Menikah karena keadaan bukanlah akhir dari segalanya. Bagi Arkana Najendra dan Hanifah Shafiqa, itu justru menjadi awal dari kehidupan yang tak pernah mereka bayangkan.
Dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan, mereka membeli sebuah rumah tua di ujung jalan. Rumah tusuk sate. Murah, tetapi dipenuhi cerita yang membuat orang enggan mendekat.
Saat kehilangan terbesar menghancurkan keluarga kecil mereka, satu per satu masalah mulai berdatangan. Tekanan keluarga, luka yang belum sembuh, hadirnya orang ketiga, hingga berbagai kejadian ganjil yang membuat mereka bertanya...
Benarkah rumah itu membawa kutukan?
Ataukah, kutukan sesungguhnya adalah ketika dua hati yang saling mencintai perlahan berubah menjadi asing di bawah atap yang sama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PqxxyZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 - Ngidam
Sore itu Hanifah mengangkat jemuran di halaman belakang. Ia meraba salah satu kemeja Arkana lalu menggeleng pelan.
"Hmm... masih agak lembap," gumam Hanifah pada dirinya sendiri. Ia meraba kain itu beberapa kali sebelum akhirnya memutuskan untuk menurunkannya saja. "Kalau dibiarkan sampai malam baru diangkat, nanti pakaiannya malah kena embun dan bau apek."
Beberapa pakaian yang sudah kering ia lipat rapi ke dalam keranjang, dan yang lembap ia pisahkan. Saat hendak masuk lewat pintu dapur, terdengar klakson motor dari depan rumah.
Tin... tin...
Hanifah langsung menoleh. "Itu pasti Mas Arkana sudah pulang," bisiknya penuh semangat.
Senyum manisnya langsung mengembang seketika. Tanpa berpikir panjang lagi, ia berjalan cepat dengan terburu-buru. Namun, ujung sandal jepitnya mendadak tersangkut pada ujung keset kain yang sedikit terlipat.
"Astaghfirullah!" pekik Hanifah tertahan.
Tubuhnya limbung dan berpegangan pada dinding. Di saat yang sama Arkana baru turun dari motor. Helm di tangannya sampai terjatuh ketika ia berlari menghampiri istrinya.
"Hanifah!" teriak Arkana dan mencengkeram kedua bahu istrinya dengan tangan yang sedikit gemetar. "Kamu tidak apa-apa?"
Hanifah mencoba meredakan debaran jantungnya. Ia mendongak, menatap wajah Arkana. "Aku tidak apa-apa, Mas. Sungguh. Tadi cuma tersandung keset sedikit, tapi untungnya sempat pegangan tembok."
Arkana menghela nafas lega. "Astaghfirullah, Hanifah... sudah sering Mas bilang, kan? Jangan pernah berjalan terburu-buru lagi, apalagi sampai setengah berlari begitu."
Hanifah langsung menundukkan kepala. "Maaf, Mas. Tadi aku cuma mau cepat-cepat membukakan pintu depan karena dengar suara klakson motor Mas."
Arkana menggelengkan kepala pelan. "Mas punya kunci serep dan bisa buka pintu sendiri dari luar. Tidak usah buru-buru menyambut Mas sampai mengabaikan keselamatan diri sendiri seperti itu. Kalau sampai kamu jatuh tersungkur ke lantai bagaimana?"
"Iya, Mas. Tadi aku benar-benar tidak kepikiran sampai ke sana."
Arkana menggenggam jemari tangan istrinya. "Mas bukan memarahi kamu, Dek. Mas cuma khawatir. Kamu harus ingat bahwa sekarang ada nyawa lain yang sedang tumbuh di dalam dirimu."
Hanifah mengangkat wajahnya perlahan, menatap lekat sepasang mata cokelat suaminya.
"Kalau sampai kamu kenapa-kenapa karena kecerobohan sekecil ini," Arkana melanjutkan kalimatnya sambil menatap lembut ke arah perut Hanifah yang masih tampak rata, "Mas yang akan menyesal seumur hidup karena tidak bisa menjagamu dengan baik."
Hanifah mencoba tersenyum untuk mengusir sisa ketegangan di antara mereka. "Iya, Mas Arkana."
Arkana kemudian mengusap pelan puncak kepala istrinya. "Ayo, badan Mas sudah terasa sangat lengket dan capek. Kita masuk ke dalam."
