"Jangan pernah jatuh cinta padaku, karena kontrak ini tidak menyertakan perasaan," itulah aturan nomor satu yang ditulis oleh Arga Dirgantara untuk istrinya.
Selama dua tahun, Keysa hidup dalam bayang-bayang. Sebagai istri kontrak, ia adalah asisten yang tak terlihat, tameng perusahaan, dan sosok yang paling dibenci Arga karena dianggap sebagai penghalang kebahagiaan pria itu dengan wanita lain. Keysa sudah siap untuk menyerahkan surat cerai dan pergi selamanya.
Namun, takdir punya rencana lain. Sebuah kecelakaan fatal menghapus memori Arga selama tiga tahun terakhir.
Saat pria itu membuka mata, ia tidak lagi melihat Keysa sebagai 'istri kontrak' yang menyebalkan. Ia melihat seorang wanita yang dingin, cerdas, efisien, dan memiliki tatapan tajam yang membuat jantungnya berdebar tanpa alasan.
"Siapa kau sebenarnya?" tanya Arga dengan nada posesif. "Dan kenapa setiap kali aku melihatmu, aku merasa aku adalah orang paling bodoh karena pernah membiarkanmu menangis?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Pelampiasan
Arga! Kamu berani mengusir ibu kandungmu sendiri demi perempuan miskin yang sudah membuangmu itu?!" Ratna menjerit kaget, wajahnya memerah padam menahan amarah dan gengsi yang hancur berkeping-keping.
"Aku bilang keluar," ulang Arga dengan nada yang jauh lebih pelan namun seribu kali lipat lebih mematikan. "Jangan pernah lagi mencampuri urusan pribadiku, atau aku akan memotong semua akses kartu kredit dan dana bulananmu detik ini juga."
Ratna terkesiap. Mulutnya terbuka namun tidak ada suara yang keluar. Menyadari ancaman putranya sama sekali bukan gertakan kosong, wanita paruh baya itu langsung menyambar tas mahalnya dan berlari keluar dari kamar rawat dengan langkah gemetar ketakutan.
Pintu kayu itu terbanting keras. Arga langsung mencabut jarum infus di punggung tangannya secara paksa. Darah segar menetes mengotori selimut putih, namun ia sama sekali tidak peduli. Ia tidak butuh istirahat di ranjang rumah sakit. Ia butuh pelampiasan nyata untuk menebus rasa bersalah yang kini membakar habis kewarasannya.
Langkah sepatu kulit Arga menggema membelah lobi utama gedung Alvandra Group. Kedatangannya yang mendadak memicu kepanikan luar biasa. Para staf menunduk hormat dengan tubuh bergetar. Direktur utama mereka kembali dengan aura pemangsa yang jauh lebih gelap dan berbahaya dari sebelum kecelakaan.
Arga mendorong pintu kaca ruang rapat dewan direksi dengan sangat kasar. Ruangan besar itu sedang diisi oleh jajaran petinggi perusahaan yang bersantai sambil meminum kopi panas. Pak Hendra, direktur operasional yang selama ini menjadi musuh dalam selimut, sedang tertawa terbahak-bahak menceritakan sebuah lelucon.
Tawa itu mati seketika saat Arga melangkah masuk dan berdiri tegap di ujung meja oval.
"Lanjutkan tawa kalian," perintah Arga dengan senyum sinis yang mengerikan. "Itu akan menjadi tawa terakhir kalian di dalam gedung perusahaanku."
Pak Hendra buru-buru berdiri, merapikan jasnya dengan senyum canggung. "Bapak Arga! Kami semua sangat bersyukur melihat Bapak sudah pulih dan kembali ke kantor secepat ini. Kami baru saja membahas betapa leganya kami karena masalah perceraian Bapak sudah beres tanpa sengketa saham."
Brak!
Arga melempar sebuah map hitam tebal tepat ke tengah meja kaca tersebut hingga cangkir kopi Pak Hendra tumpah berantakan membasahi dokumen lain.
"Buka map itu, Hendra," titah Arga sedingin es.
Tangan Pak Hendra bergetar saat meraih map tersebut. Matanya membelalak lebar melihat tumpukan bukti transfer, foto pertemuan rahasia dengan perusahaan lawan, dan bukti manipulasi pajak yang semuanya ditandatangani atas namanya.
"Bapak Arga, ini... ini semua fitnah! Ini pasti kerjaan Keysa yang memalsukan tanda tanganku sebelum dia pergi!" bantah Pak Hendra dengan wajah pucat pasi mencari alasan.
Mendengar nama Keysa disebut sebagai kambing hitam, kesabaran Arga hancur total.
Arga mencengkeram kerah kemeja Pak Hendra, menarik tubuh pria tambun itu melewati meja, lalu membantingnya ke atas lantai karpet dengan sangat kasar. Semua direktur lain memekik kaget dan langsung mundur merapat ke dinding ruangan mencari aman.
"Jangan pernah berani menyebut nama mantan istriku dengan mulut kotormu, Hendra!" bentak Arga menggelegar. "Aku ingat semuanya, Hendra! Ingatanku sudah kembali utuh! Aku ingat bagaimana kamu sengaja memanipulasi data pajak tahun lalu lalu melempar kesalahannya pada Keysa. Aku ingat bagaimana kamu selalu merundung Keysa saat aku tidak ada di tempat!"
semoga Arga bisa meluluhkan hati Keysa walaupun harus menunggu waktu yg lama..
apalagi Keysa sosok mandiri tangguh dan badass..