NovelToon NovelToon
Dibuang Suami, Dicintai Presdir Tampan.

Dibuang Suami, Dicintai Presdir Tampan.

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Penyesalan Suami
Popularitas:18.1k
Nilai: 5
Nama Author: Sylvia Rosyta

Lima tahun menikah, Kanisha Rayya Shanika selalu percaya bahwa rumah tangganya bersama sang suami, Arven Mahendra, akan berjalan harmonis untuk selamanya. Ia rela menekan mimpinya sendiri demi menjadi istri sempurna dan ibu terbaik bagi anak angkat yang sangat ia cintai. Namun semua kepercayaan itu runtuh dalam satu malam.
Kanisha memergoki Arven berselingkuh dengan sekretaris pribadinya sendiri—wanita yang selama ini ia anggap hanya rekan kerja biasa. Belum sempat pulih dari pengkhianatan itu, kenyataan yang jauh lebih kejam kembali menghantamnya. Anak angkat yang ia rawat dengan penuh kasih ternyata adalah darah daging hasil hubungan terlarang suaminya dengan sang selingkuhan.

Dikhianati sebagai istri sekaligus dipermainkan sebagai seorang ibu, Kanisha memilih pergi dan mengakhiri pernikahan yang telah menghancurkan hidupnya. Dengan tekad untuk bangkit, Kanisha mulai membangun hidup baru dan membuktikan bahwa dirinya bukan wanita lemah yang bisa diinjak begitu saja.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

"Masih." Kanisha terdiam sementara Rendra melanjutkan perkataannya. "Sejak kamu menikah dengan Arven lima tahun lalu..." Pria itu berhenti untuk sesaat. "Mama dan papa memang terus membantu perusahaan mereka." Kanisha menatapnya lekat sementara Rendra tersenyum tipis, senyuman yang tidak sepenuhnya bahagia. "Awalnya karena perusahaan mereka sedang kesulitan."

Kanisha mengangguk pelan. Ia tahu itu dan bahkan sangat tahu. Lima tahun lalu kondisi perusahaan keluarga Mahendra memang tidak sebaik sekarang. Banyak proyek yang gagal, arus kas bermasalah hingga membuat beberapa investor mundur. Dan saat itulah keluarga Winata turun tangan.

"Mereka menerima suntikan dana?" Tanya Kanisha yang membuat Rendra mengangguk.

"Berkali-kali." Kanisha terdiam sementara Rendra melanjutkan perkataannya. "Papa bantu memberi mereka modal operasional, bantuan proyek, investasi, akses jaringan bisnis, hingga mendapatkan beberapa kontrak besar."

Kanisha semakin terdiam karena ternyata bantuan yang diberikan keluarganya jauh lebih besar daripada yang selama ini ia ketahui. Rendra kemudian menatap putrinya.

"Dan sampai sekarang bantuan itu masih berjalan."

Deg, untuk pertama kalinya ekspresi Kanisha berubah. Bukan karena terkejut melainkan karena kecewa. Ia perlahan menundukkan pandangannya lalu tertawa kecil, namun tawa itu sama sekali tidak mengandung kebahagiaan. Lucu, sungguh lucu. Keluarganya membantu keluarga Mahendra selama lima tahun. Papanya terus memberi dukungan, membantu mereka berdiri, memberikan kepercayaan, sementara sebagai balasannya, Arven menghancurkan putri mereka. Kanisha memejamkan matanya sesaat sembari berusaha menahan emosinya.

Kemudian ia kembali membuka matanya dengan tatapannya yang jauh lebih tenang, dingin dan rasional.

"Pa." Rendra memperhatikannya. "Keluarga Mahendra seharusnya sudah bisa berdiri sendiri." Kalimat itu membuat Rendra terdiam, karena ia tahu kalau putrinya benar. "Lima tahun bukan waktu yang sebentar." Lanjut Kanisha. "Mereka sudah cukup lama mendapatkan bantuan." Rendra tidak menyela sementara Kanisha terus berbicara. "Kalau setelah lima tahun mereka masih bergantung pada bantuan keluarga Winata..." Ia berhenti sejenak. "Maka ada yang salah dengan cara mereka mengelola perusahaan."

Ruangan kembali sunyi, Rendra mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut putrinya. Dan semakin ia mendengar, semakin ia menyadari sesuatu. Kanisha sedang melihat situasi ini sebagai seorang pemimpin perusahaan, bukan sebagai mantan istri Arven ataupun sebagai korban, melainkan sebagai wakil pimpinan Winata Group. Dan sudut pandang itu jauh lebih objektif.

