Kania Tamara seorang gadis yang cantik anak dari Saras Dan Rudi wijaya.
mempunyai seorang sahabat bernama Fahira Orlando. apakah persahabatan mereka tetap utuh saat mereka mencintai seorang pria yang sama?
akankah keegoisan mereka mengalahkan persahabatan yang telah mereka lalui sejak masih kecil?
silahkan klik untuk membaca ..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pernikahan Afdhal Dan Kania
Tibalah hari dimana bagi Afdhal dan Kania melangsungkan pernikahan mereka.
Hari yang sangat bersejarah bagi kedua mempelai.
Tidak ada hari yang paling bahagia kecuali menikah dan membina hubungan rumah tangga, apalagi mereka saling mencintai satu sama lain.
“Bismillahirrahmanirrahim. Saya nikahkan Kania Tamara binti Rudi Wijaya dengan seperangkat alat sholat dan uang sebesar 100 juta dibayar Tunai,” ucap Afdhal Lantang.
“Bagaimana menurut para saksi sah atau tidak?” tanya penghulu kepada para saksi yang menyaksikan pernikahan mereka.
“Sah!” seruMereka.
“Alhamdulillah!” Teriak Afdhal.
Kania menangis terharu, akhirnya mereka menikah juga.
Kedua orang tua mempelai pun ikut menangis terharu, setelah banyak drama yang terjadi akhirnya dua hati itu dapat disatukan dengan tali pernikahan.
“Selamat Kania dan Afdhal, semoga kalian menjadi keluarga yang sakinah, mawadah dan warahmah,” ucap Fahira memberi selamat.
Banyak sekali tamu undangan yang datang, bahkan Kania dibuat geleng-geleng kepala karena banyaknya undangan yang datang.
Bagaimana tidak, pria yang ia nikahi sekarang dan menjadi suaminya itu adalah orang yang sangat terkenal dikalangan atas maupun bawah.
Mega hari itu juga ikut menghadiri pernikahan Kania, sebelumnya ia ingin membalas dendamnya namun niatnya hilang setelah tahu bahwa orang tua Kania membantu perusahaan milik kakaknya.
“Selamat Kania dan Afdhal, maaf selama ini aku pernah jahat kepada kalian,” sesal Mega.
“Sudahlah Mega, lupakan kejadian yang dulu sekarang lebih baik kita menata masa depan yang lebih cerah lagi,” balas Kania.
Mega senang karena Afdhal mendapatkan wanita yang begitu baik, ia pun ikhlas melepas Afdhal yang selama ini dia harapkan menjadi miliknya.
Satu persatu para tamu undangan meninggalkan acara pernikahan mereka.
Kini tamu undangan benar-benar telah pulang.
Di kamar.
“Sudah siap sayang?” tanya Afdhal.
“Siapa apaan?” tanya Kania balik.
Afdhal mendekati telinga Kania, Kania yang mendengar bisikan Afdhal terkejut.
Kania benar-benar lupa bahwa malam ini adalah malah bersejarah untuk dirinya dan Afdhal.
Mereka pun melakukan hubungan layaknya suami istri yang lain.
5 Bulan kemudian.
Afdhal menata nafasnya yang tak beraturan, hanya demi Kania yang mengidam mangga muda yang baru saja dipetik dari pohon, membuat Afdhal harus siap lahir dan batin untuk memenuhi keinginan istrinya yang kini telah berbadan dua.
“Terima kasih sayang,” ucap Kania pada suaminya itu.
“Haduh sayang, lain kali jangan suruh aku yang manjat pohon mangga ya. Aku beneran lelah sayang hampir tiap hari kamu minta mangga yang langsung dipetik dari tangan aku sendiri,” sahut Afdhal.
“Kamu harus bertanggung jawab dong sayang, udah menghamili anak orang yang harus tanggung jawab sama aku dan juga anak dalam perutku ini, kalau anak kita ngences terus bagaimana? nanti kalau anak kita dibilang sama orang lain bagaimana? masak bapaknya orang terkaya se Indonesia punya anak suka ngences kan tidak lucu Sayang,” omel Kania.
Semenjak Kania mengandung ia berubah drastis, Kania lebih banyak bicara dan tidak pernah diam. Ada saja yang ia kerjakan, mungkin faktor bayi yang sedang dikandungnya.
“Sayang!” Panggil Saras yang mengunjungi rumah Afdhal.
“Mama,” balas Kania senang dengan senyum manisnya
”Papa mana Ma?” tanya Kania sambil mengedarkan pandangannya.
“Papa lagi ada urusan di kantor, kalau sudah pulang kerja Papa kamu mampir kesini,” sahut Saras.
“Mangga lagi sayang? pasti Afdhal yang manjat pohon setinggi ini?” tanya Saras lalu diangguki Kania.
“Kamu yang sabar ya Afdhal, pokoknya kalau Kania meminta sesuatu harus dituruti kemauannya. Itu semua karena keinginan anak kalian yang sedang dikandung Kania,” terang Saras.
“Siap Ma,” sahut Afdhal lalu tersenyum lebar.
Terima kasih Tuhan, Engkau telah memberikan hamba Seorang istri yang begitu cantik dan baik hati. Tak akan pernah hamba sia-siakan dirinya Ya Tuhan. Jadikanlah hamba suami sekaligus ayah yang baik bagi mereka. Amin (Batin Afdhal)
Terima kasih Atas Nikmat Mu Ya Tuhan, Engkau telah mengirim Pria yang baik untuk Hamba. Semoga hamba bisa menjadi Istri sekaligus Ibu yang baik bagi mereka. Amin. (Batin Kania)
greget gw mah😶😶😶😶