Arifah yang masih duduk dibangku Sekolah Dasar seringkali mendapatkan kenakalan teman-temannya bahkan gurunya sendiri pernah sesekali mempermalukannya.
Puncaknya, Aska sebagai saudara kandung Arifah tidak memberitahunya bahwa kedua orang tuanya sudah meninggal karena kecelakaan sebuah pesawat. Tidak sampai disitu, Aska sebagai keluarga satu-satunya yang ia punya pun juga pergi meninggalkannya. Belum lagi menghadapi anak angkat Mami yang ternyata seseorang yang datang hanya untuk mengambil keuntungan dari keluarganya.
Lalu mampukah Arifah berdamai dengan takdir yang telah digariskan? Dan apakah dengan hadirnya malaikat pelindung disisinya mampu membuatnya menjadi pribadi kuat dan tangguh?
Saksikan kisah selengkapnya ya, jangan lupa like dan vote juga. Terima kasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sariyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps. 33 Lomba Memasak
Tama, Januar dan Maya sudah berada dirumah Arifah. Mereka hendak membahas kerja sama mengenai masak memasak yang sebentar lagi akan dilaksanakan. Apalagi hadiahnya sangat menggiurkan, target mereka harus tercapai yakni juara satu.
"Siapa yang bertugas memasak?" Tanya Tama.
"Aku bisa memasak!" Jawab Maya mantap.
"Kamu yakin?" Tanya Januar seakan tak percaya.
"Iya! Ibu sering mengajakku kedapur memasak sesuatu untuk dimakan sampai akhirnya aku jago masak sekarang. Aku pastikan kamu tidak akan kecewa nanti ketika kita sudah berumah tangga." Jelas Maya sembari mengerlingkan sebelah matanya pada Januar.
Januar merasa jijik dengan tingkah Maya, berbeda dengan Arifah dan Tama yang mengacungkan jempol memberi semangat pada Maya. Namun diam-diam Januar mengagumi Maya yang selalu berusaha mengejarnya, mulai dari prestasi hingga melakukan pekerjaan rumah tangga seperti memasak.
Astaga... astaga... kenapa pikiranku ngelantur begini. Ia pun mengusap wajahnya kasar. Apa jangan-jangan aku sudah mulai jatuh hati dengannya? Ah tidak, tidak mungkin!
"Baiklah, karena dikelompok kita sudah ada yang bertugas memasak. Aku akan membawa bahan-bahan yang akan dimasak. Jadi catat Maya apa saja yang perlu aku bawa nanti."
"Okai.. " Ucap Maya semangat. Ibuku pernah bilang, untuk menyenangkan hati seorang pria supaya betah dengan kita adalah dengan mengenyangkan perutnya dengan masakan kita. Tama, kamu harus mencicipinya. Aku yakin kamu pasti akan menyukainya.
"Dan siapa yang akan membawa kompor, wajan dan teman-temannya?" Tanya Arifah.
"Aku saja." Ucap Tama.
"Aku bawa telapak meja, tisu, bunga untuk mempercantik meja hidangan, beberapa gelas, beberapa piring, dan beberapa sendok. Blender, ya aku akan bawa blender juga." Ucap Januar tak kalah semangat. Ia melirik Maya yang tengah menulis bahan-bahan makanan yang akan dibawa Arifah nanti. Arifah yang memergoki Januar pun senyum tipis-tipis.
"Selesai! Ini beberapa yang perlu kamu bawa." Ucap Maya sembari menyerahkan kertas yang baru saja ia tulis.
Arifah terperangah membaca isi kertas itu.
"Apa ini? Tumbar, merica, kemiri, kunyit, jahe... apasih aku gak ngerti!"
Maya memukul kepala Arifah menggunakan pena pelan.
"Makannya sering-sering didapur, biar kenal dengan mereka semua.." Ledek Maya. Yaelah masih unggul aku dimana-mana. Cuma duit aja yang kurang banyak!
Arifah menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal mencari ide. Tiba-tiba ide cemerlangnya muncul, Bu Aminah!
"Baiklah aku akan segera belanja semua bahan ini."
Januar, Tama dan Maya pun pulang kerumah mereka masing-masing setelah selesai dengan diskusi panjangnya.
"Bu...Bu Aminah.." Ucap Arifah cengar cengir.
Bu Aminah heran dengan tingkah Arifah yang tidak seperti biasanya.
"Ada apa Non? Ada yang bisa dibantu?"
Arifah mengangguk cepat sembari menyerahkan kertas berisi bahan-bahan masakan.
"Sediakan aku bahan itu semua yaa Bu. Besok pagi aku bawa kesekolah." ucapku penuh harap.
"Sekolah? Bukankah besok hari minggu Non?"
Arifah terkekeh Bu Aminah terlalu banyak tanya.
"Iya, tapi minggu besok ada perlombaan masak memasak Bu. Hadiahnya amazing! Doain kelompok kami menang juara satu ya Bu. Jangan lupa disiapin semuanya... cup...." ucap Arifah sembari mencium pipi Bu Aminah.
Bu Aminah menyunggingkan bibirnya, tidak biasanya Arifah seperti ini. Dalam hatinya mengaminkan permintaan Arifah yang meminta didoakan supaya memenangkan perlombaan.
Hari minggu, hari yang dinanti...
"Arifah!" Panggil Maya dari kejauhan.
