NovelToon NovelToon
Warisan Darah Sang Mafia

Warisan Darah Sang Mafia

Status: tamat
Genre:Mafia / Balas Dendam / CEO / Tamat
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Mentari_Senja

Mereka pikir semuanya telah berakhir sejak kematian Leonardo Valerio. Namun dunia gelap tidak pernah benar-benar melupakan darah yang pernah berkuasa.

Leonardo Valerio memang telah mati, tapi warisan darahnya belum berakhir. Saat ancaman mulai mengincar Alessandro, Nadira dipaksa kembali ke dunia gelap yang pernah menghancurkan hidupnya.

Di balik bayangan, musuh lama bangkit, rahasia lama terbuka, dan sifat dingin Leonardo perlahan muncul dalam diri putranya.

Karena darah mafia tidak pernah benar-benar hilang, dan sang pewaris akhirnya mulai bangkit.

**RED ASHES SEASON II**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pengkhianatan

Di ruang kontrol bawah tanah, jantung dari operasi baru Valerio yang kini dipimpin Alessandro. Udara terasa berat, dingin, dan berbau antara kopi hitam, rokok, dan listrik statis.

Dinding-dinding ruangan tertutup puluhan layar monitor besar, yang memancarkan cahaya biru pucat, menampilkan peta satelit, aliran data transaksi gelap, serta rekaman kamera pengawasan dari lima negara berbeda.

Alessandro berdiri tegak di tengah ruangan, kedua tangannya masuk ke dalam saku celana. Ia mengenakan kemeja hitam yang kancing atasnya terbuka, lengan bajunya digulung hingga sikut. Wajahnya tenang, tapi matanya gelap, tajam, dan dingin.

Di depannya ada enam orang anggota tim inti, orang-orang yang ia pilih sendiri. Napas mereka terdengar berat dan tidak teratur. Suasana begitu sunyi hingga suara tetesan air dari pipa bocor di sudut ruangan terdengar nyaring.

"Tiga hari lalu," suara Alessandro terdengar rendah, tenang, namun bergetar oleh amarah yang ditekan mati-matian.

"Konvoi pengiriman senjata nomor 47 yang berangkat dari Hamburg menuju Praha disergap. Padahal rutenya rahasia, hanya orang di ruangan ini yang tahu secara detailnya," lanjut Alessandro dengan tatapan semakin dingin.

Alessandro melangkah perlahan, sepatu kulitnya mengetuk lantai beton dengan irama lambat, menakutkan. Ia berjalan melewati satu per satu anak buahnya, menatap wajah mereka, menelusuri setiap inci, setiap kedip mata, dan setiap keringat dingin yang keluar.

"Dua belas orang terbaikku mati. Ditembak jarak dekat, dieksekusi, mayat mereka dibuang di parit pinggir jalan seperti sampah. Barang senilai dua puluh juta euro lenyap tanpa jejak."

Alessandro berhenti tepat di hadapan seorang pria paruh baya berambut abu-abu, wajahnya berkerut, tangan besarnya gemetar samar. Markus. Pria ini adalah orang pertama yang bergabung saat Alessandro mulai membangun kekuasaan kembali.

Markus adalah orang yang mengajari Alessandro cara membaca peta, cara menembak, cara bertahan hidup di jalanan. Markus adalah orang yang selama dua tahun ini selalu berada dua langkah di belakangnya. Dan Markus sudah di anggap ayah kedua oleh Alessandro.

"Dua hari lalu," lanjut Alessandro, matanya tidak lepas dari manik mata cokelat Markus yang kini menghindar. "Markas cadangan kita di Wina dikepung pasukan khusus polisi. Mereka datang tepat saat kita baru selesai bongkar muat barang. Polisi itu tidak datang secara kebetulan, mereka tahu jam berapa, pintu mana yang kita pakai, bahkan di mana letak ruang rahasia kita."