"Papa." Kanisha kembali berbicara. "Kita sudah membantu mereka cukup lama." Rendra perlahan mengangguk. "Sangat lama. Kita bukan investor utama mereka, Kita juga bukan penanggung jawab perusahaan mereka. Maka sudah waktunya mereka berdiri sendiri."

Kalimat itu menggantung di udara dan entah kenapa terdengar sangat masuk akal. Sangat masuk akal sampai Rendra tidak bisa membantahnya karena memang benar selama lima tahun terakhir, keluarga Winata terlalu banyak membantu, terlalu banyak memberi kesempatan, terlalu banyak menopang, bahkan ketika perusahaan Mahendra mulai stabil sekalipun. Bantuan itu tetap berjalan. Awalnya karena Kanisha adalah istri Arven dan karena Rendra ingin putrinya hidup nyaman hingga ingin rumah tangga putrinya berjalan baik, Namun sekarang semuanya sudah berubah. Rumah tangga itu sudah berakhir dan alasan untuk terus membantu pun perlahan menghilang.

Kanisha kembali duduk di kursinya lalu berkata pelan.

"Kanisha nggak bilang kita harus menghancurkan mereka." Rendra mengangguk karena ia paham. "Tapi mereka harus belajar berdiri dengan kaki mereka sendiri."

Kali ini Rendra tersenyum kecil karena sekali lagi putrinya benar. Pria itu kemudian menyandarkan tubuhnya ke kursi, memandangi langit kota di balik kaca besar dan memikirkan semuanya. Dan hasil akhirnya? Putrinya itu justru pulang ke kediaman mereka dengan hati yang hancur sementara Arven menggunakan kartu kredit Kanisha untuk membelikan tas mewah kepada selingkuhannya.

Semakin dipikirkan, semakin tidak masuk akal. Akhirnya Rendra menghela napas panjang lalu mengambil ponselnya. Keputusannya sudah bulat, ia menekan nomor tertentu hingga beberapa detik kemudian sambungan telepon pun tersambung.

"Halo." Suara tegas Rendra langsung terdengar. "Saya Rendra Winata." Kanisha memperhatikan dari kursinya. "Tolong lakukan pemblokiran kartu kredit tambahan atas nama pengguna Kanisha Rayya Shanika." Ia berhenti sejenak untuk mendengarkan jawaban dari seberang sana. "Ya, efektif mulai hari ini."

Kanisha memperhatikan ayahnya tanpa berkata apa-apa dan entah kenapa ada kepuasan kecil di dalam dadanya karena akhirnya ia mulai mengambil kembali apa yang memang menjadi haknya. Beberapa menit kemudian panggilan pertama selesai namun Rendra belum berhenti. Ia kembali mengambil telepon kantor dan menekan nomor lain yang merupakan bagian keuangan perusahaan.

"Halo." Nada suaranya tetap tenang namun tegas. "Saya ingin seluruh bantuan modal rutin untuk perusahaan Mahendra Corporation dihentikan."

Kanisha membeku untuk sesaat. Meski tadi ia yang mengusulkan untuk menghentikan pemberian bantuan kepada perusahaan milik keluarga Mahendra namun tetap saja ada perasaan aneh ketika mendengar keputusan itu benar-benar dilakukan oleh papanya. Di sisi lain Rendra masih melanjutkan pembicaraannya dengan orang yang berada di sambungan telepon

"Ya, tidak perlu ada perpanjangan dan pencairan berikutnya. Semua program dukungan kepada perusahaan Mahendra dihentikan." Beberapa detik kemudian ia kembali berbicara. "Kalau ada kontrak yang masih berjalan, selesaikan sesuai prosedur. Tapi setelah itu tidak ada lagi suntikan dana baru."

Kanisha menatap papanya dan untuk pertama kalinya ia benar-benar menyadari sesuatu.

Babak hidupnya bersama Arven memang sudah selesai. Bukan hanya secara perasaan tetapi juga secara bisnis, finansial dan keseluruhan. Tidak ada lagi kartu kredit, bantuan, perlindungan maupun fasilitas yang selama ini diam-diam menopang keluarga Mahendra.Kini mereka harus berjalan sendiri.

Dan Rendra akhirnya meletakkan telepon itu kembali ke atas meja. Keputusan sudah dibuat. Kartu kredit Kanisha telah diblokir, suntikan dana kepada perusahaan keluarga Mahendra telah dihentikan dan tanpa mereka sadari, dua keputusan yang diambil pagi itu akan segera menciptakan gelombang besar yang dalam waktu dekat mulai mengguncang kehidupan Arven dan seluruh keluarga Mahendra.

