Bianca Sabian adalah seorang siswi yang sering bermasalah di sekolahnya. Banyak kenakalan yang sudah ia lakukan. Mulai dari bolos sekolah, mengecat rambut, hingga membuat rusuh satu kelas saat guru mengajar.
Tapi hidupnya berubah saat ia harus menerima nasib dipaksa menikah dengan gurunya sendiri. Yang lebih menyebalkannya lagi ternyata sang guru adalah seorang duda beranak satu.
Bagaimanakah kelanjutan hidup Bianca setelah terpaksa menikah dengan gurunya sendiri??? Apakah sang guru mampu menerima Bianca sebagai istrinya???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ian_Zimanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33
"Masss..." Rava bergidik ketika mendengar nada menggoda dari Bianca. Seratus kali lebih menggoda dari mimpinya.
"Kamu bilang televisinya rusak..." gumam Bianca lagi. Jarinya bergerak di dada Rava dan sebelah tangannya mengalung di leher Rava, "Nggak rusak tuh... hihihihi..."
Rava tidak menjawab. Tangannya yang semula mengeringkan rambut Bianca-pun ikut terhenti.
"Mas..." gumam Bianca lagi, "Aku penasaran..."
"Tentang?" Rava merendahkan tubuhnya. Wajahnya ia benamkan di leher Bianca dan memberikan satu gigitan kecil disana. Entahlah, ia merasa sangat merindukan Bianca. Padahal mereka bertemu setiap hari. Mungkin benar kata orang, kadang pertengkaran bisa menjadi bumbu dalam hubungan. Tergantung bagaimana kita menyikapinya.
"Film itu. Yang ditelevisi. Aku penasaran bagaimana rasanya"
Rava menyeringai, "Kamu ingin tahu?"
"Kamu akan memberi tahuku?"
Rava menyeringai. Tanpa menunggu lama, Ia mengangkat kepalanya dan memagut bibir Bianca dengan agak brutal. Sementara jemarinya mengusap paha Bianca pelan.
Bianca sedikit melenguh ketika Rava meremas sisi paha dalamnya. Rava lalu mengangkat wajahnya dan menggigit leher Bianca. Membuat kissmark sebanyak yang dia mampu.
Rava menurunkan ciumannya. Dari leher turun ke bahu, lalu turun lagi. Tubuh Bianca bergetar dan seketika meremas rambut suaminya itu, ketika bibir hangat Rava menyentuh gunung kembarnya.
Rava kembali mengangkat wajahnya. Ditatapnya wajah Bianca yang memerah sempurna. Mata beningnya terlihat sayu dan bibirnya membuka sedikit. Rava merendahkan wajahnya dan sekali lagi mencium bibir yang sangat sangat lembut itu.
"Mas" Rava mengangkat wajahnya ketika Bianca menggumamkan namanya dalam ciuman dalam mereka.
"Hm?"
Bianca tersenyum tipis, "Aku mencintaimu..."
Rava tertegun dan menghentikan segala aktivitasnya. Matanya membulat sempurna. Bianca... mencintainya?
"Aku sungguh cinta sama kamu, Mas... " Bianca menaikkan wajahnya sedikit dan meraih bibir suaminya itu. Rava membalas ciumannya. Dalam hati Rava bersyukur karena Bianca tidak menanyakan bagaimana perasaannya padanya. Sebab Rava sendiri tidak yakin akan perasaannya.
Posesif bukan berarti cinta 'kan?
Persetan dengan pekerjaannya sebagai guru. Saat ini ia suami sah Bianca. Dan karena ini honeymoon mereka, maka sekaranglah saatnya menikmati sang istri seutuhnya. Ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini lagi. Masalah perasaan bisa dipikirkan nanti, toh dia juga tidak ada niat untuk berpisah dari Bianca. Yah.. setidaknya 'belum ada pikiran kesana'.
Dengan tergesa-gesa Rava melepas seluruh kain yang membalut tubuhnya.
"Nah Bi, sekarang bantu aku menyelesaikan ini" ujarnya sambil menggesek-gesek juniornya ke paha Bianca. Rava menghentikan gerakannya ketika merasa tidak mendapat respon dari Bianca.
Pria itu lalu melirikkan matanya dan mendapati Bianca yang sedang memejamkan matanya dengan nafas yang berhembus normal.
Kesimpulannya...
Bianca
Tertidur
Lagi...
Rava menjambak rambutnya tak percaya. Ingin membangunkan Bianca pun rasanya ia tak tega. Istri kecilnya itu sudah mengalami banyak hal seharian ini.
Yah, terpaksa malam ini dia main 'solo'... ckckck... poor Rava. (Kapok haha )
***
Rava menengadahkan kepalanya, membiarkan sejumlah air menyirami wajahnya. Jam menunjukkan pukul tujuh pagi. Rava baru saja bangun tidur dan kini ia sedang mandi. Yah, Rava adalah orang dengan prinsip 'Bangun tidur kuterus mandi' tidak seperti author yang 'Bangun tidur kutidur lagi'. Ckckck~
Waktu Rava bangun tadi terlihat Bianca masih tidur pulas. Sangat pulas. Tentu saja karena tadi malam ia sudah teler akibat banyaknya minuman 'aneh' yang ia minum. Beda jauh dengan Rava yang terpaksa bersolo karier(?)
Setengah jam berlalu, Rava keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk yang melingkar di pinggang sempurnanya. Alisnya terangkat sebelah ketika ia melihat Bianca sudah terbangun dan duduk di atas tempat tidur dengan memeluk lututnya. Wajahnya ia benamkan di antara kedua lututnya. Dan bahunya bergetar, seperti sedang terisak.
'Bianca menangis? Kenapa menangis? Seharusnya yang menangis itu aku yang ditinggal tidur olehnya' batin Rava.
Daripada berkutat dengan pikirannya, Rava kemudian berjalan mendekati Bianca dan menepuk pundak gadis cantik itu.
"Bian.."
Rava terperangah ketika Bianca mengangkat kepalanya, wajah gadis cantik itu basah karena air yang berasal dari kedua matanya. Bibir kecilnya bergetar kecil.
"M-mas… hiks, tadi malam kamu tidur dimana?"
.
.
Sesuai dengan janji author.. kalau vote kenceng.. VaBian Couple akan up 2 part per hari..🥰🥰
Mkasi bnyk buat semua readers yg udah memberikan vote dan juga ga pernah absen ngasi dukungan buat author...🙏🙏🙏🙏
Jgn bosen mampir truus yak..🤗🤗
Lope banyak banyak.. 😘😘😘😘
kalau kau Terima berarti novel tidak masalah
tapi kalau kau tidak Terima berarti pemikitan mu ada masalah saat kau tidak suka suamimu baik, sok manis, dan perhatian pada pria lai tapi novel malah Bianca seorang istri sok manis, dan sok perhatian pada pria lain dan kau benarkan kelakuan Bianca ini
renungkan lah, pakai otak untuk berfikir mana salah mana benar, salah ya salah benar ya benar
jangan jadi wanita egois kalau suami yang lakukan selalu salah tapi kalau istri (kalian) yang lakukan kalian benarkan
sadarlah