"Kamu sudah tidak lagi menarik untukku. Aku bosan denganmu!"
Sepenggal kisah nyata yang dibubuhi banyak fiksi, seorang istri yang ditinggalkan sebab ia tidak lagi menarik. Gendut, kusam, tidak lagi enak dipandang, merupakan alasan sang suami menikah lagi dengan perempuan berstatus janda muda yang masih terlihat sexy dan cantik. Ia di poligami di saat ia tengah mengandung anak ke empat mereka. Dan pada akhirnya ditinggalkan.
Hingga ia berhasil move on dan kembali membangun rumah tangga bersama seorang dokter kaya dan tampan.
Namun saat ia telah berbahagia dengan sang dokter, ternyata sang mantan suami malah kembali dan memintanya untuk rujuk.
Genre : Romantis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sandrila Patilima, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33. Tentang London
Masih dalam bandara, kami sekeluarga berjalan rombongan dengan rona bahagia di wajah masing-masing. Decak kagum tak pernah berhenti keluar dari mulutku. Bagaimana tidak, bandara ini sangat luas dan mewah, dengan dinding kaca yang mampu menerawang keluar gedung. Pun dengan fasilitas lengkap yang terdapat dalam bandara ini. Sungguh sangat membuatku takjub.
Syamil dan Syafiq beberapa kali berlarian menelusuri setiap jalan yang kami lalui. Bernyanyi riang sambil kedua tangan mereka saling bergandengan.
"So cute!" Terlihat beberapa bule perempuan mencoba berinteraksi dengan mereka, hanya untuk sekedar mencubit pipi kecil keduanya karena gemas.
Namun keduanya hanya diam tidak merespon, pasrah saja saat pipi mereka harus memerah semu sebab cubitan sayang dari orang yang tidak mereka kenal.
"Ummi, mereka bilang apa?" Syamil berbalik arah padaku dan bertanya perihal kata yang dilontarkan salah seorang turis perempuan.
"Oh, tante tadi bilang kalau Syamil dan Fatih imut," sahutku menjelaskan.
Mereka hanya mengangguk paham dan kemudian meneruskan kembali perjalanan.
Aku edarkan pandangan ke sekeliling, sekedar mencari cafe untuk mengisi perut yang sudah sedari tadi keroncongan. Hingga mataku tertuju pada satu cafe yang cukup menarik jika dilihat dari desain interiornya. The perfectionis't cafe, nama itu yang terpampang pada pintu masuk cafe tersebut.
"Mas, kita kesana dulu yuk. Aku lapar nih," bujukku pada mas Hafizh sambil menggelayut manja pada bahunya.
"Baik sayang. Aku juga lapar," ujarnya menyetujui. Kemudian memberikan komando kepada yang lainnya untuk mengikutinya.
Memasuki kawasan cafe yang cukup banyak pelanggannya. Aku dan rombongan memilih untuk duduk di pojokan cafe, agar tidak terlalu terganggu dengan banyaknya orang yang berlalu-lalang hendak memesan makanan.
Sistem pelayanan disini cukup populer, yaitu memesan dan bayar langsung ke kasir. Setelah itu customer tinggal menunggu dengan membawa alat berbentuk bundar yang dipakai sebagai alarm jika makanan sudah siap di meja kasir.
Mas Hafizh duduk kembali setelah tadi berdiri cukup lama di antrian kasir untuk memesan hidangan pengganjal perut yang sedari tadi memberikan kode andalannya.
Ia duduk tepat di sampingku. Mengambil ponselnya dan mematung diri dengan tangan sibuk mengotak-atik benda pipih tersebut.
Sesekali aku melirik ke ponselnya, hendak melihat apakah gerangan yang membuat lelaki terkasihku ini sibuk. Sebab bukan tipe mas Hafizh, jika sedang kumpul keluarga ia memainkan ponsel. Namun, ia mengelak, dan menyembunyikan layar ponselnya agar tidak terlihat olehku.
"Kok, disembunyikan Mas? Tumben banget," ujarku penuh kecurigaan.
"Nggak apa-apa sayang." Ia langsung meletakkan kembali ponselnya pada kantong celananya.
"Pinjam handphone-mu Mas!"
"Hmmm, eh alatnya bunyi sayang. Bentar ya, aku ambil pesanan dulu. Dah laper banget nih," sahut mas Hafizh mengalihkan pembicaraan kami. Membuatku menaruh kecurigaan besar terhadapnya.
Ia kemudian berdiri dan pergi begitu saja tanpa memberikan ponselnya padaku. Keningku mengerut, entah apa yang di sembunyikan mas Hafizh. Tak mungkin ia sedang berselingkuh kan? Segera kutepis pikiran buruk itu. Dan tidak memikirkannya lagi.
