Afgans Radithia Zafran harus menikah dengan wanita bernama Alisya, gadis yang tidak dikenal dan merupakan calon pengantin dari adiknya sendiri. Sang adik yang bernama Vincent hilang entah kemana sehari sebelum seharusnya dia menikahi kekasihnya tersebut.
Karena keluarga Afgan sudah mengeluarkan banyak uang untuk acara pernikahan dan undangan pun sudah di sebar, maka terpaksa Afgan menggantikan sang adik.
Satu tahun pernikahan mereka, Vincent tiba-tiba kembali dan meminta kakaknya itu mengembalikan wanita yang seharusnya menjadi istrinya, sementara benih-benih cinta sudah terlanjur hadir di hatinya dan dia sudah bisa menerima Alisya sebagai istrinya.
Seperti apa kisahnya? Mampukan Afgan mempertahankan wanita yang bernama Alisya itu sebagai istrinya? dan apakah istrinya itu masih bisa setia setelah sang adik yang seharusnya menjadi suami gadis itu kembali dan menggoyahkan biduk rumah tangga yang sudah susah payah mereka bangun?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reni t, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bulan Madu
Akhirnya Afgan dan Alisya sampai juga di Pulau Lombok, Pulau dengan dengan sejuta keindahan alam dan keramahan masyarakat sekitarnya yang tinggal di sana.
Di Pulau itu, Afgan nampak sudah menyewa Vila private yang hanya akan di huni oleh mereka berdua selama satu Minggu ini.
Alisya mulai memasuki Vila, tatapan matanya nampak menatap sekelilingnya Vila yang terlihat begitu mewah dan indah, meski Vila tersebut hanya berukuran kecil, tapi bagi mereka berdua itu sudah cukup untuk tinggal sementara dan menikmati bulan madu mereka.
''Wah ... katanya kita mau nginap di hotel? ini si bukan hotel, sayang.'' Tanya Alisya duduk di kursi di dalam Vila.
''Apa bedanya ini sama hotel, sama-sama bayar, sama-sama tidur.''
''Hmm ... Tapi 'kan bayarnya pasti mahal 'kan?''
''Ha ... ha ... ha ... gak usah mikirin uang, cinta. Aku punya banyak uang ko. Mendingan sekarang kita istirahat deh, kamu pasti capek.''
''Nanti dulu, kita keluarin dulu pakaian kita yang ada di dalam koper ini,'' jawab Alisya hendak membuka koper.
''Gak usah, nanti aja,'' jawab Afgan langsung menggendong tubuh mungil istrinya dan membawanya masuk ke dalam kamar.
''Abang ... gak usah di gendong segala, turunin aku. Jangan modus ya.''
''Ish ... Kamu ini, aku cuma bantu kamu ke dalam kamar, muka kamu kayaknya kecapean banget deh.'' Jawab Afgan cengengesan.
''Alasan, dasar kang modus.''
''Terserah kamu mau panggil aku apa, kita 'kan lagi bulan madu sekarang. Jadi mulai saat ini kamu harus mempersiapkan diri kamu untuk melayani aku 24 jam,'' jawab Afgan mulai memasuki kamar, lalu segera menutup pintu kamar keras.
''Apa 24 jam? jangan gila ya? Kamu pikir aku Unit Gawat Darurat yang siap melayani 24 jam?''
''Ya anggap aja begitu, lagian aku memang sudah gila, sayang ...''
Blug ...
Afgan melempar tubuh mungil Alisya ke atas ranjang, lalu segera menyambar tubuh istrinya buas, membuat Alisya sontak berteriak memanggil namanya.
''AFGAAAN ...''
Teriak Alisya memekikkan telinga.
♥️
Afgan terkulai lemas di samping istrinya, napasnya masih terlihat tersengal-sengal dengan senyum yang mengembang dari bibirnya, dia menatap wajah Alisya yang saat ini terlihat berkeringat dengan peluh yang membasahi tubuh rampingnya.
''Kamu benar-benar luar biasa, sayang.'' Lirih Afgan tersenyum puas.
''Kamu juga luar biasa, aku suka ...'' jawab Alisya mencoba mengatur napasnya.
Keduanya pun meringkuk saling berhadapan dan mulai memejamkan mata dengan napas yang masih terlihat naik turun.
