NovelToon NovelToon
Gelora Cinta Dalam Dendam

Gelora Cinta Dalam Dendam

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: yourladysan

Rencana pernikahan Amaia dengan putra kedua keluarga Tedjakusuma berakhir sangat jauh dari impian indahnya. Pembatalan pernikahan dan menghilangnya sang calon suami membuat Amaia merasa sangat kecewa. Sementara di sisi lain, Widitama si putra tertua mengajukan diri untuk menggantikan sang adik sebagai suami untuk Amaia.

Amaia yang selama ini hanya menganggap Widitama sebagai kakak, harus pura-pura menerima pernikahan untuk mencari tahu kebenaran tentang pembatalan pernikahannya. Satu rahasia besar yang Amaia lewatkan adalah Widitama sudah lama mencintainya. Bisakah Amaia mengungkap kebenaran dan menerima perasaan Widitama?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yourladysan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Istri Bodoh!

Berjam-jam lamanya Amaia melewatkan waktu di rumah utama keluarga Tedjakusuma. Makan malam pun terasa lebih lama dari yang sudah-sudah. Pembahasan tentang bisnis dan kabar dari masing-masing keluarga membuat segalanya terasa lambat. Amaia sudah tak tahan.

Ia baru bisa bebas setelah acara minum teh selesai. Ferdian berpamitan lebih dulu karena urusan mendadak yang menyangkut pekerjaan. Namun, Amaia sempat mendengar obrolannya dengan seseorang lewat telepon saat tak sengaja melintas di lorong dekat ruangan pribadi sang ayah mertua.

"Maaf, akan saya pastikan kita bisa mengambil alih secepanya. Widitama sedang mengurus keluarga mendiang." Amaia yakin kalimat Ferdian ditujukan kepada mendiang ayahnya.

Amaia menyempatkan diri ke kamar mandi. Perutnya bergolak jijik saat membayangkan tawa dan senyum sok tulus milik keluarga Tedjakusuma. Selama belasan atau bahkan puluhan tahun kedua keluarga saling mengenal. Tapi Amaia merasa sangat bodoh dan naif karena tertipu begitu lama. Keluarganya benar-benar dianggap remeh oleh Ferdian dan Sasti.

Makanan yang sudah masuk ke perut Amaia, keluar begitu saja saat muntah-muntah saking muaknya dengan akting Sasti dan Ferdian. Terlebih Sasti. Wajahnya tampak tidak berdosa sama sekali. Padahal wanita itu adalah iblis yang bahkan ingin membuang putra kandungnya sendiri.

Suara ketukan di pintu kamar mandi membuat Amaia terkesiap. Ia buru-buru berdiri dengan kedua kaki yang masih bergetar. Setelah merapikan penampilan, Amaia keluar. Widitama menyambutnya.

"Kenapa lama sekali? Ayo, pulang!" ajaknya.

Amaia melengos. Tanpa sepatah kata pun, dia berjalan mendahului suaminya. Namun, tiba-tiba Widitama berjalan cepat dan merangkul pinggangnya.

"Mas, apa yang ...."

"Ada Denara. Bukannya ini juga bagian dari rencana kamu? Ingin membalas dendam padanya?" bisik Widitama setengah menunduk.

Betul saja. Denara terlihat dari anak tangga. Ia baru saja naik bersama Sasti.

Walaupun sebetulnya Amaia masih agak kesal dengan Widitama, tapi untuk saat ini dia tak punya pilihan lain. Mau tak mau, Amaia membiarkan Widitama merangkul pinggangnya dengan erat. Berpura-pura romantis di depan Denara adalah cara untuk membuat wanita itu tidak seenaknya lagi.

Benar saja, Amaia langsung mendapat tatapan Denara yang menghunus.

"Kalian sudah mau pulang?" tanya Sasti. Lagi-lagi suaranya terdengar ramah, tetapi Amaia tahu itu hanyalah akting belaka.

"Ya, sudah malam. Amaia juga sedang tak enak badan," jawab Widitama. Ia menoleh pada Amaia yang mendongak dan memamerkan senyum.

"Kamu sakit, Sayang?" Sasti mendekat dan memegangi kening Amaia tanpa permisi.

Dulu Amaia akan senang kalau Sasti memperhatikannya layak seorang ibu kepada anak. Namun, sekarang kepedulian Sasti membuat Amaia jijik. Ia tersenyum tipis dan mundur sedikit.

"Aku baik-baik aja. Cuma nggak enak badan," kata Amaia. Ia melirik Denara yang sejak tadi menatap tak suka ke arahnya. "Udah beberapa hari ini sih nggak enak badan. Kayaknya aku perlu ke dokter."

