⚠️Mature Content (Harap bijak memilih bacaan)
Bryan Adams (24th) & Patricia Robert (26th).
Sebuah kesalahan dimasa lalu yang tak pernah mereka sesali terjadi.
Ternyata tidak mampu, membuat Pat tetap bertahan dengannya. Pada akhirnya takdir membawa Patricia hidup bersama pria lain pilihan dari Diana, ibunya.
Namun lagi-lagi takdir mempertemukan Bryan dan Patricia, meski dengan status yang berbeda. Akankah cinta itu tumbuh lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Priska, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
A 33
Mohon maaf karena beberapa bulan ini Author lagi dalam keadaan yang kurang baik. Mohon pengertiannya. Dan mohon doanya untuk kesehatan Author🙏
.
.
.
Mobil Kornelius baru saja berhenti tepat di gedung perusahaan milikinya. Pria itu bahkan tidak sempat memarkirkan mobilnya dengan baik, karena terburu-buru. Namun ia harus kecewa karena Bryan pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun.
“Mana dia...?.” Tanya Kornel.
“Tuan Bryan meminta anda menunggu sampai di kembali.”
“Apa-apaan ini, apa dia mau mempermainkan ku? Kau seharusnya bisa menahannya, aku sudah tergesa-gesa, meninggalkan istriku di rumah sakit?.” Kornel begitu marah, dia bahkan rela berlari-larian demi tidak mengecewakan rekan bisnisnya.
“Maaf Tuan...Tapi Tuan Bryan juga sudah menunggu anda cukup lama.” Sanggah Rara.
“DIAM ! Jadi apa kau menyalahkan ku.”Bentak Kornel kasar, pada sekretarisnya itu.
“Maaf Tuan. Saya tidak bermaksud...”
“Ahhh....Sudah sana kau pergi saja. Percuma aku membayar orang seperti kalian.” Kornel mulai melempar semua kesalahan pada semua karyawannya.
Semua hanya bisa menunduk, dan tak berani membantah apapun yang keluar dari mulut Kornelius.
....
Sementara, Bryan baru saja tiba, di rumah sakit tempat Patricia di rawat.
“Dimana dia... Patricia Robert.” Tanya Bryan.
“Astaga Tuan Bryan Adams.” Para suster disana sangat terkesima melihat ketampanan pria itu. Tentu saja semua orang sangat mengenal pengusaha muda, sukses, kaya raya dan tampan itu.
“Ada yang bisa kami bantu Tuan..?” Tanya mereka.
“Temanku sedang dirawat disini. Kurasa dia baru saja masuk beberapa jam yang lalu... Patricia Robert. Dimana orang itu?.” Tanya Bryan, tanpa bertele-tele
“Oh. Nyonya Patricia... Iya dia ada di ruangan VVIP. Aku akan mengantar mu ke sana.” Seorang perawat muda menawarkan diri mengantar Bryan.
.
.
.
Pat masih terbaring lemah diatas tempat tidurnya. Ia hanya tidak tahu harus melakukan apa sekarang. Tempat ini sangat membosankan baginya. Apalagi saat Kornel pergi, ia semakin kesepian sendirian ditempat itu.
“Patricia !.” Pintu dibuka dengan kencang.
Pat berbalik melihat kearah pintu masuk. Mendengar langkahnya, mendengar suaranya saja. Pat sudah tahu siapa orang itu.
“Bryan !.” Ucap Pat
“Kenapa kau ke sini ! Kau tidak boleh kesini Bryan !!!.” Pat dibuat panik sendiri karena kehadiran pria itu. Ia takut bagaimana jika Kornel kembali dan melihat semua ini atau siapapun yang melihat ini.
“Kau baik-baik saja? Apa yang terjadi padamu. Apa itu karena dia Pat? Katakan padaku !.” Sama halnya dengan Pat, Bryan pun terus bertanya.
“Bryan pergilah aku baik-baik saja.” Usir Pat.
“Jika kau baik-baik saja, kau tidak akan berada disini ! Aku tidak akan pergi Pat, aku akan di sini menemanimu.”
“Jangan bodoh. Pergilah, aku tidak ingin suamiku salah paham dengan melihat kita.” Mohon Pat.
“Suami? Pat.... Kita sudah membahas ini. Kau tidak akan menolak ku lagi kan. Ada apa denganmu sekarang? Bahkan kau sama sekali tidak menghubungiku. Kau bahkan tidak mengatakan bahwa kau sedang tidak baik-baik saja. Aku datang kesini karena sangat mengkhawatirkan mu. Kenapa kau mengabaikan ku !.”
