Kelvin, pria dingin dan pewaris perusahaan besar, terpaksa menikahi Denada atas permintaan sang nenek. Awalnya ia menolak karena masih mencintai wanita lain.
Namun setelah hidup bersama, Kelvin mulai tergoda oleh Nada istrinya yang cantik, jahil, dan selalu berhasil membuatnya kehilangan kendali, terutama saat Nada mulai berani menggoda dirinya.
Di tengah pernikahan tanpa cinta, Kelvin perlahan mulai bingung… siapa sebenarnya wanita yang benar-benar ia cintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26
"Tidak... jangan, Nada. Buka matamu!" gumam Kelvin. Suaranya pecah, nyaris berbisik karena tenggorokannya mendadak tercekat.
Dunia Kelvin seolah berhenti berputar. Pemandangan di depannya—istrinya yang terbaring kaku dengan gaun putih yang kini berubah warna menjadi merah pekat oleh darah—membuat pasokan oksigen di dadanya menipis drastis. Kelvin berlutut di atas tanah yang kotor, tangannya gemetar hebat saat ia mencoba menyentuh pipi Nada yang sedingin es. Tidak ada respons. Tidak ada helaan napas yang teratur. Hanya keheningan yang menyiksa.
"Panggil ambulans sekarang! Cepat!" teriak Kelvin, raungannya memecah kebisingan lokasi proyek.
Dalam hitungan menit, sirine ambulans meraung-raung membelah kesunyian area pedesaan. Di dalam ambulans yang melaju dengan kecepatan tinggi, Kelvin tak melepaskan tangan Nada sedetik pun. Ia terus menggenggam jari-jemari yang terkulai lemah itu, mencoba menyalurkan kehangatan, sementara paramedis berjuang menekan luka di kepala Nada yang terus mengeluarkan darah. Setiap kali detak jantung di monitor berbunyi, Kelvin merasa napasnya tersengal.
Di koridor Rumah Sakit Umum Daerah, Kelvin mondar-mandir seperti orang kehilangan akal. Kemeja proyeknya yang berlumuran darah Nada seolah menjadi bukti nyata atas kelalaiannya. Ia tidak memedulikan tatapan orang-orang, tidak memedulikan pekerjaannya, yang ia inginkan hanyalah pintu ruang UGD terbuka dan seorang dokter keluar membawa kabar baik.
Tak lama kemudian, seorang dokter bedah keluar dengan wajah letih. Kelvin langsung mencengkeram lengan dokter tersebut. "Bagaimana keadaannya? Katakan dia baik-baik saja!"
Dokter itu menghela napas panjang, menatap Kelvin dengan sorot mata yang serius. "Pasien kehilangan banyak sekali darah akibat luka benturan yang cukup dalam di bagian kepala dan trauma benda tumpul di bahu serta punggungnya. Kami harus segera melakukan transfusi darah darurat. Kami sudah berupaya maksimal, tapi kondisinya kritis. Lima belas menit saja terlambat dibawa ke sini, mungkin fatal akibatnya."
Kata-kata itu menghantam Kelvin layaknya palu godam. Kehilangan banyak darah.
Kelvin terduduk lemas di kursi tunggu. Rasa bersalah yang hebat mulai menggerogoti jiwanya. Ia memejamkan mata, membiarkan bayangan kejadian tadi berputar. Nada, wanita yang semalam ia perlakukan dengan begitu kasar dan egois, wanita yang ia ancam habis-habisan demi urusan desa, justru menjadi orang pertama yang mengorbankan nyawanya demi menyelamatkan Kelvin.
"Kenapa, Nada? Kenapa kau melakukan itu?" desis Kelvin frustrasi.
Ia benar-benar tidak mengerti jalan pikiran istrinya. Mengapa Nada mau mempertaruhkan nyawa untuk pria yang selalu membuatnya menangis dan menderita? Mengapa di saat ia paling membenci Kelvin karena sikapnya, ia justru memilih untuk berdiri di depan maut demi melindunginya?
Kelvin menyembunyikan wajahnya di balik kedua telapak tangannya yang masih berbau anyir darah Nada. Di balik sikap dingin dan arogan yang selalu ia tunjukkan, pertahanan Kelvin runtuh. Ia merasa menjadi pria paling jahat di dunia. Rasa sesal itu datang terlambat, mengiris hatinya jauh lebih perih daripada luka fisik mana pun yang pernah ia rasakan.
"Bodoh..." gumam Kelvin dengan suara parau, air mata yang selama ini ia kunci akhirnya jatuh, membasahi lantai rumah sakit yang dingin. "Kenapa kau begitu bodoh, Nada? Kau membenciku, seharusnya kau membiarkanku mati di sana..."