Alessandro mendongkak sedikit, rahangnya mengeras. "Dan tadi pagi... rencana pertemuan rahasia saya dengan Kartel Spanyol di perbatasan Swiss bocor. Tiga mobil berisi penembak jitu bersembunyi di gedung seberang, menunggu kepala saya keluar dari mobil. Kalau Ivan tidak sadar lebih cepat, maka mungkin saya sudah mati dengan sepupuh peluru di kepala."

Alessandro berhenti, ia berdiri tepat di depan Markus. Jarak wajah mereka hanya sepuluh senti. Ia bisa melihat ketakutan yang mendalam, dan yang paling menyakitkan ia melihat rasa bersalah.

"Kamu tahu kenapa aku yakin ada tikus di sini, Markus?" bisik Alessandro, suaranya hampir tidak terdengar. "Karena hanya kamu yang tahu ketiga hal itu sekaligus, hanya kamu yang punya akses ke semua film, semua jadwal, dan semua lokasi."

Markus mengangkat kepalanya perlahan, mata tuanya memanas, bibirnya bergetar. "Tu-Tuan Muda, Alessandro. Tolong dengarkan saya... saya tidak mungkin..."

"Diam!" bentak Alessandro tiba-tiba.

Tangan kanannya bergerak cepat, mencengkram kerah jaket kulit Markus. Lalu menariknya paksa hingga tubuh tua itu tersentak maju, hampir jatuh ke lutut.

Wajah Alessandro kini berubah, topengnya retak. Mata hitamnya memerah, kilatan yang persis sama dengan mata Leonardo Valerio saat ia sedang marah. Mata yang dulu sering membuat seluruh Eropa gemetar ketakutan.

"Kamu tidak mungkin apa?! Tidak mungkin mengkhianatiku?!" desis Alessandro, napasnya panas dan berat. Ia mengangkat Markus lebih tinggi hingga kaki pria itu nyaris tidak menyentuh lantai. "Aku percaya padamu! Aku beri kamu rumah, uang, kekuasaan! Aku menganggap kamu keluarga! Sementara orang-orang lain aku curigai, aku selalu bilang. Bukan Markus, dia setia padaku. Dia berbeda."

Suara Alessandro pecah di akhir kalimat, ada rsa sakit di sana. Rasa sakit yang jauh lebih tajam daripada peluru atau pisau.

"Tapi ternyata kamu sama saja, kan?" lanjut Alessandro dengan tawa kering dan getir. Ia melempar Markus kasar hingga pria itu terhuyung dan jatuh terduduk di lantai beton yang dingin. "Semua orang sama, semua orang akhirnya akan menusukku dari belakang. Persis seperti mereka menusuk ayahku. Seperti dunia menusukku sejak aku kecil."

Markus terbatuk, napasnya tersengal. Ia mendongkak, air mata mulai mengalir di pipi keriputnya.

Markus melihat pemuda di depannya, ia melihat bagaimana Alessandro yang dulu lembut, anak yang selalu berusaha jadi manusia baik demi ibunya, tapi kini perlahan mulai berubah menjadi monster dingin yang siap membunuh siapa saja.

"Saya terpaksa, Alessandro..." rintih Markus parau, suaranya penuh keputusasaan.

Ia merangkak maju sedikit, tangannya gemetar mencoba meraih ujung celana Alessandro. Tapi pemuda itu mundur cepat, menjauh seolah Markus adalah wabah penyakit.

"Terpaksa kamu bilang?" ulang Alessandro sinis, matanya menyipit tajam, penuh jijik. "Setiap pengkhianat selalu punya alasan terpaksa. Uang? Ancaman? Atau mungkin... kamu sudah lama bekerja untuk Viktor Karev sejak awal?"

Nama itu membuat Markus tersentak hebat, wajahnya menjad lebih. Ia menunduk dalam, bahunya berguncang.

"Dia punya anak perempuan saya, Tuan Muda..." bisik Markus. "Dua tahun lalu, Viktor menculik putri saya, Ellara. Dia mengancam akan menjual dia ke pasar gelap kalau saya tidak kerja buat dia. Di bilang... kalau saya kasih informasi tentang anda, dia akan membebaskan Ellara. Dia janji dia tidak akan sakiti anda, cuma mau tahu gerakan anda..."

