Sinta harus membayar hutang keluarganya dengan cara dia menikah dengan kepala desa dan menjadi istri keduanya.
Pernikahan ini diatur oleh mama sangat kepala desa dengan harapan agar Sinta bisa membuat sang kepala desa berpisah dengan istri pertamanya.
Sebuah pernikahan yang penuh misteri sampai akhirnya Sinta tahu rahasia yang membuat nya terjebak dalam pernikahan neraka ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Henny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembalinya si Istri Pertama
Semua penduduk desa menjadi semakin kagum dan menghormati Sinta saat tahu bahwa perempuan itu sudah memperjuangkan keberadaan Sitti yang menjadi korban kebejatan seorang lelaki berusia 50 tahun.
Setelah semua bukti terkumpul, polisi langsung menangkap Agus. Lelaki itu berusaha mengelak namun ia akhirnya tak bisa membantah lagi.
Sinta terus mendampingi Sitti dan keluarganya. Mahendra menyewa psikiater untuk menolong Sitti agar tak trauma.
"Jika sidangnya sudah selesai, saya akan mengirim Sitti ke pesantren terbaik yang ada di kota. Nanti semua biaya nya akan saya tanggung." kata Mahendra membuat kedua orang tua Sitti berterima kasih.
Sinta merasa sangat bahagia. Apalagi Risna. Ia dapat melihat bagaimana putranya sangat mengagumi Sinta yang nampak lebih dewasa dari Gizel walaupun usia mereka terpaut jauh.
Hari ini, Sinta diberikan suntikan KB lagi dari Risna. Tak terasa sudah 2 bulan ia dan Mahendra menikah.
"Gizel akan segera pulang. Papanya sudah sembuh. Perang yang sebenarnya akan dimulai. Kamu harus membuat perempuan ular itu tersingkir dari rumah ini, Sinta." kata Risna.
"Baik, ma."
Sinta pun keluar dari kamar mertuanya. Nampak Yanti yang menuruni tangga sambil membawa keranjang baju kotor.
"Yanti, keranjang baju kotor siapa itu?" tanya Sinta. Ia tahu kalau keranjang baju kotor Mahendra sudah dikeluarkan tadi.
"Oh, aku mengganti seprei di kamar nyonya Gizel. Sore ini nyonya Gizel akan datang. Aku menyiapkan juga kamar tamu untuk ponakannya nyonya Gizel. Katanya dia akan tinggal di sini untuk sementara."
"Oh...gitu ya?" Sinta hanya mengangguk saja lalu segera ke dapur. Dia ingin membantu mbo Sarmi menyiapkan makan malam.
"Nyonya, sangat baik. Selalu membantu mbo di dapur."
"Aku selalu melihat mbo masak sendiri."
Mbo Sarmi tersenyum. "Nyonya Risna tak mengijinkan orang lain menyiapkan makanan tuan Mahendra. Kalau makanan para pelayan disiapkan oleh mereka di dapur belakang. Tapi tetap mbo yang menyiapkan menunya. Tuan juga menganjurkan setiap minggu, para pekerja harus makan daging minimal sekali seminggu."
"Benarkah?"
"Tuan Mahendra itu sangat baik. Persis seperti kakeknya. Sayangnya nyonya Gizel belum hamil juga. Saya berharap agar nyonya Sinta bisa hamil."
Sinta hanya mengangguk walaupun sebenarnya ia tahu kalau itu tak mungkin terjadi. Setiap bulan, nyonya Risna akan datang menyuntikan obat anti hamil padanya.
**********
Gizel tiba di mansion keluarga Atmaja saat jam sudah menunjukkan pukul setengah tujuh.
"Waw....! Rumahnya sangat besar dan megah. Seperti istana di atas bukit." puji Arsen yang datang bersama Gizel. Arsen beralasan sedang suntuk karena belum bisa menyelesaikan tesisnya. Makanya dia ikut dengan bibinya untuk mencari inspirasi. Pada hal tujuan Arsen ke sini adalah untuk merebut Sinta demi menjaga kebahagiaan bibinya.
