NovelToon NovelToon
Rahasia Dua Tubuh

Rahasia Dua Tubuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Rachmat Rachimullah

Bagaimana rasanya terbangun di pagi hari dan mendapati dirimu memiliki dua kehidupan yang sepenuhnya berbeda?
Selama ini, hidup 'Bara' adalah sebuah komedi pahit. Bertubuh gemuk, pendek, dan selalu dilingkupi rasa tidak percaya diri, ia menjadi sosok tak kasat mata yang selalu diremehkan di lingkungan sosialnya. "Aku ini siapa?" menjadi pertanyaan retoris yang terus menghantui hari-harinya di kamar yang berantakan.
Namun, takdir memainkan lelucon yang teramat gila.

Tanpa ada penjelasan ilmiah maupun magis, Bara mendadak terbangun dengan dua tubuh yang terhubung pada satu jiwa yang sama.

Saat tubuh aslinya tertidur, kesadarannya berpindah ke tubuh seorang pria lain: sosok yang sempurna, tinggi, tampan, atletis, dan berbalut setelan jas mewah dengan latar belakang gemerlap kota metropolitan. Di satu sisi, ia adalah pria malang yang terpinggirkan; di sisi lain, ia adalah pangeran sempurna yang dipuja semua orang.

"ketika takdir memberikan mu dua tubuh, mana yg akan kamu pilih?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachmat Rachimullah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Empat Pilar

Hujan turun perlahan membasahi atap bangunan tua tempat Bara, Galang, dan Alya bersembunyi.

Suara rintiknya berpadu dengan hembusan angin malam yang sesekali masuk melalui jendela kayu yang sudah mulai lapuk.

Ruangan itu tidak besar. Hanya terdapat sebuah meja kayu tua, beberapa kursi plastik, dan lampu bohlam yang cahayanya berkedip-kedip.

Meski sederhana, tempat itu cukup aman untuk bersembunyi sementara. Alya duduk memeluk kedua lututnya. Wajahnya masih pucat. Tatapannya kosong mengarah ke lantai.

Bara menuangkan segelas air hangat lalu menyodorkannya kepada gadis itu. "Minumlah."

Alya menerima gelas tersebut dengan kedua tangan yang masih sedikit gemetar. "Terima kasih..."

Galang yang sejak tadi berdiri di dekat jendela memastikan keadaan di luar akhirnya menutup tirai. "Untuk sementara mereka tidak mengikuti kita."

Bara mengangguk pelan. Namun pikirannya masih dipenuhi pertanyaan.

Ia menatap Alya. "Kalau kamu sudah siap..."

"Aku ingin tahu semuanya."

Alya mengangkat wajahnya perlahan. "Semuanya?"

"Iya." jawab Bara singkat

"Tentang Paprika TV."

Ruangan kembali sunyi. Beberapa detik kemudian Alya menghela napas panjang. "Awalnya..." "...aku juga sama seperti Bella."

Nama itu membuat Bara sedikit tersentak.

Alya melanjutkan. "Aku hanya ingin terkenal."

"Aku suka bernyanyi." "Suka mengobrol."

"Dan berharap suatu hari bisa masuk dunia hiburan."

"Aku pikir Paprika TV adalah jalannya." Ia tersenyum pahit. "Nyatanya..."

"...aku sedang masuk ke dalam perangkap."

"Awalnya mereka sangat baik."

"Mereka mengirim hadiah."

"Sering muncul di siaran."

"Memberi semangat."

"Katanya aku punya bakat."

Bara mendengarkan tanpa memotong.

"Lalu?"

"Mereka menghubungiku."

"Aku ditawari kontrak."

"Katanya hanya kontrak eksklusif supaya aku bisa berkembang."

"Berapa lama?" tanya Bara kali ini menyela cerita Akya

"Dua tahun."

Galang menyandarkan tubuh ke dinding. "Kontrak standar."

Alya mengangguk. "Aku tidak membaca semuanya." "Mereka bilang nanti akan dibimbing."