Darah Alessandro mendidih, amarahnya meledak bukan hanya karena dikhianati, tapi karena rasa jijik melihat betapa mudahnya manusia menjual nyawa orang lain demi nyawa orang yang mereka cintai. Bukankah dia juga sama? Bukankah dia juga melakukan segalanya, membunuh siapa saja, menjadi monster apa saja, demi Nadira ibunya?

Mereka tidak jauh beda, dan kesadaran itu membuat Alessandro merasa kotor. Ia merasa jijik pada dirinya sendiri.

"Jadi kamu menjual aku... demi anakmu?" gumam Alessandro pelan. Ia berjalan memutar mengelilingi Markus yang masih bersimpuh di lantai. "Kamu tahu berapa banyak anak yang menjadi yatim piatu karena informasi yang kamu berikan, Markus? Kamu tahu berapa orang mati karena mulutmu?"

"Saya minta ampun... saya mohon... saya sudah tua. Ellara masih muda, dan dia satu-satunya yang saya punya," Markus meratap, bersujud di kaki Alessandro, lalu mencium ujung sepatu kulit tuannya itu. "Saya mohon, Tuan Muda. Bunuh saya, tapi tolong selamatkan Ellara. Viktor pasti sudah membunuh saya setelah dia tidak butuh saya lagi. Tolong... Ellara masih polos dan tidak bersalah."

Alessandro berhenti, ia menatap kepala botak dan renta di kakinya. Dulu kepala itu selalu tegak, pria ini selalu berjalan di sampingnya. Dulu pria ini yang mengajarinya cara untuk memegang pistol dengan benar saat usianya sepuluh tahun.

Sekarang? Sekarang dia cuma sampah dan seorang pengkhianat. Dan anehnya, di tengah amarah yang membakar hatinya, di tengah keinginan kuat untuk meledakkan otak tua itu saat itu juga. Ada bagian lain di dalam dirinya yang mengerti. Bagian manusia yang mengerti rasa takut kehilangan keluarga.

Tapi bagian Valerio, bagian iblis di dalam dirinya, bagian yang Viktor bangunkan semakin hari semakin kuat.

Alessandro mengangkat dagunya, matanya kosong, tatapannya tidak lagi manusiawi. Ia mengeluarkan pistol perak dingin dari sarung di pinggang belakangnya. Alessandro memutar putaran silindernya, memeriksa peluru satu per satu.

Markus mendongkak saat melihat moncong pistol besar itu perlahan terangkat, menunuk tepat ke tengah keningnya. Matanya membelalak, mulutnya terbuka tapi tidak ada suara yang keluar.

"Tuan... Alessandro... tolong..." bisiknya terkahir kali.

"Kamu tahu apa kesalahan terbesarmu, Markus?" tanya Alessandro dingin. "Kamu pikir Viktor akan menepati janjinya, kamu pikir monster seperti dia punya kata-kata. Kamu menjual nyawaku pada setan, berharap setan itu akan memberimu surga."

Alessandro mendekatkan moncong pistol itu hingga menyentuh kulit kering dan berkerut di dahi Markus.

Pria tua itu gemetar hebat, tubuhnya menggeliat ketakutan, kencingnya bahkan bocor membasahi celananya.

"Dan kamu juga salah satu hal lain," bisik Alessandro, matanya menatap tajam lurus ke manik mata lawannya. "Kamu pikir aku masih anak kecil lembut yang kamu kenal dulu, kamu pikir aku masih Alessandro yang polos dan penakut itu."

Napas Alessandro memburu, jantungnya berpacu liar. Di kepalanya, gambar-gambar berputar cepat. Wajah ibunya yang takut, wajah wanita yang dicintainya, (Aurora) yang selalu bilang dia berubah, wajah anak buahnya yang mati di parit, dan wajah Viktor yang tersenyum licik. Semua gambaran itu karena sebuah pengkhianatan.

"Dante!" seru Alessandro tiba-tiba, tanpa mengalihkan pandangan dari Markus.

