Bastian, gak sebaik dan gak sesempurna yang kalian kira guys. Lihat kisahnya disini, dimana dia hanya menyewa seorang wanita, hanya untuk memenuhi keinginan sang mama, untuk memberikannya cucu.
Tara, terpaksa mau untuk menolong keluarganya, hal yang makin membuat bastian benci sekaligus mulai sayang padanya, tapi bastian terlalu bodoh dan gensi untuk mengakuinya.
Bagamana kisah bastian.
Masih pada inget sosok bastian gak?
udah pernah saya post, satu part, mau dilanjutkan di buku baru.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon karmela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33 - CEK UP DENGAN BASTIAN
Tara hanya diam mendengar ucapan bastian. Sudahlah toh itu kewajibannya. Tara sedang makan ditemani mama mertuanya.
"Ta, capek gak?" tanya sang mama mertua.
Iya, jujur tara ngerasa capek banget. Dari pulang dari rumah ibu. Habis ini harus cek up, nanti malam langsung ke hotel untuk memenuhi kewajibannya. Sangat capek kalau dibayangkan.
"Ta, kita cek up ya ke tante kinta, sekalian tanya aman gak?" Bastian yang paling semangat, sangat bersemangat, dia baru saja turun, sudah paking, bastian yang menghandel semuanya. Gak perlu paking banyak, hotel yang deketan, dia juga sudah tanya ke tante kinta, tara sudah boleh naik pesawat. Balinya yang tertunda dulu, kali ini dia berniat liburan disana.
Tara hanya mengangguk lesu. Mama bastian yang protes, kesal dengan tingkah kekanakan bastian. Satu pukulan dia layangkan ke lengan bastian, yang berdiri menunggu disamping tara yang makan.
"Kamu gak mikir, kasian menantu mama. Capek tau dia belum istirahat. Batalin semuanya." kata sang mama yang membuat bastian terbelalak. Hah, masak dibatalin?
"Ta, kamu capek ya emang?" bastian juga kasian sih kalau kecapean, dia duduk dan bertanya langsung.
"Kita liburan aja kok ma, nanti malam pertamanya, udah nanti aja kalau gak kecapean." Sambung bastian lagi, sedikit membuat tara lega.
"Kan satu minggu disana, jadi gak perlu buru-buru ngelakuinnya." Lagi, bastian.
"Lah kamunya aneh, kenapa tiba-tiba pengen banget gitu?" mama bastian masih khawatir takut tara yang sejak tadi diam kecapean dengan ide gila bastian.
"Gak tau, lagi pengen kali."
"Mas, istirahat bentar ya. Tara capek banget rasanya. Tara baring bentar di kamar atas." Pinta tara yang akhirnya menyerah, nafasnya berasa pendek banget, capek gak tau kenapa?
"Ya udah, istirahat bentar, siangan kita ke klinik. Aku tinggal ya, mau cek kerjaan kantor buat ditinggal beberapa minggu." bastian mengusap kepala tara dengan lembut.
"Hati-hati, mas." Tara mencium tangan bastian.
"iya."
Bastian ke kantor untuk mengecek semua pekerjaan, agar bisa dia tinggal dalam sati atau dua minggu, hingga satu bulan kedepan, setelah dia operasi. Sementara tara kembali ke kamar dan istirahat, sampai tertidur disana. Hingga siang ketika bastian pulang, taranya belum bangun.
"Ma, tara mana?" tanya bastian yang baru masuk ke rumahnya.
"Masih tidur kayaknya. Kasian bas, kayaknya capek banget." kata sang mama pada bastian, berharap bastian menjadwal ulang semuanya. Ditahan kek bas?
"Mama gak kasian sama bastian, nahan dari kemarin? yakin ma, sumpah tersiksa."
"Idihh... apaan kamu tuh. Katanya gak mau nyentuh tara sama sekali, sekarang gak nahan. Auk ahh.."
Mama bastian hanya berlalu, kembali mengerjakan pekerjaan rumah sementara Bastian sendiri langsung berjalan ke kamarnya, memeriksa tara. Ketika dia sampai dan melihat ke kamar, tara beneran masih tidur, emang kayaknya capek banget.
"Gak tega mau bangunin." kata bastian yang duduk disamping tara, membelai rambut tara. Membuat sang empunya menggeliat, terbangun. .
"Mas," Tara masih mengerjap, mencoba menatap suami yang ada disampingnya itu, yang menatapnya.
"Kalau masih capek tidur aja, nanti aku jadwalin ulang liburan kita." bastian menyerah, jauh lebih kasian liat tara kayak kecapean banget.
"Gak usah, tunggu bentaran. Tara mandi, habis itu ke kliniknya tante." Tara menahan tangan bastian yang akan pergi. Tara duduk, masih mencoba mengumpulkan nyawa, lalu ke kamar mandi untuk siap-siap.
