Cerita kedua setelah kisah Anjani dan teman-temannya...
Dua tahun setelah kejadian menyeramkan di rumah tersebut,Sang pemilik rumah akhirnya mendapatkan kembali pelanggannya.
Di malam hari,Sang pemilik nampak dikejutkan oleh sepasang pengantin baru yang ingin membeli rumah tersebut.Merekapun tidak mempermasalahkan harga murah yang dilontarkan.Wajah mereka terlihat begitu kagum,ketika mengetahui rumah tersebut memliki desain yang unik.
Rumah itu berada di penghujung kota,sendirian,tanpa adanya tetangga sama sekali.Namun nyatanya,lingkungan yang sangat berteman dekat dengan suasana hutan tersebut,sangat diidam-idamkan oleh Sang isteri.Hal itu membuat Sang suami langsung menyetujui pembelian rumah itu.
Sang pemilik nampak tersenyum manis,ikut bergembira dengan perasaan mereka,hingga tak sampai hati untuk memberitahukan tentang apa yang terjadi pada rumah ini di dua tahun yang lalu.
Ralat,bukan tak sampai hati,namun ia memang sengaja untuk menutupinya.Keinginan akan uang,membuat hati nuraninya buta.Bahkan,ia tak tanggung-tanggung untuk meminta bantuan dari golongan iblis.
Rasa menyesal mendadak hadir,saat dirinya sudah menemukan sebuah kenyaman dari orang-orang baru.Hal itu membuatnya merasa bersalah.Ia bertekad,akan melindungi orang-orang tersebut dari kejahatan Sang raja iblis.Disinilah, kejadian-kejadian di luar nalar,mulai memasuki kehidupan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kara Sulistia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps.10
Sudah 5 menit berlalu,jalanan di pusat kota masih saja mengalami kemacetan.Para polisi pun sudah banyak yang diturunkan.Namun,jalanan yang mulanya ingin bernafas lega karena para kendaraan itu sedikit berkurang,lagi-lagi kendaraan baru kembali datang,hingga membuat jalanan kembali ramai.
Tak hanya keadaan jalanan saja yang membuat hati dan pikiran menjadi panas,ada sebuah rumah yang nampaknya juga terlihat lebih panas bila dibandingkan dengan keadaan jalanan macet di depan rumah mereka.Saat ini,mereka tengah memikirkan hal serius yang menyangkut anak mereka.
Mereka adalah sepasang suami isteri bernama Jon dan Henna.Kini,mereka masih memikirkan tentang keadaan anak semata wayang mereka,yaitu Wulan.Setelah anaknya itu menelpon dan memberitahukan keadaannya saat ini,entah mengapa,mereka jadi lebih merasa khawatir dari sebelum-sebelumnya,terlebih Henna,Sang ibu.
Sembari terisak,ia memohon kepada suaminya untuk segera melakukan sesuatu.Henna ingin,Jon segera melindungi anaknya itu dari sosok ghoib yang selalu mengganggunya.Henna juga menyarankan,jika waktu berkunjung mereka dipercepat saja.Henna mengajak Jon untuk menjenguk anaknya sekarang.
"Tidak bisa,Bu!" Tolak Jon tegas. "hari ini,ayah akan menghadapi rapat penting.dan ayah sudah ditunggu kehadirannya sekarang." Sambungnya. "jangan terlalu khawatir.Wulan akan baik-baik saja bersama Amer.tolong bersabarlah sedikit!"
Jon terus mengusap punggung isterinya itu guna menenangkannya.Hari ini,ia benar-benar sibuk.Ia juga tidak bisa mengingkari janjinya pada orang-orang yang ingin bertemu dengannya.
"Kalau begitu,ayah pamit dulu.baik-baik di rumah,Ya!"
Jon mengecup puncak kepala Henna,kemudian tersenyum lembut padanya.Ia kemudian berdiri dan dengan langkah terburu-buru,Jon meninggalkan isterinya sendirian di rumah mereka.
Jon terus berjalan,menghampiri mobilnya yang sudah siap untuk digunakan.Sebelum benar-benar turun ke jalanan,Jon lagi-lagi memikirkan tentang keadaan anak semata wayangnya itu.
