NovelToon NovelToon
PENGASUH SANG TAIPAN

PENGASUH SANG TAIPAN

Status: tamat
Genre:Romantis / Action / Contest / Tamat
Popularitas:307.8k
Nilai: 4.9
Nama Author: Mbak_na

bagaimana jika seorang wanita mendapat kesempatan untuk berada dekat dengan seorang taipan berwajah tampan? mengasuh seorang CEO tampan yang pikirannya kembali ke masa anak umur 8 tahun? punya kepribadian aneh? dan kadang wajah tampan itu bertranformasi menjadi imut dan selalu meluluhlan hati seorang karin..... sampai sampai bisa menembus jiwa kejombloan karin, lalu bagaimana jika pria itu kembali ke pemikiran dewasanya? bagaimana kehidupan duo sejoli itu nantinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak_na, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

THE END

 

Author pov

 

Seorang lelaki tengah memperhatikan sosok wanita yang sedang terikat pasrah tak berdaya. Kepala wanita itu yang bergerak ke sana kemari serta pandangan tidak fokusnya, membuat lelaki tersebut tersenyum senang. Diliriknya suntikkan yang ada di tangannya, “bagaimana Karin? Apa kau senang?”

 

Tanya lelaki tersebut. Karin, panggilan gadis itu, tak bisa merespons dengan baik. Kepalanya yang berputar serta tubuhnya yang bereaksi aneh terhadap setiap sentuhan membuatnya tak bisa berpikir jernih. Setiap pori-pori dan sel dikulitnya seolah olah peka terhadap rangsangan dari luar. Dia tidak tahu apa yang disuntikkan lelaki gila itu padanya.

 

“Kau tahu, biasanya aku membuat minuman khusus untuk wanita seperti mu. Tapi kau berbeda Karin, dan ini lebih menarik” ujarnya tenang. Lelaki tersebut segera mengambil langkah besar mendekati Karin yang tengah terikat di atas kursi dalam ruangan itu.

 

Dilihatnya lamat-lamat, tubuh dan juga ekspresi Karin yang sedang tersiksa. Lelaki tersebut tidak bisa menahan senyum dan tawanya ketika melihat Karin berusaha menghindarkan kakinya dari bersentuhan dengan lantai. Yah sepertinya tidak sia-sia kuciptakan obat ini, kata lelaki itu dalam hati.

 

“Aku benar-benar senang melihatmu tersiksa begini Karin.... Bagaimana rasanya hah? Bukankah kau ingin segera meninggal? Setiap kali kulitmu bersentuhan dengan benda maka itu akan mengakibatkan rasa sakit yang mengerikan. Ayo katakan Karin.... Biarkan dokter Jhon membantumu kali ini, aku akan membuat mu tetap ada, tapi tidak akan pernah merasakan sakit lagi” Jhon mencondongkan tubuhnya dan berlutut di depan kursi Karin. Diamatinya lagi wajah kesakitan Karin. Matanya gadis itu memang sudah ke mana-mana, seolah olah mencari jalan keluar dari masalah yang di hadapi.

 

“Apa aku terlalu banyak memasukkan obat itu?” gumam Jhon seraya memegang dagunya sendiri. Seolah olah memikirkan pertanyaannya barusan. “well, ini memang dosis yang benar,” ucapnya pada diri sendiri.

 

“oh, ayolah Karin.... Aku membuatmu istimewa sekarang, bukankah rasa sakitnya ingin kau akhiri? Wanita baik sepertimu seharusnya tidak ada untuk dunia yang kejam ini....” kata jhon tenang. Diambilnya sejumput helaian rambut yang tergerai di depan wajah Karin. “indah bukan jenn?”

 

“Apa maksudmu Karin tidak mau?” perkataan itu terlontar dengan sendirinya dari mulut Jhon. Tidak ada siapa pun yang tahu dengan siapa pria itu berbicara.

 

“karinku... Kau mau kan? Jenn mengatakan padaku jika ini semua tidak benar, padahal aku hanya ingin membuatmu cepat bahagia dan tidak merasakan sakit lagi....” mohon Jhon pada Karin.

 

Gadis itu tak menggubris sama sekali. Dia terlalu kesakitan untuk tahu keadaan sekitar. Matanya yang selalu berbelok ke segala arah serta keringat yang kali ini sudah membanjiri tubuhnya. Membuat Karin harus ekstra mengendalikan pikiran. Namun rasa sakit yang di akibatkan. Setiap pori-pori kulitnya seolah-olah seperti tertusuk jarum. Dia ingin berlari dari tempat ini, namun kaki dan tangannya terikat. Setiap kali dia berusaha untuk lepas, maka sebanyak itu pula lah rasa sakit yang ia alami. Kepalanya pening oleh rangsangan luar yang terlalu banyak ia rasakan.

