Tria Handayani Marzuki adalah seorang anak yatim piatu yang tinggal bersama dengan kedua orang tua angkatnya, atas ke inginkan dari ayahnya sebelum beliau meninggal.
Awalnya Tria mengira ia akan hidup bahagia bersama mereka, namun dengan seiring berjalannya waktu yang di dapat Tria hanyalah kesedihan dan kesengsaraan.
Tria di perlakukan seperti seorang pembantu di rumahnya sendiri, Tria mencoba untuk tetap menjalani kehidupannya dengan rasa ikhlas. Keberadaan sahabatnya membuat Tria bertahan untuk hidup, hanya bersama dengan mereka Tria bisa tertawa lepas.
Tria mencintai salah satu dari sahabatnya, Satrio Nugraha yang ternyata ia juga diam diam mencintai Tria. Hingga suatu saat Rio memberanikan dirinya untuk mengutarakan perasaannya kepada Tria, dan Tria menyambutnya dengan bahagia.
Kisah cinta yang baru saja di mulai, harus kandas begitu saja karena Tria di jodohkan dengan pria lain oleh Karmila, mamah angkatnya.
"Aku memilih dia." ucap Tria.
Rio yang mendengarnya sungguh tidak menyangka dengan keputusan yang diambil Tria, Tria mengorbankan kebahagiaannya. Hanya untuk menuruti keinginan Karmila, mamah angkatnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pecinta hijau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
eps33
Di perjalanan menuju bandara.
Nisa merasa menyesal karena kenekatannya untuk menemui Rio, Rio benar-benar telah berubah, ia seakan tidak mengenali Nisa lagi.
Nisa kembali ke bandara dengan sejuta rasa kecewanya, ia tidak kuat lagi menahan tangisnya. Akhirnya tangisnya pecah, membuat sang supir yang mengantarnya heran.
”Ada apa, Non? Tidak tega meninggalkan teman-teman kampus nya, Non?” tanyanya.
Nisa menghapus air matanya, ia tersenyum yang di paksakan, ”Iya, saya tidak rela berpisah dengan teman-teman ku.” jawabnya, berbohong.
”Kalau tidak rela? Mengapa harus pergi, Nona? Tinggal saja di sini untuk lanjut kuliah.” ucap sang supir lagi.
”Maunya begitu, Pak. Tapi, sayangnya, papa ku di pindah tugaskan di negara lain. Jadi mau gak mau harus ikut pindah.” sahut Nisa, berbohong.
Sang supir tidak bersuara lagi. Ia bisa mengerti perasaan penumpangnya itu. Beberapa menit kemudian, mereka tiba di bandara. Sang supir menghentikan mobilnya.
”Nona, kita sudah sampai di bandara, Nona.” ucapnya.
Entah apa yang sedang di pikirkan oleh Nisa, sehingga ia tidak mendengar ucapan pak supir.
”Nona, kita sudah sampai di bandara.” ucap sang supir lagi, sambil mengetuk sandaran bangkunya.
”Oh, maaf, saya melamun.” ucap Nisa, terkejut. ”Ada apa, Pak?” tanyanya.
”Kita sudah sampai di bandara, Nona.” jawab sang supir.
”Oh,” sahut Nisa, Ia mengeluarkan uang untuk membayar taksi. ”Ini Pak, kembaliannya ambil saja.” ucapnya.
Ia keluar dari mobil.
”Bagi penumpang dengan tujuan London, 10 menit lagi akan lepas landas. Mohon, bagi penumpang dengan tujuan London, segera menaiki pesawat.”
Nisa mendengar informasi tentang waktu keberangkatan ke London akan di lakukan 10 menit lagi.
Ia menghapus air mata, bergegas masuk ke dalam untuk check-in. Setelah check-in, ia masuk ke dalam pesawat tujuan London.
Nisa duduk di bangku berdekatan dengan jendela pesawat. Ia termenung melihat keluar jendela. Ia kembali mengingat pertemuan terakhirnya dengan Rio yang menyakitkan untuknya.
Dengan senyum ceria Nisa mendekati Rio yang lagi menyantap makanan bersama teman-temannya.
”Hai, boleh aku ikut bergabung dengan kalian?” tanyanya.
”Boleh saja,” Nani yang menjawab Nisa.
Nisa tersenyum, ia duduk di bangku kosong yang ada di samping Rio. Bangku kosong tersebut di sediakan untuk tempat duduk Tria. Rio mengabaikan Nisa.
