Laura Hiraya yang baru berusia 20 tahun harus rela di jodohkan dengan putra konglomerat. Keputusan egois keluarganya menjadikan ia alat tukar di dalam bisnis. Keluarga konglomerat itu menjanjikan sebuah kerjasama bisnis, dan sebagai imbalannya mereka menginginkan calon istri untuk putra mereka, Gaharu Gardapati.
Gaharu, pria cacat yang sialnya sangat tampan. Kecelakaan tragis 2 tahun lalu membuatnya harus terduduk di atas kursi roda. Ia kehilangan kedua fungsi kakinya. Itu, bersifat sementara. Ia masih menjalani perawatan.
Lalu.. bagaimana kisah rumah tangga si gadis ceria dan aktif seperti Laura Hiraya yang di hadapkan dengan Gaharu Gardapati si pria arogan yang pemarah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanesa Dintiani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Berita tentang Rahel
Siang ini, Laura bisa masuk kembali kuliah setelah 3 hari ia izin tidak masuk karena sakit. Sebenarnya, Adeline telah melarang Laura untuk kuliah karena insiden kemarin yang mengakibatkan lutut Laura terluka. Namun, dengan berbagai bujukan, akhirnya wanita itu luluh.
Dan di sinilah ia sekarang, di gerbang kampus. Ia di antar oleh Arlo. Hanya Arlo yang bertugas, karena ke empat lainnya belum Laura ketahui keberadaannya. Gadis itu sudah mencoba menghubungi, namun mereka seakan-akan hilang di telan bumi.
Laura berjalan dengan perlahan karena setiap ia melangkah dengan terburu-buru, kakinya akan terasa sakit.
Di pertengahan lorong fakultas seni, ia tidak sengaja berpapasan dengan dua orang teman sekelasnya, Thea dan juga Haikal.
“Eh, Lau. Udah sehat?”
Laura tersenyum dan mengangguk pelan. “Sudah lebih baik, Thea. Tiga hari aku rasa cukup untuk beristirahat. Hanya demam biasa,” jawab Laura ramah, meski ia sedikit meringis saat mencoba menggeser tumpuan kakinya.
Haikal, yang sejak tadi memperhatikan cara berjalan Laura yang canggung, langsung menurunkan pandangannya ke arah kaki gadis itu.
“Seriusan cuma demam? Jalan Lo aja tadi keliatan pincang. Lo habis di tusbo—” Thea langsung saja membungkam mulut teman laknatnya ini.
“Lo ngomong apaan si? Nggak jelas banget. Nggak usah di dengerin, Lau. Otaknya belakang ini agak konslet.” Thea melirik tajam kepada Haikal dan di balas dengan dengusan malas oleh lelaki itu.
“Apa salahnya gue nanya gitu. Gue tahu ya berita Laura nikah sama konglomerat berpengaruh di kota ini. Gue cuma memastikan dia udah—”
“Haikal! Lama-lama mulut Lo gue lakban juga ya!” sentak Thea dengan garang.
Laura hanya tertawa canggung menanggapi kedua orang yang sedang berdebat di depannya ini.
“Nggak apa-apa, ini bukan seperti yang kamu fikirkan kok, Kal. Aku habis jatuh kemarin, jadi jalannya agak pincang.”
“Hah? Ya ampun, Lau. Baru juga sembuh, udah cari penyakit aja lagi Lo,” kata Thea.
“Hahaha.. ya, mau gimana lagi. Akibat terlalu bosen.” Jawab Laura diselingi dengan tawa pelan. “Oh, ya. Kalian lihat Rahel nggak? Aku udah coba hubungin dia buat bareng jalan pas di gerbang, tapi ponselnya nggak aktif.”
“Lo nggak tahu beritanya, Lau?” Haikal kembali membuka suara.
“Berita soal apa? Maaf banget, aku kurang update berita. Aku nggak pegang hp waktu sakit.”
Haikal memperhatikan sekitar. Ia mendekat dan membisikkan sesuatu pada Laura. Dan detik berikutnya, mata bulat Laura melotot karena kaget. Tangannya terangkat untuk menutup mulutnya seakan syok dengan apa yang baru saja di katakan Haikal.