 

Sama seperti jika kau meraba tembok dengan telapak tanganmu, maka setiap kulit yang ada di sana seperti tertusuk duri kecil. Tak ada yang tahu seberapa frustrasinya gadis yang di ikat itu. Tapi yang jelas. Rasa sakitnya sampai membuat Karin tak bisa mengeluarkan suara. Dia hanya membuka mulut seolah olah berteriak kesakitan, namun tidak ada suara lain yang bisa ia timbulkan selain bunyi tikus terjepit.

 

“Jenn... Tolong mengertilah.... Aku ingin membuatmu bahagia, bukankah setiap wanita yang kukirimkan untuk jadi temanmu adalah wanita-wanita baik-baik..... Atau...” Jhon bangkit dari posisi berlututnya dan membalikkan badan. Tatapannya yang tajam dan membunuh itu lurus ke depan.

 

“Mereka menyakitimu?!” teriak Jhon dengan tangan yang mengepal marah,

 

“Syukurlah kalau begitu.... Sekarang kamu hanya perlu bermain dengan mereka sebentar lagi, kali ini aku akan membuat seorang teman yang baru untuk menemanimu!” Jhon mengangkat tangannya ke udara dan bergerak seolah olah tengah mengelus sesuatu. Dia tersenyum hangat tapi menakutkan.... Seolah olah sedang berinteraksi dengan seseorang.

 

“Baiklah jenn, tunggulah di luar aku akan segera menyelesaikan ini.... Dan tenang saja Karin pasti juga akan senang bertemu denganmu” ujar Jhon. Mata nya yang menghangat lurus ke depan. Seperti melihat sesuatu yang sangat berharga bagi hidupnya.

 

Ketika diliriknya pintu keluar ruangan itu. Yang masih tertutup rapat, setelah sepersekian detik, dia kemudian tersenyum lega, jenn, aku yakin kau akan bahagia bersama Karin. Tuntutnya dalam hati.

 

Jhon kembali melihat kondisi Karin yang ada di belakangnya. Salah satu alisnya naik-heran melihat wanita cantik bergaun putih susu itu kali ini sudah jatuh pingsan.

 

“seharusnya kau mengatakannya dengan cepat jika aku ingin mengakhiri penderitaan ini Karin, aku akan membuatnya lebih cepat.” Jhon memijit  kepalanya seperti orang frustrasi. Sepertinya ketahanan bati gadis itu sudah sampai tahap yang maksimal.

 

Kali ini pria itu berjalan mendekat, membuka ikatan tangan dan kaki Karin yag ada di setiap sudut kursi. Digendongnya tubuh kurus dan berkeringat itu menuju ranjang besar yang ada di Ruang spesial ini.

 

Jhon menata tubuh Karin di atas kasurnya senyaman mungkin, meluruskan kaki Karin dan juga memperbaiki posisi kepala dan tangannya. Tidak sampai di situ, pria tinggi tulen tersebut juga memperbaiki jepitan renda yang ada dikepala Karin.

 

Kemudian jemari besarnya terniat juga untuk mengelus rambut Karin yang sedikit berantakan, sela-sela jarinya digunakan untuk menyisir lembut rambut panjang hitam Karin.

 

Jhon yang mengambil posisi duduk di dekat tubuh gadis yang tidak berdaya tersebut akhirnya merebahkan kepalanya-untuk tidur di dekat kepala Karin.

 

Sudah seminggu lamanya dia membuat percikkan api antara Devan dan Bramasta, dan pastinya Devan tidak akan bisa fokus hanya untuk mencari Karin, namun juga harus membasmi Bramasta. Dan itu memuluskan semua rencananya.

 

Hingga saat ini Devan pasti akan linglung dan bingung sendiri dengan apa tindakkan yang harus ia ambil.

 

"tuan!! ini gawat kita harus pergi segera!! Devan mengepung villa ini!!”

 

Sebuah suara teriakkan dari luar membuat John tersentak kaget.

 

 

Diapun bangkit dari posisi tidurnya dan segera berjalan mendekat ke pintu. Dibukanya pintu tersebut, terlihat seorang perempuan berbaju merah tengah menangis ketakutan. Jhon mengangkat alisnya bertanya heran, Villa ini adalah salah satu hal yang tidak akan pernah diketahui orang luar seperti Devan... tapi mengapa?

 

“apa maksudmu Hilda?” tanya Jhon masih tidak percaya. Gadis yang melihat Jhon bertanya dengan tatapan dingin dan tidak percayanya, membuat gadis itu menggeleng-bukan saatnya hariku sakit sekarang-batinnya.

 

Hilda, gadis itu segera menarik tangan Jhon agar keluar dari ruangan itu segera. Ditatapnya Jhon dengan pandangan sedih dan memohon, Jhon harus segera pergi dari sini! Begitulah pikir gadis itu.

 

Jhon menatap jijik pada Hilda dan berakhir menepis tangannya. Walaupun dia tidak percaya dengan perkataan Hilda barusan, dia tetap harus segera memastikannya.

 

Jhon mengambil langkah yang besar keluar dari ruangan itu dan melangkah menuju tangga kecil setapak yang berada tidak jauh dari ruangan yang ia masuki tadi.

