Fabian Putera, seorang CEO matang berusia 27 tahun. Sulung dari pasangan Pratama Putera dan Sinta Pitaloka ini pertama kali dalam hidupnya merasakan yang namanya jatuh cinta. Ia jatuh cinta dengan seorang gadis SMA berparas ayu yang namanya Ayu juga.
Ayu Putri Darmadi, anak tunggal kesayangan Teguh Darmadi. Gadis piatu berumur 17 tahun, bersekolah di SMA Pelita tahun kedua. Memiliki paras ayu dan bertutur kata lemah lembut. Banyak yang menyukai sifatnya, tapi tak jarang pula yang iri akan kecantikannya.
Pertama kali bertemu di pesta ulang tahun Ayah Ayu, akankah Fabian bisa mendapatkan Ayu, sang cinta pertamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tania I M, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Aktivitas yang sudah kembali, walaupun tak sama lagi. Berharap ia yang tengah pergi, untuk datang kembali. Menemani jalani hari-hari, yang terus silih berganti.
Semua kembali pada tempatnya. Memulai aktivitas yang sama ketika beliau belum pergi. Termasuk Fabian yang mulai bekerja di kantor. Tentu saja, tanggung jawabnya cukup besar. Ribuan karyawan bergantung pada otak cemerlang miliknya.
Duduk di singgasana kebesarannya, menatap tumpukan berkas yang menggunung, sesekali mengerjapkan matanya yang sempat mengantuk.
Tugas baru kini diembannya, yaitu menjadi President Director dan CEO sekaligus. Menggantikan sang papa yang kini malah mengurus perusahaan milik ayah Ayu dan menunggu Galang lulus kuliah dulu.
Flashback, one day ago...
"Haaahhh? Papa yakin? kok gitu ?"
"Hmm, Teguh yang memutuskan."
"Papa mengada-ngada nih pasti, ya kan? Nggak mungkin dong, secara tuh perusahaan kan harusnya jadi warisan buat Ayu sama Melati. Ngapain papa yang ngurus sih? Nanti kalau kedepannya mereka nuntut gimana?" Pertanyaan bertubi-tubi ia lontarkan kepada Pratama, yang tak bergeming, tetap mempertahankan sikap kalemnya.
"Heh Bram, kamu tahu sesuatu?"
"Memang seperti itu surat wasiat dari Tuan Teguh. Nanti malam akan dibacakan oleh kuasa hukum Tuan Teguh. Bertempat di kediaman Darmadi, Tuan." Bram menjelaskan.
"Heh? nggak ngerti aku."
"Fab, hal ini sudah papa sepakati sama Teguh. Dia sendiri yang memberikan tanggungjawab perusahaan Darmadi sama papa. Kamu tahu kenapa? Karena Teguh hanya ingin adil pada kedua putrinya, sedangkan dalam satu perusahaan tak mungkin ada dua pimpinan bukan? Lagipula Teguh tak ingin kedua putrinya menjadi wanita karir, entah alasannya apa hanya dia yang tahu."
"Bukannya Putera Group juga dipimpin dua orang pa?" Fabian segera bertanya ketika papanya itu terdiam.
"Mmm, menurutmu kenapa papa membuat peraturan seperti itu?"
"Nggak tau." Jawabnya cepat.
"Biar kamu belajar seluk-beluk perusahaan, karena nantinya kamu yang mengisi dua posisi, Presdir sekaligus CEO. Oh ya, dan biarkan Bram menjadi wakilmu." Pratama berkata tegas. Sudah waktunya dua posisi penting itu dipegang Fabian seorang. Sedangkan Pratama akan memegang kendali di perusahaan Darmadi yang notabenenya tak sebesar Putera Group. Sudah waktunya ia mengurangi waktu bekerja di usianya yang sudah senja.
"Makin berat dong tugas aku? Luar dalam perusahaan aku yang kelola gitu? Wah papa parah nih." Protes nya. Bram hanya menyimak, tanpa ingin menginterupsi diskusi ayah dan anak itu.
"Mmm, nunggu Galang lulus kuliah dulu, biar nanti dia yang pegang posisi CEO."
"No no no, kenapa nggak Bram aja yang isi posisi CEO?" Mencoba menawar.
"Tanya aja orangnya, mau apa nggak." Pratama mencoba bersabar, menghadapi Fabian memang tidak mudah. Sepertinya akan cocok dengan posisi Presdir, menimbang betapa alotnya ia dalam berdiskusi.
"Heh Bram, gimana?" Tak ada formal-formalnya sama sekali. Padahal mereka tengah berada di kantor, sedang rapat pula.
"Maaf Tuan, saya tidak berhak menempati posisi CEO. Lebih baik Tuan saja." Dengan tampang lempeng yang tak ada ekspresi sama sekali. 'Si kaku ini, dasar mayat hidup, berjalan pula.'