“Kal.. kamu nggak ngarang cerita 'kan?”
“Ngapain gue ngarang? Beritanya udah nyebar di base kampus, bahkan hampir nyebar ke fakultas-fakultas lain. Gue jarang liat lagi dia berkeliaran di kantin. Nongol-nongol paling di kelas doang, selebihnya gue nggak tahu dia sembunyi di mana.”
Thea mendesah berat, lalu ikut menyandarkan punggungnya ke dinding lorong. “Hm.. semenjak berita itu booming di kampus, Rahel udah jarang keliatan. Di kelas pun mukanya murung banget nggak kayak biasanya. Padahal sebelum itu gue sempet papasan sama si Rahel. Mukanya ceria bahkan lebih ceria.”
“Tapi malamnya waktu berita itu nyebar, dan waktu gue nggak sengaja papasan sama dia besoknya, mukanya nggak seceria kemaren. Dia kayak yang tertekan banget. Gue yakin ada yang iseng sama si Rahel.”
“Ya, walaupun si Rahel ini kadang suka iseng sama orang-orang, tapi menurut gue usilnya masih di batas wajar. Dan nggak mungkin juga ada yang dendam soal itu, 'kan?” sahut Haikal.
“Bener, tapi Lau Lo harus tahu satu hal ini. Ini yang menurut gue paling parah.” Thea kembali berbisik, memajukan tubuhnya sedikit agar suaranya tidak menggema di lorong. “Bukan cuma foto Rahel yang di peluk Pak Baskoro doang, tapi.. ada juga foto kalo mereka udah pernah ngelakuin hal yang nggak senonoh di club malam. Bahkan chat mereka yang terlalu vulgar kesebar.”
“Nggak mungkin, Rahel nggak mungkin ngelakuin hal kayak gitu. Aku udah sahabatan lama sama Rahel. Rahel bukan type orang yang kayak gitu..”
Dada Laura terasa sesak, matanya berkaca-kaca saat mendengarkan rentetan penjelasan dari Thea.
“Nih, gue sempet minta ini sama temen gue yang di fakultas sastra, lengkap.” Thea membuka hpnya lalu memberikan benda persegi tersebut kepada Laura.
Dengan tangan yang gemetar, Laura meraih benda tersebut. Ia kembali menutup mulutnya saat melihat foto-foto tersebut.
“Ini.. ini bukan Rahel!” pekik Laura tertahan.
“Lau, pelanin suara lu,” bisik Haikal panik sambil buru-buru mengedarkan pandangannya ke ujung lorong, memastikan tidak ada mahasiswa lain atau dosen yang mendengar pekikan Laura.
“Kal, Thea.. ini bukan Rahel, ini.. ini bukan Rahel.”
“Kita tahu, Lau. Kita juga sebagai temen kelas Rahel masih cari tahu siapa dalang di balik ini semua,” Thea berusaha menenangkan Laura yang terlihat sangat emosional saat ini.
“Rahel nggak suka pakaian kekurangan bahan kayak gini, rambut Rahel lebih pendek dari foto itu.. itu editan jelas banget editan,” racau Laura dengan nada gemetar. Air matanya sudah luruh begitu saja.
Sahabat baiknya, sahabat yang selalu menghiburnya, sahabat yang sudah ia anggap seperti Kakak kandungannya sendiri mendapatkan fitnah semengerikan ini. Ada di mana Rahel sekarang?
“Tapi mukanya mirip persis banget—”
“Ini bukan Rahel, Haikal!” potong Laura dengan suara keras, dadanya bergemuruh hebat, nafasnya tersendat-sendat dengan wajah memerah.
Haikal gelagapan sendiri. Ini kali pertama ia melihat Laura semarah ini.
“G—Gue tahu, Lau. Tapi buat orang yang nggak kenal Rahel dan merhatiin detail itu, gue rasa mereka bakal anggap itu bener-bener sahabat Lo.”
Laura terdiam, kembali menatap layar ponsel tersebut yang memperlihatkan seseorang yang mirip dengan Rahel sedang berciuman panas dengan seorang pria yang perawakannya mirip sekali dengan Pak Baskoro.