 

Hilda yang melihat itu pun terkejut bukan main, tidak Jhon tidak boleh keluar dari sana!

 

“tuan!!! Apa yang akan kau lakukan kita harus segera pergi dari sini!!” teriak Hilda setengah mati, tubuhnya bahkan refleks mengejar langkah Jhon yang cepat. Namun sayangnya ketika tangannya sudah menjangkau lengan Jhon- cengkeraman itu terlepas dan di tepis kasar kembali oleh sang tuan.

 

Sungguh, Jhon kali ini menampilkan tatapan jijik dan tidak sukanya pada Hilda bukan hanya karena mengganggu acaranya dengan Karin dan jenn, dia juga bahkan berusaha untuk menyentuhnya.

 

"aku akan mengecek ke luar melalui kamera pengintai” kata Jhon dingin sembari melanjutkan langkahnya yang tinggal dua langkah lagi.

 

Hilda menatap kepergian Jhon yang lenyap di balik pintu hitam yang menjadi penghubung ruangan ini. Digigitnya bibir, menahan tusukkan benda tajam tak terlihat di dadanya. Kemudian Hilda menggeleng, bukan saatnya dia bersedih sekarang!

 

Kaki Hilda segera berlari menuju ruangan tempat Jhon keluar tadi. Ketika tubuhnya sudah sampai di depan pintu, diliriknya gadis itu, temanya yang sangat mirip dengan jenn, terkapar tidak berdaya di atas ranjang besar itu.

 

Tiba-tiba saja kaki Hilda melemas tidak ada tenaga. Kedua tangannya terkepal dan segera menumpukannya ke lantai agar tubuhnya tidak ikut ambruk. Hilda menahan tangisnya yang akan meledak. “sudah terlambat...jenn, aku terlambat menyelamatkannya, sama sepertimu, aku bahkan belum sempat meminta maaf pada Karin karena tidak bisa menjadi teman yang baik... sama seperti dulu... aku melakukannya lagi!!!”

 

Hilda meraung sejadi-jadiya, kondisi dan rasa sakit d jantungnya sebelas dua belas dengan yang ia rasakan ketika mendengar dan melihat jenn terbujur kaku.

 

Hilda berusaha meredakan rasa sesak akan kehilangannya dengan mencakar lantai keramik putih dibawahnya. Bahkan kali ini dia juga sesekali membawa kepalan tangannya untuk meninju lantai tidak bersalah itu.

 

“maafkan aku Karin.. aku tidak bermaksud membuatmu jadi begini aku.... apa yang harus kupilih, aku mencintai Jhon, aku ingin meliatnya bahagia, tapi aku juga harus mengorbankanmu?! Maafkan aku!! HUAA!!” Hilda berteriak frustrasi. Air matanya mengalir seperti sungai. Dijambaknya rambutnya sendiri, menahan rasa sakit karena kehilangan Karin, dia kehilangan orang seperti jenn untuk kedua kalinya. Seharusnya dia bisa melindungi Karin dan menukar racun yang akan di berikan Jhon nanti. Sekarang dia benar -benar sudah terlambat.

 

Hilda bangkit dari duduknya dan berjalan gontai mendekati tubuh Karin yang nampak kaku. Di dudukkannya tubuhnya di atas ranjang besar itu dekat dengan tubuh Karin.

 

Masih tersisa tangisnya tadi. Namun seekarang tidak se parah barusan. Sedu sedan tangisnya masih terdengar, air mata gadis 18 tahun itu mengucur, menangisi sakitnya mencintai. Memilih antara yang benar dan salah, sama seperti memilih antara cinta dan orang yang selalu ada.

 

“Karin.... seharusnya aku lebih cepat-“

 

“HILDA!!! KAU MENIPUKU!”

 

Deg...

 

Gadis itu, Hilda menolehkan kepalanya yang barusan fokus pada tubuh Karin, melihat kearah Jhon yang sudah siap di depan pintu.

 

Siap untuk melenyapkan gadis kecil yang menipunya itu.

 

Hilda membulatkan matanya terkejut melihat Jhon di sini. Tubuhnya tersentak dan segera berdiri. ”tuan aku bisa menjelaskan semua ini!” Hilda berlari ke arah Jhon dan memeluk lelaki itu sangat erat.

 

“tuan kita harus segera pergi dari sini, jika tidak Devan akan segara-?”

 

“dari mana kau tahu jika nama orang itu Devan?’ tanya Jhon yang kali ini meremas pergelangan tagan Hilda kuat. Dilepasnya dengan kasar tubuh mejijikan hilda.

 

Tatapan Jhon yang memburu dan nafasnya yang naik turun tak karuan membuatnya merasakan sesak di dada. “ jawab pertanyaanku hilda!!”

 

Hilda yang terdorong ke belakang, tidak ada tenaga lagi untuk menahan tubuhnya, dan akhirnya tubuh ringkih gadis itu berakhir terduduk di lantai dengan satu tumpuan tangan agar tubuhnya tidak  terlalu menyentuh lantai semuanya.

