Eko Davka terjebak tuduhan memalukan, di tuduh mandul oleh Selvia, istri sahnya sendiri, yang membuat harga dirinya tercoreng. Untuk membuktikan semua omongan itu salah, dia punya satu jalan, memiliki keturunan.
Pilihannya jatuh pada Nayyara, gadis muda yang dia beli seharga 300 juta rupiah dari pemilik klub malam, tempat gadis itu bekerja. Davka mengajukan perjanjian, menikah secara kontrak, Nayyara akan memberinya keturunan, lalu semuanya selesai.
Namun Nayyara menolak diperlakukan sebagai mesin pembuat anak. dia ingin bebas—asal bisa mengembalikan uang yang telah dikeluarkan Davka. Tapi bagaimana? Uang sebanyak itu mustahil dia miliki. Terjepit ketakutan dan keterbatasan, Nayyara akhirnya menyerah dan menerima takdirnya, menjadi istri kedua pria dingin berkuasa itu.
Akankah pernikahan yang dimulai dari paksaan dan perjanjian hanya berakhir saat kontrak selesai? Atau benih-benih cinta justru tumbuh di antara ikatan Davka dan Nayyara
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vedyta Hyuk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Rejeki anak itu dari tuhan
Dokter Dinda memeriksa pasiennya dengan teliti. "Apakah sebelumnya mbak Nay terlihat tak sehat?” tanya dokter saat mulai memeriksa tekanan darah, sambil bertanya rinci pada Bik Sumi.
“Kemarin non Nay sempat mengeluh sakit perut lalu minta dibuatkan teh lemon. Tadi pagi cuma makan roti keju dan susu karena perutnya tak enak, tapi siang tadi bisa habiskan sup ayam sampai dua mangkuk,” jawab Bik Sumi.
“Tekanan darahnya cukup rendah, sepertinya juga kecapean,” Diagnosa Dokter Dinda sambil meminta suster menyiapkan alat USG.
Tak lama Nayyara sadar dan membuka mata. “Ah dia bangun. Mbak Nayyara, apa yang anda rasakan?” Dokter bertanya ramah.
“Alhamdulillah Non Nayyara akhirnya bangun juga,” Desah Bik Sumi lega sambil memijit lengan gadis itu. “Saya kenapa, Bik?”
“Tadi Non pingsan dekat tangga, Bibik takut sekali sampai panggil Dokter Dinda ke sini.”
“Ah kepalaku pusing sekali, perutku mual mau muntah,” Nayyara menutup mulut dan beringsut duduk. Bik Sumi tanggap langsung mendekatkan baskom air.
“Apa masuk angin, Dokter?” tanya Bik Sumi cemas.
“Bisa jadi, tapi saya periksa dulu ya… semoga saja bukan sakit serius,” Dokter meletakkan stetoskop di perut Nayyara lalu bertanya, “Kapan terakhir kali Mbak Nayyara dapat tamu bulanan?”
“Sepertinya akhir bulan Juni… ya Allah sejak itu saya belum datang bulan lagi, Dokter,” jawab Nayyara kaget baru menyadarinya.
“Berarti sudah dua bulan non tidak menstruasi?” Nayyara mengangguk cemas pada bibik.
“Hah? Iya benar… seharusnya sudah datang kemarin‑kemarin,” Batinnya makin resah, dia terlalu sibuk kuliah dan pusing masalah dengan Davka membuatnya lupa pada siklus bulanan.
“Saya akan periksa lebih teliti, ambil sampel urine atau langsung USG saja kalau belum kuat ke kamar mandi,” Kata Dokter Dinda tenang.
“Sakit apa saya sebenarnya, Dokter?” tanya Nayyara cemas.
“Dilihat dari gejala, kemungkinan besar anda tengah hamil.”
“Hah apa??” Kaget Nayyara dan Bik Sumi serempak, wanita tua itu sampai menutup mulut tak percaya.
“Dokter, apa yakin?” Tanya Bik Sumi bergetar.
“Belum seratus persen, baru perkiraan, jadi saya USG saja untuk pastikan. Suster, tolong siapakan alatnya.”
“Baik Dokter.” Nayyara mengangguk lemah tetap berbaring. Dokter mengoleskan gel dingin di perut lalu menggerakkan alat USG perlahan, tak lama dokter tersenyum melihat layar monitor.
