Cerita ini menceritakan tentang kehidupan seorang mahasiswa baru di sebuah Universitas di Indonesia.
Seorang gadis broken home yang sederhana, yang memiliki sifat arogan, jutek, dan enggan dekat dengan laki-laki. Sejauh ini, dia selalu menghindar dari para lelaki yang mendekatinya. dia tidak ingin dekat dengan lelaki2 itu. Hal ini, disebabkan karena dia sangat kecewa kepada papanya yang telah meninggalkan dia dan mamanya demi wanita lain. Hingga dia menutup rapat hatinya, untuk menghindari lelaki-lelaki yang mendekatinya. Dia memasang wajah arogan dan sangat jutek. sebenarnya, dia sangat manis apalagi kalau tersenyum. Sayangnya, senyuman itu hanya berlaku untuk orang terdekatnya
di sisi lain, ada seorang pria tampan yang selalu menganggap semua wanita itu sama. mengejar pria hanya memandang harta dan rupa, yahh karena selama hidupnya para gadis yang mendekatinya hanya selalu memikirkan wajah tampan dan kekayaannya saja. Baginya, hanya Maminya lah wanita yang berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Avralia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Rehan 2
Saat ini, Aluna dan Rey sudah berada di cafe tempat mereka janjian dengan Rehan. Mereka masih menunggu kedatangan Rehan dan calon istrinya, mereka juga sudah memesan makanan
Tidak lama kemudian, datanglah sosok pria tampan jangkung dengan wajah nya yang lebam tapi tetap tidak mengurangi kadar ketampanannya, di sampingnya ada seorang wanita yang cantik, anggun, dan sederhana sedang melingkarkan tangannya di bahu kekar sang pria
"Hai, udah lama?" Sapa Rehan sambil menarik kursi agar pujaan hati bisa duduk
"Belum kok Kak" balas Aluna
Rey masih diam
Rehan melirik Rey, dia tersenyum
"Hallo, Tuan muda Kusuma? senang bisa berjumpa dengan anda" Sapa Rehan pada Rey sambil mengulurkan tangannya
Rey menyambut uluran tangan Rehan
"Senang juga bisa berjumpa dengan anda, Tuan muda Hutomo. Saya minta maaf atas kejadian tadi malam, maafkan saya sudah salah paham dengan kalian" Ujar Rey merasa tidak enak
"Tidak masalah, saya senang adik saya ada yang melindungi" Jawab Rey
"Ehmm"
Aluna berdehem, sebelum berbicara
"Apa dia calon kakak iparku?" tanya Aluna sambil menatap wanita cantik yang ada di sebelah Rehan
Rehan tersenyum, dia memandang wanitanya
"Ya, dia calon kakak ipar mu" Jawab Rehan
Wanita itu tersenyum manis
"Hai kak, aku Aluna" Aluna menyapa lebih dulu sambil mengulurkan tangannya
"Aku Naura, kamu cantik sekali" Puji Naura pada Aluna
"Terimakasih kak, kakak juga sangat cantik"
Naura memang sangat cantik, walau tanpa make up apapun. Dandanannya benar-benar sederhana, dia saat ini hanya menggunakan jeans berwarna putih dengan bloues berwarna cream, rambut indahnya dia biarkan tergerai.
"Apa kamu tidak mau minta maaf padanya, sweety?" tanya Rehan sambil mengelus kepala Aluna
Rey mendengus kesal, dia sangat tidak suka dengan perilaku Rehan. Apalagi Rehan memanggil Aluna dengan sebutan 'sweety'
Rehan menyadari perubahan raut wajah Rey, dia hanya tersenyum tipis
"Minta maaf? Kenapa?" tanya Aluna polos
"Hei, kamu itu sudah membuatnya menunggu lama untuk menjadi Nyonya muda Hutomo, kamu tau? Hm?" Ucap Rehan
"Eh..em, aku kan tidak meminta kakak untuk menungguku" Aluna menggerutu
Naura tersenyum
"Sudah, kenapa kamu nyalahin Aluna? Kamu sendiri yang ingin menunggunya, dan aku juga gak pernah mempermasalahkan itu. Aku juga perlu restu dari calon adik iparku yang cantik ini" Naura menengahi
Aluna tersenyum mengejek pada Rehan
"Wlekk!! Emang Kak Rehan aja yang resek" Aluna memutar bola matanya malas
"Sayang, kamu ini nggak bisa diajak kerja sama ya" Rehan kesal dengan Naura yang tidak bisa diajak kerja sama untuk mengerjai Aluna
Naura hanya tersenyum, sambil menggelengkan kepalanya
Aluna menahan tawa melihat wajah kesal Rehan
"Pfftt"
"Bisa makan dulu? sebelum dingin" Rey yang daritadi diam menyaksikan perdebatan kecil itu akhirnya membuka suara
Mereka makan dengan tenang, Aluna melihat pada Naura. Naura makan dengan sangat pelan, Aluna tau itu tidak dibuat-buat
'Kak Naura kalem banget, pantes Kak Rehan suka' batin Aluna
Di pertemuan pertama dengan Naura, Aluna sudah merasa senang dengan Naura. Dia tidak melihat ada kepalsuan pada Naura, yang dia lihat hanyalah ketulusan
Setelah makan, Rehan kembali memecahkan suasana. Oh ya, mereka makan di ruang privat
"Ehmm" Rehan berdehem
"Aluna, aku mau bicara" Ucap Rehan
"Bicaralah kak"
"Bisa bicara berdua?"
