Tio Yong Ing menghabiskan seluruh hidupnya untuk keluarga.
Ia bekerja tanpa henti, menelan setiap hinaan, dan menyerahkan setiap rupiah yang ia punya — semua demi anak-anaknya. Hasilnya? Di usia 70 tahun, ia terbaring sendirian di panti jompo. Suaminya sudah tiada. Keenam anaknya tak pernah menjenguk. Keponakannya bunuh diri karena tak ada yang melindunginya.
Lalu Yong Ing meninggal.
Dan terbangun lagi — di usia 50 tahun, dengan semua ingatan tentang masa depan yang belum terjadi.
Kali ini, ia tahu siapa yang akan berkhianat. Siapa yang akan menderita. Dan kapan semuanya akan runtuh.
Kali ini, Ibu tidak akan mengalah lagi.
Langkah pertama? Merampas kembali seluruh keuangan keluarga. Langkah kedua? Menyelamatkan menantunya yang sedang sekarat melahirkan — karena di kehidupan sebelumnya, ia terlambat. Langkah ketiga? Membongkar pengkhianatan suami saudara iparnya sebelum terlambat.
Dan itu baru tiga hari pertama.
Di keluarga besar Tionghoa-Indonesia di Semarang, di mana nama keluarga adalah segalanya dan rahasia bisa membunuh — Yong Ing akan membangun kembali segalanya dari nol. Dengan sandal jepit di tangan kanan dan buku tabungan di tangan kiri, ia akan mengubah keluarganya dari pedagang kecil di Pecinan menjadi nama yang disegani di seluruh kota.
Tapi mengubah nasib enam anak yang sudah dewasa ternyata lebih sulit dari yang ia bayangkan. Terutama ketika mereka semua mulai curiga: *sejak kapan Mama jadi setajam ini?*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tere Nusa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16
Bab 016: Putus dengan Keluarga Tong
"Sudah waktunya ditagih."
Pagi berikutnya, Vanessa baru membuka mata ketika Margaret mengetuk pintu kamarnya.
"Bangun. Pulang ke rumah Tong."
Vanessa duduk mendadak. Matanya masih bengkak. "Mama mau apa lagi?"
"Menagih utang."
Wajah Vanessa langsung pucat. "Ma, jangan. Kalau Mama datang, mereka pasti bilang aku membawa mertua menyerang keluarga sendiri."
Margaret menatapnya.
"Kemarin saat anakmu pulang dengan pipi merah, mereka masih keluarga sendiri?"
Vanessa tidak bisa menjawab.
Satu jam kemudian, rombongan keluarga Lim berdiri di depan rumah Tong. Margaret di depan. Daniel di sampingnya. Adrian membawa Ryan dan Kevin yang masih takut. Jason menggulung lengan baju. Oscar berdiri paling belakang, wajahnya sudah tegang meski belum tahu harus memukul siapa. Vanessa berjalan dengan kepala tertunduk.
Mama Vanessa membuka pintu dan langsung berubah wajah.
"Vanessa, kamu bawa satu keluarga ke sini untuk apa?"
Margaret tersenyum sopan.
"Menagih utang dan meminta ganti rugi."
Dari dalam, Papa Vanessa keluar. Dua saudara laki-laki Vanessa menyusul, wajah mereka tidak ramah.
"Utang apa?" Papa Vanessa bertanya.
Daniel mengeluarkan kertas lama dari map plastik. "Tujuh tahun lalu, keluarga Tong pinjam Rp 1.770.000 untuk biaya renovasi atap. Katanya tiga bulan dikembalikan. Sampai sekarang belum."
Mama Vanessa langsung berteriak, "Itu urusan orang tua dulu! Lagipula kita besan."
"Justru karena besan, kami menunggu tujuh tahun," kata Margaret.
Adrian maju satu langkah. "Kemarin anak-anak saya pulang dari sini dengan luka. Saya minta biaya periksa dan ganti rugi Rp 2.000.000."
Salah satu saudara Vanessa tertawa kasar. "Anak kecil berkelahi saja minta dua juta? Keluarga Lim sekarang miskin sekali?"
Jason langsung menunjuknya. "Ulangi."
"Jay," kata Margaret.
Jason menahan diri, tetapi otot rahangnya bergerak.
Papa Vanessa meludah ke samping. "Kami tidak bayar. Kalau datang untuk ribut, pulang."
Margaret membuka dompet kain dan mengeluarkan catatan. "Rp 1.770.000 utang lama. Rp 2.000.000 ganti rugi anak. Tambahan Rp 200.000 untuk obat dan ongkos. Total Rp 3.970.000."
