NovelToon NovelToon
Kembalinya Yang Mulia Petir Abadi

Kembalinya Yang Mulia Petir Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi Timur / Balas Dendam
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Dana Brekker

Zhao Fei yang dijuluki Yang Mulia Petir Abadi, tewas ditikam murid kesayangannya sendiri setelah 10.000 tahun berkuasa di Alam Dewa.

Namun ternyata hukum karma memberinya kesempatan kedua. Rohnya dikirim ke dunia bawah, masuk ke tubuh seorang pemuda sampah dari keluarga miskin yang tidak punya bakat, tidak punya harga diri, dan tidak ada wanita yang mau menikahinya.

Kekuatan petirnya lenyap. Akar spiritualnya tertidur dan dirinya harus memulai semuanya dari nol.

Tapi dendam seorang dewa tidak pernah padam. Janji pada pemilik tubuh asli pun juga tidak akan diingkari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19: Satu Lawan Tiga

Setelah Liu Xue sadar sepenuhnya dan seluruh sisa racun di dalam tubuhnya telah bersih tanpa bekas, Zhao Fei bersikeras untuk mengantarnya kembali menuju pusat sekte. Jalur hutan Gunung Cemara di waktu malam memiliki tingkat kerawanan yang teramat tinggi, sehingga dia merasa khawatir bilamana masih ada bahaya lain yang mengintai di tengah jalan setapak.

Namun, Liu Xue secara tegas menolak tawaran penuh perhatian tersebut dengan beberapa alasan yang masuk akal.

“Nanti kalau ada murid senior atau pengawal malam yang melihat kita berdua berjalan bersama di tengah kegelapan seperti ini, hal itu akan memicu rumor buruk,” jelas Liu Xue, menatap lurus ke arah pintu keluar. “Reputasiku sebagai cucu dari tetua agung sekte bisa terganggu secara drastis karena kesalahpahaman. Lagipula, kapasitas fisikku telah pulih dan aku memiliki kemampuan penuh untuk menjaga diriku sendiri dari gangguan luar.”

Zhao Fei akhirnya memberikan isyarat setuju setelah gadis itu memberikan janji untuk langsung berjalan pulang menuju lingkungan sekte tanpa berhenti di tempat lain. Liu Xue pun melangkah pergi lebih dulu, bergerak gesit menembus kegelapan malam yang sepi, meninggalkan area kediaman Tabib Wen.

Sementara di balik rimbunnya semak-semak belukar yang terletak tidak jauh dari pelataran, Li Wei bersama dua pengikut setianya, Wang Hu dan Zhang Ming, masih setia bersembunyi. Mereka bertiga menyaksikan Liu Xue yang berjalan menjauh seorang diri hingga benar-benar menghilang di balik tikungan jalan.

Setelah memastikan bahwa gadis itu telah berada dalam jarak yang sangat jauh dan tidak akan kembali ke pondok, ketiga pria itu saling mendekat.

Bibir mereka menempel di dekat telinga satu sama lain, saling berbisik penuh kelicikan untuk mematangkan rencana penyerangan. Target mereka kini berada dalam posisi terasing seorang diri tanpa ada pihak kuat yang bisa memberikan perlindungan medis ataupun bantuan tempur.

Sementara di dalam rumah kayu yang sederhana itu, Zhao Fei mulai merapikan sisa-sisa peralatan medis dan cawan ramuan cair yang berantakan di atas meja. Melalui fokus pikiran yang diarahkan langsung pada cincin kuno yang melingkar di jarinya, dia memanggil kekuatan spasial untuk menyimpan sisa-sisa pil ke dalam dimensi Alam Dewa untuk sementara waktu.

Pemuda itu berjalan mondar-mandir di dalam ruangan sembari berpikir dalam hati mengenai agenda pribadinya untuk beberapa hari ke depan.

Bilamana esok hari tidak ada lagi gelombang pasien yang datang berkunjung untuk berobat, dia berencana untuk memfokuskan seluruh energi raga guna melatih kembali koordinasi fisiknya. Tingkat kultivasi tubuh fana ini sekarang masih tertahan pada Tahap 2 dari 10, dengan aliran qi yang teramat lemah dan tidak stabil. Dia setidaknya membutuhkan pencapaian ranah Tahap 5 atau 6 agar memiliki kekuatan yang memadai untuk menjelajahi dimensi penyimpanan Alam Dewa tanpa perlu didera rasa was-was.

