Mempunyai Mama yang tidak menyayanginya dan dikhianati oleh sang kekasih disaat lagi sayang-sayangnya membuat Belva memilih menjauh dan hidup sendiri tanpa cinta dari siapa pun.
Siapa sangka, Belva menjadi owner skincare sukses dan kaya raya. Disaat kehidupan Belva sudah sangat sempurna, Belva dipertemukan dengan seorang Tentara yang begitu sangat menyebalkan dan selalu membuat Belva darah tinggi.
Akankah Belva kembali menemukan cintanya? Adakah orang yang benar-benar tulus ditengah-tengah kondisi Belva yang sedang dilanda krisis kepercayaan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27 Akhirnya Bertemu
Pagi ini Suharto berniat untuk jogging dan bersamaan dengan Belva yang baru keluar dari dalam rumahnya. “Selamat pagi, Om!” sapa Belva.
“Selamat pagi, Nak. Mau jogging juga?” tanya Papa Suharto.
“Iya, Om,” sahut Belva.
"Ya, sudah kita bareng saja," ucap Papa Suharto.
Keduanya jogging bersama. "Kamu tinggal sama siapa disini, Nak?" tanya Papa Suharto.
"Sama sahabat Belva dan para karyawan Belva," sahut Belva.
"Orang tua kamu dimana?" tanya Papa Suharto kembali.
Seketika Belva menghentikan joggingnya dan Suharto pun ikut berhenti. "Papa aku sudah meninggal Om, dan Mama aku sudah menikah lagi," sahut Belva sedih.
Suharto yang melihat Belva sedih merasa sangat bersalah. "Maafkan Om, Nak. Om tidak bermaksud membuat kamu sedih," ucap Suharto.
Belva duduk di kursi taman komplek dan disusul oleh Suharto yang duduk di samping Belva. "Om tidak usah meminta maaf, Belva baik-baik saja kok Om. Hanya saja, sampai saat ini Belva belum bisa menerima kepergian Papa dan Belva juga tidak terima dengan cara Papa meninggal," sahut Belva.
Suharto mengerutkan keningnya. "Maaf, ka ojol9au boleh tahu Papa kamu meninggal karena apa?" tanya Papa Suharto penasaran.
Baru saja Belva ingin menjawab pertanyaan Suharto, tiba-tiba ponsel Belva berdering. "Maaf Om, Belva angkat telepon dulu," izin Belva.
Suharto mengangguk dan Belva pun sedikit menjauh dari Suharto.@&
📞"Non, ada dimana?" tanya Irawan.
📞"Aku lagi jogging Pak di sekitaran komplek, ada apa Pak?" Belva balik bertanya.
📞"Baiklah, saya samperin Non Belva saja," ucap Irawan.
📞"Ok, aku tunggu dibawah pohon di taman komplek," sahut Belva.
Belva pun memutuskan sambungan teleponnya. "Om mau lanjut jogging? Belva mau nunggu seseorang dulu," ucap Belva.
Suharto tidak mau mengganggu Belva, dia punya etika juga. Dia tidak mau disangka ingin mengetahui urusan Belva dan akhirnya memutuskan untuk pergi. "Ya, sudah Om lanjut jogging," sahut Papa Suharto.
Baru saja Suharto bangkit dari duduknya, sebuah mobil berhenti di depan mereka. Irawan keluar dari mobil dan membuat Suharto membelalakkan matanya. "Irawan," seru Papa Suharto.
"Loh, Pak Suharto," sahut Irawan tak kalah kaget juga.
Belva mengerutkan keningnya. "Kalian saling kenal?" tanya Belva bingung.
"Non, ini Pak Suharto sahabatnya Tuan Ferdi," sahut Irawan.
"Hah."
"Jadi, Belva ini putrinya Ferdi?" tanya Papa Suharto tidak percaya.
"Iya, Pak," sahut Irawan.
"Ya, Allah Om cari-cari kamu loh Nak. Papa kamu selalu menitipkan kamu kepada Om tapi waktu itu ponsel Om rusak di tambah Om lama dirawat di rumah sakit jadi Om tidak bisa menghubungi Ferdi lagi," jelas Papa Suharto.
Belva tersenyum tapi matanya sedikit berkaca-kaca membuat Suharto merasa sedih. Suharto menghampiri Belva dan memeluk Belva. "Maafkan Om Nak, Om datang terlambat," ucap Papa Suharto penuh penyesalan.
Belva tidak bisa berkata apa-apa, hanya air mata yang keluar dari matanya. Belva sampai kaget karena pelukan Suharto sama seperti pelukan yang diberikan oleh Papanya dulu. Dari kejauhan, Abi yang hendak menyusul Papanya sangat terkejut melihat Papanya berpelukan dengan Belva.
