Nadia Tujuah tahun menikah dengan Raka
mengurus Ibu mertuanya dengan baik
mengurus anak adopsi dengan baik
selalu bersabar karena dia hanyalah anak yatim piatu
Namun tepat di usia pernikahannya yang ke tujuh
Raka malam menikah lagi Dengan Ratna Sepupunya sendiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
sap 33
.
“Nadia, jangan banyak bicara. Lebih baik setuju saja,” bisik Sindi pelan di telinganya.
Nadia menoleh sekilas. Tatapannya lalu kembali jatuh pada Andre yang duduk di seberangnya dengan wajah tenang, seolah semua persoalan ini hanyalah urusan kecil yang tidak perlu dipikirkan.
Padahal Nadia tahu, lelaki itu bukan tipe orang yang bisa dipercaya begitu saja.
Meski surat perjanjian sudah dibuat dan bahkan pihak kepolisian menjadi saksi, rasa curiga masih mengganjal di hatinya. Entah kenapa, sejak dulu Andre selalu berhasil membuatnya merasa waspada.
Tetapi di sisi lain, Nadia juga memikirkan Sindi. Perusahaan sahabatnya sedang dalam keadaan sulit. Ia tidak ingin memperpanjang masalah.
Nadia mengembuskan napas panjang.
“Baiklah.”
Tangannya bergerak mengambil pena, lalu menandatangani berkas itu.
Senyum tipis terbit di bibir Andre.
“Seharusnya dari tadi kamu setuju. Tidak perlu merepotkan bapak polisi.”
Nadia mendelik.
“Yang repot itu kamu. Dasar munafik.”
Andre mengangkat sebelah alisnya.
“Kamu dari dulu ribet. Selalu ingin semuanya sempurna.”
Nadia langsung menatap tajam.
“Memangnya salah?”
Melihat keduanya kembali bersitegang, polisi yang duduk di dekat mereka hanya geleng-geleng kepala.
“Kalian ini jangan ribut terus, Tuan dan Nyonya. Nanti malah berjodoh.”
“Tidak akan!”
Jawaban Nadia dan Andre keluar bersamaan.
Sesaat ruangan menjadi hening.
Mereka saling menatap.
Lalu sama-sama berdecak kesal.
Sindi buru-buru berdiri.
“Ayo pulang, Nad.”
Ia menggenggam tangan Nadia sebelum sahabatnya itu kembali meledak.
Andre juga bangkit dari kursinya.
Mereka keluar hampir bersamaan.
Masalah baru kembali muncul ketika sampai di pintu keluar.
Tidak ada yang mau mengalah.
Tubuh mereka saling berdesakan.
“Jadi lelaki kok enggak mau ngalah banget sih?” protes Nadia.
Andre melipat kedua tangan di dada.
“Aku bisa mengalah pada perempuan mana pun.”
Tatapannya menukik lurus ke wajah Nadia.
“Kecuali sama kamu.”
Nadia membelalakkan mata.
“Maksud kamu apa?”
“Artinya ya itu.”
“Aduh...” Pak polisi memijat pelipisnya. “Kalian ini ribut terus. Masa saya harus bongkar pintu demi kalian?”
Akhirnya Andre mendecih pelan.
Ia mundur satu langkah.
“Silakan.”
Nadia mendengus kesal lalu melangkah keluar lebih dulu.
Andre berjalan di belakangnya sambil menunduk melihat ponselnya.
Baru dua langkah berjalan, Nadia tiba-tiba teringat sesuatu.
Motor!
Ia langsung membalikkan badan.
Namun—
Bruk!
“Aduh!”
Kepala Nadia kembali menghantam sesuatu.
Atau lebih tepatnya seseorang.
Andre memegangi dadanya sambil meringis.
Sedangkan ponselnya jatuh ke lantai.
“Dasar ceroboh.”
Andre memungut ponselnya lalu meniup layar yang untungnya tidak retak.
