Azizah, seorang wanita bisu dari desa yang merantau ke kota untuk bekerja sebagai pembantu baru. Namun kelembutan hatinya justru memikat sang nyonya majikan yang kemudian bersikeras menjodohkannya dengan putra sulungnya, Ezra.
Ezra menolak keras karena sudah memiliki kekasih, begitu pula Azizah yang tidak ingin menikah tanpa cinta. Namun demi menyelamatkan sang nyonya yang terkena serangan jantung, pernikahan itu terpaksa digelar. Di tengah dinginnya sikap Ezra, mampukah ketulusan Azizah menyentuh hati suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penyuka ungu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali Berjarak
Sabtu pagi selalu memiliki nuansanya sendiri. Bagi Ezra, akhir pekan adalah waktu yang sakral, bukan untuk bermalas-malasan, melainkan untuk menjaga rutinitas. Pria itu memang terbiasa bangun saat fajar masih remang di hari libur untuk sekadar joging mengitari lingkungan kompleks.
Azizah yang baru saja selesai tadarus subuh, melangkah keluar dari kamar. Saat ia menatap ruang tamu, gerakannya yang sedang menutup pintu kamar terhenti. Ia mengernyitkan dahi ketika melihat tirai jendela ruang tamu sudah terbuka lebar dan cahaya pagi yang pucat mulai masuk ke dalam rumah.
Apa Mas Ezra sudah bangun? Tumben sekali, batinnya heran.
Biasanya, di hari kerja, ia tidak pernah melihat tanda-tanda kehadiran Ezra sepagi ini. Tanpa membuang waktu untuk menebak-nebak, Azizah segera mengalihkan pikirannya ke tugas rutinnya. Ia pun berjalan menuju dapur.
Ezra akhirnya menyelesaikan putaran terakhirnya di jalanan kompleks. Napasnya terengah-engah, dan dadanya naik turun dengan ritme yang stabil seiring dengan keringat yang mulai membanjiri kaos tanpa lengannya. Ia melangkah masuk ke dalam rumah, melepas sepatu olahraganya di dekat pintu, lalu segera menuju dapur untuk mencari asupan air guna melepas dahaga.
Di dapur, Azizah tengah sibuk memotong sayuran di atas talenan. Ia terkesiap saat melihat Ezra tiba-tiba muncul dalam kondisi basah karena keringat yang mengalir dari pelipis hingga leher.
Mas Ezra sepertinya baru kembali dari berolahraga, batin Azizah.
Kini ia mencatat satu kebiasaan baru. Jika hari libur, Ezra akan memilih untuk memacu tubuhnya di bawah sinar matahari pagi.
Ezra hanya menatap Azizah sekilas, lalu membuka kulkas dan menyambar sebotol air putih. Ia meneguknya dengan cepat hingga jakunnya bergerak naik turun. Begitu isi botol tersisa sedikit, ia bernapas lega karena energinya kembali terisi. Ia kemudian melirik ke arah sudut ruangan, di mana potpourri hasil karya Azizah sudah tergeletak cantik menghiasi meja.
“Kapan kau menyelesaikan pekerjaanmu semalam? Bahkan sudah menata semuanya di sudut rumah.”
Azizah meletakkan pisaunya, lalu segera merogoh ponsel yang terselip di saku celemeknya.
‘Tadi setelah salat Tahajud aku tidak tidur. Jadi aku memanfaatkannya untuk menyelesaikannya.’
Ezra membaca kalimat itu dalam diam. Baginya, itu hanyalah jawaban biasa yang tidak mengandung arti istimewa.
Azizah yang ingin mencoba menyentuh sisi lembut suaminya, akhirnya kembali mengetik.
‘Aku senang Mas setidaknya memiliki kebiasaan bangun pagi. Jadi, tidak sulit jika suatu saat nanti, Mas berkeinginan untuk salat subuh.’
Detik itu juga, suasana dapur berubah panas.
“Jangan membahas soal agama, Azizah!” bentak Ezra. Wajahnya berubah merah padam dan urat-urat di lehernya menegang, “Sepertinya aku terlalu lembut padamu beberapa hari ini sampai kau berani bertindak kurang ajar. Kuingatkan sekali lagi, jangan mencampuri urusanku!”
BRAK!
Ezra melempar botol minumannya ke meja dapur hingga air yang tersisa di dalamnya memercik ke lantai, lalu pergi dari sana dengan langkah berat yang sarat akan amarah.