"Mas tian urusin barang-barang aja, biar kita tinggal pergi nanti." kata tara lagi, tak mau mengecewakan suaminya untuk kedua kali.
Tara tadi juga menelpon ibu, curhat dan minta nasehat, tapi ibu bilang, tara harus jadi istri yang baik, harus nurut sama suami dan melayani suami dengan baik. Ibu gak mau liat tara jadi istri yang gak patuh. Asal aman gak apa-apa.
Bastian mengeluarkan semua barang, memasukannya ke mobil, kali ini dengan supir pribadi, bastian juga sudah menyawa pesawat kecil yang lebih pribadi, hanya untuk berdua nanti untuk penerbangan ke bali.
"Mama, tara pamit ya." tara pamit pada mama mertuanya, yang ikut mengantar kedepan.
"Masak pergi lagi ta, kan baru balik." bina tak rela, baru juga beberapa jam di rumah. Mau pergi lagi sahabatnya itu. Liburan lagi, sementara dia dengan tugas kuliah yang menumpuk.
"Tau nikah kayak elo, gue nikah deh. Gak papa deh kontrak yang akhirnya cinta, banyak liburan dari pada tugas kuliah, bikin pusing."
"Idihh.. gak boleh. Lo gak inget mama lo nitip lo buat kuliah yang bener disini, bukan buat nikah." bastian langsung menonyor kepala sabrina.
"Resek lo kak, gara-gara ini nih, bisa makin bodo gue."
"yahh, ngaku bodoh dong. Hahah..."
"Udah ahh, kalian berdua berantem mulu." Tara menghentikan pertengkaran kedua, "mas tian juga, jangan suka mukul bina dikelapa kenapa sih."
"Yes, pro banget lah kakak ipar gue." bina langsung memeluk tara.
"Ya emang kita suka gitu, ta dari kecil."
"Tuan, semua barang sudah di mobil." kata supir bastian. Bastian dan tara pun pamit, mereka menuju klinik terlebih dahulu. Dengan supir yang menyetir.
***
"yes, perdana lihat anak dilayar langsung." Kata bastian bersorak senang, ini kali pertama dia mau liat usgnya langsung. Tara hanya tersenyum, sejak, entah kapan tepatnya, mungkin setelah hamil, sifat bastian berubah drastis, yang dulu cuek, sangat perhatian, yang dulu dewasa, dingin, berubah ceria, terkadang seperti anak-anak. Tara hanya tersenyum menatapnya.
"Ta, kali ini aku boleh masuk dan liat usgnya langsung kan?" tanya bastian melirik tara, sebelum dia hanya diberi harapan palsu. Dia tak mau kecewa lagi.
"Iya boleh. Siapa yang mau larang."
Mereka sudah sampai di klinik tante kinta. Kali ini tante kinta menyambut keduanya dengan senang, bahkan dua-duanya masuk ke ruangan tante kinta. Tante kinta mulai melakukan pemeriksaan pada Tara, meminta tara berbaring, dan untuk pertama kalinya, bastian meneteskan air mata ketika tante memperlihatkan hasil usgnya secara langsung, bagaimana bentuk anaknya yang masih sangat kecil didalam perut tara.
"Mau denger detak jantungnya gak?" tanya tante kinta pada keduanya.
"Udah bisa tante, emang?" tanya bastian balik, rasanya tak sabar, sangat antusias. Kalau tara sudah tau, waktu pemeriksaan dulu dia sudah mendengarkannya. Tapi tak menyangka, reaksi bastian akan sampai meneteskan air mata.
"Udah dong, ini."
Bastian dan tara diam, ruangan itu sangat sunyi, lalu terdengar suara detak jantung dari monitornya.
"Bastian boleh rekam kan, tan?" tanya bastian, yang ingin menyimpan musik paling indah baginya, detak jantung calon anaknya. Tara hanya makin cinta menatap suami kontraknya itu, tapi dia benar-benar baik, membuat ibunya bertahan hidup sampai hari ini.
'apapun bakalan aku lakuin buat kamu, mas. Karena kamu udah selametin ibu. Apa aja yang kamu minta, bakalan aku turutin.' batin tara, mengusap pipi bastian yang basah karena air mara.
Sementara bastian sendiri fokus dengan ponselnya, yang dia gunakan untuk merekam, dan masih mendengarlan setiap bunyi detak jantung anaknya.
-
belibet..
krn sepasinya trlalu panjaang kadang bikin gk nyambung jadinya
💪💪💪💪💪
🙏🙏🙏🙏🙏🙏
sukses selalu thor suka banget ceritanya
ditunggu cerita selanjutnya
semangat
💪💪💪💪💪💪