Tak memiliki apa pun selain namanya, Kenzo bertahan hidup di dunia yang kejam. Bagi orang lain, mimpi adalah sesuatu yang bisa dikejar. Baginya, mimpi hanyalah kemewahan yang selalu direnggut oleh kenyataan.
Hingga suatu hari, sebuah antarmuka emas muncul di hadapannya.
Sistem Gacha.
Jaminan 100%.
Setiap putaran selalu menghadiahkan sesuatu yang nyata. Kemampuan, artefak, teknik, bahkan kekuatan yang sanggup mengubah takdir. Dengan sistem itu, Kenzo tak lagi sekadar bermimpi. Ia akan menapaki jalan menuju puncak dan menyingkirkan siapa pun yang berani menghalangi langkahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33
Kehangatan teh herbal itu masih tersisa di tenggorokannya, perlahan menjalar ke seluruh tubuh dan mengendurkan otot-otot tingkat Perak miliknya yang sempat tegang. Di dalam suaka reruntuhan batu basal yang tersembunyi ini, kabut malam terasa begitu dekat, namun tertahan oleh dinding sihir yang tak terlihat.
Pada lengan kiri Kenzo, sesosok tubuh mungil masih menempel erat bagaikan koala. Azzy mendengus pelan, sepasang matanya yang bulat sesekali melirik tajam ke arah Errinth setiap kali wanita itu bergerak mendekat.
"Biar saya rapikan cangkirnya, Tuanku," ucap Errinth lembut.
Dengan gerakan anggun, Sang Ratu Naga mengambil cangkir kosong di atas batu. Ia tersenyum tipis, jenis senyum hangat yang sama sekali mengabaikan tatapan bermusuhan dari Azzy yang masih cemberut di samping Kenzo.
Kenzo hanya mengangguk pelan sebagai respons. Pikirannya kini teralihkan oleh hal lain yang lebih menarik. Ia memanggil kembali kepingan logam kelabu kusam yang didapatkannya dari tarikan Gacha kesepuluh tadi.
Logam tipis itu kembali mendarat di telapak tangan Kenzo. Benda itu terasa dingin, tidak memiliki sudut tajam, bahkan tidak memancarkan hawa murni atau energi sihir apa pun. Sebelum ini, layar sistem hanya melabelinya sebagai anomali yang tidak diketahui.
'Pasti ada kegunaan yang menarik dari benda ini,' pikir Kenzo dalam hati.
Kenzo memusatkan perhatiannya pada benda tersebut.
Seketika, layar antarmuka berwarna emas di depan matanya.
[Status Item...]
[Kualitas: Emas]
[Item: Jangkar Pengikat Realitas]
[Deskripsi: Benda statis berkelas Emas. Menolak konsep penghapusan dan ketiadaan. Mengunci eksistensi target secara mutlak pada koordinat kausalitas dasar dunia fisik. Benda ini tertidur hingga dihadapkan pada anomali eksistensial.]
"Tingkat Emas..." bisik Kenzo pelan.
Mata hitamnya memantulkan pendaran emas yang begitu menyilaukan. Ia baru saja mendapatkan barang tingkat tertinggi hanya dari tarikan harian biasa tanpa menggunakan jaminan 100%. Peluang murninya bahkan tidak sampai satu persen, namun keberuntungannya malam ini benar-benar tidak masuk akal.
Ledakan cahaya itu rupanya langsung menarik perhatian Mystrul. Sang Penyihir Agung yang sejak tadi diam seperti patung di sudut pilar gelap kini mulai melangkah maju. Sepasang mata peraknya menyipit penuh minat.
"Sungguh artefak yang menarik, Tuanku," ujar Mystrul dengan nada bicaranya yang datar namun jelas terkesan kagum. Ia menundukkan kepala sedikit sebelum melanjutkan. "Tuan Kenzo, benda itu tidak terikat oleh hukum sihir atau fisika apa pun. Ia adalah pemberat bagi kenyataan. Sesuatu yang bisa memaksa hal tidak nyata menjadi nyata, sekaligus mencegah suatu keberadaan dihapus dari dunia ini."
"Sangat terang! Azzy tidak suka cahaya ini!" protes Azzy tiba-tiba.
Gadis kecil itu langsung membenamkan wajahnya ke dalam jaket Kenzo. Ia memeluk lengan tuannya lebih erat sambil menggerutu tidak nyaman. Sebagai makhluk yang lahir dari ketiadaan, wajar jika ia merasa terganggu oleh benda tingkat Emas yang menolak konsep tersebut.
Errinth kembali mendekat, menatap benda di tangan Kenzo dengan pandangan penuh rasa hormat. "Hanya seorang penguasa sejati yang bisa menarik keberuntungan mustahil seperti ini dengan tangannya sendiri, Tuanku. Namun ... sebuah jangkar sebesar ini tidak akan muncul jika tidak ada badai besar yang mendekat."
Ucapan Errinth langsung menyenggol kecurigaan terdalam Kenzo. Ia mengepalkan telapak tangannya, membuat cahaya emas itu meredup dan kembali ke wujud kelabu kusamnya sebelum menyimpannya ke dalam Penyimpanan Tak Terbatas.
Sistem baru saja memberinya senjata untuk melawan sesuatu yang tidak kasat mata. Ini berarti musuh baru yang akan ia hadapi kemungkinan akan butuh usaha dari benda ini.
"Mystrul," panggil Kenzo, suaranya terdengar dingin dan taktis.
"Saya mendengarkan, Tuan."
"Aku akan memberikan tugas kepada kalian," perintah Kenzo tegas.
"Kehendak Anda adalah perintah mutlak kami," jawab Errinth dan Mystrul bersamaan dengan kepatuhan penuh.
Azzy akhirnya mengangkat wajahnya, mengusap matanya yang masih sedikit silau sebelum mendengus sombong. "Kalau ada musuh yang berani datang, biar Azzy telan saja mereka sampai habis!"
Kenzo tersenyum tipis mendengar celotehan itu. Ia kemudian melangkah mendekati celah pilar, menatap jauh ke balik kabut tebal hutan yang membatasi suaka rahasianya.
"Baiklah, sebelumnya..."