"Aku percaya." Matanya mulai berkaca-kaca.

"Hari pertama..." "...aku masih bebas membuat konten."

"Hari kedua..."

"...mereka mulai memberi saran."

"Hari ketiga..."

"...saran berubah menjadi perintah."

Bara mengerutkan dahi. "Perintah seperti apa?"

"Harus tersenyum."

"Harus menangis."

"Harus marah."

"Harus pura-pura sedih."

"Harus membuat penonton penasaran."

"Kalau tidak..." "...siaranku tidak dipromosikan."

Galang mengangguk pelan. "Algoritma."

Alya menoleh. "Awalnya aku juga mengira begitu." "Tapi ternyata bukan."

"Mereka yang mengatur semuanya."

Bara langsung fokus. "Maksudmu?"

"Mereka punya ruangan khusus."

Kemudian Alya melanjutkan ceritanya "Setiap siaran dipantau." "Mereka menentukan siapa yang harus viral."

"Siapa yang harus tenggelam."

"Siapa yang harus diberi gift."

"Semuanya sudah diatur."

Bara menatap meja. Berarti analisanya selama ini benar. Paprika TV bukan sekadar platform media sosial. Melainkan panggung yang seluruh skenarionya telah ditulis.

"Lalu gift itu?" tanya Bara.

Alya mengangguk. "Sebagian memang dari penonton." "Tapi sebagian besar..."

"...dari akun mereka sendiri."

"Mereka sengaja membuat streamer terlihat populer."

"Supaya orang lain ikut menonton."

Galang tersenyum tipis. "Efek bola salju."

"Orang selalu tertarik pada sesuatu yang ramai."

Alya kembali mengangguk. "Kalau sudah terkenal..." "...barulah sponsor masuk."

"Kontrak bertambah."

"Dan kami semakin sulit keluar."

"Kalau ada yang menolak?" Tanya Galang

Suara Alya mengecil. "Mereka mulai mengancam." "Mengancam keluarga."

"Menyebarkan data pribadi."

"Bahkan..." "...ada yang menghilang."

Ruangan kembali hening. Bara mengepalkan tangannya. "Berarti semua streamer yang hilang..."

Alya memejamkan mata. "Aku tidak tahu mereka dibawa ke mana." "Tapi..."

"...setelah itu nama mereka selalu dihapus."

Galang akhirnya menarik sebuah kursi. "Kalau begitu..." "...sekarang giliranku."

Bara mengangkat kepala. Galang mengambil selembar kertas.

Kemudian menggambar sebuah lingkaran. "Ini Four Men Crew."

Lalu ia membuat empat garis keluar dari lingkaran itu. "Organisasi ini dibagi menjadi empat kelompok utama."

Ia menunjuk garis pertama. "God Lion."

"Kelompok Johan."

"Mereka bergerak di lapangan."

"Penagihan."

"Pengamanan."

"Distribusi."

Bara mengangguk pelan. "Itu yang pernah kami temui."

Galang berpindah ke garis kedua. "Big Bang."

"Itu kelompokku."

"Kami bergerak untuk menjaga ruko-ruko"

"setiap orang yang memiliki ruko harus menyerahkan setoran uang keamanan"

Bara sedikit terkejut. "Pantas..."

"...kau tahu banyak."

Galang hanya tersenyum kecil. "Giliran berikutnya." Ia menunjuk garis ketiga.

"Gostel."

Bara mengernyit. "Namanya aneh."

Galang tertawa kecil. "Semua orang bilang begitu."

"Bahkan orang awam pasti bakal bilang itu nama provider internet."

Bara ikut terkekeh. "Kayaknya iya."

Suasana yang tegang sedikit mencair. Galang kembali melanjutkan. "Gostel adalah divisi yang tidak bergerak di bidang bisnis apapun"

"melainkan mereka adalah sebuah kru jalanan"

"beroperasi melalui ekploitasi anak-anak"

Bara langsung mencatat nama itu dalam pikirannya. "sadis mereka bahkan melakukan hal yang sangat tidak manusiawi"

Galang menunjuk garis terakhir. "Vortex."