”Kamu mau makan atau minum sesuatu, Nisa? Pesan saja,” tawar Nani.
”Tidak, terima kasih atas tawarannya.” sahut Nisa, menolak.
Rio, Nani, Mini, dan Risno telah selesai sarapan.
”Rio, aku ingin berbicara dengan mu. Berdua saja. Boleh?” ucap Nisa dengan gugup.
Rio melirik Nisa. Risno, Nani, dan Mini berdiri.
”Kalian mau kemana?” tanya Rio.
”Kami ingin pergi ke rumahnya bude ku, Rio. Aku akan memperkenalkan Nani pada bude, sekaligus meminta izin pada bude kalau Nani akan tinggal di rumahnya.” jawab Risno.
Sebenarnya hanya itu alasan yang tepat untuk mereka meninggalkan Rio dan Nisa, agar Nisa bisa leluasa berbicara dengan Rio.
”Kalian tidak menunggu Tria?” tanya Rio lagi.
”Tidak usah, biar kami aja yang ke rumah bude. Kamu nungguin Tria aja disini, lagian, Nisa juga ingin bicara berdua saja denganmu. Kami pergi dulu.” jawab Risno.
Rio mengangguk. Ia membiarkan temannya untuk pergi. Kini, tinggal Nisa dan Rio berdua saja di sana.
Rio kembali melirik Nisa yang duduk di sampingnya itu. Nisa menunduk, sepertinya wanita itu ragu untuk berbicara. Atau mungkin, ia bingung untuk memulai berbicara.
”Mau bicara apa? Bicaralah!” ucapnya, ia memulai membuka pembicaraan.
Nisa mengangkat wajahnya, melihat Rio yang sedang menatap piring dan gelas kosong di atas meja.
”Aku akan berangkat ke London hari ini, apa tidak ada yang ingin kamu katakan padaku, Rio? Sebelum aku pergi.” ucapnya.
”Hum, pergilah! Hati-hati, di jalan!” sahut Rio dengan datar, tanpa melihat Nisa.
”Hanya itu?” Nisa memandang Rio dengan heran, ia tidak percaya Rio hanya mengucapkan kata itu saja untuknya.
Rio melihat Nisa yang sedang menatapnya. ”Kamu mengharapkan aku akan berkata apa untuk mu?” tanyanya.
”Aku mencintaimu, Rio! Aku mencintai mu dari dulu sampai sekarang! Dulu kita baik-baik saja, Rio! Kenapa sekarang kamu begini? Apa cinta mu cepat berubah karena waktu kita yang sangat berjarak ini?” ucap Nisa. Ia memberanikan diri mengatakan apa yang ada di benaknya.
Rio acuh saja mendengar pengakuan Nisa. Ia tahu arah pembicaraan Nisa.
”Itu hanya masa lalu kita saja, Nisa. Jadi, kamu tidak perlu membahas itu lagi. Pergilah, cari kebahagiaan mu sendiri di London.” sahutnya dengan tegas.
Nisa menggeleng. ”Itu bukan hanya masa lalu kita saja, Rio! Aku tahu, kamu mencintai ku, aku pun begitu, mencintai mu. Dan aku yakin perasaan kita ini masa sama, kamu dan aku masih saling mencintai.” ucapnya, sambil menatap Rio, meski pria itu tidak melihatnya sama sekali.
”Aku tidak mencintaimu, Nisa! Maaf kan aku jika di masa lalu aku memberikan mu sebuah harapan. Tak perlu kamu ingat itu lagi, itu telah berlalu. Itu hanya masa saat kita masih kecil, kita tidak terlalu paham dengan apa yang kita ucapkan dulu.” sahut Rio, menjelaskan.
Nisa menggeleng. Matanya berkaca-kaca.
”Tidak! Kamu bohong, Rio! Aku yakin, aku yakin kamu masih mencintaiku, Rio! Apa, apa yang sudah wanita itu berikan padamu, sehingga kamu berubah begini padaku, Rio?” tanyanya.
Rio menatap tajam Nisa. Ia tidak senang mendengar ucapan Nisa yang merendahkan kekasihnya.
”Apa maksudmu bicara seperti itu, Nisa? Apa kamu mengira Tria wanita rendahan? Tidak, Tria adalah wanita terhormat yang pernah aku kenal! Kamu tidak berhak menghakimi Tria, kamu tidak mengenalnya!” ucapnya dengan marah, membela Tria.