"Selamat datang, nyonya!" sapa mbo Sarmi saat membukakan pintu.
"Di mana suamiku?" tanya Gizel.
"Tuan baru saja naik ke atas. Mungkin sedang mandi. Nyonya Risna ada di dalam."
Mendengar ibu mertuanya ada, wajah Gizel langsung menjadi masam. Ia menggandeng tangan Arsen dan masuk ke dalam rumah.
"Arsen, kita mandi dulu setelah itu makan malam. Suami aunty biasanya makan malam pukul setengah delapan. Kamar mu ada di sana!" Gizel menunjuk kamar yang ada di sebelah kamar Sinta.
Risna yang akan menuruni tangga berpapasan dengan menantunya.
"Mama....!" Gizel menunduk dan mencium tangan mertuanya walaupun sebenarnya ia sangat membenci perempuan tua itu.
"Bagaimana kabar papamu?"
"Alhamdulillah. Papa sudah membaik. Suamiku memberikan fasilitas pengobatan terbaik di Penang." ujar Gizel. Ia tahu kalau Risna suka kesal jika Mahendra royal kepadanya.
"Baguslah. Mama dengar ponakan mu itu ikut ya?"
"Iya. Nggak apa-apa kan, ma? Mungkin dia akan tinggal seminggu di sini."
Risna hanya tersenyum. "Kamu kan nyonya rumah ini. Jadi kan istri Majendra. Jadi kamu bisa mengajak siapa saja datang ke sini" kata Risna sambil menahan senyum. Tepat di saat itu, Sinta keluar dari kamar Mahendra. Rambutnya basah. Nampaknya ia baru selesai mandi. Wajah Sinta langsung berubah merah menahan marah saat melihat Sinta yang keluar dari kamar Mahendra.
"Sinta, ngapain kamu keluar dari kamar Mahendra?"
"Eh .....!" Sinta melirik mama mertuanya.
"Memangnya kenapa kalau Sinta dari kamar Mahendra? Itu kan juga suaminya." kata Risna.
"Memangnya kamu di panggil Mahendra?" tanya Gizel. Wajahnya nampak semakin kesal.
"Aku....aku...."
"Sudah 2 Minggu Sinta ada di kamar Mahendra. Saluran air di kamar mandinya rusak dan belum diperbaiki. Jadi untuk sementara Sinta tidur di kamar Mahendra. Kamu kok nampak kesal sih? Mahendra sendiri yang menyuruh Sinta tidur di kamarnya. Jangan ada drama ya, Gizel. Sepanjang hari ini Mahendra capek. Mama tidak ingin kamu mengajaknya bertengkar hanya karena Sinta ada di kamarnya." Risna menggandeng tangan Sinta. "Ayo kita siapkan sarapan, nak."
Gizel mengepalkan tangannya. Ia sebenarnya ingin ke kamar Mahendra namun ia mengurungkan niatnya. Ia harus ke kamarnya untuk mandi dan berdandan cantik karena ia sudah sangat merindukan sentuhan suaminya itu.
Selesai mandi dan berpakaian, Gizel segera ke kamar suaminya. Ia mengetuk pintu dan kebetulan Mahendra akan keluar kamar.
"Sayang ......!" Gizel langsung memeluk suaminya. "Aku sangat merindukanmu. Kenapa sih tak pernah menjenguk aku di Singapura?"
"Pekerjaan ku sangat banyak, Gizel. Yang penting semua yang kamu butuhkan untuk pengobatan papamu bisa terpenuhi kan?"
Gizel nampak cemberut. "Sayang, katanya Sinta tidur di kamar ini ya?"
Mahendra langsung melangkah diikuti oleh Gizel.
"Sayang .....!" Gizel semakin kesal karena Mahendra tak menjawab pertanyaannya.
