NovelToon NovelToon
Alea & Adrian

Alea & Adrian

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / Percintaan Konglomerat / Pernikahan rahasia / Tamat
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Althea Shalmaira

"Alea & Adrian" mengisahkan dua pewaris tunggal imperium bisnis terbesar di Kota Valerika, Alea Corisand dan Adrian Hutama. Terikat wasiat mutlak sang kakek, mereka dipaksa menikah demi penyatuan korporasi. Padahal, keduanya telah memiliki kekasih masing-masing dari kalangan elit.

Enggan mengorbankan cinta, Alea mengusulkan ide nekat: pernikahan kontrak di atas kertas selama enam bulan. Setelah meyakinkan pasangan masing-masing, mereka pindah ke sebuah penthouse mewah dan hidup dalam batasan kamar terpisah yang ketat.

Namun, sandiwara profesional ini perlahan retak. Intensitas kebersamaan memicu getaran aneh yang tak terduga di antara keduanya. Di saat garis batas hati mulai kabur, sebuah ancaman misterius dari masa lalu mengintai, memaksa mereka saling bersandar demi bertahan hidup. Siapakah yang akan bertahan hingga akhir kontrak?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

21. Subjek Ketiga

Angin malam masih berembus dingin ketika Adrian dan Alea akhirnya meninggalkan kawasan Arsip 17.

Perjalanan pulang menuju The Obsidian berlangsung dalam keheningan yang tidak biasa.

Bukan keheningan yang canggung seperti di awal pernikahan mereka.

Bukan pula keheningan penuh pertengkaran yang sering muncul ketika ego keduanya saling berbenturan.

Ini adalah keheningan yang lahir dari satu kesadaran yang sama.

Mereka baru saja menemukan sesuatu yang jauh lebih besar daripada yang mereka bayangkan.

Selama ini mereka mengira Aurora hanyalah proyek rahasia yang berkaitan dengan merger keluarga Hutama dan Corisand.

Mungkin sebuah investasi.

Mungkin sebuah perjanjian bisnis.

Atau mungkin sebuah skandal yang sengaja dikubur.

Namun isi kotak Aurora telah menghancurkan seluruh asumsi itu.

Aurora bukan tentang perusahaan.

Aurora bukan tentang uang.

Aurora bukan tentang saham.

Aurora adalah tentang mereka.

Tentang Adrian.

Tentang Alea.

Dan sekarang...

Tentang seseorang yang disebut sebagai Subjek Ketiga.

Pukul satu dini hari.

Lampu ruang kerja utama The Obsidian masih menyala terang.

Di atas meja konferensi panjang, dokumen-dokumen dari Arsip 17 berserakan dalam pola yang mulai menyerupai papan investigasi.

Foto-foto lama.

Salinan surat.

Catatan proyek.

Potongan artikel koran.

Laporan perjalanan.

Serta buku catatan kulit tua milik George Corisand.

Alea duduk di salah satu kursi sambil menyandarkan tubuhnya.

Rasa lelah mulai merayapi seluruh ototnya.

Namun pikirannya terlalu aktif untuk beristirahat.

Di seberang meja, Adrian sedang memindai setiap dokumen menggunakan perangkat digital portabel miliknya.

Pria itu terlihat fokus.

Terlalu fokus.

Seolah jika ia berhenti bekerja selama satu menit saja, seluruh teka-teki ini akan kembali menghilang.

"Aku masih tidak mengerti."

Suara Alea memecah kesunyian.

Adrian mengangkat kepala.

"Mengerti apa?"

"Kenapa kita?"

Alea menatap foto masa kecil yang tergeletak di meja.

Foto dirinya dan Adrian saat kecil.

Foto yang seharusnya tidak pernah ada.

"Aku bisa memahami jika kakek-kakek kita menyusun pernikahan ini karena alasan bisnis."

Alea menarik napas panjang.

"Tapi semua ini..."

Tangannya menunjuk dokumen Aurora.

"Ini sudah melampaui bisnis."

Adrian terdiam.

Untuk pertama kalinya sejak mereka menemukan arsip itu, dia tidak memiliki jawaban logis.

Karena Alea benar.

Tidak ada keuntungan finansial yang cukup besar untuk menjelaskan semua ini.

Tidak ada merger perusahaan yang membutuhkan perencanaan selama puluhan tahun.

Tidak ada strategi korporasi yang membuat dua keluarga menyimpan foto anak-anak kecil di dalam arsip rahasia tingkat tinggi.

Aurora terlalu personal.

Terlalu emosional.

Terlalu manusiawi.

Dan itu justru yang membuat Adrian merasa tidak nyaman.