"Iya, ya, coba nanti periksa dulu. Mungkin saja ...."

Kalimat Sasti tertahan karena Amaia berkata, "Maksud Mama, dokter kandungan, ya?" Pertanyaan itu serta-merta membuat Denara terkesiap. Matanya melotot tajam ke arah Amaia, lalu beralih pada Widitama. "Ah, aku sama Mas Widi emang udah diskusi tentang itu. Iya, kan, Mas?" Amaia mendongak menunggu jawaban sang suami.

Widitama yang tak sempat mendapat briefing tengang akting dan skenario dadakan, tentu saja agak kaget. Namun, ia berhasil menyelamatkan Amaia dari reaksi terkejut dan tersenyum lebar. Lengannya yang kekar menarik tubuh Amaia agar lebih dekat.

"Iya, betul. Belakangan ini Amaia memang kadang nggak enak badan dan sering kelelahan." Widitama mendukung akting Amaia.

"Aku juga nggak sabar pengen tau hasilnya. Kalau aku hamil, aku bisa ngasih kabar bahagia buat Mama dan mamaku, buat keluarga kita." Akting Amaia mulus sekali. Dia dengan setengah terpaksa membalas rangkulan Widitama dengan merangkul pinggangnya.

Ketika mendongak, Amaia melihat Widitama tersenyum tipis. Ekspresinya seolah-olah berkata; bicaramu jauh sekali. Namun, Amaia tak peduli. Ia melirik Denara yang semakin terlihat dikuasai ledakan murka.

Kedua tangan Denara terkepal di sisi tubuh. Andaikata tak ada Sasti dan Widitama, dia pasti sudah menerjang Amaia detik itu juga. Amaia yakin Denara tidak bisa membayangkan pria yang dicintainya, justru akan memiliki anak dengan wanita lain—walaupun Amaia berbohong tentang dokter kandungan dan kehamilan tadi.

"Itu akan jadi kabar yang sangat membahagiakan," kata Sasti.

Auh! Amaia muak sekali melihat senyumnya.

Sesaat setelah berbincang sebentar, mereka berpamitan. Karena Amaia sendiri sudah tak tahan berlama-lama di rumah tersebut. Kalau dulu, ia senang hati diminta menginap. Namun, sekarang tidak. Berada di sana selama beberapa menit saja sebetulnya dia tak sanggup.

Amaia langsung mendorong Widitama setelah mereka tiba di depan mobil. Sepasang matanya berusaha untuk tak melirik pria itu. Sebelum Widitama meminta maaf atau menyesali semua perkataan dan perbuatannya—tentang kebodohan yang selama ini sering diucapkan—Amaia tak akan meladeninya dengan senang hatim

Hawa dingin membuat Amaia mengusap kedua lengannya sendiri. Malam itu gaunnya tidak terlalu tertutup. Sehingga dingin yang datang terasa lebih kuat menyapa kulit.

Widitama melepas jas dan menyampirkan pada kedua pundak Amaia. Aksinya menghadirkan reaksi kaget sang istri. Gadis itu mendongak padanya.

"Setelah puas mengejek kebodohan seseorang, lalu sekarang dia nggak tunduk lagi, jalan yang kamu pilih adalah merayunya? Dengan cara seperti ini?" Amaia tersenyum kecut.

"Baguslah kalau kamu sadar dengan kebodohan itu. Sekarang berhentilah bersikap seperti ...."

"Apa? Kekanak-kanakan?"

"Saya nggak mau berdebat. Masuk! Kita harus pulang, saya lelah ingin istirahat." Widitama membuka pintu lebar-lebar.

Betul-betul tak punya hati! pikir Amaia. Alih-alih masuk, ia menatap Widitama lebih lama. Sorot matanya tampak begitu terluka. Karena Widitama sama sekali tak terlihat menyesal. Apa sih yang kamu harapkan dari lelaki ini, Amaia?

Amaia terkekeh sumbang. Salah besar dia mempercayai ucapan mamanya, kalau Widitama betul-betul peduli bukan semata karena ingin membalas dendam. Seharusnya dia tak percaya kalau Widitama benar-benar ingin melindunginya dan Atika. Karena pria itu menyayangi mereka.

"Sebenarnya mau kamu apa, sih, Mas Widi?" tanya Amaia. Suaranya mendadak bergetar.

Sadar akan nada bicara Amaia, Widitama menutup pintu mobil, lagi. "Saya mau kamu masuk, pulang, dan fokus pada tujuan kita. Sikapmu bisa membuat rencana kita berantakan."

