"Kamu sengaja tidak ikut makan malam saat saya dirumah kamu?" Tanya Arka
"Ketiduran pak" jawab Mentari asal
"Apakah Aldi mengetahui kebohongan mu ini?.. saya sangat tau kalau orang itu bohong atau tidak" ucap Arka membuat Mentari diam tidak berkutik
Kira-kira apa yang terjadi yaa?
.
.
.
Semoga suka😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fenti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33
Pagi buta Mentari bangun karena merasa buang air kecil, dengan pelan menurunkan kakinya ke lantai dan meringis sakit bagian lutut dan paha. Mentari jalan dengan pelan, ia tidak ingin membangunkan orang tua dan kakaknya yang lagi tidur nyenyak .
Mentari dalam kamar kecil itu selama 5 menit, setelah keluar dari kamar mandi dia dikagetkan dengan pemandangan ibunya yang sedang menangis
Dengan berjalan pelan Mentari menghampiri ibunya "bunda kenapa?"
"Kamu dari mana sayang?" Tanya Anita balik dengan memegang tangan putrinya itu, "bunda cari-cari kamu gak ada" sambungnya sambil mengusap air matanya
"Bunda cengeng. Mentari ke kamar mandi" ujar Mentari sambil mengusap pundak ibunya untuk menenangkan perasaannya "Papa dan kak Aldi mana?" Sambungnya setelah menyadari kalau dalam ruangan tinggal ibunya
"Papa dan kakakmu keluar sebentar" bohong Anita
"Ohh" jawab Mentari lalu ia berusaha untuk kembali duduk diatas tempat tidur
Setelah Mentari duduk, ibu Anita langsung mengirim pesan untuk suaminya.
✉️"Mentari tadi ada dikamar mandi pa" pesan dari ibu anita
Hadi, Aldi dan seluruh anak buahnya yang ia kerahkan untuk mencari mentari berpencar kecuali Aldi bersama ayahnya. Hadi dengan posisi berada disamping Aldi, tiba-tiba ponselnya bergetar tanda ada pesan masuk
"Mentari di ruangan kata bundamu, jadi kita pulang" ajak Hadi dan Aldi menelpon salah satu anak buahnya untuk berhenti mencari Mentari
Tidak membutuhkan waktu lama, Hadi dan Aldi sampai rumah sakit tepat diruangan Mentari, Aldi tidak menunggu waktu lama
"Dek, kalau kemana-mana beri tahu papa, bunda atau aku"
Mentari tidak mengerti maksud kakaknya itu, untuk apa kemana-mana harus minta izin
"Ke toilet harus izin juga?"
"Iya"
Mentari menganggap remeh ucapan kakaknya itu "tidak sekalian diantar sampai depan toilet?"
Aldi menatap heran adiknya. Bagiamana tidak, ucapannya yang begitu serius dianggap biasa olehnya
"Nanti minta sama suamimu yang antar sampai dalam toilet, nanggung hanya sampai depan saja"
"Eehhh.. Kan bau"
"Suamimu juga, itu urusan kalian" ujar Aldi lagi asal. Aldi ingin sekali adiknya memahami masalah yang menimpanya ya g begitu janggal setelah mendengar ceritanya, tapi malah adiknya itu seolah-olah itu hal biasa
"Kak Aldi kenapa bikin kesal tiap hari... Bun" Mentari memanggil bundanya mengadu
"Sudah-sudah" ibu anita yang memberhentikan anaknya itu yang terus adu mulut yang tidak mau kalah salah satu sama lain
Hadi menghampiri putrinya dan duduk dibibir tempat tidur
"Papa memutuskan kamu dirawat dirumah, tidak aman disini" ujar Hadi walaupun awalnya ingin merawat putrinya itu sampai benar-benar sembuh. Namun, dengan keadaan seperti saat ini sangat tidak memungkinkan. Hadi susah untuk mencari motif pada kecelakaan yang menimpa putrinya itu, ia berpikir tidak punya masalah dengan rekan bisnisnya atau bahkan saingan bisnis dan putrinya itu tidak pernah membuat masalah kepada siapapun bahkan di kampusnya sendiri.
