Selama ini Mamaku nampak sehat-sehat saja, namun hari ke hari tubuh mama nampak kurus dan sakit-sakitan. Entah karena menahan sakit atau karena isu perselingkuhan Papa yang membuat Mama sakit.Tapi Mama tidak tahu siapa selingkuh Papa, yang sebenarnya ada di depan batang hidungku sendiri, ibarat musang berbulu domba itulah yang dihadapi keluargaku, dan aku baru tahu siapa selingkuh Papa setelah Mama tiada.
cerita ini sangat menarik penuh intrik dan pengkhianatan yang tak terduga datang dari orang terdekatnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daesy.Rf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16 KEGUGURAN
Dokter Aini dan timnya berusaha memeriksa kandungan Meta yang juga tidak berhenti mengeluarkan darah dan scan pun dilakukan, ternyata bayi yang diperkirakan belum cukup usia tersebut harus segera dikeluarkan. Jika tidak bisa membahayakan jiwa ibunya.
Pukul Tujuh pagi Meta dipersiapkan untuk dibawa keruangan operasi, karena tidak bisa menunggu lagi,bayinya harus segera dikeluarkan karena detak jantung yang sudah tak stabil lagi. Sementara pendarahan hebat terjadi pada meta.
"Bobby kamu dimana,Meta dirawat dekat mana?" Dinar mengirimkan pesan lewat whatsapp kepada Bobby namun centang satu.
Dinar yang telah sampai kerumah sakit sehabis mengantarkan Dut langsung menuju rumah sakit untuk membesuk Meta, Namun Dinar kebingungan mencari ruangan Meta,
Akhirnya Dinar memutuskan untuk bertanya ke perawat dimata ruangan rawat ibuk yang habis melahirkan. Setelah mendapatkan gambaran akhirnya Dinar pergi keruangan yang ditunjukan oleh perawat dilantai Dua.
Ruangan itu melewati ruangan operasi, dimana secara bersamaan Meta, Nenek Aini dan Pak Rudiansyah mengikuti perawat yang akan membawa Meta keruangan operasi berada dijalan gang yang sama dengan Dinar. Saat sedang melihat sekelilingnya mata Dinar tertuju pada sekelompok orang yang menuju ke arahnya.
"Papa... Nenek"
Pak Rudiansyah kaget melihat putrinya berada didepan mukanya, begitu juga dengan Nenek Aini.
"Meta....., bukan itu Meta, Meta hamil?".
Mata Dinar nampak terbelalak saat suster melewatinya melihat Meta yang setengah sadar.
"Dinar.... "
Pak Rudiansyah memegangi Dinar dengan sedikit gemetar.
"Kenapa Papa disini"
"Nanti Papa Jelaskan, kamu. tenang dulu Nak"
"Suami Buk Meta... " Suster memanggil suami. Meta yang sudah masuk. keruangan operasi untuk menanda tangan dokumen perjanjian.
"Ya suster"
Sekali lagi Dinar dikejutkan oleh jawaban Pak Rudiansyah.
"Suami Meta, Jadi.... Papa!!! "
Belum selesai Dinar mengucapkan katanya, Pak Rudiansyah berlari menuju perawat yang memanggilnya dan menjelaskan sesuatu. Sedangkan Nenek Aini tak berani menatap Dinar.
Dinar mendekati Nenek Aini dengan seribu pertanyaan yang ada di otaknya.
"Apa yang Nenek sembunyikan dari Dinar?"
"Kenapa Papa Dinar disini, Jawab Nek"
Nenek Aini hanya menunduk dalam diam.
"Dinar..", Tiba-tiba suara dari belakang memanggilnya, saat Dinar menoleh ternyata Bobby yang sudah memakai baju biasa.
" Bobby..."
Bobby menghampiri Dinar, yang sedang menunggu jawaban dari Nenek Aini"
" Dinar...Nenek Aini"
Bobby melihat pertemuan Nenek Aini yang sedang tak kuasa menjawab pertanyaan Dinar.
"Bobby.... "
"Kenapa Dinar" Bobby sedikit kebingungan melihat suasana yang belum dia mengerti.
"Dinar.... " terdengar suara Pak Rudiansyah memanggil putrinya.
"Om.... " Bobby memanggil Pak Rudiansyah yang juga sudah berada disana.
Tiba-tiba Dinar mendekati Papanya dan memukul dada Pak Rudiansyah.
"Jelaskan Pada Dinar Pa.... apa sebenarnya, Papa pembohong, Papa jahat, kalian berdua sama membohongi kami"
Air mata Dinar mengalir dengan suara tertahan karena dia menyadari berada dirumah sakit. Bobby hanya terpaku melihat Dinar.
"Papa ternyata menikah dengan Meta dan mengkhianati Mama, Papa laki-laki pengecut,"
"Dinar tenang Nak, nanti akan Papa jelaskan semua" Pak Rudiansyah memeluk putrinya.
"Jangan sentuh Dinar, Dinar jijik melihat kalian semua, pembohong, pengkhianat" Dinar tidak dapat menahan emosinya apa yang dia lihat hari ini adalah mimpi yang tak pernah diharapkannya.
"Dinar dengarkan Papa dulu"
"Papa sudah mengkhianati Mama"
"Dan juga Nenek sebagai orang tua Nenek tidak bisa mengajarkan Meta agar tak menganggu suami miliki orang lain"
"Puas Kalian Sekarang"
"Dinar.... sabar Nak" Pak Rudiansyah menenangkan putrinya yang kini emosi dan marah"
"Sabar Di" Bobby berusaha menenangkan Dinar wanita yang disukainya, Dia mengerti sekarang apa yang terjadi dan bagaimana perasaan Dinar.