 

Hilda, masih dengan sisa sisa tangisnya, menoleh ke samping-menolak menjawab.

 

Jhon geram melihat reaksi Hilda yang menolak menjawabnya. Tangan besarnya akhirnya menyentuh pergelangan Hilda dan menarik gadis kecil itu berdiri menghadapnya. bahkan ketika Hilda sudah berdiri, dia masih enggan menatap Jhon, dan akhirnya Jhon meraih dagu hilda kasar untuk menghadapnya.

 

“sepertinya aku tahu apa yang terjadi, kau mengkhianatiku” tebak Jhon. Dan ketika ekspresi Hilda yang memejamkan mata erat-erat menahan tangis, membuat Jhon tahu.

 

Lelaki itu mengangguk. Senyuman sinisnya tersungging sempurna, matanya membulat penuh kebencian. Jhon melepaskan pergelangan tangan Hilda, dan mengalihkan cengkeraman mautnya pada leher putih pucat gadis itu.

 

“Jhon...kh..larilah sekarang...ku...mohon...” Hilda merasakan saluran pernafasannya di tekan oleh seusuatu yang tumpul, sangat keras dan membuatnya sesak. Matanya mulai berair, memberontak penderitaan ini. Kepala Hilda sudah mendongak ke atas menyesuaikan diri dengan cengkeraman Jhon. Bahkan kali ini mulutnya terbuka berusaha untuk menarik oksigen agar masuk dalam rongga dadanya.

 

“benar-benar menjengkelkan!” teriak Jhon dan setelah itu sebuah senyum terbit di wajahnya. Gadis menjijikkan yang selalu menempel padanya seperti lintah, “aku tidak akan membawamu pada jenn, tenang saja kau akan cepat pergi, tapi tidak untuk menemani jen” ujar Jhon tenang dan semakin mengeratkan cengkeraman di leher gadis itu.

 

“jho..”

 

“kau masih berani memanggil namaku  jalang?” Hilda yang mendengar perkataan Jhon barusan membuat dadanya sakit tak tertahankan. namun bukan saatnya untuk tetap memikirkan perasaannya. Kali ini dia harus berusaha menyelamatkan jhonnya.

 

“pergi...khuk...pergi dari sini” kata Hilda berusaha sebaik mungkin untuk berbicara, ketika semakin kasar dan kerasnya Jhon menekan saluran pernafasannya.

 

Jhon yang sudah mulai muak melihat dan mendengar hilda, akhirnya membanting tubuh Hilda ke lantai dengan tangan yang masih mencengkeram lehernya. Dan ketika tubuh gadis itu sudah berada di lantai-terbaring seperti orang tidak berdaya. Jhon menggunakan kedua tangannya untuk menekan semakin dalam leher Hilda. Posisi Jhon yang berada tepat duduk di atas perutnya serta kedua tangan yang ada di leher gadis mungil itu, membuatnya dengan mudah menikmati sat-saat kematian menakjubkan Hilda.

 

“per..khuk..ku..hon” Hilda masih berusaha merangkai kata-lata walaupun otaknya sudah mulai kehilangan oksigen serta darah yang sudah terasa merembes melalui kepala belakangnya karena hantaman keras yang Jhon lakukan pada tubuhnya.

 

Hilda tidak berusaha melawan, karena jika dia melawa maka Jhon pasti akan merasakan rasa sakit lagi. Akhirnya gadis itu hanya berakhir mengelus pelan tangan besar Jhon yang ada dilehernya, seiring semakin kuatnya tuan jhonnya menekan leher kecilnya.

 

Tangan Hilda gemetar, dengan kaki yang menegang. Tubuhnya sudah mengalami kejang yang hebat, seiring nafasnya yang sudah putus-putus, matanya sudah membola sempurna ke atas.

 

Jhon melihat dan menikmati akhir hidup Hilda. Kejang gadis itu masih belum berakhir. Dan ia pun menambah kekuatannya untuk kembali menekan leher Hilda ke lantai. Diliriknya mata Hilda yang sudah membulat sempurna dengan setiap sudut dimata itu memerah karena mengeluarkan darah. Mulut yang terbuka dan air liur yang membasahinya seperti muntahan. Dan ketika dia rasa tubuh gadis itu sudah tidak bergerak lagi. Jhon bangkit dan melepaskan cengkeramannya pada leher Hilda.

 

Bahkan kali ini wajah gadis itu yang bisasanya putih berseri sekarang pucat dan mulai membiru.

 

“seharusnya kau tidak bermain-main denganku hilda’ gumam Jhon meninggalkan tubuh Hilda yang sudah kaku. Dia berjalan ke pintu dan menutup pintu tersebut dari dalam.

 

Kemudian pria itu berbalik dan melangkahkan kakinya yang besar menuju ranjang besar dimana Karin sedang tertidur dengan nyenyaknya.

 

Jhon kmbali merebahkan kepalanya yang kali ini menghadap ke atas. Diperhatikannya langi-langit kamar yang gelap, hitam legam dan tidak ada warna sama sekali.

