NovelToon NovelToon
LUCEM

LUCEM

Status: tamat
Genre:Fantasi / Supernatural / Spiritual / Cintamanis / Time Travel / Identitas Tersembunyi / Cinta Murni / Barat / Tamat
Popularitas:102.8k
Nilai: 5
Nama Author: imazarius

Hidup bukanlah koridor lurus dan mudah yang kita jalani dengan bebas dan tanpa hambatan, tetapi labirin lorong-lorong, di mana kita harus menemukan jalan kita. tersesat dan bingung, berhenti, dari waktu ke waktu, di jalan buntu dan kemudian kembali berlari.


Sebuah pintu selalu terbuka di depan kita; Ini mungkin bukan yang kita bayangkan, tapi... itulah pintu kita. Lucem.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon imazarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter XXXIII

Pagi itu dimulai dengan obrolan ringan dan tawa ceria Maria saat sarapan. Hingga akhirnya berganti dengan ketegangan berulang kali saat sesi latihanku dimulai.

Maria berulang kali mengalami kejang dan kesakitan, dan tubuhku juga tidak luput dari sensasi-sensasi aneh menyakitkan.

Hingga siang menjelang, aku melihat Maria, bergeser begitu lambat... aku bertanya-tanya apakah kita berdua menderita penderitaan yang sama. Disetiap jeda ia membuat jarak denganku dan berusaha mati-matian untuk duduk di samping Marbella—Marbella yang masih berlutut di depan bentangan lembar kertas tua yang terbuka, membungkuk ke depan, mulutnya berkomat-kamit melafalkan tulisan demi tulisan yang tertera. Sesekali matanya terpejam untuk berkonsentrasi.

Ketika Marbella memintaku untuk bergerak seperti arahannya sementara ia melafalkan beberapa kalimat dari bentangan kertas di tanah, Maria mengalami kejang untuk kesekian kali yang tidak dapat aku ingat lagi, tubuhnya membiru dan gerakannya tak terkendali.

Bohong jika aku bilang aku tidak takut.

Aku bisa melihat ekspresinya , dan itu tidak bagus. Aku tidak tahu apakah Maria terluka, jadi aku tidak tahu sejauh mana dan apa yang tengah kami hadapi. Tapi gadis itu selalu kembali memasang wajah penuh senyuman ketika tangannya sibuk mengeringkan peluhnya yang bercucuran di akhir latihan di hari yang melelahkan.

Seluruh tubuhku seolah remuk dan Maria tidak terlihat lebih baik dariku. Marbella melumurinya dengan beberapa ramuan yang ia olah sendiri. Beberapa bagian tubuh Maria yang terbuka memperlihatkan banyak goresan dan lebam di sana-sini. Itu membuatku bertanya-tanya apakah Maria akan bertahan.

Gelap menyelimuti hutan, suara burung hantu dan jangkrik bersahutan mengisi malam. Rasanya sulit menggerakkan setiap bagian tubuhku. Aku hanya terbaring sejak latihan hari ini usai. Paksaan untuk berkemih membuatku menguatkan kaki melangkah keluar tenda, melewati pohon besar aku mendapati bayangan seseorang yang sedang duduk di sana. Perlahan aku mendekat. Maria sendirian.

Setelah aku akhirnya cukup dekat, Maria mendongak.

Dia tampaknya tercengang.

Saat itu terpikir olehku bahwa dia baru saja melihatku, setelah semua kegiatan pribadiku, dia baru menyadari aku ada di sini. Secercah kelegaan melintas di matanya.

Dan kemudian dia mengucapkan dua kata, dua kata yang tidak pernah aku duga akan menginspirasi dia untuk mengatakan:

"Peluk aku."

Kalimat itu terbawa angin, tetapi penderitaan di matanya tetap ada. Dan dari sudut pandang ini, aku akhirnya mengerti kedalaman dari apa yang dia alami. Awalnya aku mengira Maria hanya menahannya, berada di bawah cakar Marbella, mencoba untuk mendukung.

Aku salah.

Bulir bening mengalir turun dari matanya, aku masih bisa melihat dengan jelas diantara gelap.

"Ada apa?" Tanyaku.

Maria hanya menggelengkan kepalanya.

Aku tidak berani mendekatinya. Aku tidak tahu apa yang seharusnya aku lakukan untuknya.

"A-apa kau ingin aku memanggil Marbi kemari?" aku menawari.

"Tidak, tidak perlu. Ini sudah larut, beristirahatlah, kau pasti lelah," jawabnya.

"Baiklah, kalau begitu aku kembali ke tenda," pamitku.

Maria tersenyum.

"Panggil saja aku jika kau membutuhkan sesuatu... aku— aku di sini, di tendaku,” ucapku.

Maria mengangguk. "Oke, sampai jumpa besok pagi," ia melambaikan tangannya.

"Sampai jumpa," balasku sambil berjalan menuju tendaku.

Sebelum benar-benar memasuki tenda aku menjulurkan leher untuk melihat Maria sekilas di sana, dia masih duduk berdiam di tempatnya.

Lama berbaring dengan pikiran yang berkeliaran. Kalimat Maria dan raut wajahnya yang sedih, berkumpul menjadi banyak pertanyaan di benakku. Tanya jawab pribadi di kepalaku berakhir ketika perlahan kantuk mengambil alih dunia sadarku.

