IG. Suliani_Cucu
Seasen 1
Aksara Pramudiya adalah seorang pria muda yang kaya raya, dia menyukai seorang perempuan yang terlihat cantik dan sederhana.
Dilihat dari sisi manapun perempuan itu terlihat sangat cantik dan masih terlihat berusia dua puluh tahunan.
Sayangnya dia berbeda keyakinan dengan nya, bahkan ternyata dia sangat kaget jika perempuan yang dia sukai ternyata lebih tua lima tahun dari nya.
Lebih parah nya, perempuan itu ternyata adalah seorang janda beranak satu.
Season 2
Banyak anak membuat hidup Aksa dan juga Najma penuh warna, bahkan kisah anak-anak mereka pun begitu beragam.
Pastinya, diantara salah satu anak Aksa dqn Najma ada yang kecantol sama Janda.
Siapa ya?
Yuk kita kepoin kisah nya.
Mohon dukungan nya buat si aku penulis yang masih amatiran ini..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cucu@suliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jujur l
Aksa pun kini masuk kedalam ruangan nya bersama Maria, baru saja Aksa akan berbicara, tapi ternyata di sana sudah ada Agam yang sedang menunggu kedatangan nya.
Sebenar nya Agam terlihat kaget, saat melihat Aksa datang bersama Maria. Terlebih lagi, Aksa terlihat sedang begitu emosi dan terlihat sedang menahan emosi nya.
Namun, dia tidak bisa terlalu banyak ikut campur karena itu adalah urusan antara Kasa dan juga Maria. Entah apa pun masalah di antara mereka, yang pasti keduanya harus menyelesaikan masalah tersebut.
"Aksa, siang ini kita akan kedatangan tamu penting dari perusahaan PT. XY Grup. Perusahaan dari Amerika yang telah membuat anak cabang di sini, dan seperti nya kamu akan sedikit sibuk hari ini."
Agam berusaha untuk menjelaskan walaupun melihat suasana hati Aksa yang tidak baik, karena dia memang harus cepat bicara.
"Iya Om, apa ada lagi yang ingin Om sampaikan?" tanya Aksa sopan.
Agam memberikan berkas ke tangan Aksa, walaupun pria itu sedang ada dalam keadaan marah, tetapi tetap saja berkas itu harus segera dipelajari oleh Aksa.
"Pelajari berkas ini."
Aksa menghela napas berat, dia tahu kalau dirinya sedang diburu oleh pekerjaan. Namun, Aksa ingin menyelesaikan masalahnya terlebih dahulu bersama dengan Maria.
"Om, boleh aku meminta waktu sepuluh menit untuk berbicara dengan nya?" tanya Aksa
"Tentu, jangan terlalu lama, karena kita sedang menghadapi project penting."
Agam berbicara dengan begitu tegas, setelah itu dia pergi meninggal kan ruangan Aksa. Dia tak ingin menjadi obat nyamuk di sana, dia harus membiarkan Aksa dengan cepat menyelesaikan masalahnya.
Sepeninggal Agam, Aksa pun langsung duduk di sofa seraya menyimpan berkas dari Agam di atas meja. Maria pun mendekat dan hendak duduk di dekat Aksa, tapi Aksa dengan tegas menyuruh Maria agar duduk lebih jauh dari nya.
"Mau apa kamu datang menemui ku?" tanya Aksa to the point.
Maria sadar betul jika Aksa tidak menyukai dirinya, tetapi dia berusaha untuk tidak peduli dan ingin mengambil hati pria itu kembali.
"Sayang, kamu kenapa jadi berubah? Aku kan sudah janji, aku akan berusaha untuk menjadi pacar yang lebih baik lagi."
Maria mencoba untuk menggenggam tangan Aksa, tetapi dengan cepat pria itu menepis tangan Maria. Dia seolah tidak mau mendapatkan sentuhan dari wanita itu.
"Dengar Maria, waktu mu hanya sepuluh menit, jelaskan pada ku apa yang terjadi saat kamu berpacaran dengan Robert Wiliam?!" tanya Aksa dengan tatapan tajam nya
Maria menundukkan kepalanya, dia bahkan meremat kedua tangannya secara bergantian. Wajahnya berubah pucat, seperti ada hal yang ingin dia sembunyikan dan begitu sulit untuk diucapkan.
"Aku, aku hanya berpacaran seperti biasanya, layak nya anak remaja berpacaran." Maria berkata dengan begitu gugup.
Dia terus saja menunduk tanpa berani menatap wajah Aksa, melihat hal itu tentu saja membuat Aksa menjadi sangat curiga.
