HANCURLAH BERSAMA "SUAMI PARASIT DAN ADIK BENALU"
Selama dua tahun pernikahan, Violet hidup sebagai istri yang selalu mengalah. Ia tidak pernah menyangka suami yang dicintainya ternyata diam-diam berselingkuh dengan Eliana, adik tirinya sendiri.
Lebih kejam lagi, mereka hanya memanfaatkannya demi merebut perusahaan keluarga yang menjadi haknya. Saat kebenaran terungkap, Violet kehilangan segalanya—ayahnya koma karena sebuah kecelakaan yang ternyata direncanakan, hartanya dirampas, dan nyawanya dihabisi oleh orang-orang yang paling dipercayainya.
Dalam detik terakhir sebelum kematian, Violet mengutuk mereka dan memohon kesempatan untuk mengulang hidupnya.
Ketika membuka mata, ia kembali ke dua tahun lalu.
Ke hari saat Arga datang melamar.
Kali ini Violet tidak akan memilih pria yang menghancurkan hidupnya.
Sebagai gantinya, ia memilih Sherkan—paman Arga yang terkenal dingin, kejam, dan menjadi penguasa dunia bisnis.
Keputusan itu mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nila KingShop Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Bab 33
Aku menatap cincin yang melingkar manis di jari manisku. Sudah berulang kali aku melakukannya—bahkan mungkin terlalu sering, sampai rasanya pandanganku sulit berpindah ke tempat lain. Kilauan berlian kecil yang tertanam di tengahnya memantulkan cahaya lampu-lampu kota yang menyelinap masuk lewat kaca jendela mobil, menciptakan pantulan cahaya lembut yang terasa begitu nyata, namun di sisi lain terasa seperti mimpi.
Masih terasa sangat tidak nyata. Kurang dari dua puluh empat jam yang lalu, aku masih menjadi Violet yang berusaha mati-matian menghindari takdir buruk yang menanti, berusaha melarikan diri dari perjodohan yang dipaksakan dan masa depan yang terasa gelap dan menyesakkan. Namun kini, segalanya berubah drastis dalam sekejap mata. Aku sudah resmi menjadi istri Sherkan Satria, bahkan memakai cincin pernikahan yang dipilih langsung oleh pria itu sendiri.
Mobil melaju perlahan meninggalkan area pusat perbelanjaan yang masih ramai dikunjungi orang. Suasana di dalam kendaraan terasa tenang, hanya terdengar suara mesin yang berdengung samar dan deru angin yang menyapu kaca jendela. Aku masih terus menatap cincin di jariku, tenggelam dalam pikiranku sendiri, hingga suara berat dan tenang milik Sherkan memecah keheningan yang terasa hangat itu.
“Kau menyukainya?”
Aku terkejut sejenak, lalu segera menoleh ke arahnya. “Hm?”
“Cincinnya,” ulangnya dengan nada datar, tanpa mengalihkan pandangan sedikit pun dari jalan raya di depannya. Matanya tetap fokus mengemudi, tangannya memegang setir dengan tenang, namun aku tahu betul pertanyaan itu ditujukan khusus kepadaku.
“Jika kamu tidak suka dengan modelnya, besok kita bisa datang lagi ke toko itu untuk menggantinya dengan yang lain,” lanjutnya lagi seolah memikirkan segala kemungkinan agar aku merasa nyaman.
Aku mengernyitkan dahi sejenak, lalu tanpa berpikir panjang aku langsung menggelengkan kepalaku dengan cepat. “Tentu saja.”
Jawabanku terucap terlalu cepat, bahkan sampai aku sendiri menyadarinya dan merasa sedikit canggung. Aku memperbaiki nada bicaraku agar terdengar lebih tenang. “Tentu saja aku menyukainya. Modelnya terlihat cantik, tidak terlalu berlebihan, terasa sederhana namun tetap memancarkan kesan yang sangat elegan.”
Aku mengusap permukaan cincin itu perlahan dengan ujung jariku, merasakan tekstur halusnya yang pas melingkar di jari manisku. “Kenapa aku harus menggantinya? Apalagi ini pilihanmu sendiri. Tidak banyak laki-laki yang punya selera sebaik ini dan tahu apa yang cocok untuk istrinya.”
Kalimat itu terucap begitu saja, secara spontan, mungkin karena saking senangnya aku sampai lupa bahwa pernikahan ini sebenarnya hanya sebuah kesepakatan kontrak semata, bukan ikatan yang lahir dari perasaan cinta yang tumbuh perlahan. Namun saat itu aku berbicara seolah kami adalah pasangan suami istri yang sesungguhnya, yang sudah hidup bersama lama dan saling memahami satu sama lain.
Lalu entah mengapa, dari sudut mataku aku menangkap sesuatu yang membuat detak jantungku berpacu sedikit lebih cepat. Aku menoleh sepenuhnya ke arahnya, dan hampir tidak percaya dengan apa yang kulihat. Sudut bibir Sherkan sedikit terangkat ke atas—sangat tipis, nyaris tidak terlihat oleh mata biasa, namun aku cukup yakin bahwa itu adalah senyum.
Bukan senyum lebar yang memperlihatkan gigi, bukan senyum yang penuh tawa dan kegembiraan, melainkan hanya sebuah lengkungan kecil yang membuat garis wajahnya yang biasanya dingin, kaku, dan terasa menakutkan itu tiba-tiba terlihat jauh lebih hidup, lebih lembut, dan lebih manusiawi.