Wulan memang mempunyai sifat yang pemberani.Namun,ia akan tetap ketakutan,jika makhluk yang dihadapinya ini merupakan makhluk yang berbahaya.Dari sudut pemikirannya,sosok yang mengganggu Wulan bukanlah sosok hantu dari golongan biasa.Ciri-cirinya yang bisa berubah bentuk itu,membuatnya sangat yakin,jika Wulan tengah diganggu dengan sosok dari golongan iblis.
Jon menghela nafas.Menghadapi makhluk seperti itu memanglah sulit.Apalagi,mata batin Wulan sudah sangat lama ditutup,membuatnya kembali ke posisi awal,dimana ia masih merasa takut dalam melihat kehadiran makhluk halus.
Namun,Jon akan berusaha sebisa mungkin untuk membantu anaknya itu.Ia juga ingin cepat-cepat bertemu dengan Wulan.Selain memberinya petuah-petuah dalam menghadapi makhluk seperti itu,ada sesuatu rahasia yang harus Jon bicarakan kepada Anaknya tersebut.
---
BRAKK
Ius langsung keluar dari mobil begitu Amer telah menghentikan mesin mobilnya.Ia kemudian berkaca di kaca spion mobil,sembari sedikit merapikan pakaian dan rambutnya yang terlihat kusut.Gara-gara kejadian semalam,wajahnya jadi terlihat kusam karena tidak tidur dengan nyenyak.Ditambah dirinya juga tidak mandi,membuatnya terlihat seperti orang gila yang nyasar di sebuah kantor.
Sembari berjalan beriringan,Amer mengucapkan kalimat terima kasih kepada Ius.Berkat kemampuannya itu,Amer jadi mengetahui,penyebab Wulan bertingkah aneh akhir-akhir ini.
"Sama-sama,Pak!" Balas Ius sembari tersenyum. "lagipula,sudah menjadi tugas saya jika ada orang yang benar-benar membutuhkan." Sambungnya.
"Oh,ya,Yus!"
Amer tiba-tiba berhenti,membuat Ius juga ikut berhenti.Terlihat,Amer seperti merogoh sesuatu di dalam tas selempangnya.Ia lalu mengangkat sebuah amplop berwarna cokelat,kemudian menyerahkannya kepada Ius.
"Silahkan diambil.anggap saja,ini rasa terima kasihku kepadamu." Ucapnya.
Ius membelalakkan matanya.Ia benar-benar tidak menyangka,jika Amer akan berbuat hal yang lebih seperti itu.Buru-buru,Ius menyilangkan kedua tangannya,bermaksud menolak pemberian Amer tersebut.
"Tidak usah,Pak!saya benar-benar berniat untuk membantu bapak dan Bu Wulan." Ucap Ius sembari tersenyum.
Walaupun menolak dari pemberian Amer nyatanya sangat sulit,Ius akan tetap menolaknya meskipun Amer membentaknya sekalipun.Karena kesal,Amer akhirnya menyerah.Ia kembali memasukkan amplop tersebut kemudian kembali menatap Ius.
"Baiklah jika kau tidak mau menerima rezeki ini dariku.tapi,sebagai gantinya,kau harus menuruti apa yang aku perintahkan!" Ucap Amer tegas.
"Melakukan...apa??"
"Setiap jam makan siang,kau harus ada di sampingku." Balasnya.
Mendengar hal tersebut,entah mengapa Ius menganggapnya adalah suatu lelucon.Ia lalu sedikit menahan tawa,kemudian membalas ucapan direkturnya tersebut yang lagi-lagi dengan sebuah senyuman kecil.
"Baiklah,Pak!dengan senang hati."
Dari wajah tegasnya itu,lambat laun Amer juga ikut tersenyum.Hingga saat ia teringat sesuatu,ia kembali membicarakannya kepada Ius.
"Oh,ya,Yus!mengenai pindah rumah itu...apa boleh...kutunda dulu??"