"Tapi pa" ibu Anita khawatir dengan keadaan putrinya itu
"Disini tidak aman, Mentari dirawat di rumah" final Hadi
Berbeda dengan Anita yang tidak mengerti maksud dari suaminya itu, maka dia bersikeras untuk tetap dirawat di RS sampai benar-benar sembuh total
"Papa gak bisa, Mentari pulang kalau sudah benar-benar sembuh" Anita bersikeras agar Mentari tetap dirawat di Rumah Sakit
Aldi sangat paham dengan perasaan ibunya, tapi ia tidak bisa abaikan keinginan papanya juga karena bagaimanapun itu keputusan terbaik untuk Mentari sebelum ditau siapa yang sengaja mencelakai adiknya itu. Dengan lembut Aldi mencoba membuat ibunya mengerti
"Bunda, Aldi paham betul perasaan bunda,tapi keputusan papa itu yang terbaik saat ini"
Mentari hanya duduk diam sambil menunggu keputusan apakah dia akan tetap dirawat disini sampai benar-benar sembuh atau dipulangkan dan dirawat dirumah.
Dengan lirih mentari "Aku gak akan bertemu lagi dengan dokter tampan"
Aldi masih membujuk ibunya mendengar ucapan adiknya itu, ia menoleh seketika lalu kembali fokus kepada ibunya
"Bun lihat Mentari, bahkan dia tidak sadar kalau dirinya dalam bahaya, dokter tampan yang dia maksud itu bukan dokter" jelas Aldi lagi pada Bundanya
"Terus siapa?" Tanya Anita dengan bingung
Aldi menaikkan pundaknya tidak tau sedangkan diluar ruangan mentari, Hadi sedangkan mengurus semua persyaratan agar putrinya itu bisa dirawat jalan dan segera keluar dari RS itu
"Tolong rahasiakan siapapun yang tanyakan putri saya di Rumah Sakit ini kecuali keluarga inti" ucap Hadi di ruang administrasi Rumah Sakit Sejahtera itu
"baik pak" jawabnya dengan lembut
Semua yang berurusan dengan Rumah Sakit Hadi sudah selesaikan dan sekarang tinggal menunggu sopir yang jemput mereka
Selang beberapa menit mobil jemputan sudah sampai dan supir sudah diarahkan langsung keruangan Teratai 1, disana sudah ditunggu oleh sang majikan dan anaknya. Dan tidak lama suster membawakan kursi roda untuk Mentari. Mentari dari ruangan sampai mobil menggunakan kursi roda yang didorong oleh kakaknya
"Kakak.."
"Hmm"
"Dokter tampan itu dimana ya?"
"Kalau sudah punya calon itu harus tutup mata dengan ketampanan laki-laki lain.. Ingat ada Arka" Aldi mengingatkan adiknya itu
Mentari menghela napas mengingat Arka yang dingin seperti kulkas dan tidak ada romantis-romantisnya sama sekali hanya disuruh makan dan makan
"Hmm.." ujar Mentari. Dia memilih untuk diam dari pada terus menanyakan dokter yang pernah datang di ruangannya kepada kakaknya. Toh, juga Aldi tidak akan menjawab malah menceramahinya
...****💛💛💛****...
Siang yang cerah, Mentari duduk di kamar seorang diri sedangkan yang lain lagi asyik cerita diruang tengah.
Aldi kepikiran akad nikah mentari yang semakin dekat dengan kondisi Mentari saat ini
"Pa, apa tidak sebaiknya acara akad nikah mentari diundur.. mentari lagi sakit" ujar Aldi
"Sepertinya tidak bisa nak, lagian hanya akad nikah, tidak ada resepsi pernikahan sebelum Mentari wisuda" jawab papa Hadi
Ibu anita mendengar ucapan suaminya itu dengan nampan yang ia simpan diatas meja
"Iya nak,.. benar kata papa, Mentari harus ada yang jaga, setidaknya kalau sudah menikah ada Arka yang jaga, kita tidak khawatir lagi. Ehh, diminum ya, bunda mau kekamar Mentari dulu" ujarnya lalu ia pergi menuju kamar putrinya
Ibu Anita sampai dikamar Mentari mendapatinya lagi duduk diatas tempat tidur sambil main ponsel. Ibu Anita duduk dibibir ranjang dengan senyum sambil bertanya kepada putrinya ingin memastikan kepadanya
"Sayang, apa gak apa-apa jum'at ini akad nikah? Kamu lagi sakit"
Mentari yang lagi main ponsel langsung menaruhnya disamping dan menatap ibunya itu
"Bunda, gak apa-apa kok" jawab mentari, Mentari tidak ingin membuat orang tuanya pusing, dan tidak enak kalau setiap hari terus disibukkan dengan dirinya
"Yakin?" Tanya ibu Anita lagi kepada putrinya itu, seakan tidak percaya dengan jawabannya
Mentari memejamkan mata seketika sembari menghela napas pelan, meskipun keputusan ini membuatnya ragu tapi bagaimanapun ini sudah terlanjur dilamar dan orang tua Arka yang begitu semangat menyiapkan semuanya
"Iya bunda, ini yang terbaik" jawab Mentari lagi
Mentari menatap ibunya itu dengan tatapan sedih, entah kenapa hati Mentari setiap membahas akad nikah hatinya selalu ragu
"Bun, aku ingin mengatakan kalau bunda membahas akad nikah aku bawaannya nangis, tapi aku takut nanti bunda sedih" batin Mentari lalu merentangkan tangannya pengen dipeluk oleh sang bunda
"Kenapa sayang?" Tanya ibu Anita pura-pura walau ia tau kalau putrinya itu ingin dipeluk
Dengan nada manja "peluk"
"Ohh" jawab ibu Anita lalu menyambut tangan putrinya itu lalu mereka pelukan.
