Alya Mahendra, gadis kota yang harus menjalani KKN di Desa Sukamaju, sebuah desa pelosok yang jauh dari kehidupan nyamannya. Karena tingkahnya yang sering mengeluh dan tak terbiasa hidup sederhana, teman-temannya mulai menjulukinya “Nona Kota.”
Di tengah hari-hari KKN yang penuh tantangan, ada Arga Pratama, cowok dingin dan kaku yang diam-diam sering membantu Alya meski wajahnya selalu terlihat tak peduli. Namun saat konflik mulai muncul di posko, mampukah Alya bertahan sampai akhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anshuu_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 33.
Mentari mulai condong ke barat saat pekerjaan membangun jembatan akhirnya selesai.
Semua orang berdiri memandangi hasil kerja mereka dengan wajah penuh kepuasan. Jembatan kayu yang tadi pagi masih dipenuhi papan lapuk kini tampak kokoh dan rapi.
"Alhamdulillah... eh, akhirnya selesai juga," celetuk Dion yang langsung mengusap keringat di dahinya.
"Capeknya kebayar," sahut Adrian sambil meregangkan tubuh.
"Iya alhamdulillah banget" ucap kevin.
"Lo Kristen kocak ngapain nyebut alhamdulillah" protes dion.
"Emang gak boleh?" tanya kevin.
"Yah, ngak tau sih" jawab dion.
"Mending login aja vin sekalian" sahut reza.
"Bisa di usir gue dari rumah" ucap kevin
Semua orang yang mendengar ucapan kebin hanya bisa tertawa, ada yang hanya geleng-geleng kepala.
Sedangkan beberapa warga desa langsung mencoba melintasi jembatan itu. Mereka berjalan perlahan untuk memastikan setiap papan terpasang dengan kuat.
"Kokoh ini, Pak."
"Iya, sekarang lebih aman."
Ucapan warga membuat seluruh mahasiswa KKN saling tersenyum bangga.
"Terima kasih banyak, Nak. Berkat kalian pekerjaan jadi lebih cepat selesai," ucap Kepala Dusun.
Arga mewakili teman-temannya tersenyum sopan.
"Kami juga senang bisa membantu, Pak."
Di sisi lain, Alya berdiri di tengah jembatan sambil memandangi aliran sungai di bawahnya.
Angin sore menerbangkan beberapa helai rambut yang keluar dari ikatannya.
Ia mengeluarkan ponsel lalu memotret jembatan dari beberapa sudut.
Jepret.
Jepret.
"Wajib dikirim ke Papi," gumamnya pelan.
Dion yang melihat itu langsung mendekat.
"Al."
"Jangan bilang habis ini lo minta beliin jembatan juga."
Alya langsung memutar bola matanya.
"Ih, apaan sih."
"Emangnya aku kayak gitu?"
Adrian tertawa.
"Kalau kebun cempedak aja kemarin minta dibeli."
"Itu kan bercanda!"
"Beneran?"
"Tentu aja."
Mereka kembali tertawa bersama.
Tak lama kemudian, salah seorang ibu datang membawa beberapa baskom berisi es kelapa muda dan pisang goreng hangat.
"Istirahat dulu, Nak."
"Ini buat semuanya."
"Wah, terima kasih, Bu!" jawab mereka serempak.
Tanpa menunggu lama, Dion langsung mengambil segelas es kelapa.
"Ini baru penyelamat hidup."
"Baru juga selesai kerja udah lebay," sahut Adrian sambil tertawa.
Sementara itu, Laura berdiri tak jauh dari mereka.
Tatapannya kembali berhenti pada Alya yang sedang mengobrol santai bersama Arga dan teman-teman lainnya.
Ia mengepalkan tangan pelan.
Dalam hati, ia bertekad tidak akan terus membiarkan Alya menjadi pusat perhatian.
Entah bagaimana caranya, ia ingin membuat Arga mulai memperhatikannya.