"Astaga, apaan sih Papa pelukan sama gadis itu," gumam Abi.
Abi berlari dan menghampiri mereka. "Papa apa-apaan sih, gak tahu malu banget pelukan sama daun muda," kesal Abi.
Belva langsung melepaskan pelukannya dan menghapus air matanya. "Ngapain kamu peluk-peluk Papa aku? jangan bilang kamu-----"
"Abi, diam! jangan sembarangan kamu kalau ngomong!" bentak Papa Suharto yang langsung memotong ucapan Abi.
"Bagaimana kalau kita bicara dulu, ada yang perlu saya bicarakan," ucap Irawan.
"Om ikut aja," seru Belva.
"Ngapain kamu ajak-ajak Papa aku?" ketus Abi.
"Apaan sih, kamu mau ikut? ikut aja," sahut Belva.
"Sudah-sudah, kita ke caffe depan sana sambil ngopi," seru Papa Suharto.
Akhirnya mereka berempat masuk ke mobil Irawan dan pergi ke caffe yang tidak jauh dari taman. Sesampainya di caffe semuanya masuk dan memesan kopi. "Ada apa Pak, apa yang mau Bapak bicarakan dengan aku?" tanya Belva.
"Perusahaan Pak Ferdi saat ini sedang kacau Non, Bondan yang sudah menghancurkannya bahkan Bondan sudah beberapa kali ketahuan mengambil uang perusahaan untuk judi dan mabuk-mabukan," jelas Pak Irawan.
"Terus, bagaimana tanggapan Mama?" tanya Belva.
"Sepertinya Nyonya Venny tidak mempermasalahkannya karena sampai saat ini Nyonya tidak mau melaporkan Bondan padahal kerugian perusahaan sudah sangat besar. Ditambah lagi Tissa yang selalu menghamburkan uang untuk berfoya-foya," sahut Pak Irawan.
Belva tersenyum sinis. "Mama memang sudah dibutakan oleh cinta, aku yakin sebentar lagi perusahaan Papa akan bangkrut," ucap Belva.
Abi yang tidak tahu apa-apa hanya diam mendengarkan. "Venny sudah menikah lagi?" tanya Papa Suharto.
"Bahkan semenjak Papa masih ada, Mama sudah selingkuh sama laki-laki brengsek itu Om, dan yang lebih kejamnya lagi Mama dan laki-laki itu yang sudah membunuh Papa dengan cara mensabotase mobil Papa," ucap Belva penuh amarah bahkan matanya kembali berkaca-kaca.
"Apa? kenapa kamu gak laporkan ke polisi Nak?" tanya Papa Suharto.
"Belva gak punya bukti Om, jadi Belva tidak bisa melaporkannya," sahut Belva.
Irawan menceritakan semua yang sudah Venny lakukan kepada Belva, termasuk sejak kecil Venny memang tidak menyayangi Belva. Belva hanya diam dengan deraian air matanya, Abi yang dari tadi memperhatikan lama-lama merasa kasihan kepada Belva. Abi tidak menyangka jika Belva mempunyai kehidupan yang menyedihkan.
"Om, Mama tidak tahu Belva punya usaha ini jadi Om jangan sampai bilang sama Mama. Bahkan Belva menyembunyikan identitas Belva karena jika sampai mereka tahu, pasti mereka akan mengganggu kehidupan Belva lagi," ucap Belva.
"Tenang, Om tidak akan bilang sama siapa-siapa. Keterlaluan sekali Venny, dia lebih menyayangi anak tiri dibandingkan anak kandungnya sendiri. Kamu jika butuh apa pun atau butuh bantuan Om, kamu tinggal bilang saja jangan sungkan-sungkan anggap saja Om sebagai Papa kamu sendiri," ucap Papa Suharto.
"Terima kasih, Om," sahut Belva.
"Tissa? bukanya pacar Mario namanya Tissa? apa jangan-jangan dia adik tirinya Belva?" batin Abi.
Irawan dan Suharto berbincang-bincang, sedangkan Belva menikmati kopinya sembari pandangannya ke luar jendela. "Kamu kenal sama orang ini tidak?" tanya Abi sembari memperlihatkan ponselnya kepada Belva.
Belva membelalakkan matanya. "Kenapa kamu punya foto Mario?" tanya Belva tidak percaya.
"Dia adikku," sahut Abi.
"Apa?"
Belva sangat terkejut dengan ucapan Abi, dia tidak menyangka jika pria yang sangat dia benci merupakan adik Abi dan putra dari sahabat Papanya. Abi memang sudah curiga dari awal, cerita Mario sama persis dengan cerita Belva hanya saja Mario sudah dibodohi oleh Tissa.
Abi...iya pasti Abi bisa selamtin Belva