Karena sepanjang hidupnya, ia selalu mempercayai logika.

Sementara Aurora terasa seperti sesuatu yang dibangun menggunakan perasaan.

Alea membuka kembali buku catatan George Corisand.

Halaman-halaman tua itu mengeluarkan aroma kertas yang telah berusia puluhan tahun.

Sebagian besar tulisan di awal berisi catatan harian biasa.

Namun semakin jauh ia membaca, semakin jelas perubahan nada tulisan sang penulis.

George mulai terdengar cemas.

Waspada.

Seolah sedang menunggu sesuatu yang buruk terjadi.

Mata Alea berhenti pada sebuah paragraf.

"Aurora harus tetap berjalan, apa pun yang terjadi."

Dia membaca lebih lanjut.

"Jika suatu hari mereka menemukan arsip ini, berarti kami gagal melindungi semuanya sampai akhir."

Alea mengernyit.

"Aneh."

"Apa?"

Adrian berjalan mendekat.

Alea memperlihatkan kalimat itu.

"Kalau kakek menulis ini, berarti dia berharap kita tidak pernah menemukan Aurora."

Adrian membaca ulang tulisan tersebut.

Beberapa detik kemudian ekspresinya berubah.

"Atau dia berharap kita menemukannya ketika sudah cukup siap."

Mereka saling berpandangan.

Dan untuk pertama kalinya malam itu, mereka memiliki pemikiran yang sama.

Mungkin Aurora bukan sesuatu yang sengaja disembunyikan selamanya.

Mungkin Aurora adalah sesuatu yang harus ditemukan pada waktu yang tepat.

Saat Alea membalik halaman berikutnya, sebuah benda kecil jatuh dari sela-sela buku.

Ting.

Benda itu memantul pelan di atas meja.

Keduanya langsung menoleh.

"Itu apa?"

Alea mengambilnya.

Ternyata sebuah kunci.

Kunci kecil berwarna perak.

Bentuknya kuno.

Tidak seperti kunci elektronik modern.

Di bagian kepala kunci terdapat simbol yang familiar.

Lambang matahari terbit.

Simbol yang sama dengan yang mereka temukan di kotak Aurora.

"Ada ukiran di belakangnya."

Kata Adrian.

Alea membalik kunci itu.

Di sana terdapat angka kecil:

A-03

"Aurora tiga."

gumam Alea.

"Atau lokasi ketiga."

sahut Adrian.

Mereka kembali terdiam.

Semakin banyak petunjuk yang ditemukan.

Semakin banyak pula pertanyaan baru yang muncul.

Sekitar pukul dua dini hari.

Adrian akhirnya berhasil menyalin seluruh isi flash drive yang ditemukan dalam kotak Aurora.

Namun hasilnya membuat dahinya berkerut.

"Hanya ini?"

Alea mendekat.

Layar laptop memperlihatkan satu folder tunggal.

Tidak ada ratusan file.

Tidak ada data rahasia.

Tidak ada laporan keuangan.

Hanya satu folder bernama:

SUMMER_17

Alea merasakan sesuatu bergetar di dadanya.

Musim panas.

Usia tujuh belas.

Atau...

Arsip 17.

Adrian membuka folder itu.

Isinya hanya beberapa foto.

Puluhan foto.

Foto-foto lama yang diambil bertahun-tahun lalu.

Mereka mulai melihat satu per satu.

Foto danau.

Foto taman.

Foto sebuah rumah kayu.

Foto tiga anak kecil yang sedang bermain.

Lalu...

Adrian menghentikan gerakan mouse.

Alea ikut membeku.

Karena foto berikutnya memperlihatkan sesuatu yang tidak pernah mereka duga.

Seorang pria muda.

Dan seorang wanita muda.

Mereka berdiri bersama sambil tersenyum.

George Corisand.

William Hutama.

Di antara keduanya berdiri seorang pria lain.

Pria yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.

Namun anehnya...

Wajah pria itu terasa familiar.

Sangat familiar.

Seolah mereka pernah melihatnya.

Tapi tidak tahu di mana.

"Siapa dia?"

bisik Alea.

Adrian memperbesar gambar.

Pria itu tampak berusia sekitar tiga puluh tahun.

Tinggi.

Berambut gelap.

Mengenakan kemeja putih sederhana.

Tangannya berada di bahu George dan William.

Seperti sahabat dekat.

Atau keluarga.

Lalu mata Alea membelalak.

"Tunggu."

"Apa?"

"Ada tulisan di bagian bawah foto."

Adrian memperbesar gambar sekali lagi.

Tulisan itu mulai terlihat.

Meskipun sedikit buram.