“Selamat ya Mbak Nayyara, anda benar‑benar hamil. Lihat ini hasilnya jelas.”
“Sungguh Dokter??” Nayyara menutup bibir, matanya berkaca-kaca, tak menyangka Tuhan menitipkan calon bayi begitu cepat.
“Apakah dia baik‑baik saja?” Tanyanya penuh harap, seketika teringat Davka yang dulu pernah dituduh mandul mantan istrinya karena tujuh tahun tak juga punya anak. Kehamilan ini rasanya seperti sanggahan atas tuduhan itu.
"Baby sehat dan baik‑baik saja. Kantung kehamilan sudah terlihat. Ingat, harus dijaga betul karena usia kandungan masih muda, rentan keguguran, jika tubuh mbak kecapean,” pesan Dokter tegas.
“Iya saya janji Dokter… Alhamdulillah ya Allah, tumbuh sehat ya Nak,” Nayyara mengusap air mata haru. Bik Sumi menggenggam tangannya erat ikut terharu.
“Non selamat ya! Akhirnya saya bisa lihat anaknya Tuan muda juga. Aduh bibik mau menangis saking senangnya,” kata Bik Sumi mengusap mata dia sudah bekerja di keluarga Tedja sejak Davka dan almarhum Eiffel masih bayi, merawat keduanya dari kecil.
“Usia janin sekitar delapan minggu, masih sebesar biji kacang. Tapi sudah bentuk janin dengan jantung mulai bekerja, bukan lagi sekadar embrio. Hitungan bisa sedikit beda nanti saat periksa teliti di rumah sakit,” jelas Dokter Dinda.
“Terima kasih banyak Dokter.”
“Saya buatkan resep vitamin penambah darah, asam folat, dan obat anti‑mual. Istirahat cukup, jangan angkat berat, olahraga ringan lima menit sehari, tidur teratur. Kalau mual parah atau keluhan berat, langsung hubungi saya saja.” Nayyara manggut paham mengingat semua pesan.
“Jangan lupa kontrol ke rumah sakit ya, minum obat resep rutin.”
“Iya Dokter, sekali lagi terima kasih.” Dokter Dinda tersenyum merapikan alat medis, suster menata selimut kembali.
Tiba‑tiba ketukan pintu: “Permisi Dokter…” Denny masuk memberi tahu Davka sudah ada di ruang tamu. Dokter segera berdiri setelah selesai menulis resep.
“Saya permisi keluar dulu ya.” Nayyara dan Bik Sumi mengangguk.
“Maaf kak aku baru datang, tadi baru selesai rapat di kantor,” Davka menyapa sopan Dokter Dinda yang balas tersenyum.
“Pegawaimu tadi telepon aku sama panik, aku langsung berangkat karena Mbak Nayyara pasien VIP,” Canda Dokter sedikit, membuat Davka tersenyum tipis.
“Jadi istriku sakit apa?”
“Nggak sakit apa‑apa kok.”
“Hah nggak sakit?” Davka bingung, tadi padahal Denny telepon dia bilang Nayyara pingsan sampai dia panik, dan buru‑buru tinggalkan kerjaan di kantor.
“Istri kamu sehat, tapi dia sedang hamil.”
Dokter tersenyum mengatakannya. Mulut Davka menganga lebar, Denny sampai memekik kaget tak percaya.
“Heh apa?! Nayyara hamil? Dokter jangan bercanda ya!” Seru Davka yakin ini gurauan.
“Lho aku nggak bercanda kok, memang Mbak Nayyara sedang hamil. Kamu bilang dia istri mudamu kan? Selamat ya sekarang istri kamu sedang mengandung.” Wajah Davka masih kaku karena syok, dia menoleh ke Denny yang melongo seperti orang tak sadar.
“Jadi sungguhan istriku hamil, Dokter?”
“Iya lah, masa aku salah diagnosa. Tadi sudah di USG juga, kamu Pikir aku lagi nge‑prank kamu gitu, Davka?” Nada Dokter sedikit kesal karena tak dipercaya. Davka mengusap wajah berkali‑kali berharap ini bukan mimpi.