"Bicaralah dengan jujur, saat kamu mabuk kemarin kamu sudah menceritakan semua nya pada ku. Sekarang ceritakan pada ku, aku ingin mendengar nya dalam keadaan kamu yang sedang sadar."
Aksa berbicara dengan mata yang sudah memerah karna menahan amarah, sungguh dia tidak tahan lagi dipermainkan oleh wanita itu.
Maria langsung menangis, dia pun segera menjatuhkan tubuh nya dan bersimpuh di kaki Aksa. Dia memeluk kaki Aksa dengan erat sambil memohon maaf, dan hal itu berhasil membuat Aksa makin jijik pada nya.
"Maafkan aku, aku pernah melakukan nya dengan Robert karena aku termakan rayuannya." Maria mencoba membela diri dalam penjelasannya.
Aksa merasa tidak percaya begitu saja, karena yang namanya laki-laki kalau misalkan tidak dapat respon baik dari seorang perempuan, maka laki-laki itu tidak akan berani menyentuh perempuan tersebut.
Aksa yakin jika apa yang terjadi di antara Maria dan juga Robert karena saling suka dengan suka, bukan karena adanya paksaan dari salah satu pihak.
"Jangan berkilah Maria, kemarin kamu tidak bicara seperti itu. Sekarang bangun lah karena aku harus bekerja, nanti kita bicarakan lagi."
Aksa memalingkan wajahnya, dia rasanya tidak sanggup lagi melihat wajah Maria. Wanita yang dulu dia puja itu ternyata bukanlah wanita yang suci, ternyata wanita itu adalah wanita yang gampangan.
"Tapi aku mohon jangan menjauh dariku."
Maria nampak meminta dengan sangat, dia terlihat begitu mengiba kepada Aksa. Sayangnya hati Aksa tidak tersentuh sama sekali dengan apa yang dikatakan oleh Maria.
Justru, semakin lama Maria berada di sana, justru dia semakin merasa jijik dengan perempuan itu. Dia sungguh tidak menyangka kenapa dia bisa jatuh cinta terhadap wanita itu.
"Pulanglah Maria, nanti sore aku akan menemui mu." Aksa berusaha untuk membujuk, karena tentunya dia juga ingin segera menyelesaikan masalahnya dengan Maria.
Maria pun menurut, dia bangun dan mengusap air mata nya. Dia pun mendekati Aksa dan hendak mencium nya, tapi dengan cepat Aksa memaling kan wajah nya.
Maria terlihat sangat kesal, tapi dia tak bisa berbuat apa apa. Dia hanya bisa pasrah untuk saat ini, semoga saja nanti sore Aksa sudah berbaik hati lagi pada nya pikir nya.
"Aku pulang dulu, jangan marah lagi. Bekerjalah dengan semangat, maafkan aku."
"Hem," jawab Aksa.
Selepas kepergian Maria, Aksa langsung mempelajari berkas yang di berikan oleh Agam. Dia harus benar benar memahaminya, karna ini urusan nya dengan perusahaan besar dan tentu nya tak boleh gagal.
"Sial! Kenapa wanita itu bisa-bisanya melakukan hal ini kepadaku?" ujar Aksa di sela-sela kegiatannya.
Siang hari pun tiba, Aksa di panggil Agam untuk masuk ke ruang meeting karna mereka akan membahas tentang project besar dan kebetulan tamu nya juga ada lima orang. Jadi menurut nya, akan lebih enak bila di lakukan pembahasan di ruang meeting saja.
Setelah berada di ruang meeting, mereka pun langsung berkenalan dan berjabat tangan.Selsai berkenalan, salah satu dari ke lima orang tadi pun mulai berbicara .
"Maaf mengganggu waktu anda pak Aksa, kedatangan kami kemari untuk mengajak anda bekerja sama."
"Tolong di jelaskan seperti apa project kerjasama yang akan anda tawarkan," pinta Aksa.
"Perusahaan PT. XY Group yang berada di Amerika sudah membuka anak cabang di kota ini Pak, memang perusahaan kami di sana termasuk perusahaan besar dan memiliki nama. Tapi di sini juga kami membutuh kan kerja sama dengan beberapa perusahaan agar bisa menaikkan rating perusahaan, dan tentu nya agar tak di pandang sebelah mata."
"Jadi maksud nya anda akan mengajak kami untuk bekerja sama?" tanya Aksa tapa basa basi.
"Iya pak, kalau anda berkenan. Kami ingin bekerja sama dengan perusahaan Bapak, kami yakin kerja sama antara kita akan membawa banyak keuntungan untuk kedua perusahaan."
Aksa nampak menganggukkan kepalanya.