Ibu anita memeluk putrinya itu dengan erat, "apa Arka sudah tau kalau kamu sudah dirumah?"
Mentari menggelengkan kepalan "belum bun"
"Gak dikasih tau?" Tanya ibu Anita lagi
"Nanti" jawab singkat Mentari sambil memejamkan mata dalam pelukan ibunya
Ibu anita melepaskan pelukannya lalu melihat wajah putrinya itu dan tidak lupa memperbaiki kerudung putrinya "beritahu sekarang nak, biar bagaimanapun dia calon suami kamu"
Mentari mendengar kata suami tidak tau kenapa seakan-akan semua darahnya naik dan berkumpul diwajahnya
"Apaan sih bun" ujar mentari dengan malu
Ibu Anita hanya senyum lucu kepada putrinya yang malu-malu itu, "halah, malu juga rupanya" ibu anita menggoda putrinya lalu menarik hidungnya pelan dan ia keluar dari kamar Mentari.
Keluarga Algantara sibuk dengan urusan Mentari. Keluarga malah super duper sibuk dari biasanya, menyiapkan semua berkas untuk buku nikah dan sebagainya.
Disisi lain, Rionaldo kembali dirumahnya bukan di apartemen. Dia santai namun hatinya kacau saat ini, dengan duduk diam diteras rumah
"Nak, kamu kenapa diam dari tadi?" Tanya ibu Ayu setelah menghampiri anaknya itu
Rionaldo senyum paksa melihat ibunya sekilas yang berada disampingnya
"Tidak bu, hanya menikmati pemandangan luar saja" jawabnya bohong
"Oohh, kita makan siang yuk " ajak ibu Ayu
Rionaldo hanya mengikuti apa yang diucapkan ibunya itu. Ibu Ayu dengan senang makan bersama putra semata wayangnya itu. Rionaldo tidak nafsu makan, mengingat Mentari yang semakin dekat hari pernikahannya, kegalauan Rionaldo itu tergambar jelas diraut wajahnya
"Nak, kamu kenapa?" Tanya ibu Ayu
"Ehhh.. gak kok bu" jawab Rionaldo
"Tapi ibu lihat seperti lagi ada masalah" ucap ibunya lagi. Dia ingin menggali sedikit apa yang anaknya alami saat ini sehingga murung dan tidak nafsu makan
"Perasaan ibu saja, benaran deh Rio baik-baik saja" Rionaldo meyakinkan ibunya itu.. "maaf ya bu terpaksa Rio bohong" sambungnya membatin lalu ia lanjut makan begitupun dengan ibunya
Sementara dikediaman keluarga Purnawan, sibuk dengan baju akad nikah, meskipun akad nikah hanya keluarga dekat yang hadir namun ibu Dewi tetap mencari kostum yang sederhana tapi elegan sesuai pesan Mentari
"Sayang, coba lihat ini" ucap ibu dewi kepada putranya itu yang masih membuka katalog butik terkenal itu
"Bagus, tapi Mentari suka gak ya" ujar Arka sambil berpikir menimbang-nimbang dengan model yang seperti ibu dewi tunjukkan, apakah Mentari suka dan nyaman pakai atau tidak,. "Ini terlalu banyak pernak perniknya" sambung Arka tidak terlalu suka dan menurutnya mentari juga tidak suka dengan model seperti itu
"Ini hanya untuk terlihat elegan, pernik bagian pinggang supaya pinggang itu agak terlihat ramping dan tidak kosong" jelas ibu Dewi seperti dia saja desainer gaun pengantin itu
"Arka ikut ibu saja,.tapi Mentari tidak boleh terlihat terlalu cantik" ujar Arka lalu ia pergi meninggalkan ibunya
Ibu Dewi mendengar Arka langsung memutar bola matanya "hmmm... anak sekarang" batinnya sambil ia senyum
Ibu Dewi pesan gaun tersebut yang warna silver senada dengan pakaian pria
"Ini kapan bisa diambil?" Tanya ibu dewi lagi
"2 hari sudah bisa diambil bu" jawab karyawan butik itu