Mendengar hal tersebut,Ius seketika mendadak tersenyum.Wajah datar dan dinginnya kembali ditampilkan,membuat Amer merasa heran.Mereka bahkan tidak sadar,jika aktivitas mereka itu telah dipandang beberapa orang yang kebetulan lewat.Mereka bahkan sampai bergosip dan membicarakan kedetangan Sang direktur dan seorang karyawan misterius yang akhir-akhir ini mendadak dekat.
"Bapak harus cepat-cepat pindah dari rumah itu.jika tidak,maka sesuatu hal yang buruk akan benar-benar menimpa Bu Wulan."
"Tapi...aku tidak punya cukup uang untuk membeli rumah baru." Balas Amer cepat sekaligus malu.Bisa-bisanya,ia menceritakan masalah keuangannya kepada bawahannya sendiri.
Mendengar hal tersebut,entah mengapa,membuat Ius mendadak memejamkan matanya.Ia kemudian membalas perkataan Amer tersebut sesaat setelah ia menghela nafas.
"Bapak bisa tinggal di rumah saya.saya akan menerima bapak dan Bu Wulan dengan senang hati."
Amer memandang Ius dengan dalam.Dari senyumannya yang tulus dan matanya yang terlihat ramah,membuat Amer merasa terharu.Ius bahkan rela menampung mereka,meskipun ia dan isterinya sudah cukup membuat Ius kelelahan semalaman.
"Ius,aku akan pertimbangankan lagi niat baikmu itu.bagaimanapun,aku harus diskusikan hal ini terlebih dahulu kepada Wulan.Sekali lagi,terima kasih!"
Amer tersenyum,kemudian menepuk pundak Ius dengan pelan.Ia benar-benar sangat berterima kasih kepada kebaikan dari hati Ius.Amer sangat terharu,karena dirinya sudah dibantu sampai sejauh ini.
"Baiklah,kalau begitu,aku masuk duluan,Ya!" Ucap Amer sembari tersenyum.Ia lalu melangkah masuk terlebih dahulu, meninggalkan Ius sendirian di hadapan orang-orang yang tengah memandang mereka dengan perasaan tak menyangka.
Kedekatan direktur mereka dengan Ius, nyatanya bukanlah sekedar bahan gosip belaka.Saat ini,mereka telah melihat langsung bagaimana Amer bersikap akrab kepada Ius.Terus dipandang seperti itu,Ius mendadak merasa malu.Ia lalu buru-buru menutupi wajahnya,kemudian melangkah masuk menuju ruang kerjanya.
---
"Kau serius?!!"
Wulan tiba-tiba saja berteriak.Setelah mendengar langsung tentang kelakuan Ben terhadap para korbannya,Wulan mendadak merinding.Ia benar-benar tidak mengerti arah dari jalan pikiran orang yang bernama Ben tersebut.Sifatnya yang sangat sadis dalam membunuh orang,membuat Wulan kembali teringat akan sebuah film psikopat yang pernah ia tonton.Jangankan bertemu,membayangkannya saja sudah membuatnya bergidik ngeri.
"Selain membunuh dan melakukan penganiayaan kepada keluarga pak Fadhil dan teman-teman anaknya,tersangka Ben juga pernah membunuh isteri dan anak laki-lakinya.kejadian itu terjadi,jauh sebelum tersangka Ben bertemu dengan keluarga pak Fadhil."
Abi nampak menghela nafas.Entah mengapa,ia mendadak sedih setelahnya. "...Tersangka Ben,juga membunuh ayahku pada malam pengejaran dirinya."
Tertegun,baik Wulan maupun Andri hanya bisa diam,saat Abi kembali menceritakan ayahnya.Mereka terlihat saling pandang,kemudian bingung ingin berkata apa.Mereka juga ingin menghibur Abi dan kembali membuatnya melupakan kejadian tersebut.Namun,niat baik mereka itu mendadak hancur,saat melihat wajah Abi yang menampilkan raut wajah marah tertahannya.
"Untuk itulah,aku sangat ingin menangkap manusia satu itu.aku juga ingin membuatnya merasakan,apa yang telah aku rasakan selama ini!"