"Berkas yang saya ajukan apa kah sudah bapak baca dan bapak pelajari?" tanya yang lainnya.
"Sudah, semua nya sangat menggiurkan."
Aksa memandang Agam, tentunya dia sudah mempelajari semua isi yang tercantum di berkas yang diberikan oleh Agam. Dia sudah sangat paham dengan isinya.
"Bagaimana Om?" tanya Aksa
"Om setuju, ini project yang sangat bagus. Bisa menaikkan rating perusahaan, baik perusahaan kita maupun perusahaan milik mereka." Agam tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, Aksa tentunya merasa setuju dengan apa yang dikatakan oleh Agam.
"Baiklah kalau begitu, saya terima pengajuan kerja sama dari kalian." Aksa tersenyum sambil memandang orang-orang yang ada di hadapannya.
Salah satu dari ke lima orang tersebut pun mengeluarkan dua surat kerja sama ,Aksa dan Agam pun membaca nya dengan seksama. Dari wajah kedua nya pun terlihat kepuasan, dan mereka pun segera mengeluarkan bolpoin.
Mereka pun akhirnya sama sama menandatangani kontrak kerja tersebut, yang satu di pegang oleh Aksa dan yang satu nya tentu nya di pegang oleh perusahaan PT. XY Group.
Pertemuan mereka pun telah selsai, dan mereka pun sudah pergi. Karna waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore, Aksa pun meminta untuk segera pulang. Karna dia harus menemui Maria, ada hal yang harus mereka selsai kan saat ini.
Aksa pun langsung melajukan mobil nya ke kediaman Arselin, Aksa sudah tak sabar ingin mendengar kan penjelasan dari mulut Maria.
"Aku akan memberikan kamu kesempatan, mengingat kamu adalah wanita yang aku cintai. Tapi, jika apa yang kamu katakan tidak memuaskan, jangan salahkan aku jika langsung memutuskan."
Setibanya di sana, pak Herman langsung membukakan gerbang. Dia sudah hapal betul dengan mobil Aksa yang sering wara wiri di sana, Aksa pun langsung turun dari mobil nya dan masuk ke dalam rumah Maria.
Saat Maria melihat kedatangan Aksa, dia pun langsung memeluk Aksa dengan erat. Tapi Aksa sama sekali tak membalas nya, dia seakan sudah muak dengan kelakuan Maria.
"Sudah lah Maria, jangan basa basi lagi. Sekarang jelaskan pada ku." Aksa berbicara dengan tegas, Maria seakan begitu kesulitan untuk berkilah.
"Sayang duduk lah dulu," pinta Maria dengan mengiba.
Aksa pun lalu duduk, kini Maria dan Aksa sudah duduk satu sofa dan saling berdampingan. Maria terlihat begitu Ingin memeluk Aksa, tetapi pria itu seakan tidak memberikan kesempatan.
"Aku minta maaf pada mu, aku memang pernah berpacaran dengan Robert. Kami pernah melakukan hal intim selama satu minggu di Bali, kami sudah seperti pasangan pengantin baru yang sedang berbulan madu."
Maria mulai menjelaskan apa yang terjadi di masa lalu, masa lalu yang dia lalui dulu bersama dengan Robert ketika melakukan hal itu.
Wajah Aksa langsung terlihat dingin, rahang nya mengeras dan mata nya pun sudah mulai memerah. Dia tidak menyangka kalau wanita yang dia cintai ternyata seperti itu, tak mampu menjaga kesuciannya.
"Lanjutkan!" Aksa berkata dengan wajah dingin tanpa ekspresi.
Maria sebenarnya merasa malu untuk mengatakan apa yang sudah terjadi, tetapi dia tidak mungkin diam apalagi harus berbohong kepada pria itu.
"Setelah pulang dari Bali pun kami masih sering melakukan nya, aku selalu terbuai oleh bujuk rayu nya. Hingga dua bulan kemudian dia pergi meninggalkan aku dalam keadaan hamil, aku pun merasa marah karna di tinggal kan begitu saja oleh nya. Aku terpaksa menggugurkan nya, karna aku takut mama sama papa akan marah pada ku."
Aksa sudah tidak bisa berkomentar apa pun rasa nya hati nya begitu sakit menerima kenyataan pahit ini, rasa nya dia begitu bingung dengan tindakan apa yang harus dia lakukan saat ini.
"Sayang, maaf. Apakah kamu mau memaafkan kesalahan yang sudah aku lakukan?"
obrolan bunda sama ayah bilang kuliah 2 tahun udah belagak udah jadi dokter kalo ada yg sakit
menggoda 🤧
emezing kali 💃💃💃
he he he he