Rio menjeda ucapannya.
”Sekali lagi, aku minta maaf. Maaf, jika aku sudah memberikanmu harapan di masa lalu. Lupakan itu, pulanglah kembali ke London.” lanjutnya berucap.
Rio berdiri dari duduknya. Ia malas duduk berdua berlama-lama dengan Nisa, apalagi hanya untuk membahas hal yang tidak penting. Rio melangkah, ia berhenti di belakang Nisa.
”Pergilah! Cari kebahagiaanmu di London. Lupakan aku, lupakan masa lalu kita. Bukalah hatimu untuk pria lain, jangan tutup hatimu hanya untuk kenangan masa lalu mu. Dan ingat, aku tidak pernah mencintaimu sekarang maupun dulu. Aku hanya menganggap mu sekedar teman biasa, jangan ganggu hubunganku dengan Tria. Dan jangan mengharap kan aku!” ucapnya dengan tegas.
Rio pergi setelah mengucapkan kalimat itu. Ia melangkah pergi menemui Tria di tempat pendaftaran. Ia meninggalkan Nisa yang sedang menangis seorang diri di sana.
Betapa sakit dan hancurnya perasaan yang di rasakan oleh Nisa sekarang. Ia sangat mencintai Rio. Tapi mendengar kenyataan Rio tidak pernah mencintainya dari dulu bahkan sampai sekarang, sungguh sangat menyayat hatinya.
Nisa meninggalkan kantin kampus dengan hati pilu dan kecewa pada Rio, Nisa membenci Rio yang sudah menyakitinya dan juga membenci Tria yang sudah merebut Rio darinya.
.. .
Di kediaman Bude Risno.
Nani tampak gugup untuk bertemu dengan Bude Risno. Ia ragu jika Bude Risno akan menerimanya untuk tinggal sementara di rumahnya.
Risno menyadari kegugupan Nani, ia tertawa kecil dan Risno ingin menjaili temannya itu.
”Kamu kenapa, Nan? Kok gugup gitu?” tanyanya.
”Gimana gak gugup, Ris? Aku tidak mengenal bude mu dan dia juga belum mengenalku. Bagaimana kalau dia menolak menampung ku di rumahnya?” jawab Nani dengan cemas sambil melihat Risno.
Risno tersenyum kecil. Ia ingin menjaili temannya itu.
”Kamu tau, Nan. Bude ku itu orangnya galak sekali dan bude ku itu sangat tegas. Kamu musti berhati-hati kalau bicara dengan bude ku, salah sedikit mampus kamu.” tukasnya. Ia sengaja menakut-nakuti Nani.
”Masa sih bude mu seperti itu, Ris?” tanya Nani, ia tidak percaya pada ucapan Risno itu.
”Iya, anaknya bude sendiri sampai nekat pindah ke Malang untuk kuliah. Dia gak betah dengan sikap keras bude ku. Jadi, sekarang kamu yang bersiap-siap menggantikan kedudukan anak bude, untuk di kekang.”
”Masa sih, Ris? Kalau gitu kita pulang aja, gak jadi aku numpang tinggal disini.” sahut Nani, ia sudah ketakutan.
”Eh, enak saja! Kita sudah sampai disini masa mau kembali dengan kosong? Tunggu saja bude ku, kamu kan keras orangnya. Siapa tahu saja cocok dengan bude ku yang keras itu!”
Nani terdiam. Mini, ia hanya tersenyum, ia tahu kekasihnya itu memang suka jail dan sekarang ia berkesempatan menjaili Nani.
Ucapan Risno di dengar oleh budenya yang baru datang dari pasar, budenya langsung menghampiri Risno dan menjewer telinganya.
”Berani ya kamu bicara begitu di belakang Bude mu!” ucap Bude tanpa melepas jeweran nya pada telinga Risno.
”Bude, sakit Bude telinganya Risno. Ampun Bude, Risno gak akan ngulang lagi. Risno hanya menjaili teman Risno aja, Bude.” ucap Risno sambil meringis menahan sakit di telinganya.
Sedangkan Mini dan Nani mereka tertawa melihat Risno yang di marahi sama budenya.
”Kasian deh Lo! Jewer terus Bude, jangan di lepasin! Risno emang suka jail, Bude! Jangan beri ampun, jewer terus sampai dia nangis dan minta maaf yang tulus pada Bude.” ucap Nani sambil tersenyum meledek Risno.
