Bukan maunya menikah dan menjadi istri kedua, kalau bukan permintaan dari istri pertama yang memaksanya untuk menikah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
*33
"Halo .... "
"Halo mas, apa kamu masih ingat dengan aku?" tanya seseorang diseberang sana.
Arya masih sangat mengenali suara ini dengan baik. Suara siapa lagi kalau bukan suara Yulia, mantan istri yang masih sedang dalam proses penceraian.
"Yulia. Mau apa kamu?" tanya Arya kesal.
"Aku kangen sama kamu mas. Kenapa kamu begitu galak padaku sekarang. Dulu, kamu adalah laki-laki yang begitu hangat mas Arya."
"Jangan banyak omong lagi Yulia. Aku sedang sibuk, tidak punya waktu untuk melayani kamu."
"Oh, begitu ya? Baiklah kalau gitu. Sayang sekali, padahal aku ingin membicarakan soal istri kesayangan dan calon anakmu mas. Tapi ... kamu gak ada waktu untuk bicara padaku," kata Yulia dengan nada santai seolah tanpa beban.
"Apa maksud kamu Yulia?"
"Tidak ada maksud apa-apa mas. Hanya ingin mengatakan kalau istri tercintamu itu sedang ada bersamaku."
"Apa-apaan kamu Yulia, mau apa kamu bersama dengan Nana," kata Arya mulai dirundung rasa panik sekarang.
"Mau apa? Hmmm, aku mau apa ya? Aku mau ... mau menjauhi mereka dari kamu mas," kata Yulia bicara sambil tertawa sekarang.
"Jangan main-main kamu Yulia. Aku akan buat kamu menyesal jika terjadi sesuatu pada Nana dan calon anakku."
"Wah-wah-wah, ngancem aku kamu mas?"
"Aku tidak main-main Yulia!" kata Arya dengan nada tegas.
"Oke baiklah-baiklah. Aku tahu kamu sangat sayang pada istri dan juga calon anakmu itu. Di sini aku juga tidak akan main-main lagi mas Arya. Aku punya satu penawaran untukmu," ucap Yulia dengan nada serius.
"Penawaran apa? Apa yang kamu inginkan dari aku?"
"Pertanyaan yang sangat amat bagus."
"Jangan bertele-tele Yulia. Aku tidak ingin main-main dengan kamu. Katakan apa yang kamu inginkan dari aku."
"Baiklah-baiklah. Aku punya satu penawaran, yaitu, menukarkan Nana dengan aku."
"Apa maksudmu?"
"Aku ingin kamu meninggalkan Nana dan kembali rujuk denganku. Aku ingin hubungan yang seperti dulu lagi. Kamu ceraikan Nana, dan jadikan aku istri satu-satunya kamu."
"Gila kamu Yulia. Aku tidak akan menceraikan Nana. Apalagi sekarang, Nana sedang mengandung anakku."
"Terserah kamu. Jika kamu benar-benar cinta dan sayang dengan Nana dan juga calon anak kalian. Hanya itu pilihan yang kamu punya mas. Aku tidak punya penawaran yang lain lagi." Yulia langsung menutup telponnya tanpa ada kata penutup lagi.
"Yulia! Halo ... Yulia." Arya mencoba memanggil Yulia dengan keras.
Mau bagaimanapun Arya memanggil Yulia, dia tidak akan menjawab. Panggilannya sudah ia putuskan. Nomor ponselnya juga sudah tidak ia aktifkan lagi.
Untuk memastikan apa yang Yulia katakan itu benar, Arya segera menghubungi nomor Nana. Tapi sayang, tidak ada jawaban dari panggilan yang Arya ulangi beberapa kali itu.
Karena Nana tidak menjawab, Arya bergegas menelpon rumah. Tidak menunggu lama, terdengar suara bibi yang menjawab telpon dari Arya.
"Halo Tuan Arya."
"Di mana nyonya Nana?" tanya Arya tanpa ingin berbasa-basi lagi.
"Nyonya Nana sedang tidak ada di rumah Tuan. Dia keluar tadi pagi. Katanya mau cari angin," kata bibi dengan nada ragu-ragu.
"Sialan."
Arya segera menutup telponnya setelah mengucapkan kata-kata itu. Bibi yang tak mengerti dengan apa yang Arya maksud, menjadi sangat bingung dan takut.
Arya gelisah dan panik di ruangannya. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang. Ia juga tidak tahu mau bicara sama siapa untuk meminta saran agar tidak salah langkah.
Hatinya takut jika Yulia benar-benar bersikap gila. Yulia yang sekarang bukan Yulia yang lembut seperti yang ia kenal dahulu. Arya sangat tidak ingin memenuhi permintaan Yulia. Tapi dia juga tidak mau, jika Nana dan anaknya celaka karena keegoisan yang ia miliki.
"Awas kamu Yulia, jika kamu berani macam-macam pada Nana dan juga calon anakku. Kamu akan tahu akibatnya nanti," kata Arya bicara sendiri sambil memukul meja kerjanya.
Arya bergegas meninggalkan ruangan itu. Ia sudah punya arah dan tujuan sekarang. Ia tidak bisa hanya diam menunggu kabar dari Yulia saja. Dia harus menyelamatkan Nana dan calon anaknya.
"Pak Arya mau kemana?" tanya sekretaris Arya ketika melihat Arya berjalan cepat keluar dari kantor.
"Aku ada urusan. Kamu tolong selesaikan masalah kantor selama aku tidak ada."
"Tapi, lima belas menit lagi kita akan ada rapat penting pak Arya."
"Hidup istriku lebih penting dari pada rapat yang akan berlangsung lima belas menit lagi," kata Arya sambil meninggalkan sekretarisnya.
Sekretaris itu hanya diam sambil berusaha mencerna apa yang Arya katakan barusan. Ia tidak mengerti apa yang Arya katakan. Ia juga tidak bisa menahan Arya untuk tetap tinggal di kantor dan mengikuti rapat yang akan berlangsung lima belas menit lagi. Yang bisa ia lakukan hanyalah, mengikuti apa yang Arya tugaskan padanya.
tau ibu tiri ga sebaik ibu kbdung.
sombongngg🤣🤣🤣
😂😂😂
😂😂