NovelToon NovelToon
Mengandung Benih Kembar CEO Mandul

Mengandung Benih Kembar CEO Mandul

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / One Night Stand / Anak Kembar
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: Novaa

"Ternyata kamu tidak lebih dari wanita sampah Kiana! Bagaimana bisa kamu hamil jika tidak berhubungan dengan laki-laki lain?! Kau tahu aku ini Mandul!

...

Kiana Mahira wanita 25 tahun yang terjebak malam panas bersama Pria 35 tahun bernama Ardan Arkatama. Malam itu Kiana terpengaruh obat yang di cekoki pacarnya, Dafa (28). Dafa berniat menjadikan Kiana tumbal pelunas hutang kepada seorang rentenir tua. Malam itu Kiana berhasil kabur dengan kondisi mabuk dan terpengaruh obat dosis tinggi. Namun justru dia jatuh ke pelukan Ardan Arkatama seorang CEO dingin yang sedang frustasi berat karena tuntutan ahli waris di tengah vonis kemandulannya.

Satu malam panas itu ternyata membuat Kiana mengandung anak kembar. Kiana yang sudah sepakat dengan Ardan untuk melupakan malam itu memilih diam karena takut Ardan pasti tidak akan mengakuinya karena pria itu sangat yakin dirinya mandul tanpa tahu semua ini hanyalah rekayasa dari pamannya yang haus kekuasaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33 // MBKCM

~Jakarta, kediaman Arkatama

Di ruang tamu utama yang dilapisi karpet bulu domba impor, Dania duduk dengan anggun di sofa kulit. Di hadapannya, beberapa buku katalog tebal berisi contoh dekorasi pernikahan berkelas internasional pameran kain sutra terbentang rapi di atas meja kaca.

​Dania tidak datang sendirian ke rumah keluarga calon suaminya itu. Di sebelah kanannya, duduk sang ayah, Danu Abraham seorang pengusaha properti kelas atas yang menjadi sekutu bisnis terkuat Arkatama Group selama ini.

​Kakek Wirya, sang kepala keluarga yang rambutnya sudah memutih seluruhnya namun masih memiliki tatapan mata yang sangat tajam, mengembuskan napas panjang sembari menyesap teh hangatnya. Wajah tuanya menyiratkan rasa tidak enak yang cukup besar.

​"Danu, Dania... atas nama keluarga Arkatama, aku benar-benar minta maaf," ujar Kakek Wirya, suaranya berat penuh wibawa namun terdengar gusar. "Cucuku itu... Ardan, dia benar-benar keterlaluan. Di saat hari pernikahan sudah semakin dekat, dia justru hanya sibuk bekerja dan malah pergi ke Bandung untuk urusan mall baru. Membiarkan Dania mengurus semuanya sendirian seperti ini membuatku merasa sangat malu sebagai kakeknya."

​Danu Abraham terkekeh pelan, melambaikan tangannya di udara seolah hal itu bukanlah masalah besar baginya. "Ah, Pak Wirya, tolong jangan berkata seperti itu. Saya sama sekali tidak marah pada Ardan. Justru sebaliknya, saya sangat mengagumi sosok calon menantu saya itu. Ardan itu pemuda yang luar biasa gigih dalam bekerja. Lihat saja bagaimana kejayaan Arkatama Group beberapa tahun ini yang semakin bersinar dan mendominasi pasar fiansial. Itu semua berkat tangan dingin Ardan. Pria sukses memang harus fokus, bukan?"

​Di sudut sofa yang lain, Arya Arkatama, paman Ardan kebetulan juga ada di kediaman utama sejak pagi untuk menemani Kakek Wirya. Arya yang mengenakan kemeja batik sutra rapi tampak tersenyum tipis, sebuah senyuman yang menyimpan banyak arti tersirat.

​Arya membetulkan posisi duduknya, lalu ikut menimpali pembicaraan demi menarik perhatian sang ayah. "Papa, sepertinya aku perlu turun tangan untuk mengajari Ardan bagaimana cara meluangkan sedikit waktu untuk mengurus pernikahannya sendiri. Kasihan Dania, dia sudah sangat semangat mengurus semua detail ini sendirian tanpa didampingi calon suami."