Dan entah kenapa, pemandangan itu membuatku sedikit kehilangan fokus. Aku hendak memperbaiki ucapanku tadi, ingin menjelaskan bahwa itu hanya ungkapan pujian biasa, namun rasa gugup yang tiba-tiba melanda membuat lidahku terasa kelu, dan akhirnya aku urungkan niat itu. Aku baru sadar, ternyata Sherkan yang sedang tersenyum memiliki daya tarik yang cukup mengerikan bagi kesehatan jantung seseorang—mampu membuat siapapun terdiam, kehilangan kata-kata, termasuk diriku sendiri.
Beberapa menit kemudian, suasana kembali menjadi tenang seperti semula. Aku membuang pandanganku ke luar jendela, melihat jalanan kota yang mulai dipenuhi cahaya lampu malam yang berkelap-kelip, menciptakan pemandangan yang indah namun sedikit menyilaukan mata. Hingga tiba-tiba suara Sherkan kembali terdengar, memecah keheningan itu lagi.
“Kau lapar?”
Aku menoleh ke arahnya, belum sempat membuka mulut untuk menjawab pertanyaan itu, pria itu sudah melanjutkan kalimatnya dengan nada yang tetap santai.
“Aku lapar.”
Aku berkedip beberapa kali, mencerna ucapannya, lalu menatap wajahnya sekilas, kembali menatap jalanan, lalu menatapnya lagi. Dalam beberapa hari terakhir ini, aku mulai memahami satu hal yang cukup unik dari sosok Sherkan Satria—dia memiliki cara berbicara yang sangat khas dan sulit ditebak oleh orang awam. Dia jarang memerintah atau memaksa orang lain secara terang-terangan, namun anehnya, hampir semua orang yang berhadapan dengannya selalu mengikuti apa yang dia inginkan tanpa perlu banyak bicara.
Seperti sekarang ini. Secara teknis dia memang bertanya apakah aku merasa lapar, namun hanya beberapa detik kemudian dia langsung menyatakan bahwa dirinya sendiri sedang lapar. Artinya, secara tidak langsung dia ingin segera mencari tempat makan, dan sekaligus mengajakku untuk ikut bersamanya, tanpa benar-benar mengucapkan kalimat ajakan secara eksplisit. Sungguh cara yang licik namun tetap terasa sopan dan elegan.
Aku menahan senyum yang ingin mekar di bibirku, berusaha bersikap seolah tidak menangkap maksud tersembunyinya. Kemudian aku bersandar lebih nyaman di sandaran kursi, berpura-pura berpikir lama seolah sedang mempertimbangkan sesuatu yang berat.
“Hmmm…” gumamku pelan, lalu akhirnya mengangguk dengan senyum tipis. “Baiklah, kalau begitu ayo kita cari tempat makan.”
Untuk pertama kalinya sepanjang malam itu, Sherkan melirik sekilas ke arahku. Tatapannya tetap terlihat tenang dan datar seperti biasanya, namun aku bisa menangkap ada kilatan kepuasan yang samar-samar terlihat di balik matanya yang gelap, seolah jawaban yang kuberikan memang sudah sesuai dengan harapannya sejak awal.
“Ternyata tidak sesulit yang aku bayangkan,” ucapku tiba-tiba dengan nada bercanda.
Sherkan hanya menjawab singkat, “Hm?”
“Membaca pikiranmu,” jawabku sambil tersenyum kecil, merasa lebih berani untuk berbicara terbuka padanya. “Kau tidak pernah benar-benar meminta atau memerintah secara jelas, tapi seolah semua orang sudah tahu apa yang kau inginkan dan tetap melakukannya tanpa banyak tanya.”
Pria itu kembali mengalihkan pandangannya ke jalan raya di depannya, seolah mempertimbangkan jawaban apa yang akan diberikan. Beberapa detik berlalu dalam keheningan, hingga akhirnya ia menjawab dengan nada yang tenang namun mengandung makna tersirat.
“Itu karena mereka pintar.”
Aku terdiam sesaat, memutarbalikkan kalimat itu dalam pikiranku, mencoba memahami maksudnya. Dan hanya beberapa detik kemudian, aku langsung menyadari makna di balik ucapannya itu, lalu tertawa terbahak-bahak—benar-benar tertawa lepas tanpa perlu menahan diri lagi. Itu mungkin cara paling halus dan cerdas yang pernah kudengar untuk mengatakan bahwa orang yang tidak bisa menangkap maksud dan keinginannya adalah orang yang kurang mengerti atau bisa dikatakan bodoh.
Suara tawaku memenuhi ruang dalam mobil, menciptakan suasana yang lebih hangat dan hidup. Sementara Sherkan tetap mengemudi dengan tenang dan terlihat tak tergoyahkan, namun kali ini aku merasa ada perbedaan yang jelas. Untuk pertama kalinya sejak aku mengenal sosoknya, suasana di antara kami terasa jauh lebih ringan, tidak lagi terasa kaku atau penuh kecanggungan seperti awal pertemuan kami. Rasanya jauh lebih nyaman dan alami, seolah tanpa kusadari, jarak yang tadinya terasa begitu lebar dan jauh di antara kami perlahan mulai menyempit dan berkurang sedikit demi sedikit.
Dan entah kenapa, di dalam hatiku yang mulai berdebar halus itu, aku sadar satu hal—aku sama sekali tidak membencinya, dan justru mulai merasa ada ketenangan yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya.
suatu hari nnti kamu akan punyak anak bagaimana kl anak gadis mu dinikahi pria tanpa seizinmu🤣