Mama Vanessa hampir melompat. "Kamu memeras!"
"Aku menghitung."
Margaret mengangkat kertas itu lebih tinggi, cukup agar dua tetangga yang sudah berdiri di pagar bisa melihat. "Tanda tangan Papa Tong ada di sini. Kalau kalian bilang ini palsu, kita panggil ketua RT sekarang. Kalau kalian bilang anak-anak jatuh sendiri, kita bawa Ryan dan Kevin ke klinik, minta surat pemeriksaan, lalu lapor siapa yang mendorong mereka."
Wajah salah satu saudara Vanessa berubah. Ia melirik anak-anaknya yang mengintip dari balik pintu.
Mama Vanessa makin panik. "Kamu mau mempermalukan kami di depan tetangga?"
"Kemarin saat cucuku menangis di halaman ini, kalian tidak takut malu."
"Itu anak-anak!"
"Justru karena anak-anak, orang dewasa yang harus bertanggung jawab."
Seorang tetangga perempuan berbisik cukup keras, "Kalau ada kertas utang, ya bayar saja. Jangan sampai sampai RT."
Bisikan itu menyambar Mama Vanessa seperti tamparan. Dalam lingkungan seperti ini, perkara utang lebih memalukan daripada pertengkaran. Pertengkaran bisa disebut salah paham. Utang yang ditunjukkan di depan pagar menjadi cerita arisan selama berbulan-bulan.
"Vanessa!" Mama Vanessa berteriak pada putrinya. "Kamu diam saja melihat mertuamu menghina orang tua sendiri?"
Vanessa gemetar.
Semua mata menatapnya.
Dulu, ia akan langsung berdiri di pihak ibunya. Dulu, satu teriakan dari rumah Tong cukup membuatnya merasa bersalah. Tetapi di belakangnya, Ryan memegang ujung bajunya. Di sampingnya, Kevin masih menyembunyikan siku yang kemarin lecet.
Vanessa membuka mulut.
"Ma... kemarin anak-anakku dipukul."
Mama Vanessa terdiam sekejap, lalu wajahnya mengeras. "Anak-anak biasa berkelahi. Jangan lebay."
Sesuatu di wajah Vanessa pecah.
Adrian melihatnya.
Margaret juga.
Papa Vanessa mengibaskan tangan. "Tidak ada uang. Selesai."
Ia hendak menutup pintu.
Daniel menahan daun pintu dengan satu tangan.
"Belum selesai."
Papa Vanessa mendorongnya.
Dorongan itu tidak terlalu keras, tetapi cukup.
Daniel tidak jatuh. Ia justru menatap Papa Vanessa dengan wajah yang jarang dilihat keluarganya: wajah laki-laki pendiam yang akhirnya berhenti mundur.
"Saya datang baik-baik," kata Daniel. "Jangan paksa saya lupa bahwa anak saya dan cucu saya juga punya harga diri."
Papa Vanessa tertawa mengejek. "Harga diri? Kalian datang bergerombol menagih uang receh."
Adrian yang sejak tadi menahan marah akhirnya berkata, "Uang receh itu tujuh tahun tidak bisa kalian kembalikan."
Kalimat Adrian membuat beberapa tetangga tertawa kecil. Tawa itu pendek, tetapi cukup membuat wajah Papa Vanessa merah padam.
Margaret bergerak lebih cepat daripada semua orang. Tangannya menampar lengan Mama Vanessa yang hendak menarik Vanessa ke dalam.
"Jangan sentuh menantuku kalau tidak mau bayar utangmu."
Mama Vanessa menjerit. "Kamu pukul aku?"
"Belum puas? Mau lagi?"
Dalam satu detik, halaman rumah Tong berubah kacau.
Saudara laki-laki Vanessa maju ke arah Adrian. Jason langsung menyambut satu orang dengan dorongan bahu sampai laki-laki itu mundur menabrak pot. Oscar, yang sejak tadi bingung, akhirnya berdiri di depan Ryan dan Kevin sambil merentangkan tangan.
"Anak-anak jangan dekat!"
Adrian, yang biasanya paling rapi, hampir jatuh saat salah satu saudara iparnya menarik kerahnya.
"Kalau aku mati di sini," Adrian berteriak panik, "Vanessa dan tiga anakku kalian yang tanggung!"
Kalimat itu aneh, tetapi berhasil.
Jason yang sedang menahan satu orang langsung meraung, "Tidak ada yang boleh bikin Ko Adrian mati!"
Oscar ikut berteriak, "Ko jangan mati! Aku tidak sanggup tanggung anakmu!"