Saat memasuki ruang makan, nampak Risna sudah duduk sedangkan Sinta dan mbo Sarmi sedang menyiapkan makanan.
"Mbo, tolong panggil keponakanku untuk ke sini!" kata Gizel.
Mbo Sarmi segera memanggil Arsen. Sinta duduk berhadapan dengan Gizel.
"Bau makannya sangat menggoda. Mama bisa gendut kalau tinggal terus di sini." kata Risna.
Arsen memasuki ruang makan. Sinta langsung terbelalak.
"Sinta?" Arsen pura-pura kaget saat melihat Sinta.
"Kalian saling mengenal?" tanya Gizel sambil menatap ponakannya.
"Kami satu kampus tapi beda fakultas. Sinta ini terkenal di kampus karena selalu memenangkan berbagai lomba antar universitas." kata Arsen lalu duduk di samping bibinya. "Rumah kamu di sini? Kamu apanya suami dari bibiku?" tanya Arsen.
"Aku.....!" Sinta bingung.
"Sinta adalah istri dari pamanmu." Risna yang menjawab. Ia nampak kesal dengan Arsen yang seakan tak mengerti.
"Oh...gitu ya? Jadi benar berita yang mengatakan kalau kamu sudah menikah dan jadi istri kedua? Aku nggak menyangka kalau kamu adalah madu aunty Gizel."
Mahendra yang dari tadi diam menatap Arsen dengan tatapan dinginnya. "Arsen, saat makan dilarang interogasi."
"Maaf uncle. Aku hanya kaget saja." Arsen pura-pura menyesal namun dalam hatinya ia tertawa. Ia bertekad akan menganggu Sinta dan suaminya.
Mereka pun makan dalam diam.
"Nak, bagaimana masakan Sinta?" tanya Risna.
"Masakan Sinta selalu enak." Arsen yang menjawab. Semua langsung menatap Arsen.
"Aku dan Sinta berteman dekat. Natari, sahabat baik Sinta pacaran dengan dokter Aldi yang adalah sepupuku aku. Makanya kami sering jalan bersama, nonton bioskop bersama dan masak bersama di apartemennya Aldi. Makanya aku tahu kalau Sinta sangat jago memasak." kata Arsen dengan santainya.
Sinta hampir lupa kalau dokter Aldi adalah sepupunya Arsen. Mereka memang dulu sempat akrab. Namun semenjak mamanya Arsen melarang Sinta dekat dengan Arsen, hubungan mereka perlahan merenggang.
Mahendra diam-diam menatap tajam ke arah Sinta. Gizel bahkan dapat melihat tatapan tak menyenangkan itu. Tatapan yang tak pernah Mahendra berikan pada lelaki manapun yang dekat dengan Gizel. Apakah Mahendra cemburu? Hati Gizel jadi tak tenang.
Mahendra menyelesaikan makan malamnya. Ia berdiri setelah menyeka sudut bibirnya dengan serbet yang ada. "Sinta, bawakan kopi ke ruang kerjaku."
"Aku saja, sayang. Aku ingin membicarakan sesuatu denganmu." kata Gizel.
Mahendra tak menjawab. Ia segera ke ruang kerjanya.
Sinta masih diam di tempat duduknya. Sedangkan Arsen tersenyum saat melihat ketegangan yang ad di meja makan.
"Terima kasih makan malamnya. Sangat enak. Terima kasih ya, Sinta." lalu Arsen meninggalkan meja makan. Gizel segera ke dapur untuk membuatkan kopi bagi Mahendra.
Risna menatap Sinta. "Apa hubunganmu dengan Arsen?"
"Hanya teman, ma."
"Sepertinya dia punya perasaan padamu. Jangan macam-macam Sinta atau aku akan mengusir paman dan bibi mu dari rumah mereka." kata Risna lalu segera meninggalkan ruang makan. Risna tak tahu kalau ancaman itu di dengar oleh Arsen.
nackal kan yg ajarin emak🤣🤣🤣🤣