YOSHIDA HANA.Gadis 25 tahun , seorang cucu angkat dari seorang pemimpin mafia.
Gadis cantik dan kaya raya dengan berbagai bisnis dan berkemampuan khusus.
Hidupnya hancur dan bahkan menjadi pelakor. Kisah itu berawal dari masa lalunya yang memalukan.Hana diperkosa saat usia remaja dan selang beberapa tahun kemudian , Hana dijadikan budak seks oleh pamannya sendiri sampai Hana hamil dan terpaksa harus menikahinya.
Kisah yang berawal dari dendam dan berakhir menjadi cinta yang sulit untuk diuraikan.
Kecelakaan kedua orangtuanya semakin menambah pilunya nasib hidupnya.
Ini adalah novel pertamaku.Selamat membaca dan terimakasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nahya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep .34 Hamil
"Selamat malam kakek ."
"Malam semuanya."
Hana menuju kamarnya karena dia merasa tidak enak badan, akhir-akhir ini sering pusing dan mual. Sementara Ben dan Takuya ada di ruang kerja Hana.
"Bagaimana dengan Si Bandot Tua itu?" Ben bertanya kepada Takuya.
"Paling sebentar lagi kita dengar beritanya di TV. Semua bukti memberatkannya. Pihak berwajib sudah menangkapnya bersamaan dengan beberapa barang bukti." Takuya menjawab.
"Anaknya sekarang menetap di Jepang. Kamu awasi dia!"
"Baiklah."
"Kita harus membereskannya , karena selama ini mereka adalah orang-orang yang selalu menyakiti Hanaku." Ben menambahkan.
"Bagaimana dengan Monyet itu? Suruh Martha membereskannya, segera!" Pintanya tegas.
"Baik Bos."
"Oh ya, bagaimana dengan Desember ?"
"Selama ini Nona Desemberlah yang selalu membantu nona."
"Hmmmmmm." Ben terlihat memikirkan sesuatu.
"Beristirahatlah!"
"Baiklah."
Jam menunjukkan jam 11 malam. Akhirnya mereka istirahat. Takuya ingin menemui Carmen .Sedangkan Ben seperti biasa ikut tidur dengan Hana. Sementara Kiko dan Wiji masih asyik mengobrol.
CEKLEKK
Ben dengan mudah masuk kamar Hana ,karena memang tidak dikunci.
"Han ."
Ia mendapati ranjang masih kosong. Di dalam walk in closetnya juga tak ada. Ben lalu menuju kamar mandi.
"Wow." Gumannya dalam hati.Pemandangan yang indah dimatanya.
Tanpa ba-bi-bu Ben ikut berendam bersama Hana. Dengan pelan dia duduk dibelakang Hana ,memudahkan Hana untuk bersandar di dada bidangnya.
Hana kaget karena tiba-tiba ada benda keras menerobos dari bawah.
"Hehe maaf."
"Kenapa dia selalu menggangguku huh? kapan dia membiarkannku untuk beristirahat ?" Dengan malas Hana melayani Benji.
"Ada apa denganmu ? Kenapa terlihat kusut sekali sayang? kamu sakit ?"Ben dengan pelan memainkannya .
Hana menyandarkan kepala dan mendongak ke atas , menatap Ben dengan tenang.
"Akhir -akhir ini , tidak tahu kenapa aku selalu mual dan gampang pusing." Hana menghembuskan nafas berat.
"Pusing ? mual? apa ada hal yang lain sayang? " Dengan penasaran Ben terus bertanya.
"Pingin tidur terus dan rasa cepat capek."
"Jangan-jangan Hana sudah berisi." Gumannya dalam hati .
"Ayo sudah , tidak bagus terlalu lama berendam. Aku tidak mau kamu sakit." Ben menutupi badan polos Hana dengan handuk dan membawanya ke ranjang.
Ia membaringkan tubuh polos Hana dan mencumbunya dengan lembut.
"Au ....pelan-pelan !" Hana tiba-tiba berteriak.
"Maaf maaf sayangku." Ben dengan sangat lembut melakukannya, sambil menatap wajah Hana yang juga menikmati sentuhannya.
D*s*h*nnya begitu memabukkan , membuat Ben mempercepat ritmenya. Hampir sampai dini hari mereka melakukannya.
Hana dan Ben sudah seperti suami istri hanya tanpa ikatan. Badan Hana adalah candu mematikan untuk Ben. Hampir tak pernah terlewatkan seharipun jika mereka bersama. Hana ingin menolaknya tapi tak mampu. Hanapun sudah larut dalam hubungan terlarang itu. Banyak nyawa yang ia pertaruhkan .
FLASHBACK 🔛
Beberapa bulan yang lalu.
"Bagaimana?"
"Maaf bos tapi nona Hana menemui dokter Mira untuk meminta alat kontrasepsi."
"Apa itu benar dokter?Jawab dengan jujur!" Auranya menggelap.
"Iya benar tuan."
"Aku mau kamu menggantinya dengan vitamin penyubur kandungan! Dan jangan cuba-cuba untuk membohongiku ."
"Siap tuan."
"Hmmmm."
Ben menyuruh dokter kandungan mengganti pil kb yang selalu Hana pesan menjadi pil penyubur kandungan dengan kemasan yang sama. Tanpa sepengetahuan Hana, Ben sangat menginginkan keturunan apalagi dari seorang Hana. Orang yang mampu mengubah sifat iblis dan kejamnya menjadi sosok yang lebih lembut, penyayang dan lebih perhatian.
