Copyright ©2026, Kembalikan Anakku, Adinata oleh Doubleareya.
Adinata Hardiyanto menikah dengan Nadine Ayunda bukan akibat perjodohan, accident atau kontrak semata, tapi karena rasa cinta untuk memiliki. Dari awal menikah orang tuanya selalu ikut campur dan tidak memberi akses untuk dirinya bisa memimpin keluarga kecilnya sendiri. Adinata tetap bersabar sampai ia harus kehilangan sang istri—Nadine Ayunda.
Nadine Ayunda memilih berpisah dengan sang suami—Adinata Hardiyanto yang hidupnya selalu disetir oleh sang mertua. Nadine pergi dengan membawa sang buah hati yang dikandung di perutnya.
Tapi jika memang sudah digariskan oleh takdir, sejauh apapun langkah membawa, ia pasti akan kembali menjadi satu lagi. Untuk kembali artinya perlu dijemput, apakah Adinata bisa menjemput istrinya kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon doubleareya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17. Nadine berbelanja di pasar tradisional
Nadine menggandeng tangan sang bunda dengan erat. Ia menatap kanan dan kirinya yang penuh dengan para pedagang yang saling bersahutan memasarkan dagangan mereka, sedangkan Andin berjalan di belakang Nadine dan sang bunda sambil menjaga mereka dari belakang.
“Bun, beli ayam, ya. Andin lagi pengen makan ayam.”
Bunda Almi menganggukkan kepalanya. “Nanti dimasak jadi ayam kipas, ya?”
“Iya, Bun. Nanti bunda buat sambalnya sekalian, ya.”
“Di bayanganku kayaknya enak. Apalagi pakai sambal bawang,” ucap Nadine.
Andin tertawa. “Ayamnya enak, Nad. Ayam goreng bawang, tapi kalau sambalnya, kayaknya kamu cukup bayangin aja, Nad.”
“Tidak boleh, ya, Bun?”
Bunda Almi ikut tertawa kecil. “Lebih baik jangan, Nad. Bunda kalau bikin sambal, tidak terbiasa pakai cabai yang sedikit.”
“Tapi itu yang bikin enak, Bun.” Andin melewati lubang berisi air kotor. “Lebih baik kamu cari menu lain, Nad. Kamu pengen makan apa hari ini, Nad?”
“Nadine ikut bunda dan Andin aja. Nadine sedang tidak ingin makan yang aneh-aneh.” Nadine menggelengkan kepalanya.
Bunda Almi menganggukkan kepalanya. “Bunda mau beli sayur sawi sebentar.”
Bunda Almi, Nadine dan Andin menghentikan langkah kaki mereka di salah satu penjual sayuran. Nadine dan Andin hanya diam sambil membantu memilih tomat, bawang, cabai dan sayuran lain yang sekiranya mereka bisa memilihnya sendiri.
“Terima kasih sudah melarisi dagangan saya, ya, Bu Almi. Ini Andin yang sebelahnya siapa, Bu?”
Bunda Almi tersenyum. Ia memegang bahu Nadine. “Ini keponakan saya, Bu. Tapi saya sudah menganggapnya sebagai anak saya sendiri, jadi, ya bisa dibilang ini anak pertama saya dan Andin anak kedua saya gitu. Namanya Nadine.”
“Halo, Bu. Saya Nadine, anak pertama Bunda Almi.” Nadine memperkenalan dirinya sambil menggandeng tangan Andin, sedangkan Andin ikut tertawa bersama sang bunda.
Mereka kembali melanjutkan langkah kaki mereka menyusuri pasar tradisional.
“Bunda dulu tidak terbiasa berbelanja di pasar tradisional gini. Dulu ‘kan bunda kalau butuh sesuatu langsung membelinya di Swalayan atau Supermarket, tapi setelah menikah dengan ayah, kebiasaan bunda berubah. Apalagi waktu awal menikah, ayah dan bunda hidup sangat sederhana. Jadi, Nadine dan Andini, anak bunda, jangan terkejut, ya. Bunda kenalkan pasar tradisional ke kalian,” ucap Bunda Almi. “Jalannya diperhatikan, ya. Banyak lubang yang berisi air kotor dan lumut.”