Dengan susah payah Arifah berlari tergopoh-gopoh membawa bahan makanan yang lumayan berat. Tama langsung sigap membantu Arifah yang kepayahan.
"Biar aku yang bawa!" Ucap Tama.
"Terima kasih.." Ucap Arifah sembari memberikan plastik kresek besar ketangan Tama.
"Kertas yang aku kasih sama kamu itu kamu bawa kan?" Tanya Maya.
"Ho'ohh"
"Sini, biar aku cek, siapa tau ada yang ketinggalan!"
Arifah mengambil kertas itu dari dalam tasnya dan memberikannya pada Maya. Maya dengan teliti mengecek bahan yang dibawa Arifah satu per satu kemudian menceklisnya. Januar membantu Maya yang kerepotan dengan bahan-bahan yang sedang direviewnya.
Arifah dan Tama senyum meledek tingkah mereka yang sudah mulai dekat.
"Fix, tidak ada yang ketinggalan. Kerja bagus Arifah!" Ucap Maya senang.
"Saatnya bekerja!" Ucap Januar.
Mereka memulai semuanya dengan membaca doa terlebih dahulu. Januar dan Tama mulai mengangkat beberapa kursi dan sebuah meja. Karena perlombaan diadakan diluar kelas, yaitu ditaman sekolah jadi mereka harus berjuang lebih dengan mengangkat meja dan kursi yang jaraknya lumayan jauh. Sedangkan Arifah dan Maya tampak sibuk mempersiapkan bumbu-bumbu. Maya kerepotan karena Arifah terlalu banyak bertanya, apalagi ketika Maya memerintahkan Arifah mengambilkan kemiri yang masih didalam plastik.
"Yang mana?"
"Astaga... astaga.. sudah biar aku aja yang ambil. Bagaimana kelompok kita bisa menang, lah kamunya gak ngerti bahan-bahan masakan. Bagaimana kamu akan menyenangkan SUAMIMU nanti heh?" Ucap Maya kesal yang sudah tidak tertahan dengan menekankan kata SUAMIMU saat ada Januar dan Tama disitu.
"Hellooo, suami? Masih jauh kelez. Gak usah tinggi-tinggi menghayal entar jatuh nangis!" Ledek Arifah yang juga tidak tahan dengan Maya yang sok dewasa. Huhh aku kan masih kecil! Ngapain ngurusin dapur. Ntar kalau sudah besar kan bisa sendiri. Dasar emak-emak rempong!
Maya hanya melirik Arifah mengomel. Sedangkan Tama dan Januar cekikikan dengan tingkah keduanya.
Beberapa jam kemudian makanan berbahan dasar daging ayam, minuman berbagai rasa juga sudah terhidang dimeja yang dihias sedemikian rupa. Sebelum makanan dihidangkan Maya terlebih dahulu menyuapi Januar, meminta tanggapan.
Januar melahap sendok berisi makanan yang disuapkan Maya kedalam mulutnya dan mengunyahnya perlahan.
"Enak!" Ucapnya sembari mengacungkan jempol.
Saatnya testi-testi alias icip-icip.
Para juri mendatangi meja kelompok pertama, yakni kelompok Arifah, Maya, Januar, dan Tama. Ada tiga juri yang sedang menikmati hidangan mereka, ketiganya mengangguk-angguk dan memberi jempol kearah mereka.
"Mudah-mudahan hasilnya tidak mengecewakan." Ledek Arifah pada Maya.
"Hei! Kamu lupa apa kata Januar tadi heh? Dia bilang enak!" Celetuk Maya.
Selesai dengan sesi icip-icip, mereka pun melahap sisa makanan yang ada dimeja.
"Emm! Enak sekali! Aku suka! Bahkan ini lebih enak dari pada masakan Bu Aminah." ucap Arifah dengan makanan masih penuh dimulutnya.
"Tentu saja! Kamu lupa ibu ku pengusaha kuliner dan terkenal disini, kamu harus banyak belajar dari ku."
"Iyaa kalau ada waktu aku mau ih belajar sama kamu."
"Aku tunggu kedatangan mu!"
Mereka menyantap makanan itu sampai habis tak tersisa.
Dan tibalah saat yang ditunggu-tunggu, sang jawara, kelompok jago memasak.
"Pemenangnya adalah..." ucap Bu Wiji selaku pembawa acara mengumumkannya sengaja diperlambat.
Jeng... jeng... jeng...
Suara musik ikut membuat kelompok pertama tegang.
"Adalah...."
Jeng... jeng... jeng....
"Adalah kelompokkkk....."
Jeng... jeng... jeng...
"Kelompok pertama!"
"Yess!!" ucap kelompok pertama bersamaan.
"Diharapkan kelompok pertama untuk maju kedepan. Mengambil hadiah berupa piala, sertifikat dan uang tentunya. Silahkan..." Ucap Bu Wiji mempersilahkan kelompok pertama.
Arifah, Januar, Maya, dan Tama pun maju dengan perasaan senang. Akhirnya.. Akhirnyaa...
Mereka menerima hadiah, hasil jerih payah hari ini.
"Selamat kepada kelompok pertama!"
Suara tepuk tangan bergemuruh dan siulan seolah memberikan ucapan selamat pada mereka.
.
.
.
TBC!
Jangan lupa like n vote ya.... 😊
jangan lupa jaga kesehatan jugaa
like nya sudah mendarat
lanjut dan semangat selalu💪😍💜
Semangat tuk karyanya ya kak 🤗❤️