NovelToon NovelToon
DOPAMIN

DOPAMIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Mafia
Popularitas:186
Nilai: 5
Nama Author: Key Kastara

Balas dendam adalah hidangan paling nikmat, tapi juga yang paling memabukkan.

Lima tahun lalu, Zara dijual, dihina, dan diinjak harga dirinya oleh kerabat sendiri. Diselamatkan sekaligus ditempa oleh Garda, ia berubah menjadi Zevana Ardhani—wanita cerdas, berkuasa, dingin, dan mematikan yang hidupnya hanya punya satu tujuan: Balas Dendam.

Namun segalanya goyah saat Arka hadir. Pemuda tulus dan polos—anak musuh terbesarnya—mencintainya tanpa syarat, perlahan mencairkan hati beku yang ia bangun bertahun-tahun.

Di tengah pusaran kebencian yang memberi kepuasan sesaat layaknya efek dopamin… Zevana dihadapkan pada pilihan terberat yaitu antara terus memburu kehancuran, atau berani berhenti demi cinta yang menawarkan kesembuhan sejati?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Key Kastara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Taktik Zara

Dengan gagap pria itu melapor diliputi rasa takut dan was-was.

"Ta-tegetnya hilang Bos!" ulangnya terbata.

[Lucukah?] kekeh pria itu.

"Maaf Bos! Saya yakin dia masuk ke gang ini, ternyata gangnya buntu. Kayaknya saya salah lihat," ucapnya dengan nada gelisah.

[Lanjutkan pencarian, tambah orang,] titah pria itu datar, namun gelanyar rasa takut seketika menjalar di seluruh tubuh sang pesuruh–terbukti dari netranya yang mengecil, dengan wajah memucat.

Tluk!

Ditaruhnya ponsel itu oleh pria pengirim perintah yang dipanggil Bos, lalu ia mengepulkan asap rokok yang disesapnya melalui pipah tulang dengan santai.

"Hufht ... Hah...." desahnya.

"Benar-benar menarik, kucing liarku lekaslah datang," gumamnya dengan senyuman miring.

Di bawah sinar lampu duduk yang sebagian tertutup gorden, nampaklah wajah Garda. Alisnya yang tebal, dengan rahang tegas, hidung mancung, serta tubuh tinggi tegap, membuatnya terlihat gagah meski sudah menginjak usia 40 tahun.

Sementara itu di suatu tempat, Zara tergeletak dengan nafas tersenggal-sengal. Ia memegangi bahu kanannya dengan erat, sekedar untuk menahan nyeri yang sejak tadi berdenyut-denyut.

"Hah ... Hah ... Aku juga mau mati, tapi nanti. Setelah balas dendam dulu," gumamnya sembari menutup matanya dengan punggung tangan.

Beberapa menit yang lalu, itu hampir saja. Gang itu merupakan harapan terakhirnya untuk pelarian. Namun naasnya itu merupakan jalan buntu yang tidak memungkinkannya bisa memutar arah lagi, karena pria yang mengejarnya hanya berada satu belokan menuju tempatnya berada. Dengan refleks yang cepat, serta keputusasaan dan kemungkinan yang belum pasti, ia pun memilih untuk merayap dan bergelantungan di atas pipa-pipa licin dan basah itu lalu memanjat ke atap gedung ruko lantai tiga.

Meski hampir terjatuh karena pipanya copot dari sambungan, namun ia mengayunkan tubuh ringkihnya itu dalam sekali hempasan.

Hap!

Prak!

Pipanya patah dan terlepas dari sambungan, ia pun berhasil meraih ujung dinding yang retak sebagai pegangan. Hanya butuh tarikan diri yang kuat dengan sisa tenaga, ia pun sampai di atap lantai tiga ruko itu.

"Hah ... Ga akan ada yang kedua, ini bener-bener keberuntungan," dengusnya sembari mengintip ke bawah tempat di mana ia memanjat di dinding tadi.