Nafasnya terdengar menggebu,wajahnya pun mendadak memerah.Saat ini,Abi kembali merasakan kemarahan terpendamnya.Ia mencoba meredam kembali emosinya tersebut.Namun,dirinya sangat sulit untuk melakukannya.Ingin rasanya,Abi menghancurkan meja yang ada di hadapan mereka.Dengan begitu,perasaannya akan kembali tenang.
Melihat keadaan Abi yang sangat memprihatikan,seketika itu juga membuat Wulan merasa kasihan padanya.Abi terlihat berperilaku seperti hewan buas,jika sudah membicarakan tentang sosok orang yang bernama Ben tersebut.Wulan menganggap,jika kepribadian Abi yang sangat keras ini,terbentuk karena dendamnya akan kematian ayahnya.Bisa dibilang,Abi begitu trauma dengan kejadian dua tahun silam.
"Maaf,tapi,apa aku boleh memberi saran padamu?"
Walaupun Wulan tengah berbicara dengan Abi,Andri rupanya menoleh,kemudian memberikan tatapan tajamnya kepada wanita itu.Selama ini,Andri tidak pernah,bahkan tidak berani dalam berkomentar apapun tentang semua ucapan Abi.Namun,nampaknya Abi tidak terlalu mempermasalahkan hal tersebut.Ia hanya mengangguk,membuat Wulan kembali melanjutkan ucapannya.
"Aku sangat paham tentang perasaanmu.tapi,apa kau bisa lebih tenang sedikit?"
Abi mendongak,emosinya sedikit demi sedikit mereda.Ia lalu memandang Wulan dengan perasaan tak mengerti.
"Apa maksudmu??"
"Kau terlalu dibutakan oleh dendam.kau bahkan tidak memikirkan keadilan yang seharusnya didapatkan oleh orang-orang yang telah ia bunuh.kau hanya peduli kepada dirimu saja,kepada ayahmu!" Terang Wulan. "dendam yang kau tumpuk selama dua tahun,menyebabkan kepribadianmu rusak total.kau bahkan langsung marah-marah saat berbicara tentang Ben!" Sambungnya. "dengar,kau tidak boleh terus bersikap seperti ini.kau itu seorang polisi,Sang pembela masyarakat.jika mentalmu sudah rusak,apa mereka akan tetap menganggapmu sebagai pahlawan mereka??"
"Perbaikilah dirimu,Pak.jangan biarkan egomu yang terus memimpin!"
Andri meneguk ludahnya pelan.Ia sangat kagum dengan apa yang Wulan katakan.Namun,perasaan takutnya akan kemarahan Abi,membuatnya kembali waspada.Matanya nampak melirik kesana-kemari,mencoba menerka-nerka tentang apa yang akan terjadi selanjutnya.Namun,Abi rupanya hanya diam saja.Ia kemudian menunduk,meresapi setiap kata-kata Wulan yang sangat tepat mengenai hatinya.
Wulan memang berkata benar.Jika ia telah berhasil menemukan Ben nantinya,mungkin saja dirinya akan segera membunuhnya.Abi tidak akan bisa menahan emosinya,jika kemarahannya yang sudah mengambil alih.
Perlahan,Abi mulai tersadar.Ia seharusnya tidak terlalu fokus kepada dendamnya saja.Kini,ia juga harus memikirkan tentang keadilan orang-orang yang telah dibunuh oleh Ben,termasuk ayahnya sendiri.
"Terimakasih...atas semua saran yang kau berikan.walaupun terdengar sulit,tapi aku akan berusaha."
"Ya,sama-sama~" Balas Wulan sembari tersenyum.Ia mendadak tertawa saat melihat Abi yang berniat membalasnya dengan senyuman kakunya.
"Tentang Ben..." Wulan tiba-tiba berucap kembali. "...aku sangat penasaran dengan sosoknya.apa kau bisa menggambarkan bagaimana ciri-cirinya??" Tanya Wulan kemudian.
"Tentu saja!" Balas Abi cepat. "namun sebelum itu,aku akan kembali meminta tolong padamu.jika kau melihat atau bertemu dengan Ben,segeralah laporkan padaku!detik itu juga,aku akan langsung menangkapnya dan menjebloskannya ke dalam penjara."