Suara langkah kaki yang tergesa-gesa memecah keheningan koridor rumah sakit yang dingin. Dari ujung lorong, seluruh keluarga besar Alexander datang dengan wajah yang dipenuhi kepanikan luar biasa. Eyang Arka berjalan dituntun oleh Gavin, sementara Siska berlari setengah menyusul di depan dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.
"Kelvin! Bagaimana bisa ini terjadi?! Di mana Nada?!" seru Siska histeris begitu melihat putranya duduk sendirian di depan pintu ruang operasi.
Siska dan Gavin sebenarnya sudah bersiap untuk memarahi Kelvin habis-habisan. Mereka mengira Kelvin bertindak ceroboh atau mengabaikan istrinya lagi di lokasi proyek hingga kecelakaan mengerikan ini bisa terjadi. Namun, begitu mereka melangkah mendekat, kata-kata kemarahan itu seketika tertahan di tenggorokan.
Kondisi Kelvin benar-benar hancur. Kemeja putih mahal yang dikenakannya kini kotor, koyak, dan dipenuhi noda darah merah pekat milik Nada. Pria yang biasanya berdiri tegak penuh keangkuhan itu kini tampak begitu rapuh, duduk membungkuk dengan kedua tangan menjambak rambutnya sendiri, dan bahunya bergetar hebat karena sisa tangisan yang tertahan. Tatapan matanya kosong, menyiratkan rasa bersalah yang teramat dalam.
Melihat kondisi putranya yang seperti orang kehilangan nyawa, Siska tidak tega untuk memarahi. Ia justru berlutut di depan Kelvin dan memeluk pundaknya yang tegang. "Kelvin... katakan pada Mama, bagaimana kondisi Nada sekarang, Nak?"
"Dia... kehilangan banyak darah, Ma," jawab Kelvin dengan suara yang teramat serak dan parau, tanpa berani menatap mata ibunya. "Dia menyelamatkanku... Seharusnya pipa itu mengenai ku, tapi dia malah mendorongku..."
Eyang Arka mengembuskan napas berat, bersandar pada tongkat kayunya dengan tatapan mata yang mendung. Pria tua itu memejamkan mata sejenak, ikut merasakan sesak di dadanya. "Anak itu... ketulusannya benar-benar luar biasa. Dia bahkan tidak memikirkan nyawanya sendiri demi kamu, Kelvin."
Gavin hanya bisa menepuk pundak Kelvin dengan kokoh, memberikan kekuatan yang tak kasat mata pada putranya. "Sudah, jangan bicara apa-apa lagi. Kita tunggu di sini bersama-sama sampai operasi ini selesai."
Akhirnya, mereka semua memilih tenggelam dalam keheningan doa masing-masing di koridor rumah sakit, menemani Kelvin yang terus menatap lampu merah tanda operasi masih berlangsung dengan jantung yang berdebar ngilu.
Tiga jam berlalu bagaikan berabad-abad bagi Kelvin. Ketika jam dinding rumah sakit menunjukkan pukul lima sore, lampu di atas pintu ruang operasi akhirnya padam. Pintu geser itu terbuka, dan dokter bedah yang tadi menangani Nada melangkah keluar sembari melepas masker medisnya.
Kelvin dan seluruh keluarga Alexander seketika bangkit berdiri dan langsung mengerumuni sang dokter.
"Dokter, bagaimana operasi menantu saya?" tanya Siska dengan suara yang gemetar menahan tangis.
Dokter itu mengulas sebuah senyuman tipis, memberikan sedikit kelegaan di tengah ketegangan yang pekat. "Puji Tuhan, operasinya berjalan dengan lancar. Kami sudah berhasil menghentikan pendarahan di kepalanya dan memberikan transfusi darah yang cukup untuk menstabilkan kondisinya. Cedera di bahu dan punggungnya juga sudah kami tangani dengan baik."
Kelvin mengembuskan napas panjang yang sedari tadi menyumbat dadanya, seolah seluruh beban dunia baru saja diangkat dari pundaknya. "Lalu, kapan dia akan sadar, Dok?" tanya Kelvin cepat.
"Saat ini efek obat biusnya masih sangat kuat, dan tubuhnya butuh istirahat total untuk memulihkan energi yang terkuras," jelas sang dokter sembari melihat papan catatannya. "Kemungkinan besar, Nyonya Denada baru akan bangun nanti malam hari. Kami akan memindahkannya ke ruang perawatan intensif sekarang agar pihak keluarga bisa mendampingi."
Setelah memberikan penjelasan dan instruksi singkat, dokter tersebut mengangguk takzim kepada Eyang Arka dan Gavin, lalu melangkah pergi meninggalkan koridor bersama para perawat.