​Arya menjeda kalimatnya sejenak, melirik Kakek Wirya untuk membaca situasi sebelum melancarkan aksi lobi politiknya. "Kebetulan, Papa... putriku, Selvia, akan segera menyelesaikan kontraknya di Paris dan kembali ke Indonesia dalam minggu ini. Selvia bilang dia sangat bersedia untuk membantu Ardan mengurus jalannya perusahaan kita. Jadi, kalau nanti Ardan mulai sibuk dengan Dania setelah mereka menikah bulan depan, Selvia bisa didelegasikan untuk memegang posisi strategis atau bahkan menggantikan sementara tugas-tugas Ardan di jajaran direksi utama."

​Mendengar tawaran dari putra keduanya itu, Kakek Wirya tidak langsung merespons dengan serius. Sebaliknya, pria tua itu justru tertawa lepas, sebuah tawa yang terdengar sangat meremehkan bagi telinga Arya.

​"Selvia?" Kakek Wirya menggeleng-gelengkan kepalanya sembari terkekeh. "Arya, anak perempuanmu itu adalah seorang model profesional. Kesehariannya hanya tahu bagaimana cara berjalan di atas catwalk dan berpose dengan cantik di depan kamera. Dia tidak tahu apa-apa tentang cara menganalisis pergerakan saham atau mengelola likuiditas aset Arkatama Group. Jangan menaruh beban yang tidak sesuai pada tempatnya."

​Raut wajah Arya seketika berubah sedikit menegang. Dia merasa sangat tersinggung dengan ucapan tajam ayahnya sendiri yang selalu menganakemaskan Ardan. Namun, Arya adalah seorang manipulator yang ulung. Dia segera meredam amarahnya di balik senyuman palsu yang ramah. Di dalam benaknya, sebuah rahasia gelap berputar dengan sangat manis.

​Di dalam ruangan megah ini, hanya pikiran Arya-lah yang tahu secara mutlak tentang fakta kemandulan Ardan. Mengapa? Karena dialah dalang utama, kendali di balik semua dokumen medis palsu yang selama bertahun-tahun ini dikirimkan dari rumah sakit internasional ke tangan Ardan. Arya sengaja memanipulasi kesuburan keponakannya itu agar Ardan frustrasi dan tidak akan pernah bisa memiliki keturunan sah yang bisa mewarisi takhta Arkatama Group.

​Arya tidak berniat membongkar kartunya sekarang. Namun, hasrat untuk menyindir membuat bibirnya melontarkan kalimat sarkas yang cukup tajam untuk menguji suasana.

​"Ya, terserah Papa saja," ujar Arya sembari mengangkat bahu santai. Dia kemudian menatap Dania dan Danu bergantian. "Jadi... kapan sebenarnya pernikahan agung ini akan resmi digelar? Ardan itu usianya sudah tiga puluh lima tahun, loh. Tergolong matang untuk ukuran pria. Aku sarankan jangan terlalu lama menunda pernikahan ini, takutnya... seiring bertambahnya usia, dia bisa terkena masalah kesehatan reproduksi atau semacamnya, dan malah susah memiliki keturunan nanti. Kan sayang kalau Arkatama tidak punya penerus."

​Deg.

​Kakek Wirya langsung menghentikan aktivitas minum tehnya. Dia menatap putra keduanya itu dengan sorotan mata yang teramat sangat tajam dan tidak senang. "Arya! Apa-apaan yang kamu katakan itu? Jaga bicaramu di depan tamu kita. Sebagai paman, doakan saja yang terbaik untuk kesehatan reproduksi keponakanmu sendiri!"

​Dania yang mendengar hal itu justru tersenyum tenang, sama sekali tidak merasa terusik. "Tenang saja, Paman Arya. Kak Ardan itu pria yang sangat disiplin. Dia selalu melakukan medical chek-up rutin setiap beberapa bulan sekali di rumah sakit terbaik, jadi hasilnya pasti selalu bagus dan prima. Jadi, tidak perlu mengkhawatirkan hal sepele seperti itu."

​Arya yang mendengar jawaban polos Dania hampir saja tertawa terbahak-bahak di dalam hatinya. Dia menatap Dania dengan pandangan mengejek yang tersembunyi. "Dasar wanita bodoh, kamu belum tahu saja kalau pria yang sangat kamu puja-puja itu sebenarnya adalah pria mandul yang tidak berguna!" batin Arya bersorak gembira. Dia sudah tidak sabar menunggu saat yang tepat di mana dia akan menyebarkan berita kemandulan Ardan ke seluruh media nasional, mempermalukan keponakannya itu hingga lengser dari kursi CEO.