Dante yang berdiri diam di pojok ruangan sejak tadi dengab wajah batu tanpa ekspresi maju satu langkah. "Ya, Tuan Muda."

"Bawa dia ke ruang bawah tanah," perintah Alessandro dingin, pelan, namun tatapannya tajam.

Alessandro menurunkan pistolnya perlahan, Markus menghembuskan napas panjang. Ia merasa lega namun masih gemetar hebat, Markus pikir ia selamat, dan ia berpikir Alessandro memberinya ampun.

Tapi kalimat yang keluar berikutnya dari mulut Alessandro membuat darah Markus membeku kembali.

"Jangan bunuh dia sekarang, kita masih butuh informasi semua kontak yang dia berikan pada Viktor, dan setelah dia bicara semuanya..."

Alessandro berbalik badan, memunggungi Markus. Menatap layar monitor besar yang menampilkan wajah tersenyum jahat Viktor Karev dalam foto arsip lama.

"Potong setiap jarinya satu per satu, lalu setiap kakinya. Dan biarkan dia hidup dalam kegelapan, sampai dia melupakan namanya sendiri. Biarkan dia merasakan betapa mahalnya harga sebuah pengkhianatan."

Markus menjerit histeris, merangkak dan mencoba untuk lari. Tapi Dante dan dua orang lainnya langsung menangkapnya, menahan tubuh tua itu, menyumbat mulutnya dengan kain kasar.

Jeritan meredam menjadi suara gunakan menyakitkan yang begitu pilu.

"Dan Dante..." tambah Alessandro lagi, suaranya serak dan berat. Ia tidak menoleh, tapi matanya terasa panas, berair, namun ia mencoba menahannya.

"Cari Ellara, temukan putrinya. Kalau dia masih hidup di tangan Viktor, selamatkan dia. Bawa dia ke tempat aman yang jauh dari sini, beri dia uang, pasport baru, dan suruh dia lari sejauh mungkin."

Dante merasa terkejut dengan apa yang Alessandro katakan. Di tengah kebrutalan dan kejamnya barusan, Alessandro masih punya hati untuk menyelamatkan anak pengkhianat itu?

"Kenapa begitu, Tuan?" tanya Dante tidak sadar.

Alessandro mengepalkan tangannya kuat, ia menatap pantulannya di layar monitor hitam. Alessandro melihat wajah ayahnya, ia melihat monster itu.

"Karena aku tidak seburuk Viktor," bisik Alessandro lirih. "Dan karena aku tidak mau anak perempuan itu tumbuh dengan membenci dunia, sama sepertiku sekarang."

Alessandro melambaikan tangan, "Bawa dia keluar dari sini. Sekarang."

Dante mengangguk hormat, memberi isyarat lalu menyeret Markus yang meronta saat di seret keluar ruangan. Pintu besi berat tertutup rapat, meninggalkan suara jeritan yang perlahan memudar.

Ruangan kembali hening, hanya ada Alessandro sendirian di tengah puluhan layar monitor yang berkedip.

Alessandro memejamkan mata, bersandar lemas di tepi meja besar. Ia merasakan perih yang tajam di dada kirinya, perih bukan karena Markus, bukan karena dikhianati. Tapi perih karena ia sadar, dirinya sudah melakukan hal yang sama persis seperti Leonardo. Ia baru saja menjatuhkan hukuman kejam, menyiksa manusia, memerintah pembantaian, dengan perasaan tenang dan dingin.

Ia baru saja membuktikan pada dirinya sendiri, bahwa Viktor memang benar. Darah tidak pernah bohong.

Di dalam tubuhnya, di balik kulitnya, di dalam setiap sel darah merahnya, monster itu memang sudah ada sejak lahir. Markus hanya membangunkannya, dan Viktor hanya memberi alasan.

Dan sekarang, monster itu sudah bangun sepenuhnya. Alessandro tidak yakin, apakah ia bisa atau mau untuk menidurkannya kembali.

Alessandro membuka matanya perlahan, ia mengangkat pistolnya kembali. Mengusap permukaan logam dingin itu dengan ibu jarinya.