Di tengah kekacauan, Margaret hampir tertawa, tetapi tangannya tetap sibuk menahan Mama Vanessa yang mencoba mencakar.
Tetangga mulai keluar. Beberapa orang berteriak menyuruh berhenti. Ada yang berkata panggil ketua RT. Ada yang justru menonton dengan mata berbinar.
Papa Vanessa akhirnya sadar keluarga Tong tidak unggul. Jason terlalu kuat, Daniel terlalu keras kepala, dan Margaret terlalu tidak tahu malu untuk mundur.
"Cukup!" Papa Vanessa berteriak. "Kalian mau uang? Ambil! Tapi setelah ini, Vanessa bukan anak keluarga Tong lagi!"
Halaman itu mendadak senyap.
Vanessa berdiri kaku.
Mama Vanessa langsung menyahut, "Iya! Jangan pulang lagi kalau berani ambil uang ini!"
Margaret tidak bicara.
Ia membiarkan keputusan itu jatuh ke tangan Vanessa.
Papa Vanessa masuk ke rumah, lalu keluar membawa uang yang dikumpulkan dari laci, kaleng, dan dompet. Jumlahnya tidak rapi. Ada pecahan besar, ada pecahan kecil. Adrian menghitung dengan tangan masih gemetar.
"Rp 3.970.000," katanya akhirnya.
Uang itu diberikan pada Vanessa.
Jari Vanessa kaku saat menerimanya.
Ryan berdiri di belakangnya, satu tangan memegang baju Adrian. Kevin bersembunyi di sisi lain, matanya bengkak karena terlalu banyak menangis sejak kemarin.
Vanessa melihat uang di tangannya, lalu melihat anak-anaknya.
Dulu, setiap kali ia pulang ke rumah Tong, ia selalu merasa dirinya masih punya tempat kembali. Sekalipun bertengkar dengan Adrian, sekalipun dimarahi Margaret, sekalipun merasa rumah Lim seperti kandang yang terlalu banyak aturan, ia masih bisa berkata dalam hati: aku punya rumah ibuku.
Tetapi rumah itu baru saja menawar luka anaknya dengan kata "biasa".
Rumah itu baru saja memakai kata keluarga untuk meminta uang, lalu memakai kata putus untuk mengancam.
Mama Vanessa menatapnya seperti musuh. "Kalau kamu ambil, selesai."
Vanessa menatap wajah ibunya.
Wajah yang dulu ia cari saat kalah di rumah suami. Wajah yang ia pikir akan membelanya. Wajah yang kemarin membiarkan cucunya menangis karena uang.
Air mata Vanessa jatuh.
Ia menggenggam uang itu.
"Kalau nanti urus kuburan, baru cari aku."
Mama Vanessa ternganga.
Margaret mengangkat alis sedikit. Kalimat itu kejam, tetapi ia tidak menghentikan.
Kadang perempuan harus membakar jembatan agar tahu ia punya kaki sendiri.
Kevin pelan-pelan keluar dari belakang Adrian. Anak itu masih takut, tetapi ia memegang ujung baju Vanessa dengan dua jari kecil. Ryan juga mendekat, wajahnya masih bengkak, matanya merah, namun kali ini ia tidak menarik ibunya kembali ke halaman Tong.
Vanessa menunduk melihat dua anaknya.
Uang di tangannya tiba-tiba terasa lebih berat daripada semua omelan yang pernah ia telan.
Adrian mengambil Kevin ke gendongan. Ia tidak berkata "sudah kubilang", tidak juga menyalahkan. Justru diamnya membuat Vanessa lebih malu daripada pukulan.
Mereka pulang dalam diam.
Jason memegangi lengan yang memar. Oscar menghibur Kevin dengan cerita ayam goreng. Adrian berjalan di samping Vanessa, tidak memegang tangannya, tetapi juga tidak meninggalkannya.
Daniel membawa map plastik utang lama yang kini sudah tidak berguna.
Di ujung gang, Vanessa berhenti dan menoleh sekali ke rumah Tong.
Tidak ada yang memanggilnya.
Ia menunduk, lalu berjalan lagi.
Di angkot pulang, Daniel duduk di samping Margaret dan bertanya pelan, "Setelah ini apa?"
Margaret melihat jalan Semarang yang bergerak di luar jendela.
Satu rumah sudah ditutup pintunya. Masih banyak pintu lain yang harus ia dobrak.
"Kita pergi ke pesta pertunangan Angela," katanya.
Daniel menoleh.
Margaret tersenyum tipis.
"Lalu kita gagalkan."