(Hiatus)
(Dalam proses revisi)
⚠WARNING⚠
Ada adegan kekerasan dalam cerita ini. Bagi yang tidak suka adegan tersebut. Dipersilahkan untuk skip bab selanjutnya.
SMC 1 SUDAH TAMAT DAN SMC 2 ON GOING!! SMC 2 MASIH DI LAPAK YANG SAMA!!
*****
Awal cerita membosankan. Tapi jika kalian mengikuti kisah mereka, kalian akan tahu titik ke seruan mereka
Cinta? Ya mereka berdua merasakannya. Felicya Moran dan Gavin Smith William. Mereka menjalin persahabatan. Tetapi
seiring berjalannya waktu, benih-benih cinta mulai hinggap di hati mereka.
Bukan hanya tentang mereka saja. Cerita ini juga menceritakan tentang Fredo Alvais, Kakak dari Felicya. Pria itu merasakan jatuh cinta untuk pertama kalinya.
Tapi apakah gadis yang di cintai Fredo mampu menerimanya yang seorang ketua Mafia? Pria kejam dan bengis jika sudah berhadapan dengan para musuhnya.
Ada juga tentang Felix Moran yang masih mencintai gadis masa lalunya dan menginginkan gadis itu kembali menjadi miliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanesa Dintiani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Samenci[13]
Ica yang melihat Gavin pun langsung pergi untuk menemui Gavin. Tidak lupa ia juga membawa undangan pernikahan itu.
Karena Ica ingin memastikan bahwa dugaannya benar, bahwa Gavin emosi karena undangan pernikahan itu.
Ica yang sudah sampai di bawah pun langsung menghampiri Gavin dan duduk disebelahnya.
“Gue tahu kenapa lo emosi.” ucap Ica, tetapi Gavin tidak merespon. Ia hanya diam.
“Karena undangan inikan, karena undangan ini lo emosi” lanjut Ica sambil mengacungkan undangan yang ia bawa tadi.
Gavin yang tadinya menunduk, mendongkakan kepalanya dan menoleh kepada Ica. Tetapi setelah itu Gavin tertunduk lagi.
“Dari mana lo dapat itu?” tanya Gavin yang tertunduk.
“Gue nggak sengaja nemuin ini dikamar lo” jawab Ica
“Awalnya gue nggak tahu alasan kenapa lo emosi, tapi setelah gue nemuin undangan ini gue jadi yakin kalo lo emosi karena ini.” lanjut Ica yang mengacungkan undangan itu lagi.
“Lo bener ca, gue emosi karena undangan itu. Dan bodohnya gue emosi cuman karena sampah itu” ucap Gavin yang berdiri dan langsung meninju pohon yang tidak jauh dari tempat Gavin duduk.
Ica yang tidak tahu bahwa Gavin akan meninju pohon itu pun terkenjut dan reflek berteriak.
“Gavin!” teriak Ica, tetapi Gavin tidak menghiraukan itu Gavin terus meninju pohon tersebut.
Ica yang tidak mendapat respon Gavin pun menghampiri pria itu.
“Gavin stop!” ucap Ica yang berusaha menarik Gavin menjauh, tetapi sia-sia.
Kekuatan Ica tidak sebanding dengan Gavin. Tetapi Ica tidak menyerah, Ica masih berusaha.
Sampai pada akhirnya Gavin pun berhenti dan bersandar dipohon dengan napas yang memburu
“Huh....huh....huh....huh....”
“Lo udah gila ya vin, ngapain lo pake ninju itu pohon. Lihat sekarang kedua tangan lo jadi luka.” omel Ica tetapi Gavin tidak menanggapi itu semua.
“Udah sekarang lo ikut gue!” ucap Ica sambil menarik pergelangan tangan Gavin.
“Kemana?” tanya Gavin
“Udah ikut aja!” ica pun menggenggam pergelangan tangan Gavin dan menariknya kedalam rumah, dan membawanya ke dapur.
“Lo ngapain bawa gue kedapur?” tanya Gavin
“Udah lo diem aja, sini tangan lo.!” ucap Ica
“Mau diapain?” tanya Gavin
“Mau gue potong terus gue sayur. Ya mau dibersihin lah. Ya terus mau apa lagi? Udah sini tangan lo!” titah Ica
Gavin mengulurkan tangannya. Dan Ica mulai membersihkan lukanya menggunakan air wastafel.
Setelah selesai Ica pun mengeringkannya menggunakan handuk.
“Sekarang lo duduk dulu disana, gue mau bawa kotak obat dulu!” ucap Ica menunjuk kursi meja makan.
Setelah itu Ica pun pergi dengan setengah berlari untuk membawa kotak obat.
Tak lama kemudian pun Ica datang dengan membawa kotak obat ditangannya.
“Sini tangan lo!” perintah Ica, dan Gavin pun mengulurkan tangannya.
Ica pun mulai mengobati tangan Gavin dengan meneteskan betadine ketangan Gavin yang terluka.
“Stttt.....” ringis Gavin
“Sakik? s...sorry” ucap Ica langsung meniup tangan Gavin yang terluka
“Nggak kok, cuman perih aja” balas Gavin
Ica pun melanjutkan mengobati luka Gavin.
Setelah selesai meneteskan betadine ke kedua tangan Gavin, sekarang tinggal membalutnya dengan perban.
“Cantik” ucap Gavin dengan tidak sadar
“Hah....? Lo bilang apa tadi? Cantik?” tanya Ica
“hahh...n..ngak, itu lo ngebalut perbannya rapih dan cantik.” jawab Gavin yang mengelak dengan gugup
“Ouhhhh... 'kan emang seharusnya.” ucap Ica
“Hadehh.... ini mulut kenapa nggak bisa di ajak kompromi si? pake keceplosan segala. Untung Ica percaya omongan gue tadi” batin Gavin
“Nah... udah selesai.” ucap Ica sambil membereskan peralatan obat yang tadi ia gunakan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung..........
kurang seru gitu
sudah berubah
Felicia memaafkan orang yg jahat
maju
apa
bertemu dengan kakak kembarnya
utarakan hatimu pada ica
bukan manusia lagi
tp kenapa ica gk tau
atau hanya kebetulan mirip🤔
tp tenang aku selalu like kok😁
Karena aku gk ngerti 😁