Namun masih bisa dibaca.

George – William – Nathan

Ruangan mendadak sunyi.

Nathan.

Nama pertama yang muncul di seluruh dokumen Aurora selain keluarga Corisand dan Hutama.

Nathan.

Siapa dia?

Dan mengapa seluruh keberadaannya seolah dihapus dari sejarah?

Pukul tiga dini hari.

Mereka akhirnya menemukan foto yang membuat darah mereka membeku.

Foto itu memperlihatkan tiga anak kecil.

Sama seperti foto sebelumnya.

Namun kali ini lebih jelas.

Lebih dekat.

Dan lebih tajam.

Adrian kecil berada di sisi kanan.

Alea kecil di sisi kiri.

Di tengah mereka berdiri seorang anak laki-laki lain.

Sedang tersenyum lebar.

Tangannya menggenggam tangan mereka berdua.

Di belakang foto terdapat tulisan tangan yang nyaris memudar.

"Aurora akan menjaga mereka bertiga."

Tidak ada lagi keraguan.

Subjek Ketiga memang nyata.

Dia pernah ada.

Dia pernah bersama mereka.

Dan dia pernah menjadi bagian penting dari hidup mereka.

Masalahnya...

Tak satu pun dari mereka mengingatnya.

"Apa mungkin kita mengalami trauma?"

tanya Alea pelan.

Adrian menatap foto itu.

"Maksudmu?"

"Kalau sesuatu yang buruk terjadi saat kecil..."

Alea menelan ludah.

"Otak manusia kadang menghapus sebagian memori."

Adrian tidak langsung menjawab.

Karena teori itu masuk akal.

Terlalu masuk akal.

Jika Aurora berkaitan dengan suatu tragedi besar...

Mungkin itulah alasan mereka tidak mengingat apa pun.

Namun satu pertanyaan tetap menggantung.

Jika mereka lupa...

Mengapa keluarga mereka juga menyembunyikannya?

Sementara itu.

Di sebuah lokasi yang tidak diketahui.

Seseorang duduk sendirian di dalam ruangan gelap.

Map Aurora yang dicuri dari Arsip 17 terbuka di hadapannya.

Lampu meja menerangi wajahnya sebagian.

Namun identitasnya masih tersembunyi dalam bayangan.

Tangannya perlahan membuka halaman terakhir berkas tersebut.

Di sana terdapat laporan yang telah lama menguning.

Matanya membaca setiap baris dengan tenang.

Lalu berhenti pada satu kalimat.

Senyuman tipis muncul.

Senyuman yang dipenuhi kepahitan.

"Jadi mereka akhirnya menemukannya."

gumamnya.

Tangannya menyentuh foto tiga anak kecil di dalam berkas.

Jemarinya berhenti tepat di wajah anak yang berdiri di tengah.

Anak yang sama yang muncul dalam foto milik Adrian dan Alea.

Anak yang keberadaannya telah dihapus dari sejarah.

Mata pria itu perlahan memejam.

Seolah sedang menahan kenangan lama yang menyakitkan.

Kemudian ia membuka mata kembali.

Tatapannya berubah dingin.

Tajam.

Dan penuh tekad.

"Aku sudah menunggu terlalu lama."

bisiknya.

Di hadapannya, layar monitor kecil menampilkan rekaman kamera pengawas The Obsidian secara langsung.

Menampilkan Adrian dan Alea yang masih sibuk membongkar dokumen Aurora.

Pria itu tersenyum tipis.

"Lanjutkan mencari."

katanya pelan.

"Cari sebanyak yang kalian bisa."

Tatapannya menjadi semakin gelap.

"Karena ketika kalian akhirnya menemukan siapa Subjek Ketiga itu..."

Ia menutup map Aurora perlahan.

"...kalian akan memahami mengapa seluruh dunia berusaha menghapus keberadaannya."

Dan untuk pertama kalinya sejak misteri Aurora dimulai, bahaya yang sesungguhnya mulai bergerak keluar dari bayang-bayang menuju kehidupan Adrian dan Alea.

1
Vanni Sr
bnr² woyyyy di bab ini blg lg wallianm ayah adrian , gmn sih nulis ny
꧁𖣔⃟⃝⃞𒈙᭄404᭄𒈙⃞⃝𖣔꧂: 🤣🤣🤣🤣🤣
total 3 replies
Vanni Sr
g nyambungggg, george itu kakek apa ayah alea?? clarissa itu apa bianca ganti² , ngaco sih ini
typ
apa part 40 dan 41 terbalik?
Althea Shalmaira: benar, terima kasih mengingatkan,, akan saya coba althe perbaiki yah🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!