NovelToon NovelToon
Trapped By You

Trapped By You

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: BintangFRY

​​"Bagaimana rasanya ketika terbangun dari koma panjang, hanya untuk menemukan bahwa dirimu sudah bertunangan dengan seorang yang bahkan kamu sendiri tidak mengenalnya?"

Itulah yang di alami Kayna Ramida. Begitu membuka mata setelah koma hampir satu bulan lamanya, ia langsung di sambut dengan senyuman seorang pria asing yang mengaku sebagai tunangannya. Damara Lexander Veldens.

"Kenapa menatapku seolah aku ini orang asing, Sayang? Aku adalah pria yang paling kau cintai, ingat?" Mara berbisik lembut.

​"Kalau aku memang sangat mencintaimu...kenapa setiap sentuhanmu justru membuatku merasa seperti seekor mangsa yang sedang diincar di tengah kegelapan?"

​"Karena kau adalah milikku, Kayna. Dan aku akan melakukan segalanya agar kau tidak akan pernah lari dari sisiku lagi."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BintangFRY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Selamat

Jam dinding digital di atas meja rias mengedipkan angka 23.45

​Di dalam kamar utama vila yang megah bernuansa gelap itu, Kayna sama sekali tidak bisa menenangkan pikirannya. Tubuhnya memang sudah bersih, ia telah membasuh diri dan mengganti gaun pengantinnya yang berat dengan piyama satin tipis berwarna keperakan. Namun, jiwa dan benaknya masih terguncang hebat.

​Setiap kali ia memejamkan mata, memori beberapa jam lalu kembali berputar bak mimpi buruk yang amat nyata. Suara letusan senjata api yang memecah keheningan, jeritan histeris para tamu undangan, serta ketenangan yang Mara miliki seolah ia sudah biasa mengalami serangan seperti ini.

Karena Kayna juga masih trauma dengan tragedi penculikan yang pernah dia alami saat itu. Ditambah lagi, malam ini adalah malam pertama mereka. Dan itu memembuatnya semakin ketakutan.

Ia belum menemukan jawaban, kenapa ia dulu sangat membenci Mara dan sekarang ia sedikit tahu bahwa kehidupan Mara ternyata sangat berbahaya.

​Kayna berjalan mondar-mandir di atas karpet bulu yang tebal. Jemarinya yang gemetar saling meremas erat. Beberapa kali ia melangkah menuju pintu utama yang tebal itu, meraih gagang pintunya, dan mencoba menekannya.

​Klek. Klek.

​Terkunci rapat.

​Mara benar-benar menguncinya dari luar. Ia terkurung di dalam ruangan super mewah ini, seperti tahanan yang menunggu waktunya untuk di eksekusi.

​"Apa yang sebenarnya terjadi di luar sana?" bisik Kayna lirih, suaranya terasa tercekat di tenggorokan.

​Dari kejauhan, di antara gemuruh ombak lautan di bawah sana, Kayna samar-samar menangkap suara-suara aneh. Sayup-sayup terdengar jeritan teredam yang membuat bulu kuduknya berdiri.

​Kayna merinding ketakutan. Aura kemurkaan Mara saat meninggalkan kamar tadi benar-benar mengerikan. Pria yang selama beberapa bulan ini bersikap sangat hangat, penuh perhatian, dan posesif kepadanya, malam ini telah menelanjangi sosok aslinya. Sosok pria dingin tanpa belas kasihan.

​Teng... Teng...

​Tepat saat jarum jam digital menyentuh angka 00.00, tengah malam sempurna, suara sensor pintu kamar berbunyi halus.

​Ceklek

​Gagang pintu berputar. Kayna tersentak kaget. Jantungnya mencelos hingga ke dada bawah. Dalam kepanikan yang mendadak, Kayna bergegas melompat ke atas ranjang king size, menarik selimut tebal berbahan bulu hingga menutupi separuh tubuhnya, lalu berbaring memunggungi arah pintu. Ia memejamkan matanya rapat-rapat, mengatur napasnya agar terdengar teratur, berpura-pura telah tertidur lelap.

​Suara langkah kaki berirama lambat dan berat terdengar melangkah masuk ke dalam kamar.

​Tanpa perlu membuka mata, Kayna bisa merasakan kehadiran sosok pria itu. Aroma parfum, tembakau mahal, serta bau tajam amis darah yang menyengat menembus indra penciuman Kayna, membuat perutnya mendadak mual oleh rasa takut yang membakar.

​Mara tidak mengucapkan sepatah kata pun. Keheningan yang tercipta terasa begitu menekan, seolah sengaja diciptakan untuk menyiksa mental siapa pun yang berada di dekatnya.

​Suara gesekan kain terdengar saat Mara melepaskan jas dan kemejanya. Kayna tetap membeku, tidak berani menggerakkan satu jari pun. Ia menahan napas saat mendengar langkah kaki Mara melintas tepat di samping tempat tidur, menuju kamar mandi utama.

​Ceklek.

Pintu kamar mandi tertutup, disusul suara gemericik air shower yang mengguyur deras.

​Kayna langsung menghirup napas dengan rakus, membiarkan dadanya naik turun dengan cepat. Napasnya masih memburu.

"Dia tidak menyapaku. Dia bahkan tidak memanggil namaku. Apakah aku akan selamat malam ini?" batin Kayna gemetar. Kemarahannya malam ini benar-benar berada di tingkat yang berbeda.