♥️
Afgan dan Alisya sontak terbangun saat mereka berdua mendengar ketukan di pintu, mereka yang masih dalam keadaan polos panik seketika dan mencari pakaian yang tadi mereka lembar ke sembarang arah dan entah mendarat dimana.
Tok ... Tok ... Tok ...
''Permisi ...'' terdengar suara ketukan diiringi laki-laki di pintu utama Vila.
''Abang, cepat bangun ...'' rengek Alisya membuka mata.
''Siapa si ganggu, tidur aja ...''
''Gak tau, buruan buka pintunya.''
''Iya tunggu, aku masih belum berpakaian, duh mana koper masih ada di luar lagi. Tadi baju aku kamu lempar kemana?'' tanya Afgan menatap sekeliling.
''Ya cari di situ, lagian Abang juga si, baru juga datang udah minta dilayani aja.''
''Tapi kamu suka 'kan?'' Afgan cengengesan.
''Iya-iya aku suka, tapi buruan buka pintunya, siapa tau itu pemilik Vila.''
''Aduh kamu ini, gak sabaran banget sih,'' jawab Afgan akhirnya menemukan t-shirt miliknya dan segera memakainya, sedangkan bagian bawah, dia hanya menggunakan handuk yang melingkar sembarang di pinggangnya.
Ceklek ...
Afgan pun membuka pintu kamar dan kembali menutupnya, membuat Alisya menggelangkan kepalanya melihat sang suami yang hanya menutup bagian bawahnya dengan handuk kecil berwarna putih.
''Dasar Abang, kalau sampe melorot gimana tuh handuk?'' gumam Alisya terkekeh.
Dia pun semakin merekatkan selimut yang menutup tubuhnya dan meringkuk di dalam sana dan hendak kembali memejamkan mata. Pendakian yang baru saja dia lakukan dengan meraih pelepasan sempurna membuat tubuhnya benar-benar terasa lelah, tapi, dia benar-benar puas karena suaminya itu benar-benar membuat jiwanya benar-benar melayang ke angkasa.
Tidak lama kemudian, Afgan pun kembali ke dalam kamar, berjalan gontai lalu kembali naik ke atas ranjang, memasukkan tubuhnya ke dalam selimut dan meringkuk tepat di belakang istrinya.
''Siapa yang datang?'' tanya Alisya memutar badan meringkuk tepat di depan suaminya.
''Pemilik Vila, cuma mau menyapa doang.''
''Sudah ku duga.''
''Apa kamu masih ngantuk?''
''Banget, tubuh aku lelah banget, bang.'' Jawab Alisya melingkarkan tangannya di perut suaminya, dengan kaki yang dilingkarkan sempurna di pinggang Afgan, layaknya sedang memeluk bantal guling.
''Mau aku pijitin?'' tawar Afgan mengusap punggung polos istrinya.
''Gak usah modus.''
''Apaan sih, emang aku lagi modus.''
Afgan menarik handuk kecil yang masih melingkar di pinggangnya dan melemparnya ke udara dan entahlah handuk itu mendarat dimana.
''Nanti dulu dong, bang. Istirahat dulu bentaran ke,'' pinta Alisya memejamkan mata.
Afgan yang semula sudah bersiap untuk kembali menggempur istrinya, akhirnya mengurungkan niatnya karena merasa kasian melihat sang istri yang sepertinya begitu kelelahan.
''Hmm ... Ya udah deh, kita tidur lagi dulu, setelah itu kita mandi bareng.''
''Iya, terserah kamu aja deh.''
''Setelah mandi, kita jalan-jalan.''
''Iya, terserah kamu aja deh.''
''Aku juga udah siapin makan malam romantis buat kita berdua.''
''Iya, terserah kamu aja deh,'' Alisya terus mengulang kata-kata yang sama.
''Malamnya kamu harus siap melayani aku lagi.''
Afgan tidak mendapat jawaban, dia malah mendengar suara dengkuran kecil yang terdengar begitu lirih keluar dari bibir mungil istrinya, membuat, Afgan sontak tertawa lucu dan mengecup kecil bibir Istrinya itu.
''I Love You, Alisya ..." lirih Afgan menatap wajah istrinya dengan tatapan penuh kasih sayang.
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️