 

Cahaya yang redup hanya  membuatnya menyinari yang ada di bawah tidak ada yang tau pada yang ada di atas.

 

Pip!

 

Jhon merasakan jika sesuatu bergerak di sangkunya. Pria itu bangkit dari baringnya dan mengambil sebuah benda seperti walkie talkie yang sudah di inovasi selain untuk memberikan kabar  dan berkomunikasi. Ini juga berfungsi menyambungkannya dengan alarm kamera keamanan jika ada seseorang menyusup masuk dalam radius 500 meter dari rumahnya.

 

Pip!

Pip

Pip

Pip

Pip

Pip

 

“sial!” umpat jhon ketika benda yang ada di tangannya tersebut semakin lama semakin berbunyi keras. dan itu menjadi pertanda bahaya bagi jhon, jika orang yang menerobos masuk sudah sangat dekat dengan rumahnya.

 

***

Devan pov

 

“brengsek!” umpatku ketika mendapati kamera tersembunyi yang mendeteksiku kali ini adalah sejenis kamera pendeteksi panas tubuh. Jika itu satu atau 2 buah maka aku bisa menghancurkannya, namun...

 

“tuan semuanya berjumlah 300 buah tersebar di segala arah” aku mengetatkan rahang geram dengan perkataan Landro barusan.

 

“aku akan menerobos sendiri, dan ketika aku menyuruh kalian untuk siaga, maka kepung wilayah ini dari radius 500 meter, mengerti?!” perintahku padanya dan ketika sudah kulihat anggukkan mengerti dari Landro aku pun berjalan ke arah sepeda motor anak buahku. Dan segera mengendarainya.

 

Melewati gelapnya malam dan suramnya hutan yang menyelubungi Villa ini. Semua orang pasti akan beranggapan jika ini adalah hutan lebat dan tidak akan ada apa pun di dalamnya. Namun sebuah Villa bersembunyi dibalik suram dan lebatnya hutan ini.

 

Aku kembali mempercepat motor ini dan berusaha sefokus mungkin menghindari kayu-kayu, pohon dan juga ranting yang menghambat.

 

‘tuan hanya harus fokus dan luru ke depan’

 

“baiklah aku tahu” jawabku ketika Landro memberitahu jalannya melalu headphone kecil yang terselip di telinga kiriku. Semakin lama semakin cepat, hanya perlu selangkah lagi, aku sampai pada Karin gadisku.

 

Tidak sabar, dan tidak sabar  seminggu lebih kulalui seperti neraka yang kulalui selama ini tanpa sosok Karin. Awalnya memang hidupku sudah seperti di neraka namun, lebih mengerikan ketika Karin sudah tidak ada.

 

Aku menyipitkan mata ketika di depanku terlihat sebuah cahaya redup dari lampu. Dan ternyata itu dia!

 

“persiapkan diri kalian” perintahku pada setiap anak buahku. Dan ketika aku sudah ada di depan pintu masuk Villa ini, kucoba untuk menggenggam gagangnya untuk membuka. Dan ternyata itu langsung terbuka tidak di kunci. Segera saja kumasuki Villa yang cukup besar ini. Ornamen-ornamen yang kuno dan juga senjata api yang terpajang sembarangan, bahkan ada yang diletakkan begitu saja di ujung ruangan. Senapan laras panjang dengan model kuno Eropa.

 

Aku mengedarkan pandanganku meneliti kembali, mencoba untuk menelusuri setiap kamar dan juga ruangan, mulai dari atas hingga bawah.

 

“Landro, pindai Villa ini dan segera buat dalam bentuk cetak biru digital” ujarku dengan suara tenang. Kuambil senapan yang ada di sudut ruangan itu dan kumasukkan kembali pistol yang sudah ku siapkan ke dalam sangku jas hitamku.

 

‘baik tuan’

 

Aku mengangguk dan berusaha menelusuri satu persatu kamar yang ada di dalam Villa ini, mulai dari lantai satu hingga ke lantai dua. Dan hasilnya tidak ada siapa pun.

 

“cepat katakan laporanmu” kataku untuk yang ke sekian kalinya karena tidak sabar. Tidak sabar untuk menghancurkan laki-laki yang berani-benarinya menculik dan akan melukai Karin.

 

‘tuan proses sudah selesai, sepertinya di dalam ruangan yang tuan masuki sekarang ada jalan di sebelah kiri tuan’

 

“maksudmu melalui lukisan besar di sebelah kiriku? “ tanyaku kembali memastikan, dilihat darimanapun ini adalah ruangan khusus untuk bekerja, dimana ada terdapat komputer dan juga kursi serta meja kerja. Aku benar-benar penasaran lelaki mana yang berani membuat masalah denganku.

 

Aku benar-benar ingin tahu, namun informan yang memberi tauku beberapa jam yang lalu adalah seorang perempuan yang mengatakan jika tuannya adalah orang yang menculik Karin. Aku tidak ingin terpancing dengan informasi tidak jelas dan tanpa bukti seperti itu, namun, dia menghubungiku melalui telpon Karin. Dan itu sudah menjadi bukti yang cukup jika apa yang dikatakan perempuan itu benar adanya.

