimau, kita harus mempelajari medannya terlebih dahulu!"
"Jadi, Sky harus masang alat penyadap sama kamera pengintai ini?" tanya Shaka.
"Area dapur atau halaman juga sudah cukup. Setidaknya kita bisa memantau keberadaan ibunya Maura, apakah wanita itu berada di rumah atau sedang bepergian. Kita bisa datang menyamar lagi saat ibunya Maura bepergian," terang Rafael pada kedua putranya.
"Informasi dari dapur bisa membantu kita mempunyai alasan bagus saat menyamar untuk memasuki rumah. Para pelayan mungkin akan memanggil tukang untuk memperbaiki sesuatu atau semacamnya. Kita bisa datang ke sana lagi dengan menyamar tanpa membuat mereka curiga. Kalian paham?" tanya Rafael.
Shaka manggut-manggut memahami arahan sang ayah, sementara kepala Sky langsung berputar-putar saat ia mendengar penjelasan sang ayah yang sulit ia cerna.
"Ingat! Hal terpenting dari menyamar adalah meminimalisir kecurigaan! Kalau kita datang menyamar sebagai tamu yang tidak mereka butuhkan, kita akan kesulitan menerobos masuk ke dalam rumah," cetus Rafael.
Kini pandangan mata Shaka dan Rafael tertuju pada Sky yang menjadi tumpuan harapan mereka. Jika misi pertama ini berhasil, mereka bisa lanjut ke tahap berikutnya. Namun, jika misi pertama ini gagal, Rafael harus terus mengulang sampai ia bisa memata-matai kegiatan ibu tiri dari Maura.
"Terus ... cara kita hubungin Maura gimana, Dad?" tanya Shaka dengan wajah muram.
Rafael menepuk pelan pundak sang putra untuk menghibur putra sulungnya yang nampak cemas memikirkan nasib Maura. "Kamu tenang aja. Kalau misi ini berhasil, Daddy udah nyiapin cara buat hubungin Maura."
"Jadi ... sekarang semuanya tergantung sama Sky, kan?" tanya Shaka sembari melirik ke arah Sky dengan tatapan tajam yang begitu menusuk.
Sky menelan ludah kasar begitu ia mendapat tatapan maut dari ayah dan kakak yang menaruh beban berat di pundaknya. "Kenapa jadi aku, sih?" rengek Sky dengan wajah memelas.
Tiba saatnya untuk menjalankan misi, Shaka pun mengantarkan sang adik menuju medan pertempuran. Sky terlihat gusar dan dilanda kecemasan berlebih saat mobil yang ia tumpangi makin mendekat ke arah rumah Maura.
"Ini!" Shaka menyodorkan properti pendukung untuk Sky menjalankan misi penyamaran.
Sky menyambut kumpulan brosur dari sang kakak dengan wajah pucat pasi. "Kak, kalau aku ketahuan gimana? Aku bisa disembelih, Kak!" rengek Sky mendramatisir.
"Kamu 'kan pinter ngibulin cewek, nggak bakal ketahuan, deh! Kamu pinter selingkuh, kan? Nggak pernah ketahuan, kan? Sekarang waktunya kamu terapin keahlian kamu itu di sini biar lebih berguna!" cibir Shaka pada sang adik.
"Ini beda situasinya, Kak!" protes Sky. "Kenapa nggak pakai cewek tulen aja, sih?" gerutu Sky nampak dongkol melihat sepatu hak tinggi yang menempel di kakinya.
"Terlalu berbahaya! Udah buruan sana!" titah Shaka pada sang adik untuk keluar dari mobil.
"Sky harus pura-pura jadi SPG nih?" tanya Sky dengan wajah masam.
"Ingat, pasang pengintainya di tempat tersembunyi! Semangat, Sky!" ujar Shaka menyemangati sang adik.
"Kalau berhasil, kasih aku hadiah!" cetus Sky.
"Gampang! Bisa diurus nanti," tukas Shaka.
"Kalau ada apa-apa, Kakak harus cepetan nyusul ke dalam!" rengek Sky dengan cerewetnya.
"Iya! Udah sana! Buruan masuk! Kakak jagain kamu dari jauh!" omel Shaka yang hanya berperan sebagai bala bantuan dalam misi kali ini.
Sky menghirup napas dalam-dalam, sebelum ia menghampiri preman berbadan besar yang ada di sekitar gerbang rumah Maura. Dengan langkah bak robot rusak, pria itu berjalan pelan bak sampan yang terombang-ambing di lautan karena sepatu hak tinggi yang ia kenakan membuatnya kehilangan keseimbangan.
"Maura ... kamu baik-baik aja di sana, kan? Aku akan bawa kamu pergi dari sini secepatnya!" gumam Shaka sembari menatap rumah yang ditempati oleh sang pujaan hati dari kejauhan.
****
Sky, bebeb othor percaya kamu bisa 😍 cemungut eahh, kek readers nih biar cemungut baca 😄😄
ternyata berakhir sama Maura ya.. 💞💞💞
rasa cinta ke Bianca kayaknya cuma sekedar obsesi karena ditolak terus..
ato mungkin emang udah semakin berkurang sejak kecelakaan karena udah semakin nyaman sama Maura..
yg penting happy ending..
suka banget apalagi ada part mafianya..
benernya masih kurang bacanya kak, babnya dikit banget dibanding ceritanya Satria..
tapi ya sudahlah, Terima kasih udah susah payah buat nulis cerita yg keren ini.. 😘😘😘
oke deh lanjut ke novel berikutnya..
semoga sehat selalu ya kak..
tetap semangat dalam berkarya.., 💪🏻😘🥰😍🤩