Akan tetapi, jika dipikirkan kembali dari sudut pandang taktis, kenyataan bahwa orang-orang kuat di Alam Dewa saat ini sama sekali tidak bisa mendeteksi eksistensinya justru menjadi sebuah keuntungan tersendiri. Kelemahan fisiknya saat ini justru membuat dirinya bisa bergerak dengan bebas di bawah radar pengawasan para musuh masa lalunya.

Saat benak Zhao Fei tengah sibuk menyusun rencana masa depan, suara ketukan yang beruntun mendadak terdengar dari arah pintu kayu depan bangunan.

Bunyi ketukan itu terdengar sangat sopan, tidak mencerminkan adanya tanda-tanda ancaman kekerasan ataupun niat buruk dari sang pengetuk. Ketukan itu menyerupai ketukan dari seorang warga desa biasa yang benar-benar sedang membutuhkan pertolongan medis darurat di tengah malam.

Lantas Zhao Fei menjawab dengan cukup lantang dari posisinya di dalam ruangan, “Tabib Wen saat ini sedang melakukan perjalanan jauh. Praktik pengobatan malam ini telah ditutup sepenuhnya.”

Meskipun pengumuman telah dilayangkan, sebuah suara dari arah luar kembali terdengar menyampaikan permohonan yang teramat memelas. Suara pria itu terdengar menyedihkan dan penuh harap, mengaku bahwa anak kandungnya sedang menderita sakit keras dan membutuhkan pemeriksaan ramuan segera sebelum kondisi fisik anak itu memburuk. Zhao Fei sempat didera rasa ragu yang cukup besar atas ketukan di waktu yang tidak wajar ini, namun rasa kemanusiaan membuatnya memutuskan untuk membuka palang pintu kayu demi memeriksa kondisi luar.

Pintu pun terbuka perlahan, menampilkan dua orang pria yang mengenakan jubah tebal yang longgar di atas teras rumah. Tudung jubah yang berukuran besar menutupi hampir seluruh bagian wajah mereka, membuat paras kedua orang itu sulit dikenali dengan jelas di bawah siraman cahaya bulan yang teramat tipis.

Kedua orang asing itu kembali memohon dengan suara yang dibuat parau agar diizinkan masuk ke dalam rumah untuk mendapatkan pemeriksaan kesehatan. “Tolong anakku... sebentar saja.”

Zhao Fei melangkah ke arah mereka, mendeteksi sesuatu yang ganjil dari posisi berdirinya kedua orang itu. “Lepaskan terlebih dahulu tudung jubah yang menutupi kepala kalian. Aku perlu melihat dengan jelas bagaimana kondisi fisik kalian sebelum memberikan obat.”

Mendengar perintah tegas dari sang pemuda, salah satu dari pria misterius itu justru menampilkan sebuah senyuman di sudut bibirnya. Itu merupakan sebuah senyuman yang meringis penuh kelicikan, sama sekali tidak mencerminkan ekspresi dari seorang pasien yang sedang didera penderitaan penyakit parah. Senyuman itu menyerupai ekspresi seekor pemangsa yang melihat hewan buruannya telah melangkah masuk ke dalam jebakan maut yang sempurna.

Tangan kanan pria itu bergerak dengan kecepatan tinggi, menarik sebilah belati tajam yang berkilau dingin dari balik lipatan jubahnya.

Langsung saja Zhao Fei terkejut melihat pergerakan mendadak yang mengarah langsung ke titik vitalnya, tetapi naluri pertempurannya segera mengambil alih kendali penuh atas raga mudanya. Tanpa berpikir panjang, tangan kirinya bergerak cepat menahan pergelangan tangan sang penyerang, menghentikan laju belati tajam tepat beberapa sentimeter di depan permukaan perutnya.

Akan tetapi, sebuah pukulan keras dari pria yang satunya lagi mendadak memelesat dan mendarat telak di bagian ulu hatinya. Serangan tak terduga itu membuat Zhao Fei terhuyung ke belakang dengan rasa nyeri yang hebat yang menguras pernapasannya. Belum sempat dia memperbaiki posisi berdiri, pukulan kedua yang tidak kalah keras langsung menghantam telak bagian wajahnya.

Pemuda itu terlempar ke belakang dan jatuh di atas tanah, terkapar dengan sudut bibir yang mengeluarkan sedikit darah segar.

Melihat rencana mereka yang mujur, kedua orang berjubah tebal itu akhirnya melepaskan tudung kepala mereka secara bersamaan, menunjukkan seringai kemenangan yang penuh dengan kepuasan.