“Untung saja ponselku mahal.”
Nadia memegangi kepalanya.
“Kemana motorku?”
Andre mengeluarkan sebuah kartu nama dari dompetnya.
“Besok ambil di kantorku. Ini alamatnya.”
Nadia menyambar kartu itu.
“Awas kalau kamu jual.”
Andre menatapnya seolah baru saja mendengar lelucon paling aneh di dunia.
“Cih. Satu showroom bisa kubeli. Cuma motor jelek begitu mana mungkin aku minat?”
“Kamu lelaki licik. Banyak akal.”
Sindi buru-buru menarik Nadia menjauh.
Kalau dibiarkan, bisa-bisa mereka bertengkar lagi sampai malam.
Nadia masih menoleh ke belakang dengan tatapan kesal.
Sementara Andre dengan gaya dramatis memasang kacamata hitamnya lalu berjalan.
“Bos!”
Seseorang berlari tergopoh-gopoh ke arah Andre.
Andre menurunkan kacamata hitamnya sedikit.
Di depannya berdiri seorang pria berkemeja putih dengan jas yang digantung di pundak. Wajahnya penuh keringat. Beberapa bagian bajunya bahkan dipenuhi noda oli.
Andre mengernyit.
“Siapa kamu? Aku enggak kenal.”
Wajah pria itu langsung berubah putus asa.
“Aku Toni, Bos! Toni!”
Andre memperhatikan wajahnya.
“Toni?”
“Iya, Bos!”
“Kenapa kamu jelek sekali?”
Toni hampir menangis.
“Bos suruh bawa motor wanita itu, kan? Velg depan bengkok, bannya kempes. Aku dorong motor itu satu kilometer, Bos!”
Andre langsung menegakkan badan.
“Motornya enggak apa-apa, kan?”
Toni terdiam.
“Sudah dibawa ke bengkel?”
“Sudah, Bos.”
“Yang lecet diperbaiki. Ganti velgnya juga.”
Toni menatap Andre tak percaya.
“Bos lebih khawatir sama motor itu daripada sama aku?”
Andre terdiam dua detik.
“Oh iya, aku lupa.”
Toni langsung berbinar.
“Kamu manusia langka.”
Toni semakin terharu.
“Gimana keadaan kamu? Baik-baik saja, kan? Bulan ini aku kasih bonus.”
Mata Toni langsung melebar.
“Serius, Bos?”
Andre mengangguk.
“Bos! Kalau ada motor mogok lagi biar aku yang dorong! Biar aku dapat bonus lagi!”
Andre menatapnya datar.
“Dasar gila.”
Melihat Toni benar-benar kelelahan, Andre akhirnya terpaksa menyetir sendiri.
Begitu mobil berjalan, Toni menyandarkan tubuhnya di kursi dengan nyaman.
“Wah... enaknya disupiri bos.”
Beberapa detik kemudian matanya membesar.
Ia menutup mulut.
“Maaf, Bos! Keceplosan!”
Andre belum sempat menjawab saat ponselnya berdering.
Seketika ekspresi dinginnya berubah lembut.
“Ada apa, Novi sayang?”
Suara kecil dari seberang terdengar cemas.
“Papah... ada orang yang ngaku bunda aku.”
Seketika wajah Andre menegang.
Rahangnya mengeras.
“Siapa namanya?”
“Katanya Lusi, Pah.”
Tatapan Andre berubah dingin.
“Oke. Tunggu di rumah. Jangan ke mana-mana. Papah pulang sekarang.”
Sambungan telepon terputus.
Detik berikutnya mobil melesat cepat.
“Bos! Ada meeting!” teriak Toni panik.
Andre memutar setir dan berbalik arah.
“Batalkan semua.”
“Tapi Bos—”
“Ada yang mengganggu Novi.”
Suaranya terdengar dingin.
“Aku harus pulang.”
Sementara itu, di mobil lain, Nadia sejak tadi hanya diam.