Setelah adanya pengkhianatan, ia tidak bisa percaya siapa-siapa lagi. Tidak pada anak buah, teman, bahkan mungkin tidak pada wanita yang dicintainya sendiri. Karena di dunia ini, hanya ada satu orang yang bisa ia percaya, yaitu dirinya sendiri.

Dan mungkin, menjadi monster itu bukanlah kutukan. Melainkan satu-satunya cara untuk bertahan hidup.

1
☕︎⃝❥virgo93
si ale msih pnya sisi baik🥰 jgn jdikan dia mnster thor aku gk relaa😫
Kucing Biru: kayaknya akaaa, deh🤔
total 3 replies
Vie
ga apa2 setengah2 juga ale, karena kalau 100% km jadi monster maka kamu akan kehilangan dirimu seperti ayahmu, dan itu adalah hal yang paling ditakuti oleh ibumu....
Vie
duh.... jadi ikutan tegang 😱😱😱😱😱
Vie
duh.... jadi ikutan tegang 😱😱😱😱😱
Vie
iiihhh makin seru dn penasaran aja..... lanjut kak.... 👍👍👍👍
Vie
lanjut thor.. 👍👍👍
☕︎⃝❥virgo93
keren banget thor🥰
Vie
dan kamu bodoh baru menyadari semua itu setelah apa yang terjadi disekitar kamu dan ibumu
Vie
aku agak bingung deh.... bukanya viktor ini yang selalu mengincar ale dan juga semua peninggalan ayahnya dan yang menghancurkan beberapa gudang kemarin, tapi kenapa masih ada disisi alesandro? apa aku yang salah ini viktor yang lain
Vie
dan akan keluar kemana... sedangkan kalian selama ini bersembunyi pun teta saja ketahuan, apalagi sekarang.. tidak ada cara lain selain melawan dira... kamu kalau takut ale menjadi seperti ayahnya, itu tidak bisa dihindari karena memang dia adalah anaknya, tapi kamu setidaknya bisa terus menemaninya disisinya agar dia tidak kehilangan dirinya sendiri seperti ayahnya, karena kamu adalah ibunya...
Vie
tau rasa kan. disuruh pindah gak mau, dan sekarang kamu jadi target seseorang yang sudah pasti kamu tau akan seperti apa, kamu hanya ketakutan... dasar keras kepala.... dan justru kamulah yang menjadi kelemahan dan juga ketakutan terbesar bagi ale tau.... dongkol deh sama si nadira .
Vie
bagi ale tidak ada jala lain... dia harus bersembunyi seumur hidupnya dan selalu dalam ketakutan karena dia sedang menjadi mangsa para mafia, atau dia menerima dan menjadi kuat, lalu membasmi semua ketakutan itu agar hidup tidak lagi menjadi mangsa.. setelah semua usai dan menjadi kuat baru dia bisa memutuskan apakah dia akan terus melanjutkan hal itu atau mau berhenti....
Vie
kamu itu seorang ibu yang takut pada kenyataan yang tidak pernah bisa dipungkiri, tapi selalu saja mengatakan ale mirip dengan ayahnya.... bagaimana gak mirip karena dia adalah anaknya, dan semua tidak bisa ditutupi oleh apapun, karena darahnya asa dalam tubuhnya... dan kamu selalu mengatakan hal itu seperti mengingatkan ale bahwa dia benar2 anaknya Aleandro bukan untuk menjauhkanya dari semua itu....
Vie
lanjut kak.... 👍👍👍👍
☕︎⃝❥virgo93
semngat dek comelku..🥰
Kucing Biru: mkasih akaa😚😚
total 1 replies
☕︎⃝❥virgo93
ahhh nanggung banget upx thor.🤭lgi seru2 baca eh udah abis aj ayuk semagat untk up selanjutx🥰
Vie
aahhh.... akhirnya nongol juga lanjutanya.... 🥰🥰🥰🥰
Vie
lanjut kak.... makin seru aja... penasaran aku.... 👍👍👍
viandranovel
saling mampir bg 🙏
☕︎⃝❥virgo93
lnjut dek🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!