​Danu Abraham segera memecah ketegangan yang sempat tercipta. "Sudah, sudah... urusan kesehatan anak muda tidak perlu diperdebatkan. Lebih baik sekarang kita tentukan saja tanggal baik untuk resepsinya, Pak Wirya. Berdasarkan perhitungan dari keluarga kami, tanggal terbaik jatuh pada pertengahan bulan depan. Bagaimana?"

​Kakek Wirya tampak menimbang sejenak sebelum akhirnya mengangguk setuju. "Ya, bulan depan adalah waktu yang sangat tepat. Segera sahkan tanggalnya hari ini agar pihak vendor bisa langsung bekerja."

​Dania yang mendengar keputusan itu langsung bersorak kegirangan di dalam hati. Dengan wajah yang berseri-seri, dia segera mengambil ponsel pintarnya dari atas meja. "Kalau begitu, aku akan langsung menelepon Kak Ardan sekarang juga untuk memberikan kabar bahagia ini!"

​Dania menekan tombol panggil ke nomor pribadi Ardan. Nada sambung terdengar beberapa kali, namun hingga panggilan tersebut berakhir secara otomatis, Ardan sama sekali tidak menjawab panggilan teleponnya. Dania mendesah kecewa, tidak tahu bahwa di seberang sana, di kota Bandung, pria yang dia hubungi sedang mengalami guncangan batin terbesar dalam hidupnya.

~Bandung

​Di saat yang bersamaan, di depan ruko Twin's Florist, sebuah mobil sedan mewah hitam terparkir dengan senyap di pinggir jalan. Di dalam kabin pengemudi, Bimo duduk diam sembari sesekali melirik ke arah pintu kaca ruko yang tertutup rapat.

​Bimo yang sejak tadi setia menunggu di luar ruko sebenarnya tahu betul apa yang sedang terjadi di dalam sana. Melalui kaca ruko yang transparan, dia sempat menyaksikan drama menyedihkan di mana bos besarnya yang arogan harus berlutut di bawah kaki Kiana, memohon ampun hingga akhirnya ditinggalkan begitu saja oleh Kiana yang melangkah naik menghilang ke lantai dua ruko tanpa memberi ampunan.

​Bzzzt... Bzzzt...

​Ponsel di atas dasbor mobil Bimo bergetar hebat. Nama Ibu Dania tertera dengan jelas di sana. Bimo mengembuskan napas berat, merasa terjepit di antara kewajiban profesional dan kenyataan pahit yang sedang dihadapi bosnya. Dia terpaksa menggeser tombol hijau.

​"Selamat siang, Ibu Dania," sapa Bimo dengan nada suara yang diatur seprofesional mungkin.

​Di seberang telepon, suara Dania terdengar sangat menuntut.

📞"Bimo! Di mana Kak Ardan?! Kenapa aku menelepon nomor pribadinya berkali-kali tapi tidak diangkat sama sekali, hah?!"

​Bimo berdeham pelan, menyusun kebohongan darurat demi melindungi privasi Ardan saat ini. "Mohon maaf yang sebesar-besarnya, Ibu Dania. Saat ini Pak Ardan sedang berada di area dalam bangunan mall yang diresmikan kemarin. Beliau sedang melakukan tinjauan ulang bersama tim kontraktor sipil di area lantai bawah tanah yang minim sinyal, jadi ponsel beliau tidak bisa dihubungi dan beliau tidak bisa diganggu untuk beberapa jam ke depan."

​Dania mendengus kesal mendengarnya. 📞"Selalu saja urusan pekerjaan! Ya sudah, kalau begitu jalankan tugasmu sebagai asisten. Tolong titip pesan penting ini pada Kak Ardan begitu dia keluar dari area basement. Katakan padanya, Kakek Wirya dan Papaku sudah mengesahkan tanggal pernikahan! Pernikahan kami resmi akan digelar pada pertengahan bulan depan. Katakan padanya untuk segera bersiap pulang ke Jakarta!"

​"Baik, Ibu Dania. Pesan Anda akan segera saya sampaikan kepada Pak Ardan setelah beliau selesai meninjau area. Selamat siang," ujar Bimo sebelum akhirnya menutup sambungan telepon tersebut dengan perasaan campur aduk.