"Iya, terima kasih sebelumnya ya" ucap ibu dewi lalu ia pergi dan disana sudah ditunggu oleh Arka dalam mobil
Ibu Dewi masuk dalam mobil dan menyuruh Arka menjalankan mobilnya menuju toko khusus sepatu wanita. Tidak memakai waktu lama mobil Arka sampai di toko sepatu wanita
"Warna silver ya sayang" ibu Dewi memberi tahu Arka, ibu Dewi sengaja bicara seperti itu sebagai tanda kode kalau Arka harus cari untuk Mentari
"Iya bu" jawab Arka
Arka dan ibu Dewi mencari sepatu dengan cara berpencar. Kekeliruan Arka, ia tidak tahu nomor sepatu Mentari dan parahnya ibunya pun tidak memberi tahu Arka
"Ini cocok kayaknya, tapi ibu gak kasih tau nomor berapa" Arka bingung dengan sendal sepatu yang ia pegang sekarang
Arka langsung menelfon Mentari
📞"Assalamualaikum, nomor sepatu kamu berapa?" Tanya Arka ditelfon itu
📞"Wa'alaikumussalam.. 38-39" jawab Mentari singkat
📞"Oke" ucap Arka ditelepon itu lalu ia matikan begitu saja
Mentari hanya menatap layar ponselnya dengan heran, "pak Arka ini kenapa?" Batin Mentari
Arka kemudian mencari sandal sepatu nomor 38 dan 39, setiap melihat warna silver maka akan beli dua pasang yaitu satu pasang nomor 38 dan satu pasang nomor 39. Arka membeli tiga model termasuk heels sehingga yang ia beli sebanyak enam pasang dengan warna yang sama yaitu silver.
Arka menuju kasir membayarnya itu lalu ia kembali dimobil, ia memutuskan untuk lebih bagus menunggu dimobil dari pada mengikuti ibunya kesana-kemari yang membuat kepala pusing.
Tidak lama ibu dewi datang dengan pegangan yang banyak, Arka melihat itu langsung bergumam pelan
"Ibu.. ibu.."
Ibu Dewi masuk dalam mobil sebelumnya sudah memasukkan belanjaannya dibelakang.
"Ibu beli apa?" Tanya Arka
"Buat pernikahan nanti" jawabnya santai
"Sebanyak itu?" Tanya Arka lagi sambil membawa mobil
"Itu untuk mentari dan ibu" jawab ibu Dewi, "kalau kamu nak dapat?" sambungnya
"Itu" tunjuk Arka kearah belakang
Ibu Dewi menoleh dan melihat belanjaan Arka yang lumayan banyak juga "semuanya berbeda modelnya kan?" Tanya ibu Dewi
Arka mengangguk iya dan ibu Dewi hanya membalasnya dengan senyum. Sampai rumah sudah sore dan Arka lupa kalau hari ini belum menanyakan kabar mentari. Arka pamit kepada orang tuanya menuju kamar sambil mencari kontak Mentari untuk meneleponnya
📞"Apa kabar?" Tanya Arka to the point setelah Mentari mengangkat teleponnya
Mentari mengerutkan kening mendengar Arka bertanya seperti itu
📞"Alhamdulillah baik pak, bapak disambar angin segar dari mana?" Tanya mentari yang membuat Arka bingung dengan pertanyaan itu
📞"Maksudnya?" Tanya Arka
📞"Tumben baik pak" ucap Mentari lagi menjelaskan maksud ucapannya tadi
📞"Jangan panggil pak, aku ketuaan" protes Arka kepada Mentari
📞"Memang bapak sudah tua, terima nasib saja" jawab mentari lagi tidak mau kalah dengan Arka
📞"Yang penting menua bersama, assalamualaikum" ucap arka ditelepon itu lalu ia matikan sambungan telefon tanpa menunggu jawaban salam dari Mentari
"Dasar aneh, baru saja diajak bercanda sudah ngambek" lirih mentari seorang diri dikamar
...SEMOGA SUKA ❤️...
...MENTARI SELAMA MENUNGGU TEMAN-TEMAN UNTUK MAMPIIR😁, JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK YAA 😉...
...TERIMA KASIH 🙏...