“Kumohon Bryan, pergilah... Tenagaku tidak banyak untuk berdebat.”
“Pat kau tahu aku paling tidak bisa melihatmu seperti ini. Meskipun tidak mendengarnya dari mulutmu langsung, aku tetap datang kesini untukmu. Apa itu tidak berarti untukmu?.” Tanya Bryan serius.
Pat hanya terdiam. Entah kenapa sulit sekali mengatakan tidak. Mungkin karena sejujurnya itu sangat berarti baginya, hanya saja sulit mengungkapkannya dengan keadaan yang seperti ini.
“Pat....!!!.” Bryan menatap Pat, menunggu jawaban dari wanita itu.
“Yang ku lakukan tidak berarti untuk mu?.” Ulang Bryan lagi.
(Masih dalam keheningan...)
Dan ponsel Bryan berdering memecahkan suasana.
📞Cherry memanggil...
“Ya. Ada apa?.”
“Tuan Pacar. Apa kau lupa janji mu hari ini?.” Tanya suara manja dari seberang sana.
“Tentu tidak, aku masih mengingatnya.” Jawab Bryan. Dengan mata yang terus menatap Patricia.
“Mmmh...Apa kau sibuk? Kau bilang kita akan bertemu. Kapan? .”
“Tidak aku sama sekali tidak sibuk. Kurasa aku hanya sedang membuang waktuku untuk hal yang sia-sia sekarang...” Ujar Bryan, tepat dihadapan Patricia.
“Bersiaplah, aku akan menjemputmu setengah jam lagi, sayang !.” Ucap Bryan lembut. Hal yang jarang sekali keluar dari mulut Bryan, menyebut Cherry dengan sayang.
“Apa kau ngomong apa?.” Tanya Cherry girang.
“Tunggulah sebentar lagi.” Tutur Bryan, dan panggilan berakhir.
Setelah mengakhiri panggilannya, Bryan kembali menghubungi seseorang.
“Tolong, batalkan rapat ku bersama Kornelius hari ini. Aku sedang ada janji.” Setelah mengatakan kalimat itu, Bryan langsung memutuskannya panggilan begitu saja.
Bryan masih menatap Pat, dan begitupun dengan Pat yang dengan serius mendengarkan semuanya.
“Kau tahu Pat..., Aku sangat khawatir ketika seseorang mengatakan bahwa istri rekan bisnisku dilarikan ke rumah sakit pagi ini... Dan apa kau tahu, apa yang kulakukan? Aku berlari dan begitu mencemaskan nya, seperti orang gila, aku meninggalkan semuanya dan melupakan semuanya. Hanya untuk memastikan bahwa istri orang itu sedang baik-baik saja. Ketika membuka pintu kamarnya, aku sangat lega dia baik-baik saja...”
“Bryan...” Ucap Pat dengan nada lirih.
“Stttsss. Kau harus mendengar cerita ini sampai selesai... Aku pikir. Aku telah melakukan hal yang benar... Tapi entah kenapa, dimatanya aku selalu melakukan hal yang salah. Padahal bukankah dia juga salah? Dia bilang tidak akan menyesalinya lagi...Namun yang kulihat hari ini, dia kembali menyesalinya... Entahlah. Kau mau tahu bagaimana perasaanku sekarang...?.”
“Aku melakukan semuanya sebisaku. Aku melakukan segala hal untuk mendapatkannya kembali. Karena aku yakin dia hanya akan bahagia dengan bersamaku. Tapi yang kudapatkan hari ini? Wanita itu benar-benar membuatku kecewa sekarang. Dia mengabaikan semua hal, hanya karena ketakutannya. Bahkan aku tidak pernah takut apapun saat bersamanya. Tapi dia.... Aku tidak tahu, apa yang ada di kepalanya saat ini. Aku tidak tahu... Selamat siang Patricia.” Pamit Bryan. Ia bahkan sudah kehabisan kata untuk mengungkapkan betapa ia sangat kecewa dengan sikap seperti itu.
“Bryan...Bryan... !.” Panggil Pat lemah. Tetapi untuk pertama kalinya Pria itu bahkan tidak ingin menoleh kearahnya lagi, dan pergi begitu saja.
Tangisan Pat pecah, saat menyadari bahwa Bryan mengabaikannya.Entah mengapa, apakah pria gigih itu, akhirnya menyerah...
Bersambung...
salam cinta online juga buat kak othor🤗😘