Sindi yang menyetir mulai merasa suasana terlalu sunyi.
“Sehebat apa sih si Andre itu?” tanya Nadia tiba-tiba.
Sindi menoleh sekilas.
“Kamu serius enggak tahu?”
Nadia mengangkat bahu.
“Dia itu pengusaha jenius, Nad. Baru delapan tahun membangun perusahaan, sekarang bisnisnya sudah di mana-mana.”
Nadia mengerucutkan bibir.
“Kalau kejam aku percaya.”
Ia menyandarkan tubuh.
“Tapi kalau jenius? Aku enggak percaya.”
Sindi tertawa pelan.
“Memangnya kalian punya hubungan apa?”
“Dia teman satu angkatan waktu SMA.”
“Kamu satu kelas?”
Nadia menggeleng.
“Aku kelas A, dia kelas F.”
“Berarti kamu anak teladan, dia anak berandalan?”
“Kurang lebih begitu.”
Nadia langsung semangat bercerita.
“Dia itu manusia paling menyebalkan yang pernah aku kenal. Iseng, jahil, suka cari masalah.”
Sindi mendengarkan sambil tersenyum tipis.
Lalu berkomentar pelan.
“Kamu bilang benci, tapi kok tahu banyak soal dia?”
Nadia langsung melotot.
“Jangan bilang aku suka sama dia!”
“Kenapa?”
“Karena mustahil!”
Nadia mendengus.
“Walaupun di dunia tinggal ada satu laki-laki itu doang, aku lebih baik hidup sendiri.”
Saya padatkan menjadi sekitar 200 kata dengan alur lebih rapi dan nuansa emosional yang tetap lembut.
Sindi tak menanggapi lagi perkataan Nadia. Ia memilih mengalihkan pembicaraan.
“Nad, sepertinya kamu harus beli mobil bagus,” sarannya.
Nadia menoleh heran. “Buat apa?”
“Kamu akan bekerja di perusahaan Tuan Andre. Kamu harus punya mobil agar karyawan lain menghargai kamu.”
Nadia mengembuskan napas pelan. “Merepotkan sekali.”
“Nadia, kamu belum terlalu mengenal dunia kerja. Kadang penampilan lebih dulu dinilai. Lagi pula Tuan Andre yang langsung meminta kamu bekerja. Dia pasti akan memberi jabatan tinggi.”
“Enggak mungkin. Dia itu cuma sedang mengerjai aku.”
Sindi menggeleng. “Dia sangat menjaga citranya. Kalau hanya staf biasa, dia bisa menyerahkannya ke HRD.”
Nadia terdiam beberapa saat, menimbang ucapan sahabatnya.
“Baiklah,” katanya akhirnya. “Lagipula aku juga mulai trauma naik motor.”
Sindi tersenyum lebar. “Kalau begitu kita beli mobil.”
Mereka pun pergi ke showroom. Setelah berkeliling sebentar, Nadia menjatuhkan pilihan pada Honda HRV dan langsung membayarnya secara tunai.
Saat menunggu proses administrasi, Sindi terlihat beberapa kali melirik jam dan ponselnya.
“Kalau ada meeting, tinggalkan saja,” kata Nadia.
Tak lama kemudian Nadia duduk sendirian membaca majalah, sampai sebuah suara mengejek membuatnya mendongak.
“Aih... kirain setelah bercerai hidupmu enak, ternyata malah jadi sales mobil.”
Nadia mendongak di depannya ada Raka dan Ratna
melawan itu perlu demi kewarasan..kesehatan mental biar g jadi orang yg lemah ...aq paling benci kli melihat orang diam kli di singgung di kata katai mkinya klo mertua yg ngatai..langsung q lawan..g ada istilah mertua julid hatus di hormati..yg ada harus dihindari biar sehat jiwa raga
selamat berkarya Thor ditunggu cerita seru selanjutnya....tetap semangat Thor 💪💪