"Balas dendam itu lebih penting buat kamu? Sampai-sampai kamu nggak bisa menghargai perasaan orang lain? Sampai-sampai kamu merasa bahwa kamu-lah yang benar dan orang lain selalu salah? Oh, dan kamu selalu merasa bahwa aku adalah orang paling bodoh di sini? Kalau kamu nggak tahan punya istri bodoh, kenapa dari awal kamu datang dan memintaku melakukan semua ini?!" jerit Amaia.

Sebetulnya dia bingung dengan kemarahan yang begitu tiba-tiba. Padahal beberapa bulan belakangan dia sudah mulai tahan dengan sikap Widitama. Tapi belakangan perasaannya sakit setiap mengingat ucapan dan sikap pria itu.

"Kamu bukan Mas Widi yang aku kenal dulu," lirih Amaia. Matanya berkaca-kaca saat menunduk. Ia tak tega menatap pria itu. "Kamu orang lain."

"Memangnya apa yang kau harapkan dari saya, Mai? Seharusnya kamu sadar, waktu bisa menjadi sesuatu yang sangat mengecewakan. Banyak waktu yang telah lewat dan seseorang akan berubah seiring berjalan waktu." Widitama tanpa ragu mengatakannya.

"Tapi kenapa ...." Amaia berusaha mengatur suaranya. Ia berharap tangis tak pecah malam itu juga. "Apa salah aku? Kenapa setelah kita dewasa, kamu seperti ini? Dulu aku senang karena kamu seperti kakak yang bertanggung jawab. Tapi kenapa sekarang ... kenapa kamu seperti orang lain?"

Tak ada jawaban. Amaia berusaha mendongak. Meski matanya berkaca-kaca, tapi air matanya belum juga luruh. Ia pikir Widitama bisa sedikit luluh, tetapi bahkan wajahnya tak menunjukkan ekspresi berarti. Begitu datar dan dingin. Seolah perkataan Amaia hanya angin lalu yang tak penting.

Amaia tergelak miris dan detik itu juga air matanya berjatuhan. Sejujurnya ia benci mengapa perasaannya begitu sakit setiap mengingat masa lalu. Widitama, sosok kakak yang hangat, bertanggung jawab, penuh perhatian, kini telah berbeda, dan Amaia benci keadaan itu.

"Astaga, aku nangisin apa, sih?" gumam Amaia. Dia mengusap pipinya yang sedikit basah. "Oke, kalau kamu mau fokus ke balas dendam, mulai sekarang anggap saja kita cuma partner untuk hal itu. Setelah tujuan kita tercapai, kamu bisa menceraikan aku. Bertahan sedikit lagi dengan istri bodoh kamu ini."

Ia sempat melihat Widitama hendak membuka bibir. Tapi Amaia memilih untuk berjalan lebih dulu dan membuka pintu mobil, lalu masuk ke sana. Suara pintu yang tertutup keras membelah udara. Amaia memakai sabuk pengaman dan menutup mata setelah Widitama masuk.

Pikirnya pria itu akan berkomentar karena biasanya Widitama tak pernah kalah dalam perdebatan. Namun, Amaia menyaksikan sendiri suaminya kehilangan kata-kata.

......*****......

Pagi-pagi sekali Amaia terbangun dan berangkat ke kampus. Ia bahkan tak membangunkan Widitama dan tidak sarapan di unit mereka. Karena ada seminar proposal hari ini, Amaia hanya ingin fokus ke sana.

Beberapa hari berlalu sejak perdebatan mereka di rumah utama keluarga Tedjakusuma. Amaia bersikap biasa saja setelah kejadian itu. Tak ada tanda-tanda kemarahan atau sikap dingin terhadap suaminya. Lalu anehnya, Widitama juga tak banyak bicara seperti biasa.

Sesekali mereka bertemu di ruang rahasia rumah lama Widitama. Hanya untuk membahas rencana ke depannya. Kabar dari Edgar mengatakan bahwa mereka kehilangan jejak Rakha di bandara saat datang ke Jakarta. Sementara wanita yang bersama Rakha sedang dilacak. Mereka tak boleh membiarkan orang suruhan Sasti dan Ferdian lebih dulu menemukan wanita itu.

Amaia menyingkirkan sejenak kabar itu. Ia memilih fokus pada proposal.

"Hei!" Cassie datang saat Amaia menunggu giliran seminar. "Lo udah siap, kan?"

"Siap banget, walaupun agak deg-degan."

Cassie terkekeh dan memeluk Amaia sebentar. "It's okay. Itu wajar. Yang penting lo bisa atur grogi nanti saat presentasi. Gue yakin, lo bisa."

"Thanks, Cass. Doain lancar, ya."

Senyum hangat Cassie menjawab perkataan Amaia. Begitu namanya dipanggil, Amaia berdiri untuk siap-siap mengikuti seminar proposal skripsi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!