FLASHBACK OFF.
Keesokan harinya.
"Hoek ."
"Hoek."
Hana bangkit dari tempat tidur dengan rasa mual yang hebat. Kepalanya terasa berat sekali dan kepalanya mulai berkunang-kunang.
"Astaga kenapa ini." Berusaha menggapai gagang pintu kamar mandi tetapi belum sampai terjangkau , dia langsung terkulai lemas.
"Brughhhhh."
Hana jatuh pingsan di kamar mandi tanpa siapapun yang tahu. Ben sendiri sedang berada di ruang kerja Hana, mengerjakan sesuatu.
"Bu , panggil Hana untuk turun!" Perintah Tuan Yoshida .
"Ya tuan."
Bu Ros bergegas ke atas dan berpapasan dengan Tuan muda Ben yang baru saja keluar dari ruang kerja nonanya.
"Ada apa bu? "
"Itu tuan, tuan besar menyuruh non turun kebawah."
"Ya sudah ,aku saja yang memanggilnya."
"Terimakasih Tuan."
"Hmmmmm."
Ben masuk kamar Hana namum kamar nampak kosong.
"Sayang ."
Ben memanggil Hana dengan merdunya. Tapi Hana sama sekali tidak menjawab. Ia bergegas ke kamar mandi dan bagai tersengat aliran listrik ,jantungnya mau copot saat melihat Hana tak sadarkan diri tergeletak di lantai kamar mandi.
Dengan cepat Ben mengangkat tibuh Hana ke ranjang. Pikirannya kalut dan bingung. Ia reflek berteriak sekencang- kencangnya sambil menggenggam tangan Hana dengan erat.
"Taky cepat panggilkan dokter ! Cepattttttt !"
Suara teriakan Ben menggelegar seperti suara petir di siang hari. Menggema mengisi seluruh kediaman Ronald.
"Cepatttttt !"
Semua yang berada di lantai dasar kaget dan panik dengan teriakan tuan mudanya. Takuya dan Wiji langsung bergegas ke lantai atas.
Dengan nafas ngos-ngosan mereka berdua kaget melihat Hana terbaring lemas dan pucat. Sementara Ben sudah dalam mood singanya. Menatap nyalang kepada mereka berdua , seperti siap memakan mangsanya.
"Cepat panggil dokter kemari!"
"Cepat!"
Dengan cepat Wiji tersambung dengan dokter pribadi keluarga Ronald.
"Dokter segera datang ,non Hana pingsan!"
TIT
Tiba-tiba Tuan Yoshida datang dengan tergopoh-gopoh di ikuti Kiko dan Carmen.
"Ada apa ini?"
"Yah...." Ben lalu menceritakan yang barusan terjadi. Dengan takut dan kuatir terjadi apa-apa terhadap tunangannya.
Beberapa menit kemudian dokter dengan cepat memeriksa keadaan Hana. Nampak dokter memeriksa kembali dengan seksama. Yang membuat semua yang berada dalam ruangan itu kuatir.
"Ada apa dokter, cepat katakan!" Ben dengan tidak sabar berteriak kepadanya.
"Sabar son !" Tuan Yoshida memperingatkan.
"Ada apa dok?"
"Maaf sebelomnya Tuan, tapi ...."
"Tapi apa ?"
Dokter menatap Tuan Yoshida, dia tidak yakin akan mengatakannya di depan semua orang.
"Katakan saja ,tidak apa-apa. Mereka keluarga." Tuan Yoshida menegaskan kepada sang dokter.
"Baiklah."
Ben nampak sungguh sangat kuatir sampai dia Takuya menenangkannya.
"Sabar ."
"Selamat ,nona Hana hamil." Dokter dengan sedikit kuatir mengatakannya.
Mereka saling menatap satu sama lain tanpa ada yang mau membuka suara. Takuya menarik tangan Carmen untuk mengajaknya keluar. Begitu juga dengan Wiji dan Kiko. Mereka begitu tidak menyangka sudah sejauh itu hubungan Hana dan Ben.
"Ayo." Takuya memimpin diikuti dengan yang lain.
Sekarang hanya ada Tuan Yoshida, Ben dan Hana yang terbaring lemas .Tuan Yoshida mendekat dan ,
Plakkkk
Plakkkk
Dengan keras Tuan Yoshida menampar kedua pipi Ben. Darah segar mengalir di sudut bibirnya.
"Maafkan aku , Yah!" Ben menunduk , merasa malu dan sedih .
"Kali ini sungguh sangat keterlaluan." Nada bicaranya sudah naik satu oktaf.
"Segera bereskan kekacauan ini dan ayo kita pulang!" Tidak mau dibantah, lalu langsung keluar. Sammy yang berada di luar kamar segera mengikuti kemana Tuannya melangkah.
Ben menghela nafas berat dan terus menggenggam tangan Hana.
"Maafkan aku sayang."
"Aku sungguh minta maaf."
"Tapi aku sangat bahagia , aku akan segera jadi papa." Tersenyum bahagia.
sukses
semangat
mksh
salam dari Cinta Satu Malam Ceo 🤗
mampir juga ya ke karya aku ( Ayah dari calon anak sambungku )
Terimakasih 🙏