 

Tapi sayangnya dia tidak memberi tahuku dengan jelas siapa tuanya itu, dia hanya menyampaikan alamat dan membiarkanku melacak ponsel karin.

 

‘tuan tolong segera cepat buka pintu itu’ aku menaikkan alisku sebelah mempertanyakan suara Landro yang berubah naik.

 

“apa maksudmu” tanyaku geram, namun tetap kulakukan permintaannya, aku berusaha untuk menyentuh lukisan tersebut, dan meneliti cara membukanya, dan ini cukup gampang, cara bukanya hanya seperti kau membuka pintu seperti biasa.

 

‘tuan, nona Karin dalam bahaya, segera masuki pintu itu dan temukan kamar yang ke tiga,’

 Aku yang mendengar Karin dalam bahaya langsung saja membuka lukisan itu dan masuk. Gelap dan sangat dingin.

 

Seperti tempat khusus untuk menyiksa seseorang. Aku mengepalkan tangan marah menahan rasa sesak di dadaku membayangkan Karin terluka.

 

Aku tidak peduli lagi akan semuanya, kegelapan atau apa pun, kakiku melangkah begitu saja, turun melewati anak tangga yang tidak banyak, kemudian menajamkan penglihatan karena di dasarnya ternyata terdapat sedikit cahaya.

 

Aku mengamati dan mencari kamar ke tiga seperti instruksi Landro. Dan ketika sudah kupastikan, aku melangkahkan kaki cepat. Kubuka pintu itu yang ternyata juga tidak terkunci.

 

“kau sudah datang?”

 

***

Aku menatap nyalang pada pria itu, tangannya yang sedang menyentuh bahu Karin dan menawan tubuh karinku, serta dengan salah satu tangannya dia mengarahkan sebuah belati ke perut Karin.

 

“Jhon aku pasti akan mengeluarkan isi perutmu jika kau-“

 

“berikan Karin padaku, dan akan kubiarkan dia hidup” tanganku mengepal dan rahangku mengetat menahan amarah. Kutatap tajam manusia iblis di depanku ini. Dia bilang ingin mengambil milikku? Karinku? Aku menelan ludah kasar dan sebanyak mungkin, ketika kulihat ancaman Jhon melalui mata belati itu sudah menembus gaunnya Karin.

 

“aku janji akan merawat Karin, kau tahu, dia memberi tahuku jika dia tidak bahagia bersamamu, dan ingin pergi darimu,”

 

Deg,

 

Aku merasakan hantaman kesakitan tepat di dadaku lagi, aku melihat tubuh Karin yang terkulai lemah dalam raupan tangan Jhon. Wajahnya yang pucat dan keringat yang sangat banyak. Membuatku memalingkan wajah, karenaku, Karin menjadi seperti ini, aku yang membuatnya bertemu dengan Jhon-manusia psikopat ini- dan aku juga yang terlambat menyadari keberadaan dan juga kondisinya, padahal yang menculikmu adalah dia. Orang yang selama ini dekat dan bekerja denganku.

 

Dan ketika mendengar penuturan Jhon mengenai Karin yang tidak menyukaiku, membuat jiwaku langsung melemah.

 

Namun.... aku kembali menatapnya tajam. Tidak seharusnya aku memikirkan perasaanku kali ini, aku tidak boleh lemah akan keegoisanku dan terpancing dengan perkataan manusia bejat ini. aku harus berpikir cerdas agar bisa menyelamatkan karin.

 

 

"kau membunuh wanita ini?” tanyaku dingin seraya menatap mayat yang terbujur kaku di dekat kakiku, leher yang terdapat bekas cekikkan, dengan keadaan yang mengenaskan, mata yang menatap lurus ke atas dan rahang yang terbuka. Bisa dipastikan jika wanita ini tidak membela diri sama sekali. Dasar bodoh.

 

“tentu saja,-“ aku mengangguk tidak menggubris perkataannya barusan. Aku berjongko dan mengambil salah satu lengan gadis itu.

 

“apa yang kau lakukan!” aku kembali tak menghiraukan teriakkan Jhon mengenai tidakkanku kali ini.

 

Aku menyeret tubuh wanita ini degan satu tangan yang menggenggam pergelangan tanganya. Dan menaruh tubuh gadis ini untuk bersandar pada tembok yang membatasi ruangan. Bukankah ini akan berhasil?

 

“bukankah sudah kubilang jika aku akan menyelamatkan Karin?” jawabku enteng sembari melepaskan dasi da juga jas hitamku. Setelah itu ku singsingkan lengan kemejaku.

 

Aku mengambil sebuah pisau yang kulempar tadi sembarang arah karena Jhon menyuruhku mengosongkan senjata. “kau-”

 

“tenanglah aku tidak akan menyakitimu dengan cara gegabah yang akan melukai gadisku” ujarku dengan suar setengah berbisik. Aku kembali melangkahkan kaki mendekati mayat perempuan yang baru saja di bunuh oleh Jhon dengan kejam. Aku berjongkok di depan tubuh yang sudah mulai membiru itu, kuletakkan pisau yang ku genggam tadi di sampingnya.

