NovelToon NovelToon
Penaklukan Sang Asisten

Penaklukan Sang Asisten

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Perjodohan / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Bhebz

Ketika efisiensi bertemu dengan kekacauan, siapa yang akan benar-benar menaklukkan siapa?

"Cinta bukan soal efisiensi, tapi tentang bagaimana ia membuatmu kehilangan kendali."

Kisah tentang Ben Arganza, asisten dingin dan merupakan bayangan Baron Frederick yang sedang menjadi target penaklukan seorang gadis ceroboh bernama Lala Narayan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bhebz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17 Bukan Karena Mirip

"Pergi dari sini! Sebelum saya berubah pikiran dan mengirimmu ke tempat yang sama dengan Nadya—di bawah sana, di mana napasmu akan berhenti bersama membusuknya rahasiamu."

Ben menghempaskan tubuh Lala hingga gadis itu terjatuh ke lantai marmer dengan suara dentuman yang menyakitkan. Lala terbatuk hebat, memegangi lehernya yang memerah, napasnya tersengal-sengal.

Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya—bukan karena akting, melainkan karena rasa sesak di dadanya yang bukan berasal dari cekikan itu. Ia menatap Ben dari bawah, dengan posisi yang masih menunjukkan kecerobohannya: rambut yang berantakan, jas yang sedikit miring, dan wajah yang tampak ketakutan.

"Tuan... Ben..." cicit Lala, suaranya serak. "Saya tidak... saya tidak berbohong soal perasaan saya... tolong..."

"Berhenti!" Ben membentak, tangannya mengepal erat hingga buku jarinya memutih. Ia membuang muka, tidak sanggup melihat sisa-sisa kepolosan yang dulu ia yakini nyata itu.

"Setiap detak jantungmu, setiap senyummu, setiap inci kecerobohanmu yang dulu menurut saya lucu—sekarang saya sadar itu adalah bagian dari kurikulum penghancuranmu!"

Ben melangkah maju, kakinya berhenti tepat di samping tubuh Lala yang masih tersungkur. Ia tidak menolongnya. Ia hanya menunjuk pintu keluar dengan telunjuk yang gemetar hebat, sebuah tanda bahwa di balik topeng dinginnya, hatinya sedang terkoyak.

"Pergi sebelum saya kehilangan kewarasan saya dan benar-benar menghabisi dirimu di sini. Keluar dari Frederick Group. Keluar dari hidup saya. Dan jika saya melihat bayang-bayangmu di sekitar sini lagi..." Ben membungkuk, wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari wajah Lala, matanya memancarkan ancaman murni, "saya tidak akan lagi peduli apakah kau informan atau bukan. Saya akan memburumu sampai ke lubang kubur terdalam."

Lala bangkit dengan susah payah, menyeka air matanya dengan kasar. Ia menatap Ben satu kali lagi—tatapan yang penuh dengan penyesalan yang tidak terkatakan—sebelum akhirnya ia berbalik dan berlari keluar dari ruangan itu dengan langkah yang terhuyung-huyung, persis seperti gadis yang pertama kali Ben temui di lobi.

Begitu pintu tertutup, Ben jatuh terduduk di kursi kerjanya. Ia menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, napasnya memburu.

Ia tahu ia baru saja melakukan kesalahan fatal. Dengan melepaskan Lala, ia membiarkan musuh yang tahu kelemahan terbesarnya berkeliaran bebas. Ia tahu ia seharusnya menahan gadis itu, menyiksanya untuk mendapatkan setiap detail rencana Mano Fransiska. Tapi, ada bagian dari dirinya yang tidak bisa—bagian yang sudah terlanjur "retak" dan tidak bisa lagi melihat Lala sebagai target.

Di ruang bawah tanah, Nadya mungkin sedang menanti ajal. Tapi di sini, di ruang kerja yang mewah ini, Ben Arganza baru saja kalah perang melawan perasaannya sendiri. Ia telah membuang "virus" itu, tapi ia tahu... virus itu sudah terlanjur menginfeksi sistem pertahanannya hingga ke inti terdalam.

Ben menatap tangannya yang tadi mencekik leher Lala. Masih ada jejak aroma parfum gadis itu di sana.

"Selamatkan dirimu, Lala," bisik Ben pada ruangan yang sepi. "Karena jika orang-orang Baron menemukanku membiarkanmu pergi, tidak akan ada yang bisa menyelamatkan kita berdua."

