**Keira Salim** tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah drastis dalam semalam.
Ayahnya masuk penjara karena judi, ibunya sakit keras, dan adik kembarnya baru saja menabrak mobil Bugatti milik pewaris konglomerat terbesar di Jakarta — **Rayhan Kurnia**.
Ganti rugi: dua ratus miliar rupiah.
Keira mendatanginya untuk negosiasi, tapi pria itu justru menatapnya dengan mata gelap yang tak terbaca, lalu berkata dengan santai:
*"Bayar pakai dirimu."*
*"Syarat pertama — jadi pacarku."*
Keira tahu ini gila. Tapi demi adiknya, demi ibunya, dia mengangguk.
Yang tidak Keira tahu: Rayhan sudah **mencintainya dalam diam selama sepuluh tahun** — sejak pertama kali melihatnya di trotoar saat mereka berusia delapan tahun.
Di balik wajah dingin dan sikap arogan itu, tersimpan ratusan surat cinta yang tak pernah dikirim, ribuan foto yang diam-diam diambil, dan sebuah ruangan rahasia yang dipenuhi jejak obsesi selama satu dekade.
Dia rela **mengorbankan mimpinya**, berlutut di hadapan ibunya yang kejam, dan **mempertaruhkan seribu miliar** — semua demi satu orang.
*"Selama Rayhan hidup, Keluarga Salim tidak akan jatuh."*
Tapi ketika Rayhan akhirnya kembali setelah lima tahun berjuang sendirian di luar negeri...
Keira menatapnya dengan mata kosong.
*"Maaf... apakah kita pernah saling kenal?"*
Dia sudah **melupakannya**.
Sepenuhnya.
---
**「Dia mencintainya sepuluh tahun dalam diam. Dia melupakannya dalam sekejap. Tapi cinta sejati tidak bisa dihapus — bahkan oleh waktu.」**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Kembang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33
Bab 33: Tengah Malam
Malam tahun baru di Villa PIK tidak mereka rayakan dengan pesta besar.
Rayhan menolak undangan Eclipse. Daisy hanya mengirim pesan singkat, Jangan telat tidur. Arya mengirim foto Darren tertidur di sofa VIP bahkan sebelum hitungan mundur dimulai. Kelvin melakukan video call sebentar dari kantor W.A Group, memakai topi kertas yang dipasang paksa oleh karyawannya.
"Kak, tahun depan Mama harus ikut hitung mundur," katanya.
Keira memandang ke arah kamar tempat ia menyimpan rekaman monitor Liana yang dikirim perawat. "Iya. Tahun depan Mama ikut."
Rayhan berdiri di belakang Keira, satu tangan di bahunya. Ia tidak mengatakan apa-apa, tetapi jarinya menekan pelan, seperti janji tanpa suara.
Mereka menyiapkan meja kecil di balkon kamar utama. Ada dua gelas sparkling grape, semangkuk stroberi, dan mi goreng yang dibuat Rayhan dengan tingkat keberhasilan lebih baik daripada telur tempo hari. Keira memakai sweater putih, rambutnya digerai. Cincin di jarinya menangkap cahaya lampu balkon setiap kali ia bergerak.
"Kamu yakin tidak mau ke luar?" tanya Keira.
"Di luar banyak orang."
"Kamu biasanya suka jadi pusat perhatian."
"Aku sudah pensiun dari panggung publik."
Keira menatapnya. "Pensiun dari voli, bukan dari hidup."
Rayhan tersenyum, tetapi tidak menjawab.
Menjelang tengah malam, suara kembang api mulai terdengar dari jauh. Langit Jakarta berdenyut dengan cahaya yang naik satu per satu. Keira berdiri di dekat pagar balkon, memeluk gelasnya. Rayhan berdiri di sampingnya, sedikit lebih diam dari biasanya.
"Ray."
"Hm?"
"Apa kamu menyesal menolak tim nasional?"
Rayhan menatap langit. "Tidak malam ini."
"Besok?"
"Besok kita pikirkan besok."
Jawaban itu bukan jawaban, tetapi hitungan mundur dari gedung-gedung sekitar mulai terdengar.
Sepuluh.
Sembilan.
Keira meletakkan gelasnya. Rayhan menoleh.
Delapan.
Tujuh.
"Kei," panggilnya pelan.
Enam.
"Apa?"
Lima.
"Tahun baru pertama kita."
Empat.
Keira tersenyum.
Tiga.
"Bukan yang terakhir," katanya.
Dua.
Mata Rayhan bergetar, tetapi ia tersenyum juga.
Satu.
Kembang api pecah di atas PIK.
Rayhan mencium Keira tepat saat suara sorak dari jauh naik seperti ombak. Ciuman itu tidak terburu-buru. Tidak seperti kemenangan, tidak seperti lamaran, tidak seperti malam ketika mereka sama-sama belajar menjadi berani. Yang ini lembut, lama, dan penuh sesuatu yang hampir membuat Keira takut karena terasa terlalu berharga.
"Selamat tahun baru," bisik Keira.
Rayhan menempelkan dahinya ke dahi Keira. "Selamat tahun baru, calon istriku."
"Jangan buat aku menangis di hari pertama tahun baru."
"Aku belum mulai."
"Itu ancaman?"
"Itu janji."
Keira tertawa, lalu memeluknya.
Untuk beberapa jam setelah itu, semuanya baik-baik saja.