Tanpa disadari siapa pun, benih persaingan itu mulai tumbuh semakin dalam.
Langit mulai gelap ketika rombongan KKN kembali ke posko.
Semua terlihat kelelahan setelah seharian bergotong royong membangun jembatan bersama warga Desa Sukamaju.
Baru saja sampai di depan posko, Dion langsung menjatuhkan tubuhnya di kursi bambu.
“Gue resmi nggak punya tenaga.”
Adrian yang berjalan di belakangnya langsung tertawa.
“Baru juga bangun satu jembatan.”
“Belum bangun rumah.”
“Kalau bangun rumah mah gue langsung pulang.”
Ucapan Dion membuat yang lain ikut tertawa.
Sementara itu, Alya membawa beberapa botol minuman yang tadi diberikan warga ke dapur.
Ia baru saja meletakkannya ketika terdengar suara Laura.
“Al, nanti bantu masak, ya.”
Alya menoleh.
“Oke.”
“Sekarang udah lumayan bisa, kok.”
Jawaban itu membuat Tiara tersenyum.
“Nah, gitu dong.”
“Sekarang udah nggak bingung lagi di dapur.”
Alya terkekeh malu.
“Masih belajar.”
“Yang penting nggak motong sayur panjang-panjang lagi,” goda Dion dari ruang tamu.
“Ih!”
“Itu kan sekali doang!”
Suasana kembali dipenuhi tawa.
Tak lama kemudian, semua mulai berbagi tugas.
Laura, Nadia, dan Amelia menyiapkan bumbu.
Alya membantu mencuci sayuran.
Sementara Arga bersama Dimas dan Andre menyalakan tungku di belakang posko.
Asap tipis mulai mengepul ke udara.
“Kayunya kurang, Dim.”
“Sebentar, aku ambil.”
Tak jauh dari sana, Adrian dan Dion justru sibuk mengipas api.
“Pelan-pelan!”
“Kalau kayak gitu apinya malah mati,” tegur Arga.
“Iya, Bos,” jawab Dion sambil tertawa.
Sekitar satu jam kemudian, aroma masakan mulai memenuhi seluruh posko.
“Harum banget,” gumam Rizki yang baru keluar dari kamar.
“Kayaknya malam ini makannya nambah.”
“Lo mah tiap hari juga nambah,” sahut Adrian.
Semua kembali tertawa.
Di dapur, Alya sedang menuangkan sayur ke dalam mangkuk ketika tanpa sengaja tangannya menyentuh panci yang masih panas.
“Ah!”
Ia refleks menarik tangannya.
Arga yang berada paling dekat langsung menoleh.
“Kenapa?”
“Aku kena panci.”
Arga segera mengambil gelas berisi air bersih.
“Coba sini.”
Alya menurut.
Arga menyiram pelan jari Alya dengan air dingin.
“Masih sakit?”
“Udah mendingan.”
“Hati-hati Jangan buru-buru.”
Alya mengangguk pelan.
“Iya.”
Dari sudut dapur, Laura melihat kejadian itu tanpa berkata apa-apa.
Ia hanya menundukkan kepala, lalu kembali mengiris bawang dengan gerakan yang sedikit lebih cepat dari sebelumnya.
Malam itu, makan malam berlangsung hangat.
Tak ada lagi pembahasan tentang pekerjaan berat siang tadi.
Yang terdengar hanyalah canda, tawa, dan obrolan ringan, sementara di luar posko suara jangkrik mulai memenuhi malam Desa Sukamaju.
Setelah makan malam, mereka kembali berkumpul di ruang tamu untuk mengevaluasi kegiatan hari itu.
Arga membuka pembicaraan.
“Terima kasih atas kerja sama kalian hari ini. Jembatan akhirnya selesai berkat bantuan semua orang. Sekarang kita bahas program kerja selanjutnya. Kalau ada usulan, silakan disampaikan.”