Wang Hu dan Zhang Ming berdiri dengan tatapan yang dipenuhi oleh rasa meremehkan ke arah pemuda yang tidak berdaya itu.

Dari arah luar teras, Li Wei melangkahi Zhao Fei sebelum masuk ke rumah Tabib Wen dengan gaya yang sangat angkuh. Lalu mengambil pedang Pemutus Awan, senjata pusaka milik Zhao Fei yang tadi letakkan di atas meja.

Li Wei mulai mengayun-ayunkan bilah pedang Pemutus Awan ke udara dengan gerakan santai, merasakan bobot dan material fisik dari senjata pusaka itu. “Sungguh aneh,” komentar Li Wei dengan dahi berkerut penuh keheranan. “Senjata ini terasa sangat ringan di dalam genggaman tanganku. Mana ada sebuah pedang logam sejati yang memiliki bobot seringan ini?”

Wang Hu dan Zhang Ming langsung tertawa meremehkan setelah mendengar ucapan pemimpin kelompok mereka. “Benda itu pasti hanya pedang mainan yang tidak berharga, Kakak Li Wei. Senjata murahan semacam itu hanya cocok digunakan oleh anak-anak kecil untuk bermain perang-perangan di pekarangan.”

Li Wei pun maju, lalu mengarahkan ujung tajam pedang itu tepat di depan leher Zhao Fei yang saat ini sudah bangkit untuk mengambil posisi duduk.

“Hei, Pemuda sampah yang kurang ajar,” cetus Li Wei, tatapannya berkilat penuh kobaran api kebencian. “Katakan padaku dengan jujur, apa saja yang telah kau lakukan bersama dengan Senior Liu Xue di dalam pondok terpencil ini pada waktu tengah malam di gunung seperti ini?”

Zhao Fei memilih untuk memberikan penjelasan yang sesuai dengan fakta yang terjadi tanpa ada bagian yang ditutupi. Dia memaparkan perihal tugas penjagaan rumah yang diterimanya dari Tabib Wen, pertemuan yang tidak disengaja dengan Liu Xue di dalam hutan, serangan dari enam pembunuh bayaran Sekte Bayangan Malam, hingga luka racun jarum yang berhasil dia obati di dalam rumah kayu ini.

Akan tetapi, penjelasan jujur yang mengalir dari mulut pemuda itu sama sekali tidak mendapatkan kepercayaan dari ketiga penyerang. Wang Hu kembali tertawa sinis, diikuti oleh Zhang Ming yang mencemooh dengan keras, sementara Li Wei hanya menampilkan senyuman penuh penghinaan.

“Sebuah karangan cerita yang teramat indah dan kreatif untuk didengar oleh telinga kami,” sindir Li Wei. “Tapi sayang sekali, kami bertiga sama sekali tidak memiliki tingkat kebodohan yang cukup tinggi untuk mempercayai bualan kosongmu itu.”

Pemuda angkuh itu melayangkan satu tendangan keras ke arah rusuk Zhao Fei, membuat tubuh pemuda itu kembali tersungkur di atas lantai. Tidak puas dengan serangan pertama, dia kembali memberikan tendangan kedua yang mendarat tepat pada bagian bahu kanan Zhao Fei.

“Kami memiliki kemampuan penuh dan legalitas tersembunyi untuk menghabisi nyawamu di tempat terpencil ini sekarang juga,” ancam Li Wei dengan penuh intimidasi. “Pihak dewan sekte tidak akan pernah memedulikan hilangnya nyawa dari seorang murid rendahan sepertimu. Mereka kemungkinan besar hanya akan menganggap peristiwa maut ini sebagai sebuah kecelakaan biasa, atau menyimpulkan bahwa dirimu telah tewas mengenaskan akibat diterkam oleh binatang buas penghuni hutan Gunung Cemara.”

Zhao Fei menundukkan kepalanya ke arah bawah, menyembunyikan kilatan sepasang mata dinginnya yang mulai memancarkan aura membunuh yang pekat. “Apa sebenarnya yang kalian inginkan dari diriku?”

Li Wei mendengus penuh penghinaan, menatap rendah ke arah pemuda di bawah kakinya. “Aku telah memberikan peringatan yang sangat tegas kepadamu sebelumnya saat berada di lingkungan sekte. Namun kau tetap bersikap keras kepala dan berani mencoba untuk mengambil kesempatan bermesraan dengan Senior Liu Xue di tempat ini. Beruntung sekali kami berhasil mengikuti sejak kakimu sampai ke sini.”