Beberapa menit kemudian mas Hafizh datang bersamaan dengan Mbak Brenda yang tadi ikut menemaninya. Di tangan mereka nampak beberapa menu yang sudah kami pesan tadi. Ada berbagai macam Burger pesanan anak-anak, ice cream caramel, cokelat, vanilla dengan topping berbeda-beda, milkshake peanut butter, chocolate and pizza margeritha mushroom, dan coffe latte dengan varian rasa berbeda-beda.
Mas Hafizh segera menghidangkan menu-menu tersebut di atas meja. Dan sejurus kemudian semuanya hanyut dalam kekhusyukannya menyantap makanan lezat tersebut. Beberapa kali aku memberikan kode pada suamiku atas hal yang belum tuntas tadi, namun selalu dibalasnya dengan menyuapkan beberapa sendok ice cream caramel yang terasa menyegarkan tenggorokan.
Hanya sekali itu mas Hafizh terlihat sibuk dengan ponselnya. Saat ini tidak ada lagi hal yang mencurigakan dari gerak-geriknya. Entahlah, aku ingin langsung menanyakan perihal itu padanya, tapi nantilah ketika kami telah sampai di tempat kami menginap. Tak elok jika nanti harus bersitegang di depan banyak orang. Apalagi di depan anak-anak.
***
Dua orang laki-laki bule melambaikan tangan kepada mas Hafizh. Dengan kertas putih bertuliskan Mr. Jonathan dalam genggaman salah seorang pria tersebut. Yang kupikir mereka adalah orang-orang yang dibayar mas Hafizh untuk menjemput kami.
Mas Hafizh membalas lambaian tangan mereka dan menghampirinya.
"Hello Mr. Jonathan, How are you?" Sapa lelaki dengan usia cukup dewasa dari usia mbak Brenda. Di sampingnya juga berdiri seorang lelaki dengan usia yang kutaksir tak berbeda jauh dari mas Hafizh.
"I'm good uncle." Mas Hafizh merangkul pria paruh baya tersebut dengan kasih. Begitupun dengan mbak Brenda, segera mendekat dan memberi salam hormat pada lelaki itu.
"Mr. and Mrs. Prasetya, I'm glad to see you guys again," (tuan dan nyonya Prasetya, saya senang bertemu kalian lagi). Sahutnya kemudian dengan gelagat sopan pada suami dan kakak iparku.
"We are also happy to see you again uncle Freddy!" (kami juga senang bertemu denganmu lagi paman Freddy). Balas mbak Brenda elegan dengan senyum cukup menawan.
Lama mereka saling menyapa satu sama lain, sampai akhirnya mas Hafizh menarikku agak sedikit mendekat.
"Sayang. Perkenalkan, ini paman Fraddy dan anaknya Aland. Beliau ini adalah orang kepercayaan ayah, yang mengurusi rumah peninggalan ayah di London." Aku cukup kaget dengan penuturan mas Hafizh. Rupanya ia juga memiliki keluarga di kota yang merupakan pusat keuangan di dunia bersama dengan New York.
"Hello Mr. Freddy. My name is Rianti," tuturku memperkenalkan diri.
"Hello Mrs. Rianti. Don't call me master, just call me uncle Freddy," (hallo nyonya Rianti. Jangan panggil aku tuan, panggil aku paman Freddy saja). Balasnya sambil tersenyum ramah.
"Alright uncle." (Baiklah Paman)
"Your wife is very beautiful, Mr. Jonathan," (istrimu sangat cantik tuan Jonathan), sahutnya pada mas Hafizh dengan mengangkat jempolnya.
Mas Hafizh tersenyum kemudian merangkulku penuh kasih. "She is not only pretty uncle. But she is also the best wife I have." (Dia bukan hanya cantik saja paman. tapi dia juga istri terbaik yang kumiliki).
Kata-kata mas Hafizh berhasil membuatku tersipu malu sekaligus bahagia. Seiring dengan kecupan di kepala yang semakin memberikan efek canggung pada diriku. Sebab ia memuji sekaligus menciumku di depan anak-anak dan orang yang baru saja kukenal.
"Ih Abi, kenapa cium ummi di depan banyak orang sih. Kan malu," ketus Syamil dengan bibir mengerucut. Sontak semua orang tertawa geli akan kepolosan anak keduaku itu.
Mas Hafizh langsung memeluk dan mencium pipi mungilnya. Serta memperkenalkan ia pada paman Freddy dan juga Aland.
Selanjutnya ia juga memperkenalkan satu persatu keluarga kami yang lainnya.
***
Kini kami sudah berada dalam mobil. Duduk manis bersama paman Freddy yang mengendarai mobil dengan cukup telaten. Sesekali ia menyalip beberapa kendaraan di depannya. Seperti sudah terbiasa dengan hal itu.