“Ya Allah… Alhamdulillah beneran! Tuan
muda bakal punya anak!! Keajaiban ini MasyaAllah!!!” Seru Denny akhirnya sadar dan berteriak heboh girang. Kalau ada Dino di sini, pasti dia langsung peluk teman seperjuangannya
Dokter Dinda menegur gemas lelaki itu.
"Hei Davka lah kok kamu malah bengong!!"
"Eh… iya…… maaf dokter, eh kak Dinda!" Davka sudah tak bisa menahan rasa bahagianya yang seperti akan meledak.
"Ya ampun kamu kok malah melamun" Davka mengangguk pelan dan hampir menangis, dia sungguh tak menyangka jika akhirnya dia bisa membuktikan jika dia lelaki normal, bisa punya anak, bahkan ucapan dokter Dinda tadi seperti sebuah mantra yang membuat dia bersorak saking bahagianya.
Dia jatuh berlutut dan bersujud pada Sang Kuasa. "Ya Allah Alhamdulillah terima kasih sudah memberikan aku rezeki ini" Denny sampai menangis terharu melihat majikannya.
"Kak sekali lagi terima kasih" Haru Davka menjabat tangan dokter.
"Iya sama‑sama, Alhamdulillah Allah sudah percayakan anak sama kamu, jaga baik‑baik istrimu ya, segera tebus resep ini dan kamu bawa istrimu ke rumah sakit secepatnya ya, aku akan memeriksa lebih teliti. Usia kandungannya baru sekitar delapan minggu, masih trimester pertama jadi harus ekstra siaga. Jadilah calon ayah yang siaga dan jangan sampai istrimu kelelahan, ingat jangan lupa pesanku tadi ya, aku pergi dulu ya Assalamualaikum" Ujar dokter Dinda sambil memberikan kertas resep itu pada Davka.
"Waalaikumsalam, kak Dinda terima kasih banyak sekali lagi, nanti aku kirim tagihan pemeriksaannya" Lelaki itu terus mengucapkan terima kasih.
"Oke Davka sante aja" Davka tersenyum dan Denny yang tadi jingkrak‑jingkrak dan menangis haru langsung tanggap mengantar dokter cantik itu dengan sopan sampai pintu depan apartemen.
"Tuan muda! Saya mau telepon Dino dulu, Yeay!!!! akhirnya saya mau punya keponakan baru!" Davka masih diam tercenung karena ini benar‑benar berita mengejutkan, tiba-tiba Nayyara hamil ketika dia sudah berencana menceraikan istri kontraknya. Davka berjalan ke tangga, dia melihat Bik Sumi mendekat dan memeluknya dengan bahagia.
"Tuan muda selamat ya, akhirnya insya Allah bibik akan melihat si kecil, Alhamdulillah bibik gak tahan nangis terus" Davka menepuk bahu wanita tua yang sudah dia anggap seperti ibunya itu, dia lalu masuk ke dalam setelah Bik Sumi bilang Nayyara ingin bertemu dengannya. "Terima kasih bibik sudah membantu saya menjaga Nayyara di sini"
"Ini sudah kewajiban bibik, ah Tuan muda masuklah, Non Nayyara sudah menunggu" Davka mengangguk lalu membuka pintu kamar, dia melihat seseorang sedang berbaring di ranjang memejamkan mata, begitu mendengar pintu tertutup dia menoleh pada lelaki itu.
"Hai~ Assalamualaikum Nayyara, boleh aku masuk?" Dia gugup dan bingung sendiri kenapa jadi kikuk begitu melihat Nayyara lagi, apa efek tidak bertemu istrinya selama hampir dua bulan membuat Davka jadi gugup.
"Waalaikumsalam Bang, masuklah Bang……" Nayyara tersenyum berusaha duduk, namun Davka mencegahnya dan membenahi bantal yang gadis itu pakai.
"Kamu tetap berbaring saja, dokter Dinda tadi bilang kamu nggak boleh kecapean"
"Maaf aku jadi merepotkan semua orang, gara‑gara aku pingsan" Davka tersenyum dan menggeleng, sungguh dia tak bisa lagi mendeskripsikan perasaannya saat ini, dia seperti merasa ini mimpi indah, dia sangat berterima kasih pada istri kontraknya itu.