Azizah mematung. Ia memejamkan mata erat sambil melafalkan istighfar di dalam hati. Suara bentakan kasar itu kembali hadir, menghancurkan ketenangan yang baru saja ia bangun dengan susah payah. Ia menghela napas panjang, meresapi rasa perih di dadanya. Ia pikir, Ezra sudah mulai melunak dan menerimanya, tapi ternyata, tembok yang dibangun suaminya itu masih sama tingginya.
......................
Satu jam berlalu.
Masakan yang disiapkan Azizah dengan susah payah sudah tersaji rapi di meja makan. Namun hingga waktu yang seharusnya, Ezra tidak kunjung menampakkan batang hidungnya. Padahal, beberapa hari terakhir, pria itu selalu tepat waktu untuk makan bersama.
Mas Ezra sepertinya masih marah, batinnya sedih.
Tiba-tiba, deru mesin motor terdengar berhenti di halaman depan. Azizah bergegas keluar. Seorang kurir makanan dengan helm tertutup berdiri di sana dan menyodorkan kantung plastik berisi wadah styrofoam.
“Pesanan atas nama Pak Ezra,” ucap kurir itu singkat.
Azizah menerima kantung itu dengan tangan gemetar.
Ya Allah... jadi Mas Ezra memilih memesan makanan dari luar, batinnya perih.
Setelah kurir itu menyelesaikan tugasnya dan pergi, Azizah masuk kembali ke rumah dengan langkah gontai.
Tepat di saat itu, Ezra menuruni tangga. Tanpa melirik Azizah sedikit pun, ia langsung menyambar kantung makanan itu dari tangan istrinya dan berbalik hendak naik kembali ke lantai atas.
Dada Azizah terasa sesak. Namun rasa sedih itu perlahan tersulut oleh rasa tidak terima. Ia menarik napas dalam untuk memantapkan hatinya. Ini bukan waktunya untuk menyerah. Dengan cepat, ia mengetik sesuatu di ponselnya, lalu berlari mengejar Ezra dan menghadang jalan pria itu di anak tangga.
“Ck, ada apa lagi? Minggir!” bentak Ezra.
Azizah menunjukkan layar ponselnya dengan tegas.
‘Hanya karena aku menyinggung soal kewajiban kita sebagai umat muslim, Mas langsung tersinggung dan marah? Bahkan tidak mau makan masakanku? Kau kekanak-kanakan, Mas!’
Ezra maju satu langkah, menatap tajam wanita itu dengan sorot mata yang membakar.
“Makanan apa yang kumakan itu bukan urusanmu! Kau tidak berhak mengatur apa yang ingin kumakan! Menyingkir dari jalanku!”
Ia melangkah maju dengan kasar dan menabrak bahu Azizah hingga wanita itu terhuyung ke samping. Ezra terus berlalu tanpa menoleh, meninggalkan Azizah yang terpaku di anak tangga.
Azizah menoleh, menatap punggung Ezra dengan tatapan yang kini berubah tajam. Kelembutan dan kesabarannya yang selama ini ia jaga perlahan terkikis oleh ego pria itu.
Baiklah, Mas. Kalau itu maumu, mulai detik ini, tidak ada lagi makanan yang kubuat untukmu! Batinnya penuh amarah.
Ia memutar tubuhnya dan menuruni tangga dengan langkah yang jauh lebih tegas.
......................
Di dalam kamarnya, Ezra duduk di atas sofa dengan perasaan yang tidak karuan. Ia membuka wadah styrofoam yang tadi ia pesan dan mulai menyantap isinya. Namun baru saja suapan pertama menyentuh lidahnya, ia langsung meletakkan wadah dan sendoknya dengan kasar ke meja samping sofa.
Rasa bumbu yang terlalu tajam, penyedap rasa yang berlebihan, dan tekstur yang terasa asing di lidahnya. Semuanya terasa jauh di bawah ekspektasi. Makanan dari luar itu ternyata sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan kelezatan masakan Azizah yang selalu pas di lidahnya.
Ezra mengerang frustrasi dan menyugar rambutnya ke belakang dengan kasar. Ia tidak menyangka bahwa lidahnya kini telah benar-benar terbiasa, atau lebih tepatnya, kecanduan dengan hasil olahan tangan istrinya.
“Sialan!” geramnya kesal pada diri sendiri.
Ia melirik kembali makanan pesanannya yang masih utuh. Rasa lapar yang tadinya mendera perutnya kini seolah menguap begitu saja, digantikan oleh ganjalan di hati yang tidak bisa ia definisikan. Nafsu makannya hilang total. Ia membiarkan makanan itu tergeletak begitu saja. Menyadari bahwa keputusannya untuk memesan makanan luar justru menjadi bumerang yang membuat harinya semakin tidak menyenangkan.