Hanifah mengangguk patuh, mengekor di belakang suaminya masuk ke dalam rumah sederhana mereka. "Oh iya, Mas sudah makan?"
Arkana tertawa kecil, melirik istrinya dengan jenaka. "Pertanyaan macam apa itu, Dek? Mas ini baru saja lepas dari kemacetan jalan raya raya sepulang kerja. Mana sempat makan dijalan. Lagian Mas sudah punya kamu, jadi gak perlu makan diluar lagi."
"Kalau begitu Mas langsung mandi dulu saja biar badannya segar kembali."
Arkana membalikkan badan, lalu menyerahkan kotak bekal plastik hijau yang sejak pagi dibawanya. "Ini, kotak bekalnya Mas kembalikan."
Hanifah menerimanya dan mengocok kotak itu pelan. "Kosong, Mas?"
"Iya, habis semua tidak tersisa sebutir nasi pun," jawab Arkana bangga.
Hanifah tersenyum puas. "Alhamdulillah... berarti masakan pertamaku enak banget."
"Iya, makanannya sangat enak. Eh, Mas mandi dulu, ya," pamit Arkana sambil mengambil handuk yang tergantung.
"Iya, Mas."
Sementara suaminya membersihkan diri, Hanifah membawa kotak bekal kosong itu ke dapur. Ia mencucinya dengan sabun hingga bersih.
Tidak lama kemudian, suara pintu kamar kembali terbuka. Arkana keluar sambil mengusap rambutnya dengan handuk. Kaos oblongnya masih disampirkan di bahu, sehingga tubuh bagian atasnya masih terbuka.
Hanifah yang baru keluar dari dapur langsung membeku. Sepasang matanya refleks membelalak terkejut melihat penampilan suaminya.
"Astaghfirullah al-adzim... Mas!" seru Hanifah sambil membalikkan badan memunggungi Arkana.
Arkana menoleh dengan ekspresi santai tanpa dosa. "Kenapa toh, Dek?"
"Pakai bajunya yang benar! Jangan jalan-jalan telanjang dada begitu," pinta Hanifah setengah merengek.
Arkana berjalan mendekati istrinya. Ia tertawa kecil melihat reaksi Hanifah. "Loh, memangnya kenapa? Ada yang salah?"
Hanifah tetap teguh membelakangi suaminya, tidak berani berbalik satu senti pun. "Ya... malu lah, Mas!"
"Malu?" Arkana menahan tawa, kini ia sudah berdiri tepat di belakang punggung istrinya dan menaruh dagu di bahu Hanifah. "Lagipula, kan kamu sudah pernah lihat juga sebelumnya. Kenapa sekarang mendadak jadi pemalu begini?"
Hanifah mengayunkan tangan ke belakang, memukul pelan lengan berotot Arkana tanpa berani menolehkan wajahnya sedikit pun. "Itu dulu beda situasi, Mas!"
"Apa bedanya? Suaminya tetap Mas yang ini, kan?"
"Pokoknya beda! Cepat pakai bajunya, Mas Arkana!" seru Hanifah yang tingkat salah tingkahnya sudah mencapai puncaknya.
Arkana tertawa semakin keras, merasa sangat terhibur dengan kepolosan istrinya. Melihat Hanifah yang benar-benar sudah salah tingkah. Akhirnya Arkana mengenakan kaos oblong putih dari bahunya dengan cepat hingga rapi. "Nah, sekarang Mas sudah pakai baju rapi, sudah tertutup semua."
Hanifah perlahan menoleh sedikit untuk memastikan. Setelah melihat Arkana sudah berpakaian lengkap, ia mengembuskan napas lega. "Nah, begitu kan enak dan sopan dilihatnya."
Arkana hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil terus mengulas senyum jenaka. Hanifah kemudian menyiapkan makan malam mereka. Ia membuka tutup panci berisi sayur sop ayam pemberian Bu Sulastri siang tadi.
Baru beberapa detik aroma kuah hangat itu tercium, wajahnya langsung berubah.
Ia buru-buru menutup hidungnya dengan saputangan, melangkah mundur menjauh dari kompor. "Uhh..." keluhnya menahan mual.
Hanifah segera memalingkan wajahnya sambil menarik napas dalam-dalam. "Kenapa sih ini... padahal tadi siang baunya harum sekali, kenapa sekarang rasanya mual sekali?"