Gadis itu mengembalikan benda persegi tersebut kepada Thea. “Aku izin hari ini. Kalo ada dosen yang nanya, bilang aja kalo aku masih sakit.”
“Lo mau kemana Lau?” tanya Thea.
“Mencari dalang yang udah mencoreng nama baik sahabat aku!”
Dengan langkah yang terpincang-pincang, Laura berjalan dengan cepat. Biarkan saja ia ketinggalan banyak materi, prioritas utamanya saat ini adalah Rahel. Gadis itu sudah berkorban banyak untuknya, kali ini giliran nya untuk membalas kebaikan Rahel.
“Nyonya, ada apa? Anda menangis?” Arlo berjalan cepat. Pria itu baru saja kembali dari minimarket membeli minuman.
“Jangan bertanya, tolong antar aku pulang Kak Ar,” pinta Laura dengan suara serak. Tangannya sesekali menghapus kasar jejak air matanya.
Arlo tidak banyak bertanya lagi, ia membuka pintu penumpang, menutupnya kembali saat memastikan Nyonya mudanya duduk dengan tenang, lalu ia kembali berjalan menuju pintu kursi kemudi. Mobil mulai berjalan membelah perjalanan.
“Lebih cepat, Kak Ar.”
“Baik, Nyonya.” Walaupun ragu karena itu merupakan pelanggaran dari prosedur keamanan, Arlo tidak ada pilihan lain selain tancap gas. Membantah dalam kondisi Nyonya mudanya yang tidak baik-baik saja merupakan hal buruk.
***
Sampai pada perkarangan penthouse pribadi Gaharu, Laura langsung saja keluar dengan tergesa. Membiarkan tas-nya tergeletak di jalanan semen dekat mobil. Ia tidak memperdulikan tentang keadaan kakinya yang saat ini kembali berdarah. Bercak merah terlihat jelas merembes.
“Nyonya muda, Anda kembali? Ada yang tertinggal?” tanya pelayan Kim.
“Suami.. suami di mana?” bukannya menjawab, Laura malah balik bertanya.
Pelayan Kim menangkap gurat aneh di wajah Nyonya mudanya. Wajah Nyonya mudanya terlihat memerah juga ada bekas jejak air mata di sana.
“Tuan muda baru saja berangkat ke perusahaan, Nyonya. Apa perlu saya telpon beliau?”
Di tempatnya Laura seperti orang yang kehilangan arah. Matanya bergerak acak dengan tubuh yang gemetar.
“Tidak perlu.. aku akan susul—”
“Laura? Kamu kembali, apa ada yang sakit?”
Suara lembut Adeline terdengar dari arah dapur, wanita itu berjalan cepat saat indra pendengarannya mendengar suara Laura saat wanita itu berada di dapur tadi.
“Hey, ada denganmu. Siapa yang menyakitimu? Kenapa.. ASTAGA! Lututmu kembali berdarah. Kim! Panggilan—”
“Tidak perlu, Ibu. Aku hanya ingin bertemu dengan suami. Aku akan susul suami..” Laura berbicara dengan suara yang terdengar sesak. Air mata gadis itu kembali mengalir.
“Dalam keadaan luka seperti ini? Tidak! Ibu tidak mengizinkan. Kim! Panggilankan dokter.”
“Baik, Nyonya.”
“Ibu aku mohon.. aku ingin bertemu dengan suami.. aku.. aku.. hikss.. aku.. hahh..”
“Jelaskan dengan perlahan, Nak. Kemari duduk dulu,” Adeline memapah Laura dengan perlahan menuju sofa. Tangannya menangkup tangan Laura yang terasa dingin dan bergetar.
“Tenangkan dirimu, jelaskan dengan perlahan, ada apa? Jangan tergesa-gesa,"
Laura mencengkeram tangan Adeline dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki. Isak tangisnya semakin pecah, membuat dadanya naik-turun dengan tidak teratur. Rasa perih di lututnya sama sekali tidak sebanding dengan rasa sesak yang menghimpit dadanya saat ini.
“Rahel, Ibu.. Rahel..”
***
Jum'at, 22 Mei 2026
Published : Jum'at, 22 Mei 2026