*

Di Mansion Frederick.

Gita menatap Baron dengan air mata yang merebak.

"Jadi karena aku hanya pengganti? Karena wajahku yang sangat mirip dengan mendiang istrimu?"

Baron yang sedang memeriksa tumpukan dokumen di meja kerjanya mendongak dengan cepat. Ekspresi dingin dan dominan yang biasa ia tunjukkan seketika melunak saat melihat genangan air mata di mata Gita. Ia segera berdiri, meninggalkan dokumen-dokumennya, dan menghampiri istrinya dengan langkah lebar.

"Siapa yang memberitahumu omong kosong seperti itu?" suara Baron dalam, penuh dengan rasa frustrasi dan kemarahan yang tertahan—bukan pada Gita, melainkan pada siapa pun yang berani meracuni pikiran istrinya.

Ia meraih tangan Gita, menggenggamnya erat, dan memaksanya untuk menatap matanya.

"Dengar, Gita. Pandang aku."

Baron menarik napas panjang, menatap wanita yang kini sudah menjadi pusat dunianya.

"Memang benar, saat pertama kali aku bertemu denganmu, wajahmu mengingatkanku pada Aleena. Itu fakta yang tidak bisa kubantah. Tapi, Gita... apakah kau benar-benar berpikir aku akan menghabiskan waktu dua tahun ini membangun kehidupan, berbagi ranjang, dan membesarkan Alba denganmu hanya karena 'kemiripan' wajah?"

Baron menarik Gita ke dalam pelukannya, memeluknya dengan protektif, seolah takut jika ia melepaskan, Gita akan menghilang.

"Aku mencintaimu bukan karena kau adalah bayang-bayang masa laluku," bisik Baron di dekat telinga Gita. "Aku mencintaimu karena keberanianmu menghadapi kekacauan di rumah ini, karena caramu memandang Alba dengan kasih sayang yang tulus, dan karena setiap kali kau tertawa, duniaku yang gelap terasa sedikit lebih terang. Kau adalah Gita. Kau bukan pengganti siapa pun."

Baron melonggarkan pelukannya, menyentuh pipi Gita dengan ibu jarinya, menghapus air mata yang jatuh.

"Apakah kau benar-benar merasa aku serendah itu? Bahwa aku akan menjadikan ibu dari anakku sebagai sekadar pajangan untuk mengobati luka lama?" Baron menatap mata Gita dengan intensitas yang sangat dalam. "Nadya mencoba menghancurkan kita dengan menanamkan keraguan. Jangan biarkan dia menang dengan cara mengabaikan apa yang telah kita bangun bersama selama ini."

Suasana ruangan itu mendadak hening, hanya terdengar napas berat Baron dan isak tangis Gita yang mulai mereda.

"Katakan padaku," lanjut Baron pelan, "apa yang sebenarnya dia katakan padamu? Selain soal Aleena? Karena aku tidak akan membiarkan wanita itu keluar dari ruang bawah tanah tanpa jawaban yang memuaskan atas penderitaan yang dia sebabkan padamu."

***

Like dan komen plis😁

1
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
sakit kerasnya itu pegangan hingga memutih itu buku"
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
darrrr derrrr dorrrr derrrr durrrrr pasti itu suara harinya ben.... uhhhhhh kayak mau turun hujan badai donk bun
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
karna semuanya di luar kendalimu...
jadi nikmati aja alurnya
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
aisssstttttt mulai menghayal yang tidak" dehhh lala
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
makanya la sedia air sebelum terbakar
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
berarti selama ini setiap keputusan nya selalu salah donk dalam hidupnya
nur annisa
tarik nafas huffft
nur annisa
baru muncul Thor 💪
Bubu
harus update pokoknya😄
Bubu
Ben pokoknya aku padamu🤭
Raffi975
update lagi dong Thor pliss😍
Raffi975
waduhh
Raffi975
lanjut Thor, kayaknya Mas Ben udah jatuh cintrong nih 🤭
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
Servis donk biar top cer lagi arus listriknya.... hihihi
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
tidak di pecat.. tapi di pikat... 😇🤭😃😄
Raffi975
kacian mas Ben, pertemukan lagi dong Thor
Raffi975
lanjut Thor
Raffi975
oh tidak
Raffi975
waduhhh plot twist nya keren
Raffi975
jangan mau dipengaruhi sama Nadya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!