"Dinar pikir Papa pergi tugas kerja, untu kami anak-anak Papa tapi ternyata Papa dengan wanita simpanan Papa berbohong kepada kami dan Mama. Dia itu sahabat Dinar Pa.... yang menikam dari belakang"
"ingatlah hari ini akan ada Karma buat yang sudah menghancurkan keluarga Dinar dan menghancurkan keluarganya sendiri"
"Ayo Bobby"
Dinar menarik tangan Bobby yang sedang termenung mendengarkan ucapan Dinar, dengan ketegasannya.Pak Rudiansyah dan Nenek Aini hanya terdiam menatap kepergian Dinar yang berlinang air mata.
Rasa sakit yang mendalam sangat terasa dihati Dinar, wajah Mama yang terbayang, saat muntah darah dan saat ajal menjemputnya, Papanya ternyata bersama sahabatnya sendiri. Airmatanya mengalir tak perduli siapa yang melihatnya pagi itu.
Kita duduk dulu Dinar tenangkan hatimu, Dinar duduk entah dimana diujung rumah sakit yang tak tahu lagi kakinya berjalan. Tiba-tiba dia memeluk. Bobby saat duduk dikursi taman yang nampak sepi.
"Hatiku sakit Bob, aku ingat Mamaku" Dinar menangis sejadi-jadinya, didada Bobby. rasa kasihan muncul di hati pria itu.
"Tenang Dinar kamu harus kuat"
"Aku terluka Papaku main gila dengan sahabatku sendiri, yang aku bukakan pintu rumahku ternyata main gila dengan Papaku sendiri, sampai hamil"
"Iya aku tidak tahu bahwa suami Mata adalah Papa kamu, tadi malam aku pikir Meta datang dengan Neneknya dan suaminya karena banyaknya pasien aku tidak tahu siapa suaminya, yang pagi ini baru aku tahu bahwa itu adalah Om Rudiansyah"
"Aku berterima kasih dengan Kamu Bob, jika bukan karena kamu aku tidak tahu kebusukan mereka semua" sambil mengangkat wajahnya, Dinar menghapus air matanya.
"Sebentar "
Bobby pergi ke kantin yang ada di depannya dan membeli minuman untuk Dinar.
"Minuman lah dulu, supaya kamu tenang"
Dinar mengambil minuman mineral tersebut dan mereguknya yang terasa dingin di tenggorokannya.
"Biar aku antar kamu pulang nanti aku suruh jemput sopir untuk menjemput mobilku."
Dinar mengangguk dan mereka pun beranjak dari tempat tersebut yang telah jauh dari parkiran langkahnya oyong dan tidak stabil. tubuhnya masih mengigil.
Sesampainya diparkiran Bobby membawa mobil Dinar, Dinar yang duduk di sebelah Bobby hanya terdiam. Sesekali Bobby memegang tangan Dinar.
"Yang kuat yang sayang" Kelembutan kata Bobby membuat Dinar meneteskan Airmata.
"Kamu harus kuat demi Dut Dinar kasihan dia. kalau dia melihat kamu bersedih" Dinar teringat adiknya yang masih kecil butuh dirinya.
"Aku tidak boleh cemen aku harus kuat dan melawan semua ini" dinar berperang di hatinya.
Sementara diruang operasi, Meta yang masih dalam keadaan sadar dan tidak, telah selesai menjalankan operasi. Suster membersihkan semua. Pak Rudiansyah dan Nenek Aini yang menunggu di luar, nampak sedang duduk, dengan pikiran m asing-masing setelah kejadian hari ini.
"Keluarga Buk Meta" terdengar suara perawat memanggil keluarga Meta, Pak Rudiansyah dan Nenek Aini langsung berdiri menuju panggilan tersebut.
"Iya Suster" ucap Pak Rudiansyah
"Bapak keluarga dari Buk Meta? "
"Iya suster, dokter mau bicara dengan Bapak silakan ikut Pak"
"ini dok keluarga, Buk Meta"
"Baik"
"Maaf Pak'" dokter yang menangani Meta
nampak sedikit menarik nafas.
"Maaf Pak... kami dengan terpaksa harus menyampaikan kalau bayi Buk Meta tidak tertolong, karena banyak darah yang keluar dan tidak berhenti, saat ini kondisi Buk Meta pun sangat lemah karena jatuh ada bagian jaringan bayi yang rusak sehingga darah tidak henti-henti keluar.
"Jadi kami mohon maaf sekali Pak, untuk pengurusan jenazah bayi silakan bapak ikuti perawat nanti ada hal-hal yang harus diurus"
Pak Rudiansyah berusaha tegar dan mengikuti perawat. dia mengurus semua dokumen penyelesaian jenazah anaknya, hari itu Meta sudah dipindahkan diruangan inap sedangkan Pak Rudiansyah mengubur anaknya langsung yang dihadiri oleh Pak RT dan beberapa orang saja yang membantu urusan penguburan.
Setelah bayi selesai di kuburkan Rudiansyah kembali ke rumah sakit untuk menemani Meta. Meta menangis melihat Pak Rudiansyah.
"Mas anak kita"
"Kita harus ikhlas" Meta menangis mendengar jawaban suaminya. Bagaimanapun itulah yang harus dilakukannya ikhlas. Kehilangan anak yang ditunggu-tunggunya.
Dinar yang telah sampai ke rumahnya akhirnya masuk dengan lesu bersama Bobby.
"Bik..... Bik... " Dinar memanggil Bik Ani yang ada didapur.
"Iya Nanar, sudah pulang"
"Iya Bik.... "
"Ada Nak Bobby, Nanar kenapa Nak kok. matanya bengkak dan lesu"
Dinar memeluk Bibi Ani yang tak mampu dia ungkap dalam hatinya, lidahnya terasa berat untuk menyampaikan berita sedih ini.