Wulan hanya mengangguk saja sebagai jawaban.Ia lalu mulai mendengarkan,saat Abi hendak bicara.
"KOMANDAN,MOBILNYA!!!"
Andri tiba-tiba saja berteriak,membuat Wulan dan Abi terkejut,kemudian reflek menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Andri.
Disana,dipekarangan rumah Wulan,mobil polisi mereka yang awalnya nampak tenang,kini mendadak bergerak mundur secara cepat.Takut jika mobil itu masuk kedalam jurang,baik Abi maupun Andri pun langsung berlari mengejarnya.
---
DRAP
DRAP
DRAP
Langkah kaki yang terdengar sangat cepat itu,terus mengejar sebuah mobil yang bergerak bebas,tanpa memikirkan rasa lelah yang mulai hadir pada diri mereka masing-masing.Berbagai rintangan berupa tumpukan kayu dan batu-batu kecil,membuat mereka sedikit berakrobatik untuk menghindari benda-benda tersebut.Mereka bahkan berteriak,seolah mobil itu adalah seorang penjahat yang tengah dikejar.
Beberapa detik setelahnya,mobil mendadak berhenti,membuat kecepatan berlari mereka ikut mereda.Kedua ban belakang mobil,rupanya terhadang oleh beberapa batu besar,hingga membuatnya tidak bergerak lagi.
Abi kemudian masuk ke dalam mobil,memeriksa apapun dan bagaimana caranya mobil tersebut tiba-tiba saja bisa bergerak.Hingga saat ia menemukan sebuah kejanggalan,ia kemudian bergumam.
"Siapa yang melepaskan rem tangan ini??"
"Apa yang terjadi,Komandan?!"
Tiba-tiba saja,Andri datang menyusulnya,membuat dirinya kaget,hingga kepalanya nyaris menghantam bagian atas mobil.
"Entahlah,ada yang melepas rem tangan mobilnya." Balas Abi sedikit kesal.
Mendengar hal tersebut,Andri mendadak tertegun.Tiba-tiba saja,ia merasa merinding.Entah mengapa,ia menganggap semua kejadian aneh ini adalah campur tangan dari makhluk halus.
"Ayo masuk!"
Abi kemudian masuk ke dalam mobilnya,kemudian disusul Andri yang terlihat cepat-cepat dalam membuka pintu.Entah mengapa,Andri terlihat sangat ketakutan.Hal tersebut membuat Abi merasa heran.
Abi lalu membawa mobil tersebut kembali ke rumah Wulan.Namun,ia tidak masuk ke pekarangan rumahnya.Abi hanya menempatkan mobilnya di jalanan,sembari berteriak kepada Wulan,bahwa mereka akan segera pulang.Setelah itu,Abi dan Andri benar-benar pergi dan kembali meninggalkan Wulan seorang diri.
Tak lama kemudian,Wulan yang masih berada di pekarangan,kini mulai berbalik saat mobil Abi perlahan menjauh.Lagi-lagi,ia dikagetkan oleh sesosok orang yang sangat dikenalinya.Terdengar,orang itu nampak mengumpat sembari memandang kepergian mobil Abi.Heran,Wulan kemudian menghampiri orang itu dengan langkah kaki yang lumayan cepat.
"Irawan,kenapa kau bisa ada di sini??" Tanya Wulan tak percaya.
"Aku memang sudah berada di sini.tapi,aku bersembunyi di balik semak-semak yang ada di sana."
Irawan menunjuk santai kumpulan semak-semak yang menjadi markas rahasia mendadaknya.Ia kemudian menggaruk kakinya karena mendadak merasakan gatal.
"Lalu,kenapa dengan perban-perban ini??ada apa denganmu??kau terluka??"
Wulan tak henti-hentinya bertanya.Bahkan,ia meraba setiap luka yang diperban oleh Irawan.Merasa mendapat perhatian,Irawan hanya bisa tersenyum.Ia lalu bersikap seolah dirinya baik-baik saja.Ia juga tidak mungkin,jika harus menceritakan semua kelakuan Sang iblis terhadap dirinya.Alhasil,Irawan harus mencari alasan lain,supaya ucapannya dapat dianggap logis oleh Wulan.