"Tidak bisa!" Sahut Rey cepat
Rehan tersenyum, dia tadi memang ingin mengetes Rey
"Rey!!" Aluna kesal dengan Rey
"Bicara saja disini! kenapa harus berdua?" Ucap Rey lagi dengan nada ketusnya
"Maaf, tapi saya ingin membicarakan tentang keluarga Aluna" Ujar Rehan, Rehan tau kalau Aluna tidak suka privasinya dibeberkan
Aluna memicingkan matanya
"Apa yang mau kakak bicarakan? Apa tentang pria itu? Aku sungguh tidak tertarik" ucap Aluna menebak apa yang akan Rehan bicarakan
"Lun, dengarkan kakak dulu"
"Aku datang menemui kakak untuk menemui kakak ipar dan melepas rindu kita kak, jangan rusak pertemuan ini dengan membahasnya"
Rey yang tau mood Aluna semakin buruk memilih diam saja
"Rehan, biarkan saja. Lain kali saja bicaranya ya?" Naura membujuk Rehan karena melihat perubahan mood Aluna
"Tidak bisa sayang, nanti dia akan menghindar lagi" Rehan mengatakan sambil mengelus pipi Naura
"Aluna, dengarkan kakak dek. please" Rehan beralih mengelus pipi Aluna
Rey benar-benar muak melihatnya
"Bicara saja disini, Rey udah tau" jawab Aluna malas
Rehan terkejut, baru kali ini Aluna membeberkan privasinya pada orang baru. Lalu, Rehan tersenyum. Dia tau adiknya ini sudah jatuh cinta pada Rey, hanya saja Aluna belum menyadari itu
"Temuilah om Arman" Satu kalimat lolos dari mulut Rehan
"Cih tidak akan" Aluna berdecih
"Aluna, jangan keras kepala. Dengarkan dulu penjelasannya" Rehan membujuk Aluna
"Apa kakak mencariku dan memintaku untuk menemuimu karena suruhan Arman? Hah? Ucapanmu yang menunggu restuku itu hanya omong kosong? Benar kan? Kakak tidak merindukanku? Tapi kakak menemuiku karena Arman? Cihhh kalian memang sama saja" Aluna emosi, dia kecewa dengan Rehan. Dia kira pertemuan mereka kali ini akan menyenangkan. Tapi, kenyataannya tidak
Rehan mendengus mendengar tuduhan Aluna, untung saja ada Naura di sampingnya yang menenangkan Rehan agar tidak terbawa emosi juga
"Dek, kamu salah paham. Aku memang mencarimu, menemuimu sesuai keinginanku. Tapi, aku juga mendapat pesan dari om Arman untuk membujukmu menemuinya"
"Katakan padanya, aku tidak sudi menemuinya" ucap Aluna lalu bangkit dari tempat duduknya, dan segera pergi tapi langkahnya terhenti
"Dek, papamu itu sakit. Dia tidak memiliki banyak waktu" ucap Rehan dalam sekali tarikan nafas
Deg
Dada Aluna sakit, seperti terhantam benda yang begitu keras.