Suasana sempat hening.
Perlahan, Alya mengangkat tangan.
“Aku mau usul.”
“Silakan,” ujar Arga.
“Kalau kita bangun toilet umum buat warga gimana?”
Semua langsung menoleh ke arahnya.
Dimas menggeleng pelan.
“Idenya bagus, Al. Tapi biaya bangun toilet umum nggak sedikit.”
“Iya,” sambung Rizki. “Dana KKN kita jelas nggak cukup.”
Alya mengangguk.
“Kalau soal dana... aku yang bantu.”
Ruangan langsung hening.
“Hah?” ucap Dion spontan.
Alya menggaruk pipinya pelan.
“Soalnya... jujur aja, aku udah nggak mau BAB di jamban lagi.”
Ucapan Alya membuat Adrian langsung menutup mulut menahan tawa.
Dion bahkan tertawa lebih dulu.
“Buset, ternyata ini alasan utamanya.”
Alya langsung memonyongkan bibir.
“Bukan cuma itu.”
“Kalau ada toilet yang layak, warga juga pasti lebih nyaman. Jadi sekalian aja.”
Arga menatap Alya beberapa saat sebelum akhirnya berkata,
“Nanti kita bahas dulu dengan kepala desa. Kalau memang itu yang paling dibutuhkan warga dan memungkinkan untuk dikerjakan, baru kita pikirkan langkah selanjutnya.”
Alya mengangguk semangat.
“Oke.”
Di tengah diskusi, Nadia tiba-tiba angkat bicara.
“Terus, buat ke depannya... kalau kerja jangan kebanyakan bercanda.”
Semua langsung menoleh ke arahnya.
“Kadang jadi susah fokus.”
“Ini kita lagi KKN, bukan lagi di tempat hiburan yang bisa seenaknya.”
Suasana ruang tamu seketika menjadi sedikit hening.
Ucapan Nadia jelas mengarah kepada seseorang, meski ia tidak menyebut nama.
Alya hanya terdiam sambil menundukkan kepala, menyadari sindiran itu ditujukan kepadanya.
Dion yang hendak bercanda pun mengurungkan niatnya karena melihat suasana berubah menjadi canggung.
“Oke, kalau tidak ada lagi yang ingin disampaikan, diskusi kita cukup sampai di sini. Terima kasih semuanya,” ucap Arga menutup rapat malam itu.
“Siap,” jawab yang lain hampir bersamaan.
Suasana yang semula serius kembali mencair. Dion dan Adrian langsung sibuk mengobrol, sementara beberapa yang lain mulai merapikan buku catatan dan gelas minum.
Laura memanfaatkan kesempatan itu.
Ia membawa buku agenda beserta laptopnya, lalu berjalan menghampiri Arga yang masih duduk di depan.
“Arga.”
“Iya?”
“Aku mau nunjukin laporan sama rancangan proker yang tadi aku catat.”
“Takutnya masih ada yang perlu direvisi.”
Arga menerima laptop yang disodorkan Laura, lalu mulai membaca isi dokumen tersebut dengan teliti.
Beberapa menit berlalu dalam keheningan.
“Secara keseluruhan sudah bagus,” ujar Arga.
“Cuma di bagian jadwal kegiatan minggu depan coba disesuaikan lagi. Terus tambahkan hasil evaluasi pembangunan jembatan hari ini.”
Laura mengangguk sambil mencatat.
“Oke, nanti aku revisi.”
“Kalau yang lain ada lagi?”
Arga menggeleng.
“Selebihnya sudah rapi.”
“Makasih.”
Laura tersenyum tipis.
“Siap.”
Tak jauh dari mereka, Alya yang sedang duduk bersama Tiara tanpa sengaja melirik ke arah Arga dan Laura yang masih membahas laporan. Namun ia tidak terlalu memikirkannya dan kembali melanjutkan obrolannya dengan Tiara.