 

“menurutmu apa yang harus kulakukan pada mayat ini?" tanyaku dengan mata yang menimbang-nimbang apa yang harusnya ku perbuat lebih dulu, apa mula dari mata? wajah atau tubuh intimnya?

 

Aku yang tidak mendengar sahutan dari Jhon dari belakang, ku coba untuk melihatnya. Aku sangat yakin dia akan terpancing dengan ini. Karena... pria itu ragu dalam membunuh gadis ini.

 

Dan ketika kulihat wajahnya yang seolah olah dingin namun,  aku sangat hafal jika dia terkejut dengan tindakanku.

 

Aku menampilkan senyum puasku dan kembali mengambil pisau tadi.

 

Aku mengesampingkan tubuhku agar Jhon bisa melihat aksiku kali ini, dan agar dia paham seberapa buruknya berurusan dengan seorang Devan Antonio.

 

Ujung pisau yang awalnya menyentuh kening gadis itu melewati hidung mata dan juga mulutnya, berakhir di leher. Bekas cekikkan sekaligus bukti keraguan Jhon untuk membunuh gadis ini. Sangat jelas dan membuatku senang!

 

Dia akan menderita melihat ini!

Dia akan tahu bagaimana rasanya!

 

Aku menekan dengan keras pisau itu hingga menembus tubuh mayat ini. Kali ini pisau itu berada tepat di santung gadis ini, aku tersenyum puas sangat puas, kembali kuperdalam tusukkannya hingga yang tersisa hanya setengah dari gagang pisau yang kupunya.

 

Pisau itu sudah menancap dalam dan sedikit demi sedikit darah sda mulai menguar, membasahi baju merahnya. Kemudian kuputar perlahan pisau itu360 derajat untuk menghancurkan isi dalamnya, membentuk sebuah lubang yang sangat indah dipenuhi dengan darah.

 

Dan ketika kusara lubang tersebut sudah nampak sempurna, kucabut kembali pisauku. “cukup menyenangkan bukan? Bukankah ini yang kau rasakan? Sekarang aku mengerti” kataku semangat ketika kulihat wajah pucatnya dengan ekspresi yang tak tertahankan.

 

“haha!!!” aku tertawa dengan senang, sangat menyenangkan meihat ekspresi itu, aku memiringkan kepala dan menatap Jhon dengan tatapan dingin dan menyeramkan, kuterbitkan semacam senyum yang menakutkan bagi siapaun yang melihatnya namun, bagiku ini adalah senyum yang melegakan dan sangat menghibur, membuktikan jika aku menikmati wajahnya yang seperti itu.

 

“hen-hentikan-“

 

“apa? Aku tidak mendengar kau bilang apa?”

 

Aku bangkit dari jongkokku, dan kali ini aku melangkah menuju kaki mayat ini. Kutarik paksa hingga membuat gadis malang ini terlentang sempurna. “indah bukan? Sangat disayangkan dia sudah mati”

 

Aku berkata dengan kejam, tanpa memedulikan Jhon lagi, kali ini aku menargetkan hal yang lebih ekstrem dari pada tadi, hmmm.. mungkin aku bisa memutilasi organ intimnya dulu atau memotong bagian yang mudah seperti area perutnya?

 

Entah apa itu yang duluan? Terserahlah, yang jelas ini akan sangat menyenangkan jika di tonton.

 

“hentikan brengsek!”

Brak!

 

“jangan menyentuhnya!!” sial, pria ini! Aku tersungkur ke bawah dengan posisi tertelungkup dan Jhon yang berada di atasku. Tangan kanan yang kugunakan untuk memegang pisau kali ini di tahannya ke belakang. Bahkan wajahku ditekannya hingga menyentuh lantai.

 

“sial...” gumamku ketika kurasakan sengatan benda tajam menggores kulitku, namun aku masih tersenyum senang, dia terpancing dan marah akan berbuatanku pada mayat itu?! Wajah tersiksanya karena aku berhasil melukai tubuh dingin itu! Benar-benar membuatku puas, hmm mungkin aku akan bermain-main degannya lagi nanti. Dan untuk saat ini, yang terpenting karin sudah bebas dari kungkungan pria mengerikan ini.

 

"TUAN” dan akhirnya mereka datang juga.

 

“langsung saja tembak dan jangan pedulikan aku” ujarku dingin dengan kepala yang kali ini menghadap ke arah anak buahku yang sedang mencondongkan pistol ke arah Jhon yang berada di atasku. Aku menaikkan salah satu alisku heran kenapa dia tidak menembak.

 

“tapi-“

 

“jika kau berani maka tuanmu akan mati” aku menghela nafas susah karena pernyataan Jhon barusan, jadi dia mengancam dengan pisau yang di letakkan dekat dengan tengkukku.