Sementara itu di tempat lain, Gedung Mahendra Corporation pagi itu tampak seperti biasa dari luar—rapi, sibuk, penuh aktivitas bisnis yang berjalan tanpa jeda. Namun di dalam ruang direksi lantai atas, suasananya jauh lebih tegang dari biasanya. Arven duduk di ujung meja panjang ruang pertemuan itu, dasinya sedikit longgar, sementara di hadapannya beberapa dokumen kontrak sudah tersusun rapi. Di sampingnya, ayahnya—Pak Damar Mahendra—terlihat lebih serius dari biasanya. Pria paruh baya itu menatap layar Ipad-nya yang berisi rincian kerja sama terbaru mereka dengan perusahaan besar yang sudah mereka kejar sejak lama.

“Kalau ini berhasil,” ujar Pak Damar pelan, “Mahendra Corporation akan naik satu level lagi.”

Arven mengangguk ringan, walaupun di wajahnya tidak benar-benar terlihat antusias yang berlebihan. Bagi Arven, kerja sama ini hanyalah satu dari sekian banyak kesepakatan bisnis yang biasa ia jalankan. Yang penting, uang masuk, proyek jalan, reputasi naik. Di atas meja, dokumen bertuliskan Tender Kerja Sama Perusahaan Berlian Jaya sudah diberi tanda paraf awal. Semua sudah disepakati, harga sudah dinegosiasikan, dan tinggal satu langkah terakhir: pengiriman dana komitmen sesuai perjanjian.

1
Rain Aricia
Bagus banget sih ini, emosinya dapat. Mc nya gak menye2 dan langsung gerak🤩
Rain Aricia
Papanya aku suka, langsung gercep
Rain Aricia
Malu lah ya, masa jadi laki2 ga punya duit, mana dia selingkuh pake duit istrinya. Kocak kali dua sejoli ini🤣
Rain Aricia
Memang gilanya Arven itu, orang2 kayak gitu emang merasa ga ada dosa sih
Rain Aricia
Biasalah pa, ulahnya si lelaki tak tau diri itu
partini
si kamfreeet belum juga sadar
Noey Aprilia
Hai kk...
Aku udh mmpir....slm knal....
dr awl aku udh gedek sm s pcundang...kya'nya dia emng ga pnya hti,smp tega ngucapin kta2 mnyakitkn sm istrinya...mnimal kl dia pnya hti,diem aja....kl mau psah,tnggal psah.....yg bkin dngkol,ga ngrsa brslah sm skli.....sntai bgt mlah....
tp abs ni prshaannya bkln hncur,scra pd tngkt dewa kl slma ni bs skses krna usaha sndri....pdhl tnp bntuan istrinya,udh bmgkrut dr dlu kaleee.....😡😡😡
Noey Aprilia: sama2.....smnggtt...😘😘😘
total 2 replies
Suhadi Mulyo
The best 👍👍👍👍👍👍👍

dari semua karyamu , aku selalu suka dengan semua jalan ceritanya kak. Alurnya pas, konfliknya ada, jalan ceritanya rapi dan nggak putus di tengah jalan.
terus tingkatkan semua ceritanya supaya lebih baik kak, aku suka semua🤭☺️
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️: terima kasih banyak kak 🙏😍
total 1 replies
Suhadi Mulyo
mampus
Suhadi Mulyo
alasannya itu Mulu kamu ven
Suhadi Mulyo
teruskan pak, buat mereka sadar dan tahu diri kl perlu.
Suhadi Mulyo
menantu apanya? anaknya sendiri selingkuh masa bapaknya nggak tahu
Suhadi Mulyo
kata siapa keluarga? udah enggak ya, sorry nih 🤣🤣🤣
Suhadi Mulyo
tanya saja sama anakmu, pak.
Suhadi Mulyo
dengerin, makanya jadi orang itu yang punya sedikit rasa syukur, udah dikasih bantuan plus istri cantik malah banyak tingkah 🤣🤣🤣
Suhadi Mulyo
cowok selingkuh bermuka tebal🤣🤣🤣
Suhadi Mulyo
makanya jadi cowok tu jangan kebanyakan polah
Suhadi Mulyo
nggak malu ta pak sampe datang ke besan cuma mau nanya soal bantuan? waduh bapak anak nggak ada malunya
Suhadi Mulyo
kalau begini terus kerjaannya mereka, ya bangkrut lagi perusahaannya.
Suhadi Mulyo
kamu nggak denger ya ven apa kata asisten kamu tadi? udah red flag, tuli juga.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!