Aluna memejamkan matanya, mencoba menguatkan dirinya. Lalu dia berkata
"Aku sama sekali tidak peduli" Jawab Aluna acuh lalu kembali berjalan pergi
"Aluna tunggu!!!" Rey berteriak hendak mengejar Aluna, tapi Rehan menahan tangannya
"Aku kali ini bicara sebagai seorang kakak, aku bukan bicara pada seorang Tuan muda. Tapi, aku bicara pada calon adik iparku. Dengar Rey, aku mohon bujuk Aluna agar bisa menemui papanya" Rehan memohon pada Rey
Rey mengerti ucapan Rehan, sekarang dia bisa menganggap Rehan benar-benar sebagai sosok kakak Aluna
"Aku gak akan melakukan apa yang membuat hati Alunaku sakit" Jawab Rey
Rehan menggeleng
"Aluna perlu tau kebenarannya Rey. Semua yang ada di pikirannya selama ini salah" Ucap Rehan
"Apa maksudmu, em kak?" Rey berusaha sopan dengan memanggil Rehan 'Kak'
"Nanti, kalian akan mengerti. Tolong bujuk dia" Rehan memohon lagi
"Aku akan mencoba. Permisi, aku harus kejar dia sebelum jauh"
Rehan mengangguk lalu melepaskan tangan Rey
"Terimakasih" ucapnya
Rey membalasnya dengan anggukan kepala juga
Rehan menatap nanar kepergian Rey
"Tenanglah honey, semua pasti baik-baik saja" Naura menenangkan Rehan sambil mengelus punggung tangan Rehan
"Terimakasih sayang" Ucap Rehan lalu mengangkat tangan Naura dan menciumnya lembut
Naura mengangguk
"Kita kembali sekarang?" Tanya Naura
Rehan tersenyum
"Iya ayo" ucap Rehan sambil mengecup singkat bibir kekasihnya, lalu dia berdiri mengulurkan tangannya pada Naura
Naura tersenyum, dan menyambut uluran tangan Rehan dengan senang hati
Di luar sana, Aluna terus berlari menjauh dari cafe. Dia menahan air mata yang akan jatuh
'Nggak gue gak boleh nangis' Ucap Aluna pada dirinya sendiri
Saat dia kelelahan, dia duduk di sebuah halte yang sudah cukup jauh dari cafe. Aluna menatap kosong kedepan, tasnya bahkan tertinggal di mobil Rey. Tadi, saat turun dari mobil dia lupa membawanya
Di sisi lain Rey sudah tidak menemukan jejak Aluna
"Alunaaaa, shitttt!! astaga kemana dia!!" Rey sudah mencari Aluna di sekitar cafe tapi tdak ketemu
Rey masuk ke mobilnya, dia menyusuri jalanan sekitar cafe, dia yakin Aluna belum pergi jauh
Sudah beberapa menit dia menyusuri jalan, akhirnya pandangannya jatuh pada seorang gadis yang sedang duduk di halte dan menatap lurus kedepan dengan ekspresi yang susah ditebak
Rey menghembuskan nafasnya lega. Dia turun dari mobilnya dan menghampiri Aluna. Aluna masih belum sadar kehadiran Rey, walau saat ini Rey sudah berdiri di sampingnya
Rey jongkok di hadapan Aluna, lalu dia meraih kedua tangan Aluna dan menciumnya bergantian
Aluna tersentak, kesadarannya kembali saat merasa ada yang menggenggam dan mencium tangannya
Rey tersenyum
"Ngapain disini? Ayo balik" Ajak Rey pada Aluna
Aluna masih diam, Rey tau kalau saat ini Aluna sedang menahan air matanya. Aluna tidak akan mau terlihat lemah
Rey berdiri, dia merangkul pundak Aluna mengajaknya berdiri dan masuk mobil. Aluna hanya diam saja
Rey melajukan mobilnya, saat dia sampai di jalanan yang tidak cukup ramai dia menepikan mobilnya. Rey menatap Aluna yang masih diam dan melamun
Rey meraih dagu Aluna mengarahkan agar menatapnya, dia mengelus pipi Aluna
"Udah tinggal sama gue doang disini, kalau mau nangis jangan ditahan lagi" Ucap Rey lembut
Kata-kata Rey membuat pertahanan Aluna runtuh, dalam satu kedipan mata air matanya jatuh membasahi pipi mulusnya
Rey langsung membawa Aluna kedekapannya, dia mengelus rambut Aluna sambil sesekali mencium pucuk kepalanya
"Sssttt, tenang. Ada gue disini" ucapnya menenangkan
Aluna semakin terisak dibalik pelukan Rey, dia mencengkram baju Rey kuat
"Gu..gue benci sama pria itu, gue benci hikss" racau Aluna sambil menangis
Rey membiarkan Aluna menumpahkan segalanya, dia hanya bisa mengelus rambut sampai punggung Aluna, berharap bisa memberi ketenangan
TBC