Dari ruang tamu, Arkana yang sedang mengeringkan sisa rambut basahnya dengan handuk mendengar gumaman gelisah sang istri. "Hanifah? Ada apa?"
"Iya, Mas. Tidak apa-apa," sahut Hanifah dari balik dapur, suaranya terdengar sengau karena masih menutup hidung.
Hanifah tetap berusaha menyiapkan makan malam. Ia menuangkan nasi ke atas piring, lalu mengambil sayur sop dengan cepat agar tidak terlalu lama mencium aromanya. Setelah semuanya selesai, ia membawa satu piring ke ruang tamu.
Arkana yang sudah menunggu di dekat tikar langsung mengernyitkan dahi begitu melihat istrinya datang. "Loh? Kenapa kamu cuma bawa satu piring saja? Punya kamu mana, Dek?"
Hanifah mendudukkan diri di atas tikar dengan jarak yang agak jauh dari piring makanan, tangan kirinya masih setia menyumbat hidung. "Tidak apa-apa, Mas. Mas saja yang makan duluan, ya."
Arkana semakin dibuat bingung oleh tingkah aneh istrinya. "Memangnya kamu tidak lapar?"
Hanifah menggelengkan kepala pelan dengan wajah yang tampak lesu. "Aku benar-benar tidak kuat mencium bau kuah sayurnya, Mas. Rasanya kepalaku langsung pusing sekali, terus mualnya langsung naik ke tenggorokan."
Arkana melirik semangkuk sop ayam yang mengepulkan uap tipis di atas tikar. "Ini kamu yang masak, kan? Baunya segar begini kok."
Hanifah menggeleng lagi. "Bukan aku yang masak, Mas. Ini sop ayam pemberian dari Bu Sulastri. Katanya beliau kebanyakan masak di rumah."
Arkana mengangguk-angguk paham. "Oh, pantas saja. Lalu kalau tidak makan sop ini, dari siang tadi kamu belum makan apa-apa?"
Hanifah mengulas senyum tipis yang dipaksakan. "Belum sempat, Mas. Tadi setelah Bu Sulastri pulang, aku malah muntah-muntah beberapa kali di kamar mandi sampai lemas."
Mendengar itu, Arkana meletakkan kembali sendok yang baru saja dipegangnya ke atas piring. Rasa laparnya mendadak hilang, digantikan oleh rasa khawatir yang besar. "Hanifah, coba lepas dulu tanganmu dari hidung."
Hanifah menuruti perintah suaminya, menurunkan tangannya perlahan. Namun, baru beberapa detik hidungnya menghirup udara bebas, aroma kaldu ayam kembali menyengat. Perutnya langsung bereaksi hebat. Ia pun buru-buru menutup hidungnya kembali dengan rapat. "Enggak bisa, Mas. Tetap mual banget."
Arkana tertawa kecil, merasa iba sekaligus gemas melihat penderitaan istrinya akibat gejala hamil muda. "Ya sudah, kalau begitu kamu sekarang masuk ke dalam kamar dulu saja. Ganti pakaianmu yang rapi, kita bersiap-siap pergi ke bidan."
Hanifah mengangguk patuh. "Iya, Mas. Aku ganti baju dulu."
Ia segera bangkit berdiri dan berjalan perlahan menuju ke dalam kamar tidur mereka.
Sementara itu, Arkana kembali menyantap makan malamnya. Namun, sesekali pandangan matanya tetap melirik cemas ke arah pintu kamar yang tertutup.
Beberapa menit kemudian, di tengah kunyahan Arkana, terdengar suara Hanifah memanggil dari balik pintu kamar. "Mas Arkana!"
"Iya, Dek? Ada apa?" sahut Arkana dengan volume suara yang sedikit ditinggikan.
"Kamu sudah selesai makannya?"
"Ini sudah mau habis. Kenapa?"
"Aku mau tanya..." suara Hanifah terdengar agak ragu dari dalam kamar. "Mas... kalau nanti setelah dari bidan, kita mampir beli di toko bibit, boleh?"
Arkana menghela napas pelan, tersenyum kecil di balik piring makannya. Ia benar-benar mulai memaklumi fase ngidam ini. "Iya, tentu saja boleh, Hanifah. Dan kamu sekarang pengen makan apa? Biar sekalian kita cari di jalan pulang."