​Beberapa saat setelah Bimo meletakkan ponselnya kembali, pintu kaca ruko Twin's Florist perlahan terbuka. Sosok Ardan Arkatama berjalan keluar dengan langkah yang sangat lambat dan gontai. Tidak ada lagi sisa-sisa keangkuhan seorang CEO dari dalam dirinya. Wajahnya tampak pucat, matanya merah, dan pandangannya kosong menatap lurus ke depan seolah seluruh jiwanya telah tertinggal di lantai dua ruko milik Kiana.

​Bimo segera turun dari mobil dan membukakan pintu belakang untuk bosnya dengan sikap hormat. "Pak Ardan..." panggil Bimo lirih.

​Ardan tidak langsung masuk ke dalam kabin mobil. Dia berdiri mematung di samping pintu mobil, menatap asisten pribadinya dengan tatapan yang sangat redup.

​Bimo menundukkan kepalanya sedikit, merasa harus menyampaikan informasi yang baru saja dia terima meskipun tahu hal itu akan memperkeruh suasana hati Ardan. "Pak... mohon maaf sebelumnya. Barusan Ibu Dania menelpon saya karena panggilan ke nomor Anda tidak terjawab. Beliau menitipkan pesan... bahwa Pak Wirya dan Pak Danu Abraham sudah mengesahkan tanggal pernikahan Anda. Pernikahan Anda dengan Ibu Dania... diputuskan akan terjadi pada pertengahan bulan depan, Pak."

​Mendengar rentetan kalimat tentang keputusan pernikahan tersebut, tidak ada sedikit pun binar kebahagiaan atau ketertarikan di wajah Ardan. Kalimat Bimo seolah hanya menjadi angin lalu yang tidak memiliki arti apa pun lagi bagi hidupnya sekarang.

"​Pernikahan? Bagaimana bisa aku menikah dengan Dania di saat ada wanita lain yang sesungguhnya sudah mengisi hatiku sejak malam itu, dia sedang mengandung anak-anak kandungku dan hidup menderita karena kesalahanku sendiri?" batin Ardan menjerit pahit.

​Ardan perlahan mengangkat tangan kirinya ke depan dada. Sepasang matanya tertuju pada sebuah cincin pertunangan mewah bermata berlian murni yang melingkar erat di jari manisnya. Cincin yang selama ini menjadi simbol keterikatannya dengan Dania demi ambisi bisnis keluarga.

​Dengan gerakan yang teramat sangat tegas, dingin, dan tanpa keraguan sedikit pun, Ardan menggunakan jemari tangan kanannya untuk menggenggam cincin tersebut. Dia menarik dan melepas cincin itu secara paksa dari jari manisnya hingga kulit jarinya memerah memar.

​Ardan mengulurkan tangan kanannya yang menggenggam cincin berlian itu, lalu menaruhnya dengan sentakan kasar di atas telapak tangan Bimo yang tertegun syok.

​"Pak Ardan... apa maksudnya ini?" tanya Bimo dengan mata membelalak lebar, menatap cincin di tangannya bergantian dengan wajah bosnya.

​"Simpan cincin itu, Bimo," ujar Ardan, suara baritonnya terdengar sangat mutlak, dingin, dan sarat akan pemberontakan terhadap takdir yang diatur keluarganya. "Katakan pada Dania dan kepada semuanya... tidak akan pernah ada pernikahan di antara aku dan dia bulan depan. Pernikahan itu... batal."

1
Lisa
Ardan harus mengambil sikap tegas utk melawan kakeknya..
Lisa
Penyesalan Ardan tidak berarti lg utk Kiana..
partini
sat set lah tuan be smart don't be stupid aihhh CEO 🤦
Nur Fadilah
suka jln ceritax
Lisa
Duh punya tetangga koq kayak gitu ngomongnya..
Lisa
Gmn tuh sadar atau g si Ardan klo twins benar² anaknya..
Lisa
Keras kepala banget si Ardan ini..msh blm mau mengakui klo twins adl anaknya
Lisa
👍 bagus Kiana..anggaplah si Ardan itu udh g ada..
Lisa
ya bener ceo koq g tegas sikapnya..periksa ke dokter yg lain donk..
Dewi Amalia
malass bca cerita nya msa ceo mudah di bohongi berkali-kali.. seharusnya gnti dg dokter yg lain...
jenny
menanti penyesalan Ardan 😁
Novaa: tunggu kelanjutannya ya, terimakasih sudah mampir 🫰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!