Kengerian seketika membuatnya bergidik. Tentu saja, tingginya bahkan mungkin lebih dari 6 meter, dan ia menaikinya seperti orang kesetanan dengan waktu tidak sampai 3 menit.

"Ada bagusnya kurang gizi," gumamnya sembari membulak-balik lengan kecilnya lalu beralih melihat tubuh kurusnya.

"Sekarang apa?" monolognya sembari menatap langit malam.

Lelah, dan mual. Langit malam itu seperti berputar di depan matanya. Meski ia memberanikan diri untuk kabur, kenyataannya dunia di luar kamar sempitnya selalu menakutkan bagi Zara. Namun demikian, Zara jelas mengetahui bahwa di manapun, tak akan ada yang berubah. Dirinya selalu sendiri, tanpa seorangpun yang bisa ia harapkan pertolongan maupun bisa ia jadikan sandaran–kecuali dirinya sendiri.

Sruk!

Zara beringsut lalu terduduk dengan menyandarkan dirinya ke dinding batako setinggi satu meter di belakangnya.

"Kemana dulu ya?" batinnya sembari memutar-mutar jemari di atas debu ubin.

Tak menunggu jawaban hatinya, Zara segera bangkit lalu berjalan menuju atap rumah yang lebih rrndah daripada atap ruko yang sedang dipijaknya.

Tap!

Hap!

Seperti seekor kucing, langkahnya begitu ringan hingga pijakkan kakinya di atas atap asbes pun tidak begitu keras. Dengan cekatan ia mengedarkan pandangan lalu melompat dari satu atap ke atap lainnya yang lebih rendah, hingga–

Hap!

Ia pun melompat ke atas gerobak sampah sebelum akhirnya melompat lagi ke atas permukaan tanah. Dengan tinggi badan 165 cm, dan berat tidak sampai 45 kg, tentu saja tubuhnya terlalu kurus bagi seorang gadis. Namun hal itu justru menjadi keuntungan baginya dalam situasi ini.

Merapikan pakaian, menata rambut, lalu mengenakan kembali topinya, ia lalu mulai melangkahkan kakinya. Jalanan semakin sepi, angin mslam semakin menusuk. Ia kembali berjalan dalam lamunan. Kesedihan tiba-tiba menelan kembali perasaannya saat ia melihat ke seberang jalan tempat sebuah restaurant Sea Food kesukaannya berada.

Kenangan masa kecilnya pun muncul. Saat ia bersama kedua orang tuanya makan siang bersama di sana. Seketika air mata menggelayut di atas kelopak matanya. Namun ia segera menengadah, menahan air mata itu supaya tidak jatuh.

"Aku akan membayar semuanya. Ayah, Bunda. Kalian tidak akan mati sia-sia seperti itu begitu saja," desis Zara dengan bibir gemetar menahan emosi yang meluap di dadanya.

Zara melangkahkan kaki menyebrangi jalan, tepat di atas zebra cross. Langkahnya perlahan, karena ia tidak ingin terlalu terburu-buru. 'Toh tak akan ada tempat yang harus segera dituju' pikirnya. Namun ketika ia hampir sampai di ujung jalan, sebuah mobil tiba-tiba berhenti di belakangnya.

Deg!

"Siapa?" batinnya.

Dadanya berdegub kencang, nafasnya tercekat seketika.

"Nona Zara?" panggil seorang pria yang baru saja turun dari mobil.

Zara menoleh pelan-pelan, lalu membalikkan tubuhnya sepenuhnya. Terlihat dua orang pria bersetelan rapi dengan kemeja putih dan dasi hitam berdiri di depannya.

"Ikut kami. Kami tidak akan menyakiti Nona, jadi silahkan masuk dengan tenang," titahnya dengan nada suara sesipan mungkin–namun berisi nada tuntutan yang tidak menerima penolakan.

"Satu, dua, sial. Lebih dari tiga orang. Tinggi besar, ck!" batin Zara sembari melihat-lihat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!