Mereka menonton film lama di kamar, tetapi Keira tertidur di tengah cerita. Rayhan mematikan televisi, merapikan selimut, lalu berbaring di sampingnya. Sebelum memejamkan mata, ia melihat surat cinta di laci nakas, memastikan laci itu tertutup.
Di luar, suara kembang api perlahan jauh.
Tidur datang seperti air gelap.
Lalu Somerfield terbuka.
Rayhan berumur lima belas tahun lagi.
Kausnya basah oleh hujan, lututnya berdarah, dan napasnya tersangkut di tenggorokan. Gerbang samping Somerfield Estate tertinggal jauh di belakang, tetapi ia masih bisa mendengar langkah para penjaga di jalan servis.
"Cari sampai ujung!"
"Nyonya Hartono bilang jangan sampai dia keluar area!"
Rayhan berlari tanpa tahu arah. Singapore malam itu bukan kota yang ia kenal, hanya lorong belakang, lampu kuning, dinding lembap, dan suara ban mobil melintas di jalan utama yang terlalu jauh untuk dijangkau.
Ia ingin pulang ke Jakarta.
Ia ingin ke lapangan.
Ia ingin menemukan gadis kecil bergaun putih dalam ingatannya dan bertanya kenapa satu-satunya orang yang pernah tersenyum padanya justru berada di kota yang tidak bisa ia capai.
Langkah kaki mendekat.
Rayhan melihat deretan tempat sampah besar di belakang restoran tutup. Bau busuk naik begitu ia membuka salah satunya. Perutnya mual, tetapi suara penjaga semakin dekat. Ia memanjat masuk, menahan napas, lalu menarik tutupnya dari dalam.
Gelap.
Bau makanan basi, plastik basah, dan logam berkarat menekan hidungnya.
Ia menutup mulut dengan kedua tangan.
Jangan bersuara.
Jangan batuk.
Jangan menangis.
Langkah kaki berhenti tepat di luar.
"Dia ke mana?"
"Anak itu tidak mungkin jauh."
Senter menyapu celah tutup. Cahaya tipis masuk sebentar, mengenai jari Rayhan yang kotor. Ia menarik tangannya ke dada, menggigit bibir sampai terasa darah.
Ponsel salah satu penjaga berbunyi.
Suara Evelyn terdengar dari speaker, rendah dan dingin.
"Kalau Rayhan memilih bersembunyi seperti sampah, biarkan dia belajar bagaimana rasanya."
Rayhan membeku.
Tidak ada yang membuka tutup itu.
Tidak ada yang menariknya keluar.
Mereka pergi.
Dan ia tetap di dalam, gemetar, basah, menunggu sampai tubuhnya tidak tahu lagi apakah ia manusia atau sesuatu yang pantas dibuang.
"Rayhan."
Suara itu bukan dari mimpi.
"Ray, bangun."
Rayhan tersentak duduk.
Kamar Villa PIK gelap setengah. Napasnya keras, tangan mencengkeram selimut, seluruh kausnya basah keringat. Keira duduk di depannya dengan wajah pucat, satu tangan terangkat tetapi belum menyentuhnya.
"Ini aku," katanya hati-hati. "Keira. Kamu di Villa PIK."
Rayhan menatapnya seperti belum mengenali ruangan.
"Bukan Somerfield," lanjut Keira. "Bukan Singapore. Kamu di rumah."
Kata rumah membuat sesuatu di wajah Rayhan runtuh.
Ia meraih Keira tiba-tiba dan memeluknya begitu erat sampai Keira hampir kehilangan napas. Namun ia tidak mendorong. Ia hanya mengelus punggung Rayhan, merasakan tubuh besar itu gemetar seperti anak kecil yang terlalu lama kedinginan.
"Aku bau?" suaranya pecah di bahu Keira.
Keira membeku.
"Apa?"
"Aku bau sampah?"
Dada Keira seperti dihantam.
Ia memegang wajah Rayhan, memaksanya menatap. "Tidak. Kamu bau sabun. Kamu di tempat tidur kita. Kamu aman."
Rayhan menutup mata. Napasnya masih tidak teratur.
"Aku tidak mau balik," katanya sangat pelan.
Keira tidak bertanya balik ke mana.
Ia sudah tahu nama tempat itu.
Somerfield.
"Aku di sini," katanya. "Lihat aku. Aku di sini."
Rayhan membuka mata. Fokusnya kembali sedikit demi sedikit, seperti seseorang berenang naik dari air gelap.
Keira mengambil gelas di nakas dan membantunya minum. Tangannya tidak stabil. Setelah itu, ia menyeka keringat di leher Rayhan dengan handuk kecil, lalu duduk bersandar di kepala ranjang dan menariknya ke pelukan.
Rayhan menolak lemah. "Aku berat."
"Diam."
"Kei..."
"Diam dan tidur."
Rayhan akhirnya menurut.
Kepalanya berada di dada Keira, tubuhnya masih terlalu besar untuk posisi itu, tetapi Keira memeluknya sekuat yang ia bisa. Di luar jendela, sisa kembang api tahun baru pecah terlambat di kejauhan.
Keira menatap langit-langit.
Beberapa jam lalu, Rayhan mencium dirinya di bawah cahaya tahun baru dan berkata itu bukan yang terakhir.
Sekarang, ia baru mengerti bahwa ada bagian dari Rayhan yang setiap malam masih terkunci di dalam tempat gelap, menunggu seseorang membuka tutupnya.
Keira menunduk dan mencium rambutnya.
"Aku akan cari tahu," bisiknya, sangat pelan. "Aku tidak akan biarkan kamu kembali sendirian ke sana."