Desi seorang budak korporat yang hidupnya hanya untuk bekerja tanpa sengaja menerima ajakan Dewa ketika dirinya mabuk untuk melakukan Transmigrasi.
Kini Desi harus menjadi seorang Maharani yang memimpin kekaisaran yang hampir jatuh bernama Maharani Da Xie. Sayangnya, menjadi Maharani berarti Desi harus bekerja mengurus kekaisaran.
Desi yang berada ditubuh Da Xie akhirnya muak terus bekerja, ia melakukan hal nekat dengan menjadi pemimpin yang buruk sehingga rakyat-rakyatnya menurunkannya dari takhta.
Desi melakukan investasi bodong, mengadakan peperangan dengan kekaisaran tentangga, dan membuat lahan sawit dimana-mana.
Namun anehnya, rakyat malah bahagia karena apa yang Desi lakukan bukannya merugikan Kekaisaran melainkan malah membuat kekaisaran menjadi semakin berkembang.
"Arghh!!! Aku hanya ingin turun takhta agar tak perlu mengurusi dokumen membosankan ini!!" -Maharani Agung Da Xie.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Twinxle_Stars, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18 Perluasan Wilayah Zhang
Siang hari yang terik...
Da Xie melihat pemandangan diluar dari dalam kereta kudanya dengan takjub. Ini adalah kekaisaran Han yang kini menjadi bagian dari kekaisaran Zhang!
Jalanan disini lebih besar, rumah-rumah warga juga lebih indah dan terstruktur tidak seperti kekaisaran Zhang. Lalu yang paling penting, disini dua kali lebih ramai daripada kekaisaran Zhang.
Selama perjalanan dua bulan dari kekaisaran Zhang menuju pusat kekaisaran Han yang membosankan, akhirnya Da Xie bisa melihat meriahnya suasana kekaisaran Han ini.
Da Xie bisa melihat beberapa penduduk yang melihat kearah kereta kuda yang ditempatinya. Banyak diantara mereka terlihat penasaran, tetapi ada juga yang terlihat tidak suka dengan kereta kuda ini.
Setelah beberapa menit kereta kuda ini bergerak, mereka akhirnya sampai ditujuan. Salah satu prajurit membantu Da Xie untuk turun.
"Wah!"
Da Xie langsung menatap kagum pemandangan dihadapannya. Sebuah panggung besar berada ditengah jalan dan singgasana tergeletak tepat ditengah-tengah panggung tersebut, dengan karpet merah yang terbentang kearah kaki Da Xie saat ini.
Para Penduduk berdiri tepat disamping karpet merah seolah membuka jalan kepada Da Xie untuk duduk di singgasananya, walau ada beberapa yang memasang wajah tidak bersahabat sih.
Da Xie mulai berjalan secara perlahan diatas karpet merah menuju singgasana-nya. Sesekali ia melirik kearah samping dan tersenyum kepada para penduduk yang terlihat ramah.
Begitu sampai, wanita itu mendudukkan bokongnya ke singgasana yang empuk. Di samping Da Xie seperti biasa ada Adipati Yan, dan disisi yang lainnya ada orang yang Da Xie tidak kenal. Tetapi dilihat dari bentuk wajahnya, sepertinya itu orang kekaisaran Han.
Saat Da Xie duduk, orang dari kekaisaran Han mulai berdiri dan menunjukkan sebuah gulungan kertas kepada para hadirin.
"Salam kenal semuanya. Seperti yang kalian tahu, saya adalah mantan Adipati Lang dari kekaisaran Han. Hari ini, saya akan menyampaikan sebuah dekrit yang ditulis dan ditandatangani sendiri oleh yang mulia kaisar dan permaisuri."
Semua orang terdiam. Ini adalah momen yang sangat menegangkan bagi mereka karena setelah momen ini, mereka tahu hidup mereka mungkin akan benar-benar berubah.
"Baiklah, saya akan mulai membacakannya."
‘Tanggal 5 Bulan 7 Tahun 123. Surat penyerahan wilayah kekaisaran Han kepada Kekaisaran Zhang. Dengan dibuatnya surat dokumen ini, maka kami yang bertanda tangan dibawah ini setuju untuk menghapuskan nama Kekaisaran Han dari peta benua dan menggantikannya dengan nama kekaisaran Zhang. Orang-orang yang bersangkutan baik secara langsung dan tidak langsung dengan kekaisaran Han akan dengan sukarela mengundurkan diri dari jabatannya masing-masing dan digantikan oleh orang-orang yang dipilih oleh kekaisaran Zhang, terkhususnya kepada jabatan pemimpin tertinggi kekaisaran. Yang bertanda tangan, mantan kaisar Han Shang Yuo, dan mantan permaisuri Han Lia Ming.'
Setelah membaca isinya, pria itu kembali menggulung kertas tersebut. Ia lalu menoleh kearah para hadirin.
"Seharusnya surat ini dibacakan secara langsung oleh tuan Shang Yuo. Tetapi saat ini beliau tidak bisa hadir karena sedang dalam perjalanan untuk pengasingan. Saya sebagai pengganti beliau hanya bisa menyampaikan, semoga kekaisaran Zhang bisa terus makmur dan memimpin dengan baik."
Semua rakyat bertepuk tangan. Beberapa bahkan ada yang sampai menangis tersedu-sedu mendengar pidato Adipati kekaisaran Han itu.