”Bude, ini benar-benar sakit telinga Risno, Bude. Tolong lepasin telinga Risno, Risno minta maaf, Risno gak akan ngulang lagi. Risno janji!” ucap Risno. Ia sudah tidak bisa menahan rasa sakit di telinganya lagi. Telinganya benar-benar sakit, apalagi kuku sang bude yang panjang itu, tambah sakit telinga Risno, mungkin juga telinga itu sudah terluka.
Bude melepaskan jeweran nya. Ia tidak tega melihat Risno mengiba padanya.
”Jangan di ulangi lagi, anak bandel!” ucapnya sambil memukul pelan bahu Risno.
”Iya, Bude, maaf. Risno gak akan ngulang lagi. Bude darimana? Pantas dari tadi Risno mengetuk pintu gak ada sahutan sama sekali, ternyata Bude lagi keluar.” ucapnya sambil mengelus-elus daun telinganya.
”Bude dari pasar, beli lauk pauk untuk makan malamnya Bude, kenapa nyariin Bude?”
”Bude bukain dulu pintunya, Risno dan teman Risno capek dari tadi nungguin Bude sambil berdiri. Dan sekarang Bude malah ngajak Risno bicara di luar. Gimana sih, bude ini!” keluh Risno.
”Oh, iya, Bude lupa, maafkan Bude.” ucap sang bude. Ia membuka pintu rumah. ”Ayo masuk, ajak teman mu duduk di kursi. Bude mau kebelakang dulu.” ucapnya lagi.
”Iya, Bude.” sahut Risno. Risno menyuruh Nani dan Mini untuk duduk bersama di kursi.
Tidak lama kemudian, bude datang dari dapur dengan membawa minuman. Bude menaruh nampan berisi minuman itu di atas meja. Ia membagikan minuman itu pada Risno dan kedua temannya.
”Silahkan di minum.” ucapnya.
”Iya, Bude, terima kasih.” jawab mereka kompak.
Mereka mengambil minumannya masing-masing dan meminumnya.
”Kenapa nyariin Bude, Ris?” Bude kembali menanyakan tujuan Risno mencarinya.
”Begini, Bude, pertama-tama, kenalkan dulu ini temanku Mini dan Nani.” ucap Risno sambil menunjuk Mini dan Nani.
Nani dan Mini berkenalan dengan bude,
setelah mereka berkenalan Risno melanjutkan bicaranya.
”Kami ingin kuliah di Universitas yang tidak jauh dari rumah Bude ini. Teman ku Nani, memiliki kendala pada tranportasi karena rumahnya dan kampus sangat jauh sekali. Jadi, jika Bude mengizinkan, temanku ini ingin tinggal bersama Bude selama ia kuliah. Bagaimana? Apa Bude mengizinkan temanku ini untuk tinggal bersama Bude?”
”Kalau untu Bude sendiri, Bude mengizinkan. Cuman, kamu lihat saja keadaan rumah Bude ini seperti apa! Apa teman mu ini akan betah tinggal di gubuk Bude yang seperti ini?”
”Kalau untuk Nani, Nani gak jadi masalah dengan bentuk rumah Bude. Yang penting rumah ini bisa dipakai untuk tinggal.” jawab Nani.
Bude melihat Risno dan Mini seakan meminta pendapat dari mereka berdua. Mini dan Risno mengerti, mereka berdua mengangguk setuju dengan ucapan Nani.
”Baiklah, Bude izinkan teman mu tinggal disini.” ucap bude, mengizinkan. ”Jadi, kapan Nak Nani akan mulai tinggal disini? Biar Bude persiapkan kamarnya.” tanyanya.
”Nanti, Bude. Tapi, tidak lama lagi kok, Bude. Mungkin tiga atau empat hari lagi, Bude.” jawab Nani.
Bude manggut-manggut mendengar ucapan Nani.
”Kalau begitu, terima kasih, Bude. Kami pulang dulu.” ucap Risno, berpamitan.
”Iya, sama-sama. Dan hati-hati di jalan, Nak!” sahut bude.
Risno mengangguk. Mereka pun akhirnya pulang. Risno mengantar Mini kerumahnya, baru ia mengantar Nani pulang kerumahnya. Baru ia pulang ke rumahnya sendiri.
.. ..