"bisa di bilang mereka ini adalah pondasi dari four men crew"

"Vortex bergerak di bidang bisnis dan hiburan malam" Galang sempat berhenti sejenak lalu melanjutkan ceritanya. "plot twist nya adalah mereka memiliki 4 anak perusahaan"

Bara yang mendengar hal itu seketika terkejut. "4 anak perusahaan?" tanya Bara

"benar sekali, namun sampai saat ini gue belom tau bagaimana cara mereka bekerja" jawab Galang

Mendengar itu membuat Bara berpikir bahwa ada kemungkinan paprika TV ini ada hubungannya dengan Vortex.

Ruangan kembali sunyi. Empat nama itu kini tersusun jelas di kepala Bara.

God Lion.

Big Bang.

Gostel.

Vortex.

Empat kelompok. Empat fungsi berbeda. Namun memiliki tujuan yang sama. Menjalankan roda Four Men Crew.

"Ada satu hal yang aneh." ucap Bara tiba-tiba.

Galang menoleh.

"Kalau Four Men Crew sebesar ini..."

"...kenapa tidak ada yang tahu siapa pemimpinnya?"

Galang tersenyum pahit. "Itulah masalahnya."

"Bahkan aku..." "...belum pernah bertemu langsung dengannya."

"Hanya Dani dan Danu?" tanya Bara kembali

"Sepertinya begitu." ucap Galang

"Aku hanya pernah mendengar satu nama." timpal galang

Bara langsung menatapnya. "Siapa?"

Galang menggeleng pelan. "Aku tidak yakin."

"Tapi..." "...orang-orang memanggilnya."

"'Tuan Gerald'."

Nama itu membuat ruangan mendadak terasa lebih dingin. Bara mengulang nama tersebut dalam hati.

Gerald. Orang yang selama ini hanya berada di balik bayangan. Tak pernah muncul. Namun mengendalikan semuanya.

Hujan di luar semakin deras. Tak satu pun dari mereka menyadari... Jauh di sebuah gedung bertingkat di pusat Kota Surabaya...

Seseorang sedang memperhatikan tiga foto yang terpasang di layar besar.

Foto pertama. Bara.

Foto kedua. Galang.

Foto ketiga. Alya.

Pria berambut mulai memutih itu menangkupkan kedua tangannya di depan wajah.

"Menarik..." gumamnya pelan.

"Mereka mulai menyusun potongan puzzle."

Ia kemudian menekan sebuah tombol di meja. Beberapa saat kemudian, layar berganti menampilkan empat lambang berbeda.

Seekor singa. Ledakan bintang. Topeng hitam. Pusaran angin.

Gerald tersenyum tipis. "Kalau begitu..."

"...sudah waktunya menggerakkan pilar yang kelima."

Kalimat itu membuat ruangan kembali sunyi. Sementara di tempat persembunyian mereka...

Bara sama sekali belum mengetahui. Bahwa Four Men Crew ternyata masih menyimpan satu rahasia lagi. Rahasia yang bahkan tidak diketahui oleh Galang, Johan, maupun Dani dan Danu.

Sebuah kelompok yang keberadaannya sengaja dihapus dari seluruh struktur organisasi. Dan apabila kelompok itu mulai bergerak...

Maka bukan hanya Four Men Crew yang akan berubah. Melainkan seluruh keseimbangan dunia bawah tanah Kota Surabaya.

1
Ilham Rachmatullah
ahaha pika pikaa🤣
Jian Fitriana
jangan lama’ thor update nya 🤭
rey
semangat thor 🔥🔥
RR
halo teman-teman sekalian. tolong bantu berikan ulasan yaa agar saya lebih semangat untuk memberikan tulisan-tulisan terbaik. jangan lupa like nya terimakasih
rey: semangat thor 🔥🔥🔥
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!