"Baiklah, dengan ini tugas saya telah selesai. Saya akan kembali ke desa saya, desa S. Dan hidup sebagai rakyat biasa. Kepada pemimpin kekaisaran Zhang, yaitu Maharani Agung Zhang, bisa dipersilahkan untuk memberikan pidatonya."
Adipati Kekaisaran Han turun dari panggung dan pergi begitu saja. Meninggalkan Da Xie dengan raut wajah kebingungan.
"Loh... Kenapa aku jadi harus berpidato?" Bingung Da Xie.
"Tenang saja Maharani Agung. Lakukan seperti dahulu ketika anda pertama kali menjabat menjadi Maharani Agung." Adipati Yan menyemangati.
Da Xie memegangi kepalanya dengan pening. Dirinya tak punya pilihan lain selain berpidato, apalagi banyak rakyat yang menunggu pidatonya dengan wajah penasaran.
"Baiklah... Aku lakukan saja seperti pertama kali dipromosikan menjadi manajer ketika dikehidupan ku sebelumnya."
Da Xie mulai berdiri. Ia memaksakan untuk tersenyum.
"S–salam kenal semuanya! Aku adalah Maharani Agung Zhang Da Xie yang menjadi pemimpin kekaisaran Zhang ini. Terimakasih atas jasa kalian menjadi rakyat selama ini. Lalu..."
Da Xie terdiam sebelum kembali berbicara, "...Mohon bantuannya!" Untuk mengakhiri pidato ini, Da Xie membungkuk 90°.
Para rakyat diam sebentar membuat suasana hening yang menyiksa Da Xie. Sebelum akhirnya, mereka semua tertawa kecil dan serempak berteriak.
"Mohon bantuannya!!"
— — —
"Udaranya segar sekali yah, Li-er!"
Disebuah jalan dengan sungai disisi kanannya, terdapat sebuah keluarga yang menaiki gerobak kuda dan bercanda ria bersama. Itu adalah mantan keluarga kekaisaran Han yang akan menuju wilayah timur untuk pengasingan.
"Huh!" Li Ya yang duduk disamping ibunya hanya membuang muka sembari menyilang kan tangannya dengan kesal.
"Li-er, kau tidak perlu marah soal itu. Lagian juga, ayahmu ini sudah terlalu tua untuk mengurus kekaisaran. Mungkin memang sudah waktunya untuk berhenti."
Mantan kaisar –Shang Yuo mencoba menenangkan anaknya dikala dirinya fokus mengendalikan kuda-kuda yang menarik gerobak mereka.
"Aku tetap tidak terima ayah... Bagaimana bisa kekaisaran Han kita yang agung kalah oleh kekaisaran Zhang yang kecil itu!!"
Li Ya bangkit berdiri dan menghentakkan kakinya kelantai karena marah. Mantan permaisuri –Lia Ming tertawa kecil melihat tingkah laku anaknya.
"Sebenarnya dulu kekaisaran Han kita itu juga kekaisaran kecil bukan? Tetapi berkat Li-er, kekaisaran kita jadi lebih besar berkali-kali lipat. Anggap saja kekaisaran Zhang itu juga sedang merintis seperti kekaisaran Han kita dulu."
Lia Ming mengelus tangan anaknya, namun itu belum cukup untuk membuat kekesalan Li Ya berkurang.
"Tetapi mereka itu tidak sopan!! Mereka bahkan mengejek kekaisaran Han kita!!"
Dua pasutri itu saling berpandangan sebelum akhirnya tertawa bersama.
"Haha. Ya ampun Li-er, ini benar-benar lucu. Kau ingat tidak, dahulu ketika Li-er ingin berperang dengan kekaisaran lawan, kau juga mengirim bangkai tikus dan kata-kata provokasi kepada mereka. Itu lebih tidak sopan dari apa yang kekaisaran Zhang lakukan pada kita, Lho~"
Lia Ming menggoda anaknya sembari menaik turunkan alisnya. Hal ini sukses besar membuat wajah Li Ya merah padam.
"T–tetapi... Sekarang kita jadi rakyat jelata bukan? Apa ayah dan ibu tidak keberatan karena harus bertani dan mencangkul tanah?"
"Itu tidak masalah sih... Lagipula bisa bertani dan memakan masakan dari ibumu yang cantik ini, sungguh sebuah nikmat dunia." Shang Yuo menatap lekat-lekat kearah istrinya.
Wajah Lia Ming memerah, dia juga memegangi pipinya yang terasa panas.
"Aduh sayang. Ada anak kita loh."
"Sayangku ini malu-malu yah. Lucu sekali."
"Sayang..."
Li Ya menatap pemandangan dihadapannya dengan tatapan ngenes. Bisa-bisanya orangtuanya itu malah mesra-mesraan ketika anaknya sedang dalam suasana hati yang buruk.
"Ugh!! Ayah dan Ibu!! Kenapa malah mesra-mesraan sih!! Pokoknya aku tidak bisa memaafkan kekaisaran Zhang!! Apalagi Maharani Agung mereka yang menyebalkan itu!!"
Li Ya meloncat-loncat diatas gerobak dengan perasaan kesal. Hal ini membuat gerobak bergoyang sangat kencang.
"Li-er, tenanglah... Ayahmu ini jadi susah mengendalikan gerobak kita! Kalau kau terus bergerak, bisa-bisa kita—"
"E-eh, ada apa ini sayang—"
Byurr!!!
Gerobak mereka oleng tepat menuju sungai, membuat keluarga cemara itu basah-basahan.
"Huwaa!!" —Han Li Ya.