​Sekitar lima belas menit berlalu. Suara gemericik air mendadak berhenti.

​Tak lama kemudian, pintu kamar mandi terbuka kembali. Keheningan malam kembali menyergap. Suara langkah kaki menapak pelan di atas lantai marmer, mendekati tempat tidur.

​Aroma sabun yang segar menguar dari tubuh pria itu. Kayna semakin mengetatkan kepejaman matanya. Seluruh saraf di tubuhnya menegang kaku. Ia berusaha keras menjaga irama dadanya agar tidak naik turun terlalu cepat, berpura-pura tenggelam dalam mimpi nyenyak.

​Namun, usaha Kayna sia-sia di hadapan ketajaman insting seorang iblis mafia.

​Sisi tempat tidur di belakang Kayna mendadak melesak ke bawah. Beban tubuh Mara yang tegap menduduki pinggiran kasur. Kayna merasakan hawa dingin menguar dari tubuh Mara.

​Keheningan membeku selama beberapa detik yang menyiksa.

​Tiba-tiba, jemari tangan Mara yang panjang, kekar, dan terasa dingin menempel di leher Kayna dari belakang. Ibu jarinya merambat lambat, mengusap garis rahang wanita itu dengan tekanan yang lembut namun bagi Kayna itu terasa mengerikan.

​Kayna menahan napas. Suhu tubuhnya seketika merosot dingin.

​"Bahkan ritme detak jantungmu yang berpacu gila ini tidak bisa menyembunyikan kebohonganmu, my sweet wife," bisik Mara. Suara baritonnya yang dalam, serak, dan sangat dingin berdesir tepat di samping telinga Kayna.

​Kayna tersentak. Kelopak matanya terbuka lebar secara otomatis.

​Sebelum ia sempat berbalik atau menjauh, lengan tegap Mara menyambar pinggangnya dari belakang, memutar tubuh Kayna dengan sekali sentakan kuat hingga kini wanita itu terlentang di bawah kungkungan tubuhnya.

​"Ma-Mara..." cicit Kayna, matanya membelalak menatap wajah tampan pria di atasnya.

​Rambut hitam Mara yang masih basah meneteskan bulir air ke atas dahi dan pipi Kayna. Wajah pria itu dipahat dengan sempurna. Sepasang mata abu-abunya yang tajam menembus langsung ke dalam manik mata Kayna.

​"Mengapa berpura-pura tidur, Kayna?" desis Mara. Jemarinya mencengkeram rahang Kayna, menahan kepala wanita itu agar tidak bisa memalingkan wajah. "Apakah kau begitu takut menatap suamimu sendiri ?"

​Kayna berusaha mengatur napasnya yang tersendat-sendat. "Ti... tidak, Mara. Hanya saja... ku pikir kamu masih ada urusan dan... dan perlu waktu menenangkan diri."

​Mara menundukkan wajahnya, membenamkan hidungnya di lekukan leher Kayna, menghirup aroma tubuh istrinya .Cengkeramannya di pinggang Kayna mengencang hingga membuat Kayna merintih pelan.

​"Kau milikku, Kayna," bisik Mara dengan nada posesif yang begitu pekat.

​Tubuh Kayna gemetar hebat. Ia bisa merasakan bahaya yang teramat sangat dari pria yang kini sah menjadi suaminya ini.

​"Mara, tolong... kau menyakitiku," bisik Kayna lirih dengan mata berkaca-kaca.

​Mara menghentikan kecupan dinginnya di leher Kayna. Ia mendongak, menatap mata Kayna yang berair. Bukannya melepaskan cengkeramannya, Mara justru menyunggingkan senyuman tipis yang sangat mengerikan.

​"Oh? Maafkan aku, My Wife," kata Mara pelan. Ia melonggarkan cengkraman tangannya pada pinggang Kayna lalu beralih mengelus pipi Kayna.

"Dan malam ini... kita punya banyak waktu untuk merayakan malam pertama kita."

Kayna meraih telapak tangan Mara yang sedang mengelus pipinya, lalu menciumnya pelan. "Kita masih punya waktu, Mara. Kau pasti juga lelah dan lukamu..." Kayna melihat tubuh Mara yang terbalut piyama satin hitam itu dengan tatapan sendu, dan tentunya itu hanya sandiwaranya saja. "Lukamu pasti masih sakit. Aku tidak bisa membiarkan mu kesakitan, Mara."

Meski mulutnya begitu lancar mengucap setiap kalimat itu, tapi jantungnya berdetak dengan cepat karena ketakutan.

Mara terdiam, dan diamnya itu membuat Kayna semakin ketakutan.

Sampai helaan napas terdengar dari bibir Mara. "Ya, kamu benar. Kita masih punya waktu."

Mara mencium bibir Kayna pelan, barulah ia mengambil posisi berbaring di samping Kayna. Lalu menarik tubuh Kayna mendekat dan memeluknya. "Tidurlah," bisiknya.

Kayna tidak bisa berbuat banyak. Ia hanya pasrah dipeluk dengan begitu eratnya oleh Mara. Yang terpenting adalah malam ini ia masih di beri keselamatan oleh Tuhan.

"Selamat tidur, Mara."

...●Bersambung●...

1
Putri💅🏻💅🏻
bagus banget
AzhuraAstra
Lanjut seng!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!