Suasana hening melingkupi rumah selama beberapa detik, seolah Hanifah sedang menimang-nimang keinginannya dengan sangat matang. Sampai akhirnya, terdengar jawaban lirih namun jelas. "Aku lagi pengen makan Mie Gacoan, Mas."
Arkana yang saat itu kebetulan sedang meneguk air putih dari gelas langsung tersedak hebat. "Uhukk! Hah? Makan apa kamu bilang tadi? Gacoan?"
"Iya, Mas... yang level satu saja," sahut Hanifah tanpa dosa.
Arkana langsung menggeleng-gelengkan kepala. "Tidak boleh! Mas tidak izinkan."
"Ih, kenapa kok tidak boleh?" rengek Hanifah dari dalam.
"Itu makanannya terlalu pedas, Hanifah," jawab Arkana.
Dari balik pintu kamar, terdengar helaan napas kecewa dari Hanifah. "Ya sudah... kalau tidak boleh Gacoan, seblak kuah ceker saja bagaimana, Mas?"
Arkana spontan memijat pelipisnya yang mendadak terasa berdenyut nyeri. "Hanifah... seblak itu malah jauh lebih pedas. Sama saja tidak boleh!"
"Oh iya ya... tidak boleh juga, ya," gumam Hanifah pasrah.
Beberapa detik kemudian, pintu kamar akhirnya terbuka. Hanifah keluar dari dalam kamar dengan penampilan yang sudah rapi. Ia mengenakan gamis panjang berwarna biru polos dengan jilbab instan sederhana. Sambil menutup hidungnya karena sisa aroma sop ayam masih menguar tipis di udara.
"Kalau begitu... aku mau makan roti saja deh, Mas," ucap Hanifah pasrah, mengubah menu idamannya.
Arkana mengangguk-angguk pelan. "Nah, kalau pilihan yang itu baru masuk akal dan aman untuk perutmu."
"Tapi ada syaratnya, Mas."
"Syarat apa lagi?" tanya Arkana mulai waswas.
"Rotinya jangan yang ada rasa cokelatnya, ya."
"Baik, nanti Mas carikan yang rasa lain."
"Terus jangan rasa stroberi juga."
"Baik, tidak apa-apa."
"Jangan rasa matcha atau teh hijau."
"Oke, siap."
"Satu lagi, jangan rasa keju ya, Mas."
Arkana yang sedang merapikan piring dan gelas di rak dapur menghentikan gerakannya. "Lah... tunggu dulu. Lalu isi rotinya rasa apa, Hanifah?"
Hanifah hanya mengangkat kedua bahunya. "Ya tidak tahu, terserah Mas saja yang cari. Yang penting aku pengen roti tapi tidak mau rasa-rasa yang aku sebutkan tadi."
"Kamu ini ada-ada saja, aneh sekali seleranya."
Hanifah langsung cemberut, lalu jemari tangannya bergerak mengusap pelan permukaan perutnya yang masih rata. "Ih, yang aneh itu bukan aku tahu, Mas. Tapi anak kita yang di dalam sini yang minta."
Arkana menurunkan pandangannya, ikut menatap lekat ke arah perut Hanifah. "Loh... masih sekecil itu di dalam perut sudah pintar sekali mulai mengatur-ngatur dan menjahili bapaknya, ya?"
Hanifah akhirnya ikut tertawa kecil melihat ekspresi pasrah suaminya. "Kata orang-orang tua dan tulisan di internet, bawaan bayi hamil muda memang sering unik dan aneh seperti ini, Mas."
Arkana tersenyum hangat, lalu menggeleng-gelengkan kepala pasrah. "Ya sudah, baiklah. Daripada nanti anak kita lahir dalam keadaan ileran karena ngidamnya tidak dituruti, sekarang kita berangkat saja. Kita mampir ke supermarket depan dulu untuk cari roti pesanan misteriusmu itu, setelah itu kita langsung meluncur ke tempat praktik bidan."
Hanifah mengangguk dengan mata yang berbinar gembira. "Asyik! Terima kasih, Mas Arkana."
Arkana bangkit berdiri dari lantai, melangkah menuju dekat pintu depan untuk mengambil kunci sepeda motor yang tergantung di paku dinding. "Sudah siap semua barangnya? Tidak ada yang tertinggal?"
"Sudah siap semua, Mas,"
Sepeda motor itu pun perlahan melaju membelah jalanan kompleks yang mulai temaram, meninggalkan lingkungan rumah mereka.