Zhao Fei menghela napas panjang, bersuara lirih dengan nada yang sengaja diatur sedemikian rupa agar terdengar pasrah dan tidak berdaya. “Aku memohon maaf atas segala ketidaknyamanan yang telah ditimbulkan dari peristiwa ini. Tapi, menurut pandangan objektifku, kau juga akan menemui kesulitan besar jika ingin mengambil hati dari Senior Liu Xue, karena ada seorang pemuda kuat bernama Long Wei yang saat ini juga tengah mengincar dirinya dengan pengaruh yang sangat besar.”

Li Wei langsung memotong kalimat itu dengan sebuah bentakan kasar. “Aku sama sekali tidak memedulikan bualan tentang kekuatan orang lain dari mulut sampah sepertimu! Hanya aku satu-satunya pria dari kalangan murid senior yang memiliki kelayakan penuh untuk bersanding di sisi Liu Xue!”

Zhao Fei perlahan mengangkat kembali kepalanya, menatap lurus ke arah sepasang mata Li Wei dengan pandangan yang mendadak berubah menjadi sangat tajam bagaikan mata pedang Pemutus Awan itu sendiri.

“Jika kau memang merasa memiliki kelayakan yang begitu tinggi di dalam sekte, lalu mengapa kalian bertiga harus repot-repot datang ke mari secara sembunyi-sembunyi hanya untuk menyiksa seorang murid lemah sepertiku? Apakah tindakan malam ini memperlihatkan bahwa kalian sebenarnya hanyalah sekelompok pengecut yang didera rasa takut yang sangat besar terhadap kekuatan murni milik Long Wei?”

Wajah Li Wei seketika berubah akibat diselimuti oleh luapan amarah yang membakar habis akal sehatnya. Wang Hu dan Zhang Ming yang berdiri di belakangnya juga tampak menunjukkan ekspresi wajah yang sangat tidak nyaman setelah mendengar sindiran telak mengenai mental pengecut mereka.

“Berani sekali kau membuka mulut untuk bicara seperti itu, Jahanam!” bentak Li Wei penuh emosi.

Tepat ketika Li Wei mengangkat tinggi-tinggi pedang Pemutus Awan ke udara untuk melayangkan sebuah tebasan mematikan ke arah kepala Zhao Fei, sebuah fenomena magis mendadak terjadi pada bilah senjata itu.

Bilah logam pedang pusaka tingkat dewa itu tiba-tiba memancarkan aliran kilatan listrik berwarna biru pekat yang menyambar ke sana sini. Aliran energi petir itu berukuran cukup kecil namun memiliki daya sengat yang teramat dahsyat, mengalir cepat mematangkan saraf telapak tangan Li Wei yang tidak memiliki hak sah atas kepemilikan senjata.

“Arghhh!” pekik Li Wei sangat keras sembari melepaskan genggaman tangannya akibat rasa sakit yang luar biasa kebas yang menjalar hingga siku. “Pedang sialan macam apa ini?!”

Zhao Fei memanfaatkan momentum emas itu dengan melakukan gerakan spontan yang sangat cepat. Tangannya menjulur ke depan, menangkap gagang pedang Pemutus Awan dengan sangat tangkas sebelum bilah logam pusaka itu sempat menyentuh permukaan tanah.

Pertarungan jarak dekat pun segera terjadi di halaman rumah Tabib Wen dalam tempo yang singkat.

Zhao Fei sama sekali tidak mengerahkan ataupun memancing aliran energi qi dari dalam meridian tubuh fana miliknya yang masih lemah. Tindakan itu sama sekali tidak diperlukan, karena pedang Pemutus Awan bergerak secara otomatis selaras dengan kehendak spiritual tingkat tinggi dari sang pemilik asli yang telah terikat jiwa sejak masa lampau. Setiap ayunan cepat dan tebasan akurat dari bilah senjata itu bergerak lurus untuk membela serta melindungi tuannya dari jamahan tangan-tangan yang tidak sah.

Wang Hu menjadi orang pertama yang jatuh tumbang setelah sebuah hantaman keras dari gagang pedang mengenai titik saraf lehernya dengan tingkat presisi yang sempurna. Sebelum giliran berikutnya adalah Zhang Ming yang harus roboh setelah menerima tebasan bagian tumpul yang melumpuhkan pergerakan kedua belah kaki secara instan. Kedua pengikut setia itu kini terbaring malang tanpa memiliki kekuatan sedikit pun untuk kembali bangkit berdiri melakukan perlawanan.