 

“kau tahu Jhon aku tidak suka ancaman klise seperti itu, tidak bisakah kau mengancam anak buahku dengan sedikit lebih meyakinkan?” tanyaku dengan senyum mengejek. Jhon yang sedikit bingung dengan perkataanku barusan terlihat melonggarkan pertahanannya.

 

Dor!!

 

Sebuah peluru tepat mendarat di kepala Jhon. Darah segar mulai keluar dan sesekali menyebar ke segala arah. Dan... inilah akhir dari Romeo da Juliet...

 

Aku menyingkirkan tubuh Jhon yang ada di atasku dan kemudian bangkit berdiri. Aku mengangguk mengapresiasi anak buahku yang satu ini, dia ternyata mendengarkan pelajaran dan juga didikanku dengan baik.

 

Mataku mulai mencari keberadaan Karin, gadisku.

 

Dan ternyata dia sedang tertidur di dekat ranjang besar itu dengan kepala yang di tekuk lemas. Segera saja tubuhku mendekat padanya. Namun..

 

“ada apa tuan?”

 

“panggil maria kesini dan suruh dia membawa karin ke rumah sakit”

***

next

"kau bajingan kecil licik!"

"dad jangan membuatku tertawa, kau bertengkar dengan anak berumur 5 tahun" devan menatap tidak suka pada bocah menyebalkan di hadapannya. dengan tangan yang melipat di depan dada dan seringaian iblis kecil. darimananya anak ini imut! dia pasti salah! batin devan

"hah.... tidak bisakah kau membuatku tenang sehari saja?" tanya devan menatap tidak suka pada anak itu.

"dad... tidak biaakah kau juga membuat hariku tenang sekali saja?" ujar anak itu membalikkan pertanyaan. sejak kapan daddynya ini adalah orang baik? tidak pernah sama sekali, dan momnya pasti salah menilai orang. anak itu mengangguk pasti dengan pikirannya sendiri.

"kali ini aku akan tidur dengan karin, dan jangan mengangguku!"tunjuk devan kesal dengan tatapan tajam.

"aku hari ini ingint tidur dengan mom, tidak bisakah kau melihat seberapa rapuhnya diriku sekarang? aku perlu mendapatkan kasih sayang dari mom lebih daripadamu dad...." anak itu tersenyum senang, menampilkan senyumnya meremehkan.

dia tidak pernah dan tidak akan takut pada lelaki yang menjadi ayahnya itu. memperebutkan tidur bersama momnya hampir tiap hari, memang menjadi rutinitas mereka. dan itupun berubah menjadi kompetisi-......

1
Katarina Sutirah
cerita menarik
Yuni Tri Hastuti
Pinisirin
Rhenii RA
Saran aja thor, setiap babnya banyakin dialognya biar yang baca gak bosen, soalnya di beberapa bab kadang hanya ada 9 dialog😌
Rhenii RA
Dialognya terlalu sedikit thor
Jero Metriani
😂😂al dan mark akan bertemu jodohnya
aquawomen
kayanya Jhon sengaja ngasih obat biar Devan sakit terus
Umi Salamah
bagus sebenarnya tp kurang percakapannya jd terkesan kayak baca diary
Made Widianti
bosan juga .kkelebiha bercerita .percakapan x kurang .nggk seru jadix.
Nana effendy
hadir🤭
susy sulistyaningati
bisa disalurkan menjadi dd. bedah tuh anak2nya Karin-Devan, drpd jd monster bgt..
susy sulistyaningati
bknnya awalnya musuhnya Bram, kok malah terakhir Bram gk dibahas, malah dr. Jhon..🤔🤔
hrsnya diceritakan jg gmn Karin diselamatkan, ungkapan cinta Devan, permintaan ma'af Karin, gmn bucinnya Devan..
lha ini tiba2 sdh punya anak usia 5 th..😢😥
susy sulistyaningati
ngeri sekali dr Jhon.. sadis man..
ternyata tokohnya semya menyukai Karin kecuali Arthur..
akhirnya Jerry mampus jg, pasti de. Jhon atau suruhannya yg membunuhnya..
susy sulistyaningati
ternyata Jerry jg suka sm Karin..🤔🤔
kasihan Devan, dia sdh berusaha berubah malah Karinnya salah paham & akhirnya pergi drnya..
yg sabar ya Devan..
susy sulistyaningati
coba dinikahin & adiknya diajak tinggal bareng, mungkin Karin mau..
Lis Manda Cel
ketiga2nya ja thor...
Lis Manda Cel
ternyata lbh berbahaya dr pd bram,devan atopun arthur😔😔😔
Lis Manda Cel
lha iya karin kok mlh ngira devan cinta ma bayangan...hahaha...item doang klo bayangan apa yg mo dicinta hahaha
Lis Manda Cel
tetap semangat ya thor...gk usah baca komen2 yg tdk membangun👍👍👍
Lis Manda Cel
untung karin gk prnh mau mandiin devan ya...
Lis Manda Cel
jd devan udah ada ht ke karin dr sejak sblum hilang ingatan...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!