Mas Hafizh dan paman Freddy masih terus terlibat perbincangan serius. Bernostalgia saat mereka masih hidup bersama di kota yang merupakan ibukota negara Inggris ini.
Sedang aku, memilih memandang keluar jendela. Menikmati setiap pemandangan yang kami lalui selama dalam perjalanan menuju rumah.
London, kota yang terkenal dengan ikon Big ben-nya. Yaitu sebuah lonceng besar di tengah menara jam yang terletak di sebelah utara Istana Westminster, London, Britania raya. Tetapi nama tersebut sering dipakai untuk menyebut menara jam itu secara menyeluruh. Dan secara resmi menara ini diberi nama Elizabeth Tower, bertepatan dengan pesta 60 tahun ratu Elizabeth II memimpin Britania raya dan persemakmuran.
Jam ini sangat besar, sehingga menara ini pernah dijadikan sebagai menara jam berwajah empat terbesar. Akan tetapi seiring berjalannya waktu rekor ini akhirnya dipegang oleh menara jam Alley Bradley di Milwaukee Wisconsin. Usianya sudah mencapai kurang lebih 150 tahun.
Jam dan lonceng Big Ben didesain oleh Augustus Pugin. Jam ini diletakan pada sebuah kerangka besi berukuran 7 meter (23 kaki), ditopang dengan 312 kepingan kaca opal, sehingga mirip seperti jendela berwarna. Loncengnya dilapisi seluruhnya dengan emas. Sangat mewah bukan?
Big Ben akan lebih indah jika di kunjungi pada malam hari. Sebab keindahan cahaya yang memancar dari menara tersebut membawa nuansa romantis bagi penikmatnya. Ah rasanya, aku ingin segera mengunjunginya.
Beberapa tempat wisata London lainnya yang wajib dikunjungi adalah London Eye, menara London, Piccadilly Circus, sungai Thames, Covent Garden, Natural History Museum, Buckingham palace, Oxford Street, dan masih banyak lagi yang tidak bisa kusebut satu persatu.
"Sayang, apa kau baik-baik saja?" Suara mas Hafizh menyentakkanku.
"Aku baik sayang. Aku hanya sedang mencuci mata dengan pemandangan indah dari kota ini."
"Apa kau suka?" Mas Hafizh mendekat dan memeluk pinggangku.
"Aku suka Mas. Sangat suka." Aku tersenyum padanya dengan masih memangku baby Zee.
"Nanti setelah pernikahan Raymond dan Alice, aku akan mengajakmu dan anak-anak mengunjungi tempat-tempat wisata terkenal di kota ini. Bagaimana, kamu mau?" Cecar mas Hafizh.
"Benarkah? Aku mau mas," sahutku penuh antusias.
Mas Hafizh hanya tersenyum dan mengambil alih baby Zee dalam pelukanku. Kemudian menepuk-nepuk pundaknya agar aku menyender pada bahunya. Dan akhirnya akupun melepas penat dibahunya setelah sekian jam tubuhku belum merasai keempukkan tempat tidur. Haaah, rasanya nyaman sekali!
Paman Freddy hanya melihat kami dari spion besar dengan tatapan penuh sukacita. Serta terus memacu mobil mewahnya memecah keramaian kota London.
***
Deru mobil semakin memelan saat memasuki gerbang salah satu rumah yang terbilang cukup mewah dengan desain klasiknya yang kental akan kekhasan negara Eropa. Bangunannya terbuat dari susunan batu yang disatupadukan dengan semen, dan diberi sentuhan kayu. Sedangkan dari desain hunian berbentuk datar atau flat maupun komplek, yang dimana biasanya atapnya terlihat curam. Seperti hunian klasik Eropa pada umumnya. Jendela dan pintunya berbentuk melengkung, serta yang menambah keunikannya adalah adanya cerobong asap yang kuyakini di dalamnya lengkap dengan tempat perapiannya.
"Rumah ini sangat indah," gumamku yang kurasa terdengar oleh mas Hafizh. Mataku tidak berpindah, masih terpesona dengan keindahan rumah yang akan aku tempati selama beberapa Minggu ke depan.
"Rumah ini peninggalan kakek dan nenek sebelah ayah, sayang," ucap suamiku menatap nanar rumah indah di depan kami.
Aku mendekatinya, menggelayutkan tangan pada lengan kekarnya yang masih memeluk baby Zee. Terdapat perasaan rindu yang tergambar dari raut wajahnya. Mungkin ia sedang merindui sang pemilik rumah yang kini telah berpindah ke kehidupan yang abadi.
Mas Hafizh kemudian bercerita tentang kehidupannya dulu ketika masih tinggal di rumah ini. Tentang masa kecilnya bersama mbak Brenda dan Kirana.