“Ternyata pasar tradisional kayak gini, ya, Bun,” ucap Andin. “Kalau tahu banyak makanan yang bisa langsung dimakan disini, Andin dari dulu mau ikut, Bun.”
“Kamu dari kecil tidak mau bunda ajak ke pasar tradisional, ya, An. Kamu akan menangis kalau bunda akan mengajakmu pergi. Ini saja karena Nadine yang ingin ikut bunda, kamu akhirnya mau ikut.”
Andin menggaruk rambutnya, sedangkan Nadine menertawakan Andin.
“Harganya lebih murah disini, ya, Bun. Sayur dan dagingnya juga terlihat segar. Harusnya harganya tidak jauh berbeda dari harga di Supermarket, ya, Bun, tapi mungkin berbeda cara penyajiannya saja.” Nadine memperhatikan sekitarnya.
Andin menganggukkan kepalanya. “Mungkin juga karena orang-orang lebih senang membeli di Supermarket, ya. Lebih cepat.”
“Tidak selalu. Tergantung orangnya ingin berbelanja dimana. Kalau lebih dekat di pasar tradisional, ya belinya di pasar tradisional, tapi kalau tinggal di bagian perkotaan, agak jarang juga ‘kan ada pasar tradisional, jadi, ya beli di Supermarket.” Bunda Almi melanjutkan langkah kakinya. “Di depan ada penjual ayam potong langganan bunda. Beli di sana aja, ya.”
“Boleh, Bun.” Andin menganggukkan kepalanya. “Kamu mau ayam goreng juga atau menu lainnya, Nad?”
“Aku ikut menu kalian.” Nadine tersenyum. “Aku kelihatan kayak bocah yang baru pertama kali datang ke pasar tradisional, ya? Aku memang tidak pernah diajak berbelanja seperti ini gini. Terima kasih, ya, Bun sudah mengajak Nadine.”
“Bunda akan ajak kamu kemana pun ke tempat yang kamu belum pernah datangi sebelumnya, ya, Nad. Bilang saja ke ayah dan bunda.”
Andin ikut menganggukkan kepalanya. “Bun, gimana kalau di hari Minggu, kita jalan-jalan. Pergi berlibur ke suatu tempat gitu, Bun? Andin merasa bosan, Bun karena di rumah terus.”
“Ide bagus. Pergi kemana, An? Kamu cari tempatnya, ya nanti bunda sampaikan ke ayah. Kita liburkan toko di hari Minggu.”
Nadine menganggukkan kepalanya. “Aku ikut, ya!”
“Harus ikut semua,” ucap Bunda Almi. “An, ayamnya mau berapa kilo?”
“Hah? Bun, ‘kan buat 1 rumah aja,” ucap Andin dengan heran.
“Bunda mau kasih ke Takrim dan 2 adiknya juga.”
Andin menganggukkan kepalanya. “Oh, untuk bocah-bocah itu, ya. 1,5 kilo, cukup ‘kan, Bun?”
Bunda Almi menganggukkan kepalanya. “Beli 1,5 kilo aja, ya? Nanti kalau masih sisa bisa dimakan untuk lauk di makan malam.”
Nadine hanya diam mendengarkan. Ia menatap ayam utuh yang sudah mati berjajar siap untuk dipotong dan diberikan ke pembeli.
“Beli daging ayamnya jangan banyak-banyak, ya, Mbak.” Seorang laki-laki berusia sekitar 30 tahunan berdiri tak jauh dari tempat Nadine berdiri. Ia menolehkan kepalanya sebentar sebelum ikut memesan ayam ke penjual yang sedang sibuk melayani para pembeli.
Nadine menolehkan kepalanya. “Eh, iya. Kenapa, Mas?”
Dia menggelengkan kepalanya. “Kalau kamu beli banyak, kasihan dengan pembeli lainnya, Mbak.”
Nadine menatap dia. “Dokter Arjuna? Kok bisa sampai disini?”
“Saya bekerja di salah satu rumah sakit disini, Nyonya Nadine.”
“Panggil Nadine saja, Dokter.”