*******

"Jika kau membutuhkan seseorang saat ini, itu aku," ucap Marbella dengan penekanan.

Maria tertunduk dalam. "Maafkan aku, Marbella."

Marbella mengambil tempat untuk duduk bersebelahan dengan Maria, menatapi indahnya pemandangan kota Ahem dari ketinggian. Dua cangkir coklat panas menemani mereka melawan dinginnya malam.

*******

"Selamat pagi, Mars!" sapa suara riang Maria.

"Selamat lagi," balasku.

Tidak terlihat sisa kesedihan semalam di wajahnya. Aku berusaha mengamati itu hingga dua kali. Mengedikkan bahuku, entahlah.

Marbella membawa sepiring penuh keripik singkong dan meletakkannya. Mengambil beberapa dan mulai mengunyahnya dengan riuh.

"Owh, Marbi..." keluhku.

Marbella tertawa.

"Ini rasa barbeque," ujarnya bersemangat.

"Oh, pilihan rasa yang bagus," aku mengangguk-angguk.

"Mmmmmmm...mmmm..mmmm....roouuugh...uoghh."

Sekarang aku harus menggeleng-gelengkan kepalaku. Aku melirik Maria. "Untunglah gadis kota tidak memakan keripik singkong—...,"

"Di pagi hari sebelum sarapan," sambar Maria.

Aku melongo.

"Aku akan bergabung untuk keripik singkong rasa barbeque setelah kita sarapan, sisakan banyak untukku, Marbella," seru Maria.

"Mmmmmmm...mmmm..mmmm....roouuugh...uoghh." Marbella menganggukkan kepalanya.

Aku mengambil satu keping keripik singkong di piring, memasukkannya ke mulut dan melangkah menuju pohon besar.

Dua langkah pertama aku berhenti.

Set...!

Sepiring keripik singkong rasa barbeque telah berada di tanganku, waktunya untuk mengambil langkah seribu.

HEY!!!

MARS!!.....

"Ini Afrika, aku singa yang bangun paling pagi," ucapku sambil berlari menjauhi kejaran dua singa betina yang gusar.

1
Dhina ♑
Assalamu'alaikum, selamat malam 😊😊
Ehh selamat pagi 😊😊
ᭃᴊ͠ɪᴠᷧᴀᷣɴᷧ〄 ᬽ: momyyy ini aku rara, akun aku hilanggg
total 1 replies
Karya Sujana
belum masuk
boooom
Ney Maniez
ohhh penyihir tooo...
penyihir brsaudara
Ney Maniez
masih nyimak
Ney Maniez
aku mampir,,, tinggalkn jejak
Erarefo Alfin Artharizki
kerenn
Erarefo Alfin Artharizki
halo bqng blu, aku mampir bertahap ya
༄⃞⃟⚡𝐏ᥱ𝗍іr 𝐀zᥲᑲ 𝐈ᥒძ᥆sіᥲr 😘
ini jiso nya bukan jiso member Black Pink kan? hhhe
༄⃞⃟⚡𝐏ᥱ𝗍іr 𝐀zᥲᑲ 𝐈ᥒძ᥆sіᥲr 😘: sebuah unsur bukan periodik tapi ketidak sengajaan
total 2 replies
༄⃞⃟⚡𝐏ᥱ𝗍іr 𝐀zᥲᑲ 𝐈ᥒძ᥆sіᥲr 😘
Marbella pintar banget ya, aku jadi pengen diskusi sama dia deh
༄⃞⃟⚡𝐏ᥱ𝗍іr 𝐀zᥲᑲ 𝐈ᥒძ᥆sіᥲr 😘
aku salut blu, tulisanmu panjang dan rapi. Pertahankan!
༄⃞⃟⚡𝐏ᥱ𝗍іr 𝐀zᥲᑲ 𝐈ᥒძ᥆sіᥲr 😘
ini bacaan yang berat, perlu fokus...

aqua mana aqua
Zhilla Senja
Seiring waktu teman toxic mu akan tumbang karena seleksi alam.. dan kamu harus bisa mempertahankan teman sejatimu
Zhilla Senja
karya ini sangat bagus.. untuk para pembaca kalian wajib membaca cerita ini serruuuu
Zhilla Senja
baru baca cerita ini dan langsung ketagihan
ALADIN
cerita yang bagus banyak ilmu yang bisa kita petik dari ceritanya awal nya aza udah.... 👍👍👍semangat lanjut...
𝐀⃝🥀Weny
🤦membuat ku merinding jika berimajinasi ribuan tikus da. di depan mat😱🏃🏃🏃
🇮🇩⭕Nony kinoy❃hiat🇵🇸
maaf thor, di bagian akhir, nony sedikit bingung, dia yang sulit membuka mata, kok seketika baru sadar dan bisa melihat saat ini benar terjadi perang, begitu nony sulit fahami, atau nony yg memang gang nyambung yah thor, tolong di jelasin😀🙏
🇮🇩⭕Nony kinoy❃hiat🇵🇸: typo ku berkarat🤦
total 3 replies
𝐙⃝🦜 Nurma
mampirr
✿⃝⭕🌼Ohti
kok aku merasa kalimat tanya kurang tepat, tempatnya.
🐧ig.@ρтуᴄᴀʟᴀᴍ🔥✔️
ya elah moon, sweet banget dah kalimatnya🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!