Menyandarkan punggungnya di sandaran sofa, menatap kedua netra sang papa, mencoba memelas.
"Pa..."
"Keputusan sudah dapat, selamat Bapak Presdir." Pratama bangkit, menyodorkan tangan kanan, mengajak bersalaman Fabian yang bertampang muram itu.
"Kasian Ayu tau pa kalau aku banyak kerja, nanti dia khawatir." Masih mencoba bernegosiasi.
Menurunkan telapak tangannya yang tak bersambut Pratama berjalan menuju pintu keluar. "Bram, kamu urus ruangannya, segera di atur. Fabian, ayo kita beri pengumuman ke karyawan hari ini langsung."
"Baik Tuan besar."
Fabian menatap kesal Bram yang tengah menghubungi bawahannya. 'Arghhhh.'
Flashback Off
"Ya Pak Fabian."
"Bram, angkat Sarah jadi sekretaris, dia yang paling berkompeten. dan tambah satu lagi juga. Perempuan atau laki-laki tidak masalah."
"Baik Pak."
Tuttt...
Panggilan terputus. "Memang seharusnya punya sekretaris dua. Perempuan nggak masalah lah. Yang penting kerja bagus." Gumamnya.
Tak lama ketukan pintu terdengar, Bram masuk bersama dua orang perempuan yang menjadi kandidat sekretaris baru yang salah satunya sudah dikenali Fabian.
"Salam pada Bapak." Bram memberi perintah.
"Selamat siang Pak Fabian." Mereka berucap bersamaan.
"Hmmm, Sarah kamu kerja sama Bram saja. Dan kamu..?"
"Nama saya Tania Pak, dari bagian pemasaran." Gadis itu Tania memperkenalkan diri.
"Oke seperti itu saja, kamu jadi sekretaris saya dan kamu Sarah, kerja sama Bram."
"Baik Pak." Berucap bersamaan, lagi.
"Bram, kamu atur tempat mereka di depan ruang kerja saja."
"Baik Pak." Bram menjawab, kini memanggil Fabian dengan embel-embel Pak, lebih etis saja.
"Kalian boleh keluar, bereskan barang-barang kalian di posisi lama."
"Baik Pak."
Ketiganya sudah keluar ruangan, kembali sibuk dengan komputer dan berkas di depannya. Bekerja dengan lebih teliti, agar tender yang disepakati tidak merugikan perusahaan.
'Aku rindu Ayu.'
Sore, salah satu waktu ketika senja hampir tiba. Sudah pukul lima sore, dan Fabian tidak ada tanda-tanda akan beranjak. 'Ayu, tunggu abang pulang sayang.'
Dalam pikirannya hanya ada Ayu, Ayu dan Ayu. Ia rindu sang istri. 'Ah, mungkin pulang nanti minta dipijatin sama Ayu enak kali ya.' pikirnya.
Tok tok tok...
"Masuk."
Tania, sekretaris baru yang belum ada sehari menjabat posisi barunya, masuk dengan membawa secangkir kopi dengan asap yang masih mengepul. Tersenyum kemudian berjalan mendekat ke arah tempat duduk Fabian.
"Saya bawakan kopi hitam buat bapak." Ucapnya sambil meletakkan cangkir kopi tersebut.
"Hmmm."
Fabian sudah menjawab, meskipun hanya dehaman. Akan tetapi Tania tak kunjung pergi juga, justru kini tengah menatap sang boss yang terlihat sangat tampan dengan mata yang fokus menatap layar monitor itu.
"Masih ada yang lain?"
Tergagap, Tania segera membungkuk pamit, "Tidak pak, saya pergi dulu."
Segera berjalan keluar dengan heels yang menggema. Fabian bahkan tak menatap sama sekali.
'Kayaknya salah ambil sekretaris nih.'
Hingga pukul tujuh malam tiba, Fabian baru bersiap pulang. Merapikan berkas-berkas yang berserakan, kemudian melangkah keluar. Berpapasan dengan Bram dan Sarah yang juga akan pulang. Jangan lupakan Tania yang beranjak segera berdiri dari tempatnya duduk, juga bersiap untuk pulang.
"Kalian sudah bekerja keras, besok tetap semangat kerja ya. Saya pamit." Berlaku menuju lift khusus petinggi perusahaan.
"Kalian boleh pulang." Bram berkata dengan datar, ikut berlalu menuju lift yang tadi digunakan Fabian. Diiringi tatapan penuh kagum dari kedua wanita berjabatan baru itu. Menoleh bersamaan, lalu.
"Kita beruntung banget loh, ya nggak sih?"
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Hohoho
I'm back😍😍😍
Mai mai baca ya😁😁😁
Thanks banget buat yang udah baca, like dan komen😍😍😍
Dukungan kalian sangat membantu author dalam tulis menulis loh😚😚😚
Makasih makasih banyak❤️❤️❤️
Paii Paii ❤️