Li Wei kini berdiri seorang diri dengan butiran keringat dingin yang mulai membanjiri seluruh permukaan dahinya yang pucat. “Makhluk... makhluk macam apa sebenarnya dirimu ini? Apakah kau adalah seorang monster yang menyamar, atau seorang mata-mata tingkat atas yang sengaja dikirim oleh sekte musuh untuk menghancurkan kami?”

Zhao Fei mulai melangkah maju mendekatinya secara perlahan dengan tatapan mata yang dingin. Setiap satu langkah kaki yang diambil oleh pemuda itu memaksa Li Wei untuk bergerak mundur dengan tubuh yang gemetar hebat, hingga akhirnya sang murid senior terjatuh dan terpaksa merangkak mundur di atas lantai akibat didera oleh rasa takut yang luar biasa menghancurkan mentalnya.

“Sampah,” ucap Zhao Fei dengan tenang namun sarat akan penekanan. “Aku hanyalah sampah tidak berguna yang kerap merindukan keindahan singgasana langit tanpa memiliki kapasitas nyata untuk mencapainya.”

Li Wei tampak tergagap dengan bibir yang bergetar hebat, sama sekali tidak memiliki kemampuan vokal untuk membalas ucapan intimidatif dari pemuda di depannya.

“Mulai detik ini juga,” lanjut Zhao Fei, mengarahkan ujung tajam pedang Pemutus Awan tepat di depan hidung Li Wei yang ketakutan. “Jauhkan seluruh pengaruh buruk dan eksistensimu dari lingkaran kehidupan Liu Xue. Dan jangan pernah sekali-kali kau berani mengusik ketenangan hidup dari orang-orang yang memiliki hubungan baik denganku.”

Dia menghentikan kalimatnya sebelum memberikan pandangan penghinaan tertinggi ke arah Li Wei yang masih terduduk lemas di atas lantai kayu pondok.

“Pergilah, segera angkat kakimu dan tinggalkan tempat ini sebelum aku benar-benar kehilangan batas kesabaranku.”

Li Wei berusaha bangkit berdiri kembali dengan sisa tenaga fisik yang dia miliki dengan sangat susah payah. Wang Hu dan Zhang Ming yang kondisinya mulai sedikit membaik juga memaksakan diri untuk berdiri dengan tumpuan kaki yang gemetar. Ketiga pria itu segera berlari kencang keluar dari area kediaman tabib, menghilang menembus kegelapan malam hutan Gunung Cemara dengan membawa rasa malu serta ketakutan yang teramat besar.

Sementara Zhao Fei segera melangkah mendekati pintu depan, lalu menutup dan menguncinya kembali rapat-rapat dengan menggunakan palang kayu tebal sebelum akhirnya menghembuskan napas panjang untuk melepaskan ketegangan.

Dia bergumam pada dirinya sendiri dengan wajah yang memperlihatkan sedikit rasa menyesal atas tindakan verbalnya tadi.

“Kalimat penuh drama yang kuucapkan di depan mereka barusan... sama sekali tidak memperlihatkan kesan keren seperti seorang ahli kultivasi sejati dari Alam Dewa. Seharusnya aku memilih untuk diam saja alih-alih melontarkan kata-kata penuh metafora seperti itu,” keluhnya sembari merapikan kembali posisi jubah yang sempat kusut akibat benturan.

Zhao Fei mengedarkan pandangan ke sekeliling area ruangan.

“Kenapa Tabib Wen harus memilih durasi pergi yang begitu lama?” keluh pemuda itu lagi sembari menghela napas. “Aku masih harus menghabiskan waktu selama enam hari ke depan sendirian di dalam bangunan yang terletak di tengah tempat angker ini.”

1
𝘿𝙚𝙬𝙖 𝘽𝙤𝙣𝙜𝙠𝙤𝙠
maaf Thor numpang komen,seorang dewa begitu mudahnya tewas di tikam tanpa ada penjelasan pake pusaka apa...supaya ada alasan logis koq bisa tewas begitu saja 🙏🙏🙏🙏
DanaBrekker: Terimakasih atas masukannya. ikuti terus perjalanan Zhao Fei ya... biar nanti ketemu alasannya 😄👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!