"Ini...karena aku..." Irawan nampak melirik sekitar.Hingga saat ia melihat sepasang burung yang melintas,Irawan jadi mempunyai ide mengenai alasannya kali ini. "...aku diserang binatang liar." Sambungnya,sembari menunduk.
"Apa?!" Wulan berteriak,membuat Irawan benar-benar kaget. "tapi...bagaimana bisa??" Tanyanya lagi tak percaya.
"Biasalah,mereka suka masuk begitu saja saat aku lupa menutup pintu.ya...jadinya seperti ini!"
"Ya ampun,Irawan!kau itu bagaimana,Sih?!kau itu seharusnya lebih cermat dalam menutup pintu!"
Irawan tersenyum.Merasa diperhatikan seperti ini,membuatnya kembali teringat akan kenangannya bersama mendiang isterinya dahulu.Mendadak,Irawan merasa menyesal atas apa yang telah ia lakukan.Bahkan,ia kembali menyesal saat melihat wajah Wulan yang begitu percaya pada setiap kata-kata kebohongannya.
"Tapi,kau benar-benar baik-baik saja,Kan??" Wulan kembali bertanya,membuat Irawan kembali ke situasi nyata.Dengan cepat,Irawan lalu mengangguk mengiyakan.Ia bahkan menunjukkan otot-otot lengannya dan berkata,bahwa dirinya benar-benar dalam keadaan baik-baik saja.
"Oh,ya,Wulan!ada yang ingin aku bicarakan denganmu..." Ucap Irawan menggantung. "...kau,jangan lagi dekat-dekat dengan mereka.mereka itu sangat berbahaya!" Sambungnya sembari berekspresi serius.Namun,Wulan malah terlihat bingung.Entah apa yang dibicarakan Irawan,Wulan sama sekali tidak mengerti.
"Mereka,dua polisi tadi,mereka itu sangat berbahaya,Wulan!"
Irawan juga menjelaskan tentang kepribadian mereka terhadap Wulan.Irawan bahkan membuat sugesti mengerikan di dalam kepala Wulan.Namun,bukan Wulan namanya,jika ia tidak bertanya lebih lanjut mengenai alasan Irawan berkata seperti itu.Dari sinilah,Irawan terlihat gugup.
Sebenarnya,ia berbicara seperti itu karena untuk melindungi dirinya sendiri.Irawan merasa belum siap,jika ia harus mengaku dan bersuka rela masuk ke dalam penjara.Demi menyelamatkan dirinya,Irawan akan melakukan apapun,meski itu harus berbohong dahulu pada Wulan.
"Ya,ya,baiklah,aku tidak akan bertemu dengan mereka lagi." Ucap Wulan mengiyakan saja. "oh,ya,Wan!bagaimana kalau kita masuk saja??kakiku mendadak pegal karena berdiri terus!" Sambung Wulan,sembari memijat salah satu kakinya, seolah-olah memberikan isyarat kepada Irawan untuk segera menyetujui ucapannya.
"Baiklah,Ayo!"
Mereka lalu masuk ke dalam rumah.Disana,Wulan langsung pergi menuju dapur,kemudian membuatkan minuman ringan untuk Irawan.Sementara itu,Irawan langsung mengambil alih kursi sofa yang ada di ruang tamu.
Saat ini,Irawan tengah berusaha untuk menjadi orang baik,meskipun ia masih saja berbohong untuk melindungi dirinya sendiri.
Irawan bukannya tidak ingin mempertanggung jawabkan semua kejahatan yang telah ia lakukan.Namun saat ini,Irawan ingin mementingkan keselamatan Wulan terlebih dahulu.Setelah semuanya kembali normal dan memastikan bahwa Wulan akan hidup bahagia bersama Amer,disaat itulah,ia akan langsung menyerahkan diri ke kantor polisi.
Irawan juga butuh waktu,untuk membuat dirinya menerima semua kenyataan tersebut.
---
btw luka bakar itu smpai separuh badan, kenapa gak dirawat di UGD? bahaya lho