Yang aku ketahui saat ini bahwa kakeknya keturunan Inggris dan neneknya berasal dari Indonesia. Sementara sang Ayah terlahir dan menikah di Indonesia. Namun memilih untuk menetap di London bersama ibu mas Hafizh.
Setelah kepergian sang kakek dan nenek serta mas Hafizh yang mulai memasuki Sekolah Menengah Ke atas. Keluarga mas Hafizh pindah ke Indonesia dengan alasan sang ayah ingin melanjutkan bisnis keluarga mereka di negara sang ibunda tercinta, sekaligus ingin mengurusi orang tua mama mertua yang sudah lanjut usia.
Rumah ini hanya dirawat oleh paman Freddy bersama istri dan anaknya Aland. Paman Freddy merupakan asisten pribadi kakeknya mas Hafizh. Beliau sudah mengabdi pada keluarga Prasetya sejak beliau masih berumur remaja sampai dengan saat ini.
"Please come in, sir." (Silahkan masuk tuan) ajak paman Freddy bersama sang istri yang sudah sedari tadi menemui kami di pelataran rumah.
"Okay, thank you uncle." (Baik, terima kasih paman).
Langkahku mengiringi langkah mas Hafizh yang mengikuti bibi Caroline mengarah ke dalam rumah.
"Aunty nice to see you again Mr. Jonathan." (Bibi senang bertemu denganmu lagi tuan Jonathan). Bibi Caroline menyapa mas Hafizh dengan suara lembutnya.
"You look even more handsome!" (Kamu terlihat semakin tampan saja), sambungnya lagi dengan tawa menyeringai dari mulutnya.
"I was always handsome aunty," (aku memang selalu tampan bibi). Mas Hafizh mengedipkan mata genit padaku yang fokus memperhatikan isi rumah klasik ini.
Aku mengerutkan kening. Memperhatikan setiap detil tubuh mas Hafizh. Yah, lelaki ini memang sangat tampan walau dilihat dari sisi manapun.
"Iya, iya. Kau memang selalu tampan Mas." Ia tersenyum lebar dengan barisan gigi putihnya yang terlihat setelah mendapat pengakuanku.
Bibi Caroline kemudian mengantarkan kami ke kamar masing-masing. Untuk sejenak merebahkan diri ke pembaringan setelah sekian jam hanya bisa tidur dengan bersandar kepala saja.
Melihat kasur yang empuk, serta merta aku langsung menjatuhkan diri bersama baby Zee yang sudah cukup pulas tertidur dalam pelukanku tadi. Disusul mas Hafizh yang juga membawa baby Qilla yang masih terjaga dalam pelukannya. Sedang anak-anak yang lain lebih memilih mengikuti mbak Brenda karena diminta olehnya.
Kamar ini sudah di fasilitasi dengan ranjang kecil khusus untuk ditiduri oleh kedua bayi kembarku. Sebelum berangkat mas Hafizh mungkin sudah menelpon paman Freddy untuk menyiapkannya. Jika mengingat dalam rumah ini tidak ada anak bayi.
Aku letakkan secara perlahan baby Zee dan kemudian disusul baby Qilla yang secara perlahan juga ikut terlelap bersama saudara kembarnya. Setelah itu aku ikut berbaring di samping mas Hafizh yang sudah lebih dulu melepas kepenatannya. Bersiap untuk menyelami dunia mimpi dengan posisi senyaman mungkin. Akan tetapi belum sampai diri ini hilang kesadaran. Tangan lembut mas Hafizh sudah melingkar pada pinggangku bersamaan dengan ciuman hangatnya pada bibirku.
"Sayang, ibadah yuk!" Perkataan itu adalah kode bahwa mas Hafizh menginginkan kehangatan tubuhku.
"Pengen bobo," jawabku memohon.
"Bobonya sekalian saja yah sayang. Please!" ujarnya lebih memohon lagi padaku.
Aku mengangguk pasrah, sebab tanpa bertanya lagi mas Hafizh sudah mulai melancarkan aksinya. Dan aku kembali menikmati setiap sentuhan hangatnya di negara yang berbeda.
Bersambung 😁😁
dan sangat betul...buah dari kesabaran adalah sesuatu yg manis...
karena memang sabar sejatinya adalah ujian yg amat sangat berat...maka Alloh pun akan menyiapkan hadiah yg ISTIMEWA....
banyak pelajaran. hidup yg bisadipetik dari novel ini...bagaimana sabar dan ikhlas seorang hamba ketika mendapatkan ujian Nya...bagaimana kasih sayang dan ketulusan ditanamkan...dan bagaimana kewajiban sebagai umat dijalankan...
keren thorr sayaaanngg novel ini...ceritanya lugas..layaknya kehidupan real..alurnya gak bertele-tele dan yg paling keren..pesan moralnya sampek dgn mudah ke pembaca...
lluuvv authoorr sayaaanngg...💝💝💝💝💝
💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